Shameless Prince : Our Incomplete Love Story

Shameless Prince : Our Incomplete Love Story
359 - Pulang.


__ADS_3

Pemulihan Ceyasa begitu pesat, dia sudah bisa berjalan dalam 3 hari dan waktunya hanya dihabiskan untuk menemui anaknya di NICU, Xander keluar dari ruangan NICU setelah dua minggu dirawat, segera menebarkan suka cita pada semuanya.


Hari ini, hari pertama Ceyasa dan Xander untuk pulang ke Istana, sejak dari rumah sakit Ceyasa terus mengendong anaknya yang perlahan-lahan mengejar kekurangan berat badannya, sekarang Xander jauh lebih montok.


Dia tidur dipelukan ibunya, tampak begitu nyaman bahkan di dalam mobil yang melaju membawa mereka kembali ke istana, Archie hanya memandang pemandangan indah ini, hampir saja kehilangan hal ini semua.


Mobil mereka segera berhenti di depan Istana utama, segera saja Archie keluar dari mobil mereka dan segera membukakan pintu untuk istri dan anaknya.


Ceyasa menapakkan kakinya di halaman istana, Archie memberikan senyuman pada Ceyasa, Ceyasa pun membalasnya, Xander tampak sedikit menggeliat karena terkena matahari, kulitnya yang putih tampak memantulkan cahaya matahari.


Archie melingkarkan tangannya ke pinggang istrinya, menjaganya dalam berjalan menaiki tangga menuju pintu utama istana mereka, saat mereka masuk ke dalam ruangan tengah istana, mereka segera kaget melihat seluruh keluarga berkumpul, bahkan Angga yang sedang memiliki urusan keluar negeri pun akhirnya ada di sana.


"Selamat datang," kata Nakesha yang langsung semangat mendatangi Ceyasa, dia langsung melihat ke arah Xander yang tidur tak terganggu karena kehebohan di sana.


"Selamat datang," kata Aurora bergabung dengan Nakesha terlalu gemas melihat Xander yang bahkan sejak kecil sudah menunjukkan keindahan pada wajahnya.


"Apakah dia terus tidur?" kata Nakesha yang mau melihat Xander bangun.


"Ya, mungkin terlalu nyaman di dalam mobil hingga tidak ingin bangun," kata Ceyasa lagi, Archie meninggalkan istrinya untuk bergabung dengan para pria yang mengumpul di sofa ruang tengah.


Sedangkan para wanita berkumpul di tempat yang lain, Xander diletakkan Ceyasa di tempat khusus yang disiapkan oleh pengasuh Xander, dia menggeliat, membuat semua yang melihatnya merasa begitu lucu.


"Ah, dia tampan sekali, bagaimana rasanya menjadi ibu?" kata Nakesha yang menghuni cucunya itu.


"Menyenangkan, seperti semuanya sekarang tentang dia, aku tidak pernah menyangka bayi sekecil itu bisa menyedot seluruh perhatianku," kata Cayasa.


"Benar, setiap ibu pasti merasakan hal itu," kata Bella yang juga menatap Xander, terlalu menarik perhatian untuk diabaikan.


Suri yang duduk di samping Xander hanya mengelus pipinya dengan punggung jari telunjuknya, merasakan pipinya yang halus.


"Ingin menggendongnya?" tanya Ceyasa langsung yang membuat Suri melihat Ceyasa langsung.

__ADS_1


Nanti dia akan terbangun, ujar Suri dengan bahasa isyarat.


"Suri bilang, dia takut Xander terbangun," kata Bella menerangkan, Ceyasa belum begitu hapal dengan bahasa isyarat.


"Tidak, dia pasti akan sangat nyaman digendong bibinya," kata Ceyasa segera mengendong Xander dan dengan cepat memberikannya pada Suri yang sedikit kaku menyambutnya.


Sekali lagi Xander menggeliat, dan perlahan membuka matanya yang indah, benar-benar menurun dari mata Archie, mulutnya yang mungil segera bergerak lucu,tangannya yang mungil seakan ingin menggapai Suri.


"Dia A bangun," ujar Suri yang langsung kaget, apakah dia sudah membangunkan Xander?


"Iya, tidak apa-apa, mungkin dia ingin melihat bibinya yang cantik,lihatlah dia tenang saja," kata Ceyasa yang melihat Xander menatap ke arah Suri.


"Dia belum bisa melihat dengan jelas, mungkin dia kira itu ibunya," kata Bella yang tampak gemas, Suri menimang Xander dengan senang, tampak begitu sumringah.


Jared yang melihat itu datang, berdiri di belakang Suri sambil memperhatikan istrinya menimang Xander.


"Cepatlah menyusul," kata Archie yang merangkul pundak Ceyasa.


