
"Ya, semoga, " kata Ceyasa lagi, sekarang mengalihkan kembali pandangannya pada ke arah bayi-bayi.
"Lebih baik kau istirahat, masa observasimu belum selesai bukan?" kata Archie lagi-lagi terdengar lembut, membuat Ceyasa cukup nyaman, baru kali ini mereka bercerita tanpa harus diakhiri pertengkaran.
"Ehm, baiklah," kata Archie lagi, Ceyasa lalu mengenggam tiang infus yang ada di tangan kirinya, dia lalu segera mendorongnya, Archie memperhatikan itu dan berjalan di sampingnya. Mereka sama-sama diam, menikmati perjalan yang singkat hingga keluar dari ruangan itu.
Archie membukakan pintu, mempersilakan Ceyasa untuk keluar lebih dulu, Ceyasa tersenyum sedikit manis untuk mengganti kata terima kasih, di depan dia melihat ke arah Lusy, namun Gerald tak tampak di sana.
"Dimana Gerald?" tanya Archie pada Lusy yang melihat Lusy hanya sendirian.
"Gerald sedang ada urusan mendadak Pangeran, dia harus kembali segera, dia ingin meminta izin pada Pangeran, namun karena Pangeran masih ada di dalam, jadi dia meminta saya untuk menyampaikan itu pada Pangeran," kata Lusy menjelaskan.
"Ehm, baiklah, ayo kita kembali," kata Archie yang sedikit mengerutkan dahi, merasa agak aneh karena Gerald belum pernah pergi tiba-tiba tanpa mengatakan alasannya langsung pada Archie, mungkin memang ada urusan yang sangat penting yang harus dia lakukan.
Archie segera melangkah, Ceyasa mengikutinya di samping, sedangkan Lusy berjalan sedikit jauh, tak etis mengikuti dan mendengar obrolan Pangeran dan Putri di depannya.
Meraka jalan dalam diam, saat ingin berbelok ke kanan untuk menuju lift, Ceyasa melihat ke arah jendela luar, melihat sebuah taman yang kecil yang ada di sana, tampak juga lampu-lampu kecil menghiasainya.
"Bisakah kita kesana?" tanya Ceyasa yang berhenti, menunjukkan taman itu pada Archie yang sebenarnya sudah ingib berbelok ke arah lift.
"Kau ingin kesana? ini sudah malam, udara malam tak bagus," kata Archie lagi.
__ADS_1
"Sebentar saja, hidungku sudah mulai bosan mencium wangi rumah sakit ini, aku butuh udara yang biasa saja tanpa bau obat," kata Ceyasa lagi sedikit tampak memelas.
Archie sebenarnya hanya ingin melihat Ceyasa sampai ke kamar, minum obat, dan dia tidur agar dia bisa segera pulang ke rumah dan beristirahat, namun melihat wajah berharap dan lagi pula tadi siang Ceyasa sudah membantunya, jadi dia putuskan untuk mengikuti kemauan wanita aneh ini.
"Sebentar saja," peringat Archie pada Ceyasa, mendengar itu Ceyasa langsung sumringah dan semangat, dia lalu dengan cepat berbelok ke arah pintu taman rumah sakit itu, Archie yang melihat langkah senang Ceyasa itu hanya mengulas seyuman tipis.
Lusy membantu Ceyasa untuk membuka pintu dan mengangkat tiang infusnya, karena bagian taman itu lantainya ditutupi oleh batu-batu taman yang kecil, tiang infus itu tidak bisa didorong dan harus diangkat, karena itu Lusy membawa tiang infus itu sampai ke tempat Ceyasa ingin duduk.
"Terima kasih Lusy," kata Ceyasa memberikan senyuman manisnya.
"Sama-sama Nona, saya permisi dulu," kata Lusy memberikan salam pada Ceyasa juga pada Archie, dia lalu keluar dan menunggu di balik pintu rumah sakit itu.
Ceyasa menarik napas panjang, udara malam yang mulai lembab terasa lebih menyegarkan dari pada bau di dalam rumah sakit itu, udara di sana mulai dingin, angin berhebus cukup kencang menghempas daun-daun pepohonannya, menggoyangkan mereka seolah memberikan atraksi menari untuk Ceyasa.
