
Rain membuka matanya, sudah hampir 3 hari dia menutup matanya, bahu sebelah kirinya terasa sangat nyeri, begitu juga bagian kakinya, dia mengamati ruangan yang serba putih dengan alat dan juga perabotan seadanya, dia lalu mengerutkan dahinya, terakhir kalinya dia ingat dia ada di istana dan Archie menembaknya di kaki, saat dia ingin membalas perlakuan Archie, tiba-tiba saja dia di tembak di bagian bahu kirinya.
Dia ingin bergerak namun tangan kanannya tertahan, dia lalu menyibakkan sedikit selimutnya, ternyata tangannya sudah di borgol di tempat tidurnya sekarang, dia memasang wajah kesal, menarik-narik kembali tangannya, berusaha untuk membuka borgol itu namun sama sekali tidak berhasil, dia menekan kedua bibirnya geram, tangan kirinya pun sekarang terikat perban agar tak bisa bergerak dulu.
"Sial!" umpat Rain yang akhirnya berhenti mencoba karena dia mulai merasa sedikit nyeri di seluruh tubuhnya.
"Akhirnya kau sadar juga," suara yang terdengar langsung membuat Rain mencari sumber suara itu, ketika melihatnya dia hanya melirik dengan penuh amarah, namun juga terlihat pasrah.
"Mau apa kau di sini?" tanya Rain ketus, dia berhenti melirik Archie yang sedang menuangkan air putih ke dalam gelas.
"Tidak ada, aku hanya ingin melihat keadaanmu, apapun yang terjadi kau tetap adalah Pamanku," kata Archie yang segera membawakan air putih itu ke dekat Rain, "mau minum?" tanya Archie lagi memperlihatkan gelas yang sudah terisi air itu.
Rain melirik Archie, sebenarnya kerongkongannya sudah cukup kering, entah sudah berapa lama dia tidak minum, tapi ego dan gengsinya menahannya untuk menerima hal itu dari Archie.
"Tidak," ketus Rain lagi, "pergilah, aku tidak butuh dirimu, jangan mengejekku seperti ini."
"Aku tak punya niat mengejekmu, Paman, aku hanya datang murni untuk memperbaiki hubungan kita sebagai paman dan keponakan, seperti yang kau katakan, aku dan kau adalah satu darah langsung, jadi kita bukannya harus akur," kata Archie yang meminum air putih itu, membuat Rain melihat pria itu, Rain mengerutkan dahinya.
__ADS_1
"Bagaimana kabar Ceyasa?" tanya Rain menatap Archie, dia sebenarnya tak ingin menanyakan kabar wanita itu pada Archie karena bagaimana pun bagi Rain Archie adalah saingannya, tapi sejak dia membuka mata, entah kenapa pikirannya terbang mengingat wanita itu.
"Dia baik-baik saja, maaf aku tidak bisa mengizinkannya menemuinya," kata Archie lagi.
"Apa maumu sebenarnya?" tanya Rain sambil melirik pria itu, merasa tak mungkin Archie hanya datang untuk hal yang dia sebutkan tadi.
Archie tersenyum, dia hanya melirik ke arah Rain, dia lalu duduk dekat dengan Rain sambil melihat ponselnya sesaat, setelah melihat ponselnya, dia langsung kembali memperhatikan Rain.
"Ada yang ingin bertemu denganmu," kata Archie sambil menunjuk ke arah pintu, Rain lalu melihat ke arah pintu itu, pintu tak lama terbuka, manampilkan sosok yang langsung membuat Rain mengerutkan dahinya. Seorang wanita tua diikuti oleh Angga dan juga Jofan yang tangannya juga masih harus di topang karena luka di bahunya belum sembuh namun sudah cukup membaik dan kuat untuk berjalan, Rain melihat kedatangan Jofan langsung berwajah penuh emosi.
"Ibu Linda?" kata Rain lagi mencoba untuk bangkit, namun kesusahan karena tangannya terborgol, dia bahkan tak bisa duduk.
