
Archie segera turun dari mobilnya, sore ini setelah menyelesaikan semua pekerjaannya dia bergegas pulang ke istananya, sebanarnya selama di perusahaan, dia sedikit kurang bisa berkonsentrasi, dia bertanya-tanya bagaimana keadaan Ceyasa di dalam istana yang menurutnya bahkan lebih kejam dari dunia luar, untungnya dia selalu mendapat kabar dari Lusy yang mengatakan bahwa Ceyasa seharian hanya melakukan pelatihan kepribadian.
Archie langsung masuk ke dalam istanannya setelah penjaga membukakan pintu dan memberitahukan kepulangannya, Gerald yang berjalan di belakangnya pun mengikutinya, Archie tampak buru-buru, dia mendapatkan kabar terakhir bahwa Ceyasa sedang ada di ruang musik di istananya.
Archie segera berjalan ke arah ruang musik yang memang tempatnya lumayan masuk ke dalam istana itu, dia segera berjalan dan mendengar suara seseorang yang sedang mengarahkan sesuatu, Archie berhenti di depan pintu, mencoba melihat sebentar apa yang sedang dilakukan oleh Ceyasa, dia langsung tersenyum menemukan sosok Ceyasa yang sedang mencoba untuk berjalan dengan benar sesuai dengan aturan istana, Archie sampai menyandarkan tubuhnya pada kusen pintu, melihat Ceyasa yang sedang ditatar, gadis itu pasti kesal merasa kenapa berjalan saja ada aturannya.
Ceyasa berjalan perlahan, langkahnya pelan dan sehalus mungkin agar tidak menimbulkan suara, dagunya di angkatnya, pelatihnya meletakkan sebuah buku di atas kepalanya dan dengan kakunya dia mulai melangkah dan sekarang pikirannya hanya satu, jangan sampai buku itu jatuh dari kepalanya, dan tiba-tiba buku itu jatuh, ah, dia sangat kesal karena itu, bagaimana berjalan saja dia tidak becus.
Melihat tingkah Ceyasa yang kesal pada dirinya sendiri walaupun pelatihnya tidak marah membuat Archie jadi tertawa kecil, mencoba menahan suaranya agar tak dengar, dia lalu memutuskan untuk mengeluarkan istrinya dari keadaan ini.
"Tidak apa Putri, hari pertama Anda sangat bagus," kata pelatih itu memuji karena melihat wajah Ceyasa yang tampak kesal.
"Bagaimana bagusnya aku terus menjatuhkan buku ini, maafkan aku, mungkin aku adalah muridmu yang paling susah diajari," kata Ceyasa sungkan, dari tadi dia hanya belajar bagaimana cara berjalan yang benar.
"Tidak Putri," kata pelatih itu lagi terdengar begitu sungkan.
"Bolehkah aku menculik istriku sekarang?" kata Archie menyela mereka. Ceyasa langsung melihat ke arah Archie.
"Selamat Sore Yang Mulia Pangeran," kata pelatih itu memberikan hormat, Archie hanya tersenyum padanya, dan pelatih itu tahu bahwa Archie ingin berdua dengan Ceyasa, jadi dia lansung memutuskan untuk pergi dari sana.
Archie memperhatikan Ceyasa yang tampak kesal, Ceyasa lalu menempatkan kembali buku di atas kepalanya dan berdiri tegak di depan Archie, melihat wajah Ceyasa yang berusaha menahan buku itu agar tetap di atas kepalanya menjadi tontonan lucu bagi Archie, dia lalu mengambil buku itu dan melemparkannya ke salah satu sofa yang ada di dekat mereka.
"Aku bahkan tidak bisa berjalan dengan benar," adu Ceyasa pada Archie, terlihat cukup manja bagi Archie.
__ADS_1
"Seharusnya kau belajar bagaimana berdansa," kata Archie mengambil tangan Ceyasa, memposisikannya salah satunya ke bahunya, dan yang lain digenggam oleh Archie, Archie lalu memegang pinggang Ceyasa, memberikan senyuman pada Ceyasa yang hanya bisa diam mengikutinya saja, lalu Archie mulai melangkah membawa Ceyasa berdansa, Gerald yang ada di sana segera memainkan piano, membuat Ceyasa langsung kaget, kenapa tiba-tiba ada suara piano.
Ceyasa lalu bisa melihat Gerald yang memainkan piano itu dengan sangat indah, tak menyangka pria itu bisa bermain piano.
"Fokuslah padaku," kata Archie yang tak suka Ceyasa jadi melihat ke arah Gerald.
