Shameless Prince : Our Incomplete Love Story

Shameless Prince : Our Incomplete Love Story
179 - Teman Khayalanmu?


__ADS_3

Nadia membuka matanya, menatap langit-langit putih dengan lampu panjang yang cukup menyilaukan matanya, dia langsung melihat ke arah sekitarnya, ruangan putih dengan beberapa ranjang yang juga terisi pasien.


Nadia langsung melihat tangannya, tangannya tertusuk jarum infus, lalu dia panik melihat ke arah semuanya, kepalanya sangat sakit, terutama bagian belakang kepalanya, bagaimana dia ada di rumah sakit?


Nadia segera mengingat, mimpinya kemarin begitu mengerikan, dia mimpi dia di culik dan juga, Ceyasa? Ceyasa? apa itu mimpi ataukah kenyataan.


"Koas, pasien yang ini sudah sadar," teriak seorang perawat yang tiba-tiba datang dan melihat Nadia, Nadia langsung memandang perawat itu dengan kerutan di dahinya. Kenapa dia berteriak-teriak seperti itu di rumah sakit seperti ini.


Tak lama seorang pria lengkap dengan jas prakternya dan juga buku catatan di tangannya masuk, dia lalu memandang Nadia dengan tatapan sedikit mengamati.


"Tolong diperiksa tanda vitalnya ya? dan tolong dilaporkan kepada Dokter Albert," kata perawat itu segera, memberikan inatruksi, dari pengamatan dan logo yang ada di lemari dekat ranjangnya, Nadia bisa tahu dia sekarang ada di rumah sakit umum milik pemerintah.


"Baik Kakak perawat, terima kasih," kata William dengan senyuman manis, dia sangat senang, akhirnya penyerahan kasusnya akan lengkap dengan pasien terakhirnya ini, dan akhirnya dia akan segera disumpah menjadi seorang dokter.


Perawat itu tersenyum melihat senyuman manis dari William, perawat itu menyerahkan status Nadia pada William yang langsung mempelajarinya semua.


William lalu melihat ke arah Nadia, tidak ada yang aneh dengan dirinya, namun dia di antar ke IGD  karena ada yang menemukannya tak sadarkan diri di pingir jalan raya, tidak ada memar, tanda vitalnya semua normal, juga tidak ada kekerasaan seksual, William sedikit mengerutkan dahinya, apakah dia pasien psikiatri?


"Selamat siang, saya William, apa Anda mengetahui nama Anda?" tanya William yang melihat status itu ditulis dengan nama Nona X.


"Ya, tentu aku ingat, namaku Nadia," kata Nadia yang mengamati William memandangnya dengan aneh dari tadi, William lebih mengerutkan dahinya, Wanita ini menjawabnya dengan baik.


"Aku harus keluar dari sini, aku ingin pergi dari sini, ada temanku yang harus aku tolong, " kata Nadia yang langsung mencabut infus di tangannya, namun karena hal itu dia langsung kesakitan dan darahnya langsung mengucur keluar, William yang melihat itu langsung panik dan cemas.


"Apa yang kau lakukan?" tanya William yang segera mencari sesuatu untuk menghentikan pendarah vena itu. "Kak Perawat, tolong kasa," teriak William, perawat yang tadinya sedang melihat tanda vital pasien lain, langsung kaget melihat lelehan darah Nadia, William mau tak mau menggunakan selimut Nadia untuk menekan venannya. Nadia meringis kesakitan.


"Terlihat mudah dan tak menyakitkan jika di sinteron atau drama, kenapa tidak ada darah yang keluar? tapi di sini ada?" tanya Nadia melihat William yang menekan tangan.

__ADS_1


"Tidak semua yang kau lihat di drama itu benar Nona, jika kau melihat aktris pemeran utama terjun dari lantai tiga dan langsung bisa berjalan, apa kau juga akan melakukannya?" kata William yang tak habis pikir, kenapa di setiap drama adegan ini selalu ada.


"Tergantung, apakah ada pria tampan yang akan menangkapku di bawah," kata Nadia.


"Salah lagi, yang ada pria itu akan mati tertimpa dirimu," kata William yang segera menyerahkan tangan Nadia pada perawat yang sudah menggunakan sarung tangan karetnya, perawat langsung melakukan penutupan luka pada tangan Nadia, William juga langsung mencuci tangannya dengan alkohol dari meja perlengkapan medis yang di bawa oleh perawat itu.


"Tapi benar, aku harus menyelamatkan temanku, dia diculik orang jahat, aku harus menolongnya," kata Nadia langsung tiba-tiba kembali teringat oleh Ceyasa.


William menatap Nadia aneh, jangan-jangan wanita ini mengalami halusinasi, kemungkinan besar memang dia mengidap gangguan mental.


"Aku rasa dia harus dikonsul ke dokter Sp.KJ besok," kata William menulis catatan di buku kecilnya.


"Apa itu dokter Sp.KJ?" tanya Nadia merasa tak satu orang pun mempercayai dia.


"Terima kasih Kak, maaf merepotkanmu," kata William tak mengindakan pertanyaan Nadia, Mlmengucapkan terima kasih kepada perawat itu dengan senyuman manisnya, William lalu menatap Nadia yang masih terlihat bertanya.