Mereka hanya diam saja, menikmati suara-suara malam dan sesekali kendaraan yang terdengar lalu lalang, Ceyasa menatap ke arah taburan bintang-bintang, bagaikan permata yang tersusun indah, sudah lama sekali rasanya tidak pernah menatap bintang-bintang, jika di desannya, dia tinggal naik ke atas bukit, dan rasanya seluruh bintang di langit itu terasa dekat.
"Kapan kau mengalami cedera kepala?" tanya Archie tiba-tiba teringat hal itu saat memperhatikan wajah Ceyasa yang sedang mendongak menatap bintang.
"Ha?" tanya Ceyasa yang seperti kurang jelas mendengar Archie.
"Dokter mengatakan bahwa sebelumnya kau pernah mengalami cedera kepala," kata Archie lagi, memandang Ceyasa dengan tatapan lembutnya.
__ADS_1
"Benarkah? aku saja tidak tahu," ujar Ceyasa yang mengerutkan dahinya, dia tidak tahu bahwa dia pernah mengalami cedera kepala.
"Apa kau serius?" tanya Archie mengerutkan dahi, masa Ceyasa sediri tidak tahu dia pernah mengalami cedera kepala, padahal kata dokter cedera sebelumnya lebih parah hingga membuat tengkoraknya retak.
"Benar, aku serius," kata Ceyasa dengan wajah polosnya yang menurut Archie lucu, membuatnya mengulas senyuman.
"Apa paman dan bibimu tak pernah mengatakan apapun? apa mereka pernah melakukan kekerasan padamu?" tanya Archie yang merasa mungkin saja paman dan bibi Ceyasa melakukan kekerasan fisik padanya hingga menyebabkan kepalanya retak dan tidak memberitahunya karena mereka takut dilaporkan polisi.
"Tidak, kelakuan mereka memang sangat buruk, tapi mereka bahkan tidak pernah memukulku sama sekali, seingatku mereka juga tak pernah mengatakan aku pernah mengalami cedera kepala, setauku aku tidak pernah sakit parah, yah kecuali saat aku pingsan dan ditolong oleh Rain," kata Ceyasa lagi, mendengar nama Rain, muka Archie langsung tak suka, pria itu punya tempat buruk dipikiran Archie.
"Lalu wanita yang kau lihat dalam mimpimu itu? apakah kau tahu dia siapa?" tanya Archie lagi melihat wajah Ceyasa, wajah Ceyasa tampak sedikit berkerut, mencoba untuk mengingat lagi wajah wanita itu, namun semakin dia mengingat, semakin kabur wajahnya.
"Tidak tahu, aku merasa mengenalnya, tapi aku tidak tahu dia siapa, yang aku tahu dia menatapku, dan ada bekas tembakan peluru di dahi hingga menebus, darahnya banyak sekali," kata Ceyasa yang tampak kembali bergidik ngeri.
"Bekas tembakan peluru? apa wanita itu dibunuh atau bunuh diri?" tanya Archie lagi mencoba mencari informasi lebih dalam, pernyataan Ceyasa malah membuatnya makin penasaran.
"Aku tidak tahu, tidak terlihat bagimana dia bisa begitu, yang aku ingat dia hanya sudah tergeletak di sampingku dalam keadaan seperti itu, dan lagi, setelah itu aku dengar suara seorang pria yang mengatakan …. " kata Ceyasa yang langsung terdiam, dia baru ingat kata-kata pria itu, matanya membesar dan langsung menatap Archie.
"Mengatakan apa?" kata Archie yang tak sabar lagi, apalagi melihat wajah Ceyasa seperti itu.
"Dia mengatakan, ‘kita berhasil membunuhnya, amankan gadis kecil itu’" kata Ceyasa perlahan seolah mengingat semua perkataan pria dengan suara berat itu, "jadi wanita itu …. " kata Ceyasa lagi dengan wajah tak percaya.
__ADS_1