Shameless Prince : Our Incomplete Love Story

Shameless Prince : Our Incomplete Love Story
295 - Kau harus menyerahkannya padaku.


__ADS_3

"Tapi bibi, ini Restoran Skylar, bahkan untuk ke sana kita hanya bisa menaiki helikopter atau speedboat, karena restorannya ada di tengah danau, bahkan selebritis dunia ingin makan di sana, kalau aku tidak salah untuk makan di sana harus menunggu 3 bulan, sekarang kita bisa makan di sana, jadi kali ini Bibi harus ikut, ini pengalaman sekali dalam hidup loh Bi, ya, mau ya Bi, kalau bibi tidak ikut aku juga, walaupun aku akan menyesal seumur hidup, " kata Jenny dengan tingkahnya yang tampak merajuk pada akhirnya.


 


Aurora mengerutkan dahinya, hati kecilnya sedikit menolak, Liam orang yang baik, namun tetap saja hatinya ini tak bisa menerima pria ini, dan membuat dia berharap adalah hal yang sangat jahat menurut Aurora, makanya dia tak ingin membuat Liam berharap dengannya, tapi jika Jenny sudah melakukan hal itu, hati lembut Aurora pasti tak akan bisa menolak.


"Baiklah, aku akan pergi," kata Aurora.


"Yes! I love you, Bibi," kata Jenny memeluk Aurora erat.


"Baiklah, aku akan menjemput kalian jam 5, kita akan menikmati matahari tenggalam di sana," kata Liam tersenyum manis sambil bersiap ingin pergi dari sana.


"Ya, Paman, hati-hati ya," kata Jenny sumringah sekali sambil melihat sosok tegap itu pergi dari sana, hidupnya benar-benar seperti putri selama dia bersama dengan Liam, semua keinginannya terpenuhi.


"Kalau begitu aku akan pergi mencari baju, aku harus tampil yang paling cantik di sana," kata Jenny dengan gayanya yang sangat senang dan semangat, dia bahkan sampai mencium pipi Aurora, membuat Aurora kaget namun langsung tersenyum senang.


"Baiklah, bibi akan istirahat dulu, jangan pergi terlalu jauh," kata Aurora seadanya melihat putrinya yang meninggalkannya menuju kamarnya.


 


 


----****----


 


Jofan menginjakkan kakinya ke tanah basah yang baru saja diguyur hujan, setelah melewati beberapa jam perjalanan menggunakan pesawat pribadi miliknya, dia langsung dijemput dan di bawa ke sebuah hotel yang alamatnya telah di berikan oleh Jared, Jared sebelumnya telah menanyakan pada bibi dan adiknya dimana sekarang keberadaan mereka.

__ADS_1


 


Jofan masuk ke dalam lobi hotel mewah itu, terlihat tanda mahkota yang membuat Jofan langsung tahu bahwa hotel ini adalah milik keluarga Liam, dia segera berjalan dan bertanya pada resepsionis tentang kamar hotel yang Aurora tempati.


 


"Itu adalah Presidential Suite, Saya akan mengantar Anda, silakan Tuan," kata seorang wanita yang segera menunjukkan jalan pada Jofan.


"Terima Kasih," kata Jofan mengikuti wanita itu.


Resepsionis itu segera berjalan ke arah sebuah lift yang tak jauh dari tempatnnya tadi, Jofan berjalan di belakangnya, dan Asisten Jofan yang ikut membawa barang-barang yang dibutuhkan oleh Jofan.


"Jofan?" suara pria terdengar memanggil nama Jofan, Jofan lalu melihat ke arah sumber suara, menangkap sosok Liam yang berjalan ke arahnya. Jofan hanya menatap Liam yang perlahan mendekatinya.


"Selamat sore Tuan Liam," kata resepsionis itu, Liam hanya mengangguk.