Ceyasa langsung segera melihat ke arah Archie lagi, seketika terperangkap dengan matanya yang indah, memandang dengan penuh kasih sayang ke arah Ceyasa, membuat hati Ceyasa langsung terasa sangat hangat hanya dengan tatapan ini, jika terus seperti ini, rasanya Ceyasa pasti bisa pingsan ditatap dengan tatapan indah itu.
Archie membawa Ceyasa menikmati dentingan piano itu, ini dansa pertama Ceyasa, tentu saja tubuhnya sangat kaku, dia bahkan beberapa kali menginjak kaki Archie yang untungnya masih berbalut sepatunya.
"Kau sudah 5 kali menginjak kakiku," kata Archie pada Ceyasa.
"Aku belum pernah berdansa sebelumnya, jadi kau tidak boleh marah," kata Ceyasa lagi.
"Kau sengaja melakukan yang itu?" kata Archie tersenyum kecil.
"Tidak, tidak sengaja," elak Ceyasa.
"Dasar, baiklah, kau ingin pergi melihat Nadia bukan?" kata Archie menghentikan dansa mereka, segera ingin mengajak Ceyasa untuk pergi dari sana, namun Ceyasa bergeming, menjadikan pegangan tangan mereka terentang, melihat itu Gerald segera menghentikan pemainan pianonya dan mulai berdiri, tahu yang akan dibicarakan oleh Ceyasa, "kenapa?" tanya Archie.
Ceyasa melirik sedikit ke arah Gerald, Archie semakin mengerutkan dahinya, ada apa sebenarnya.
"Kau tidak ingin istirahat dulu? makan atau mandi menyegarkan tubuh dulu?" kata Ceyasa memandang Archie langsung.
__ADS_1
"Tidak, aku akan melakukannya di sana, kita akan bermalam di sana malam ini," kata Archie lagi.
"Baiklah," kata Ceyasa yang merasa ini waktu yang kurang tepat untuk berbicara tentang pertemuannya tadi maka dia segera mengurungkan niatnya.
Mereka segera bergegas untuk pergi ke East Park, dalam perjalanan, Ceyasa hanya memperhatikan jalan-jalan yang mulai menguning suasananya, namun sebenarnya fokusnya bukan di sana, dia ingin mempersiapkan dirinya untuk berbicara pada Archie nanti.
"Hei?" tegur Archie lembut yang segera mengenggam tangan Ceyasa, mendapatkan teguran dan sentuhan itu, Ceyasa sedikit kaget, dia langsung memalingkan wajahnya pada Archie.
"Ya?" kata Ceyasa melihat Archie yang mengerutkan dahinya.
"Apa yang kau pikirkan?" tanya Archie yang merasa ada sesuatu yang sedang mengganjal pikiran Ceyasa.
"Ehm, tidak, hanya memperhatikan jalan, aku jarang keluar, aku bahkan baru tahu lingkungan di sini, maafkan aku terlalu fokus, eh, bagaimana pekerajaanmu hari ini?" kata Ceyasa sedikit tersenyum manis, Archie mengamati wajah Ceyasa, merasa bukan itu yang sebenarnya sedang dipikirkan oleh Ceyasa, namun di tidak ingin melanjutkannya, mungkin hanya perasaannya saja.
"Baik, semua berjalan dengan sangat baik, " kata Archie lagi dia menyandarkan kembali tubuhnya ke jok mobil itu, melihat ke arah depan, namun tangannya tetap menggenggam tangan Ceyasa.
Ceyasa memandang wajah Archie yang tampak serius melihat ke arah depan, sesaat Archie memalingkan wajahnya menghadap Ceyasa, dia meremas tangan Ceyasa dengan lembut.
"Katakan, aku tahu ada yang ingin kau katakan, kau pintar membuat orang kesal, namun kau tidak pintar menyimpan sesuatu," kata Archie dengan suara lembut menatap Ceyasa dengan tatapan yang bisa meluluhkan hati siapa pun, jika begini bahkan orang yang paling teguh untuk menyimpan sesuatu pun pasti akan tergoda.
Ceyasa melirik ke arah depan, melihat Gerald yang ada di depan mereka, dia lalu sedikit menunduk.
"Katakan setelah kita sampai di East Park kalau begitu," kata Archie tahu bahwa Ceyasa tidak ingin mengatakannya sekarang, mungkin terhalang oleh keberadaan Gerald dan supirnya.
__ADS_1
"Ya," kata Ceyasa lagi.