"Sedang diusahakan," jawab Jared singkat yang mengundang senyum semuanya. Para pria bergabung bersama dengan istri-istri mereka.


"Mengikuti tradisi saja, Saat usianya menginjak 3 atau 4 tahun," kata Archie langsung.


"Apa cicitku sudah datang?" suara renta itu terdengar memecah suasana, semua orang segera melihat sumber suara itu, Ibunda Ratu Ayana di dorong masuk ke dalam ruang tengah istana Utama itu.


"Ibunda Ratu," kata Bella menyambut Ibunda Ratu Ayana, Suri perlahan memberikan Xander pada ibunya yang langsung disambut tangis Xander, sepertinya dia benar-benar nyaman digendongan Suri.


"Oh, suaranya lantang sekali, benar-benar seorang pangeran," ujar Ratu Ayana sambil menerima Xander yang diserahkan oleh Ceyasa, Ceyasa hanya tersenyum melihat 2 generasi berbeda ini,"Siapa namanya?"


"Fitrz Evan Xander Crawford," kata Archie langsung.


"Nama yang sangat bagus, seorang pangeran penerus tahta telah lahir, semoga menjadi anak yang membuat kedua orang tuanya bangga," kata Ayana mengelus pipi cicitnya itu, Xander hanya memperhatikan Ayana, lalu kemudian menangis kembali.

__ADS_1


"Baiklah sepertinya dia haus, berikan dia susu sekarang aku tidak tega melihatnya menangis, Ceyasa, apakah keadaanmu sudah baik-baik saja, maafkan aku tak bisa melihatmu di rumah sakit," Ujar Ibunda Ratu Ayana yang melihat Ceyasa kembali menggendong Xander.


"Aku baik-baik saja Ibunda Ratu, kalau begitu aku permisi sejenak," kata Ceyasa yang ingin menuju kamarnya untuk memberikan Xander susu.


"Silakan," kata Ibunda Ratu Ayana, disambut anggukan bagi yang lain.


"Aku eh boleh ikut?" ujar Suri.


"Tentu, ayo," kata Ceyasa, dia segera meninggalkan orang-orang yang berkumpul di aula itu.


Ceyasa meletakkan Xander dalam box tidurnya, dia segera terlelap setelah meminum susunya, Ceyasa menutup tubuh anaknya dengan selimut agar Xander nyaman dan hangat, terbukti Xander tampak lelap tak terganggu tidurnya.


Suri memperhatikan itu semua, dalam hati kecilnya ingin sekali memiliki mahluk mungilnya itu sendiri, sudah 2 bulan ini dia berusaha, setiap bulan berharap ada sebuah kabar baik yang pastinya akan membuat seluruh orang senang.


"Lucu e sekali," kata Suri menatap Xander yang sangat imut.


"Ya, nanti juga kau akan memilikinya, sudah aman bukan?" kata Ceyasa.


"Bagaimana a kau tahu ah saat eh pertama kali e hamil?" ujar Suri terbata, susah sekali mengeluarkan sepatah kalimat itu, jika menggunakan bahasa isyarat takut Ceyasa tak mengerti.


"Awalnya aku bahkan tak tahu sedang mengandung, saat aku periksa kandungan dengan Archie, tiba-tiba saja Xander sudah ada di sana, sudah kah kau memeriksanya?" tanya Ceyasa.


Suri menggeleng cepat, dia belum memeriksa apapun, terlalu takut, takut dirinya kecewa apalagi jika sampai Jared kecewa.


"Kenapa? mungkin saja di dalam sana sudah ada calon bayimu," tanya Ceyasa.


"Aku e takut e Jared Kecewa," ujar Suri, dia tahu betapa suaminya ingin memiliki momongan namun ditahannya demi menghargai Suri.


"Oh, ingin periksa sekarang? aku punya alat pendeteksi kehamilan, kemarin saat aku dinyatakan positif hamil aku masih tak begitu yakin, jadi aku membelinya, bodohnya aku, tentu pemeriksaan dokter lebih akurat, jadi aku tak jadi memakainya, sebentar aku akan mengambilnya," kata Ceyasa bangkit, untung saja dia orang yang tangguh, bahkan luka operasi dan bekas tusukan itu tak lagi mengganggunya, bahkan seperti tak pernah ada.


Ceyasa mengambil alat testpack yang ada di laci meja riasnya, mencari sedikit karena sudah 7 bulan tak melihatnya, dan akhirnya dia mendapatkannya.

__ADS_1


Ceyasa segera membawanya dan memberikannya pada Suri yang masih terpesona melihat Xander yang tidur pulas.


"Ini," ujar Ceyasa, Suri menatap Ceyasa, sedikit ragu menerimanya, "ayolah, coba dulu," kata Ceyasa dengan gayanya.


__ADS_2