
Semua keluarga inti Suri berkumpul di ruangannya, Archie dan Ceyasa pun ada di sana, setelah mengambil darah mereka belum pulang lagi ke istana, lagi pula Archie sebenarnya tidak boleh terlalu jauh dari Suri, karena tidak ada yang tahu apakah mereka masih butuh darah Archie atau tidak, walaupun sebenarnya jika itu terjadi, malah akan buruk untuk Archie.
Wajah setiap orang yang ada di ruangan itu tampak tegang, dokter sebentar lagi akan memberitahukan hasil dari pemeriksaan kesehatan Suri yang dilakukannya 1 harian penuh ini, dokter itu lalu menatap Suri dengan senyuman simpatinya.
"Semua hasil pemeriksaannya baik sekali, keadaan Putri Suri sangat baik, aku yakin kita bisa melakukannya secepatnya, pembuatan serum juga sudah dikerjakan," kata dokter itu tersenyum senang apa lagi melihat wajah lega semau orang, Bella bahkan sampai menghembuskan napas lega, karena dari tadi napasnya tertahan.
"Kapan Suri bisa melakukan prosedur itu?" tanya Angga langsung.
"Jika tak keberatan, saya anjurkan besok, besok kita akan melakukannya, semua tim juga sudah di siapkan," kata dokter itu menatap semua orang di sana, wajah lega tadi berubah menjadi wajah khawatir.
Suri menatap Jared, Jared pun menatap Suri, wajah takut dan khawatir itu terpatri sangat jelas pada wajah Suri, tangannya yang dari tadi di genggam oleh Jared terasa hangat.
"Semua adalah keputusanmu," kata Jared menatap mata ragu Suri.
"Bukankah lebih cepat lebih baik?" kata Suri melihat Jared lalu melihat dokter itu.
"Benar," kata dokter itu dengan wajah yang sangat simpati, bisa menembak perasaan semua orang yang ada di sini, atmosfir kesedihan terasa semakin kental menyesakkan dada.
"Kalau begitu aku siap," kata Suri, suaranya lembut, namun membuat seluruh hati bergetar takut, takut kehilangan.
__ADS_1
Air mata Bella turun, Angga langsung memeluknya untuk menyembunyikan tangisnya, Jared mendengar itu hanya diam, namun napasnya sangat sesak, sesak sekali hingga tak bisa bernapas, dia hanya mencium kepala Suri, air matanya jatuh.
Suri tak menangis, wajahnya datar tak memiliki ekspresi, dia tak tahu entah kenapa dia tidak merasakan emosi sama sekali.
"Baiklah, kami akan menyiapkan semuanya, besok siang kita akan melakukannya," kata dokter itu yang entah kenapa terpengaruh, bahkan tanpa permisi dia keluar begitu saja dari ruangan itu.
Ceyasa hanya diam, tanpa aba-aba air matanya turun deras, hatinya sakit melihat hal itu walaupun sebenarnya jarak mereka cukup jauh, Archie yang melihat hal itu menarik Ceyasa masuk ke dalam pelukannya, Ceyasa menumpahkan tangisnya namun mencoba untuk tidak bersuara agar tak menarik perhatian, Archie pun sudah tidak bisa menahan dirinya, berulang kali harus mendongakkan wajahnya agar air matanya tak turun, namun tak bisa ditutupi, matanya tampak basah.
"Ayah, Ibu, aku tidak akan apa-apa, kalian jangan menangis, aku tidak akan apa-apa," kata Suri dengan senyuman tipisnya, membuat Angga yang mendengarnya tak tahan lagi, pertahannya jebol, seorang dengan reputasi dingin itu luluh dalam situasi seperti ini.
Semua orang tahu, jika esok Suri benar-benar menjalani pengobatan itu, artinya malam ini bisa saja malam terakhir mereka melihat Suri, hanya 60% kesempatan mereka untuk bisa berkumpul lagi seperti ini. Semua orang dalam ruangan itu hanya menumpahkan tangisnya, hanya Suri yang tidak menangis di sana.