"Tidak, itu bukan film, temanku benar-benar dalam masalah, dia diculik oleh si hujan dan aku harus cepat bertemu dengan suaminya, suaminya seorang pangeran, percayalah, dia sedang sangat bahaya, hey, pak dokter!" kata Nadia sedikit berteriak pada William yang mulai meninggalkannya, dia bahkan turun dari ranjangnya.


"Nona, jangan buat keributan, kau belum boleh keluar tanpa adanya persetujuan dari dokter," kata William lagi mencoba menenangkan Nadia yang tampak cukup histeris, berteriak-teriak keras.


"Kau kan dokter, kau harus setuju untuk mengeluarkan ku," kata Nadia lagi yang sedikit menghindar dari William.


"Bukan, aku belum menjadi dokter," kata William lagi dengan wajah hati-hati, takut wanita gila ini akan melakukan sesuatu yang menyakiti dirinya sendiri, lebih parahnya melukai orang lain.


"Jadi kau apa? dokter gadungan?" tanya Nadia menatap William dari atas sampai bawah, terlihat rapi dan gagah dengan jas kosanya, wajahnya juga tampan, Nadia baru menyadarinya, tapi kenapa harus jadi dokter gadungan.


"Nona, kita akan bicara, ayo kembali ke ranjangmu," kata William mencoba sabar.

__ADS_1


"Tidak, aku akan pergi dari sini, aku ingin pergi ke, aduh apa namanya, Ceyasa mengatakannya padaku tapi aku lupa, kepalaku ini isinya apa sih? Pokoknya ada Eastnya, kau tahu dimana tempat pangeran tinggal?" tanya Nadia dengan suaranya yang cukup besar, membuat orang-orang di ruangan itu tampak siaga.


"Pangeran pasti tinggal di istana, istana yang mewah bukan? apa dia menunggang kuda putih?" kata William yang masih menganggap Nadia berhalusinasi.


"Tidak! Ceyasa bilang dia tidak tinggal di sana, dia tinggal di East … East … ah, aku benar-benar lupa," kata Nadia lagi dengan wajah kesal pada dirinya sendiri, kepalanya benar-benar tidak bisa diajak kompromi selain soal drama. William sedikit mengamati Nadia, East? East Park kah? Kakaknya memang punya rumah di sana, tapi bagaimana wanita ini bisa tahu? Apa dia juga penguntit.


"Siapa Ceyasa? apa itu teman khayalanmu?" kata William lagi mengulur waktu cukup lama karena tadi dia mendengar bisikan bahwa keamanan rumah sakit sudah dipanggil, dia harus ditenangkan agar tak menganggu yang lain.


Nadia mengerutkan dahinya, bahunya yang tadi tegang dijatuhkannya, memandang ke arah William dengan kesal.


"Kau mengaggapku gila?" kata Nadia menatap tajam tapi malas ke arah William.


"Tidak, tidak ada yang menganggapmu gila," kata William lagi dengan tatapan percaya, "Oh, aku juga ingat Ceyasa, temanmu yang itu kan," kata William lagi berusaha begitu ramah.


Nadia memandang malas pada William, pria ini ganteng-ganteng sangat menyebalkan, pikirnya dalam hati.


"Aku pergi dari sini, tidak punya waktu untuk kalian," kata Nadia segera berjalan pergi, William yang melihat itu langsung panik, Nadia segera bergegas keluar dari ruangan itu sambil dilihat oleh banyak pasang mata di sana, dan saat dia membuka pintu, tangan dan kakinya langsung di pegang oleh keamaan rumah sakit, mereka segera membawanya dan mendudukkannya ke kursi roda dan segera menyuntikkannya obat penenang, dia sempat meracau beberapa saat hingga akhirnya kehilangan kesadaran, Nadia langsung dibawa ke ruangan khusus untuk pasien dengan masalah kejiwaan, takut dia kembali sadar dan menganggu seperti tadi.


"Kemana dia dibawa?" tanya William


"Ruang isolasi untuk malam ini, terima kasih koas, setidaknya dia tidak mengamuk, kau menanganinya dengan sangat baik," kata perawat tersenyum senang.


"Ya," kata William yang sedikit merasa kasihan melihat Nadia,  keadaannya terlalu bagus untuk pasien dengan gangguan kejiwaan.


"Koas, boleh pulang sekarang, sudah jam 8 malam, ini jaga malam terakhir ya, jangan lupa ya kalau sudah di sumpah," kata perawat lain mengalihatkan pandangan William dari tubuh Nadia yang dibawa pergi.


"Oh, ya Kak, terima kasih untuk semuanya, aku akan bersiap-siap dulu, selamat malam," kata William tersenyum manis, membuat semua perawat di sana membalasnya dengan sumringah, seorang dari Istana yang keluar dari semua kemudahannya hanya untuk jadi seorang dokter, tampan dan sangat pintar pula, usianya 23 tahun dan dia sudah selesai menempuh pendidikannya dan segera menjadi dokter, siapa yang tak akan terkesima olehnya.

__ADS_1


__ADS_2