"Aku sudah menyelesaikan semuanya, aku ingin menjemput istri dan keponakanku," kata Jofan yang merasa gelagat Liam sedikit mencurigakan, dia mentap Liam dengan serius.


"Tidak bisa," kata Liam, ada nada khawatir di suaranya membuat Jofan seketika mengerutkan dahinya.


"Kenapa?" tanya Jofan.


"Aku ingin bicara padamu di ruanganku," kata Liam yang tampak benar-benar tak nyaman berbicara dengan Jofan sekarang, dia langsung berjalan yang diikuti oleh Jofan, Liam langsung memindai gelangnya yang membuat lift khusus terbuka, dia langsung mempersilakan Jofan untuk masuk, setelah itu dia yang masuk ke dalam, mereka segera menuju lantai khusus untuk kantor Liam dan mereka segera menuju kantor Liam.


 


Liam duduk di kursinya, sedangkan di depannya ada Jofan yang duduk tegak melihat Liam yang memperhatikannya dengan gelisah, Liam pun nya menatap Jofan yang tampak gagah walaupun salah satu tangannya masih harus di sanggah.

__ADS_1


"Bagaimana keadaanmu?" tanya Liam basa basi.


"Aku sudah baik-baik saja, semua sudah aku tuntaskan dan aman, katakan padaku kenapa aku tidak bisa menjemput Aurora," tanya Jofan dengan wajahnya yang serius.


"Kau ingat kata-katamu dulu, jika Aurora sudah memilihku, maka kau akan melepasakannya?" tanya Liam lagi, Jofan yang mendengar hal itu segera mengerutkan dahinya, apa Aurora sudah bisa menerima Liam?


"Ya,” jawab Jofan lagi dengan singkat, walaupun timbul rasa sakit di hatinya mengatakan hal itu.


"Saat ini hubunganku dengan Aurora sangat baik, dia sudah menerimaku, jadi aku minta kau untuk bisa berlapang dada dan menepati apa perkataanmu," kata Liam langsung saja, menatap Jofan dengan wajahnya dan sorot matanya yang sangat serius.


Jofan yang mendengar hal itu hanya diam, dia tidak berucap sepatah kata pun, mengamati wajah Liam yang tampak mencoba menyakinkannya, namun bagaimana pun hatinya tidak akan menerimanya kecuali memang Aurora sendiri yang mengatakan hal itu padanya.


 


 


"Malam ini aku akan memberikannya cincin, aku yakin dia akan menerimanya, begini saja, kau boleh melihatnya memperhatikan kami dari jauh, jika dia menerima cincin yang aku berikan, maka kau harus melerakannya pergi, namun jika dia menolaknya, aku akan menyerah selamanya dan tak akan mengganggu kalian lagi," kata Liam melihat ke arah Liam dengan begitu serius.


 


"Baiklah, " kata Jofan yang masih merasa Aurora bukanlah wanita yang dengan gampangnya berpindah ke lain hati, tak mungkin secepat itu dia bisa melupakan Jofan, bahkan menunggu 18 tahun di sampingnya, wanita itu bahkan tak pernah melirik pria mana pun.


"Baiklah kalau begitu, asistenku akan mengantarkanmu terlebih dahulu ke tempat yang kami akan pergi, tapi aku minta jangan pernah menemuinya sebelum tahu apa jawabannya tentang cincin itu, aku tidak mau dia jadi ragu karena dirimu, berjanjilah jangan mendekatinya," kata Liam menatap Jofan tajam.


Jofan terdiam, kenapa harus begitu, bagaimana pun dia adalah suami Aurora, dia berhak untuk menemui istrinya.


"Berjanjilah atau aku tidak akan mengizinkan kalian bertemu karena dia sudah memilihku," kata Liam lagi.

__ADS_1


"Baiklah, aku berjanji," kata Jofan yang masih sangat percaya dengan Aurora, istrinya itu tak akan pernah memilih pria lain selain dirinya.


__ADS_2