Jam sudah menunjukkan pukul 11 malam, semua orang sudah meninggalkan Suri untuk beristirahat, hanya tinggal Jared yang setia duduk di sampingnya. Suri membuka matanya, melihat Jared masih saja duduk di sampingnya, memengang tangannya.
"Kenapa belum tidur?" suara serak Jared melihat wajah istrinya.
"Kau juga belum tidur," kata Suri lagi.
"Aku akan tidur setelah kau tidur," kata Jared memainkan ibu jarinya mengusap punggung tangan Suri yang begitu halus.
__ADS_1
"Jared …. " kata Suri lembut.
"Ya?"
"Bisakah kau memelukku hingga tidur malam ini?" tanya Suri yang tahu betul, walaupun tidak ada yang mengatakan hal ini, ini adalah malam terakhirnya bersama Jared.
Jared menatap wajah berharap Suri, tentu dia tidak bisa menolak hal itu, Jared mengangguk, dia lalu berdiri dan segera naik ke atas ranjang Suri yang sebenarnya cukup untuk mereka berdua, walaupun tidak terlalu lebar, Jared memeluk Suri memposisikan wanita itu seperti malam pertama mereka tidur bersama, Suri meringkuk berbantalkan lengan Suri, Jared menghirup dalam-dalam wangi tubuh istrinya, air mata yang hangat mengalir begitu saja walau wajahnya terlihat datar.
"Aku selalu berpikir akan bisa tidur begini hingga aku tua, hingga kau dan aku memiliki rambut putih, bangun karena cucu-cucu kita naik ke ranjang kita dan mencoba untuk tidur di antara pelukan ini karena mereka tahu tempat ini adalah tempat paling hangat dan nyaman buat mereka," kata Suri lembut menyebutkan mimpinya, membuat lagi-lagi air mata Jared tak terbendung, air mata Suri pun turun, hangat jatuh di lengan Jared.
"Waktu dan kehidupan tidak ada yang tahu, aku tidak menyangka kita akan mengalami ujian yang begitu berat sekarang, kita bahkan belum pernah bertengkar sebagai suami istri, kau belum pernah marah padaku, Jared, malam ini, marahlah padaku," kata Suri, suaranya bergetar membuat Jared tak bisa menahan tangisnya yang tersedu, dia memeluk Suri lebih keras.
"Jared, jika ini adalah malam terakhirku …. " kata Suri yang langsung di potong oleh Jared.
"Jangan katakan itu, ini bukan malam terakhirmu, akan ada malam lain, ingat kata dokter bahwa hanya kau yang bisa membuat dirimu sembuh, berjanjilah untuk berjuang untuk sembuh, jangan menyerah, jika kau sembuh, aku akan berjanji marah padamu, pikirkan tentang anak-anak kita, pikirkan tentang ceritamu tentang cucu-cucu kita, ini bukan malam terakhirmu, Suri, berjanjilah jangan menyerah, aku di sini menunggumu, kau pasti sembuh, aku benar-benar membutuhkanmu, aku mencintaimu, tolong, jangan meninggalkanku juga," kata Jared dengan suara tangisan tersedu, suaranya terdengar parau dan sengau, terhalang oleh cairan yang memenuhi hidungnya.
Suri pun tak bisa menahan tangisnya, dia tak ingin menyerah, dia tak akan pernah menyerah, tapi siapa yang akan tahu esok akan jadi apa? siapa yang akan memastikan, dia akan bangun untuk bisa merasakan hangatnya pelukkan prianya ini, Suri kesulitan menarik napasnya, padahal dia ingin sekali mencium wangi tubuh Jared yang selalu bisa menenangkannya.
Keduanya tak lagi bisa berkata-kata, hanya merasakan kesunyian dan kehangatan cinta keduanya, Jared tak ingin melepaskan Suri dalam pelukannya sedetik pun, sedangkan Suri hanya ingin mengingat betapa dia sangat beruntung dicintai oleh pria ini.
__ADS_1