"Lepaskan borgolnya," perintah Jofan pada seorang polisi yang juga ikut ada di ruangan itu, polisi itu mengerutkan dahi, itu akan membahayakan semua orang yang ada di ruangan ini.
"Tapi Tuan …. " kata polisi itu.
"Tidak apa-apa, aku yang bertanggung jawab atas dirinya," kata Jofan dengan suara berwibawanya, Rain yang mendengar hal itu sedikit mengerutkan dahinya, tak percaya Jofan yang menjaminnya padahal dia tahu percis Rain ingin membunuhnya.
__ADS_1
"Siap Tuan," kata polisi itu segera pergi ke sisi Rain, dan segera setelah itu membuka borgol yang ada dipergelangan tangan Rain, Rain segera mencoba untuk duduk, Ibu Linda membantu Rain untuk duduk, dia terus tersenyum dan tatapan kasih sayang itu tidak bisa terbendung, Rain hanya terpaku, dia ingat Ibu Melinda adalah orang yang mengurusnya sejak kecil dan saat ibunya meninggal, dia diasuh oleh orang tua angkatnya dan berpisah dengan Ibu Melinda ini.
"Kenapa Anda ada di sini?" tanya Rain yang sedikit bingung, untuk apa Ibu Melinda datang ke mari?
"Dia datang untuk meluruskan sesuatu," kata Angga yang sekarang maju mendekati Rain, sekarang ranjang Rain sudah seperti dikepung, di sisi kiri ada Archie dan Jofan yang berdiri di sampingnya, sedangkan di sisi kanan ada Angga dan Ibu Melinda.
"Saat kau kecil, ibumu pergi untuk melihat seorang pria yang dia sebut sebagai Pangeran Aksa," kata Ibu Melinda tanpa basa basi, Rain mengerutkan dahinya, dia melihat Archie sejenak yang hanya mencolek hidungnya sendiri, terlalu begah mendengar nama ayahnya selalu di ucap, dia malu memiliki ayah yang seperti ini.
"Lalu?" tanya Rain lagi melihat Ibu Melinda.
"Kau saat itu masih kecil untuk mengetahui keadaan, ibumu menemui Pangeran itu untuk menanyakan keberadaan ayahmu yang ternyata sudah meninggal dunia, ibumu sangat terpukul mendengarkan hal itu, dia terus memelukmu di saat Pria itu mengatakan hal itu, tapi … dia juga mengatakan hal yang lain yang langsung merubah ibumu, dari seorang wanita yang penuh dengan kelembutan, ceria dan juga sangat baik dan ramah menjadi wanita yang pemurung, dia jadi sering melamun dan pemarah, perkataan pria itu benar-benar merubah hidupnya," kata Ibu Melinda.
"Apa itu?" tanya Rain yang sebenarnya merasa bisa menebak hal itu.
"Bahwa, Ayahmu tidak meninggal karena penyakit, melainkan dibunuh oleh seorang pria yang bernama Jofandra Downson, aku ingat sekali tentang hal itu, karena begitu kata-kata itu keluar dari mulutnya, ibumu tampak terdiam, tatapannya begitu kosong, untuk pertama kali sejak aku mengenalnya, Ibumu yang selalu begitu anggun itu, berubah menjadi wanita yang penuh amarah dan dendam, di mata terlihat kemarahan yang tak terbendung," kata Ibu Melinda mengatakan apa yang terjadi hari itu.
"Karena hal itulah, ibumu kemudian menculik anakku untuk membalaskan dendamnya, karena dia benar-benar ingin membunuh Ceyasa, Jendral Indra yang saat itu ditugaskan untuk menyelamatkannya dengan sangat terpaksa menembak ibumu, karena walaupun sudah diperingatkan beberapa kali, ibumu teguh ingin membalaskan dendam yang sebenarnya salah sasaran," Jelas Jofan, mengambil alih pembicaraan, membuat Rain tampak melihatnya seksama.
__ADS_1