Shameless Prince : Our Incomplete Love Story

Shameless Prince : Our Incomplete Love Story
283 - Aku tahu siapa dirimu.


__ADS_3

Ceyasa membuka matanya, dia meraba kain beludru yang lembut yang sekarang sedang dikenakannya untuk memberikan kehangatan bagi tubuhnya, dia melihat sekitarnya, matanya masih terasa sepat dan bengkak, dia mengerutkan dahinya, bukannya dia kemarin menangis di lantai, dia tak ingat untuk merangkak ke ranjang dan tertidur.


 


 


Ceyasa memegang kepalanya yang cukup pusing karena menangis begitu lama, dia ingat dia sebelumnya tubuhnya seperti di angkat seseorang, dia sempat membuka matanya sejenak namun entah karena terlalu lelah atau mengantuk, dia bahkan tak melihat siapa yang mengendongnya dan memindahkannya ke ranjang ini.


 


 


Dalam kondisi seperti ini kemungkinan terbesar adalah Rain, pasti dia yang memindahkan Ceyasa ke ranjangnya, tak mungkin Archie melakukannya, Archie? mengingat nama itu membuat air mata Ceyasa lolos lagi dari ujung matanya menghilang diantara rambutnya, hidungnya kembali berair, tampak memerah, Ceyasa memiringkan tubuhnya, menahan sedih yang teramat, hatinya kembali sakit, rasanya seperti luka yang perih terkena cairan asam, air matanya meleleh tak bisa dikontrol olehnya.


 


 


Ceyasa melihat ke arah jendela, semua sudah terlihat gelap, dia sepertinya melewatkan hari ini dengan cepat, tiba-tiba sudah malam, pasti dia tidur terlalu lama tadi, Ceyasa terus memandangi jendela itu, pandangannya kosong, semua yang ada di dalam dirinya terasa kosong sekarang, hanya sesekali suara dia senggugukan dan suara dirinya menarik ingus yang mulai menghalanginya untuk bernapas.


 


 


Tiba-tiba terdengar suara pintu kamar itu terbuka, tidak seperti biasanya, Ceyasa bergeming di tempat tidurnya, dia tetap dalam posisinya, diam saja tanpa bergerak sama sekali, matanya yang kosong pun tetap menatap kosong.


 


Rain datang sambil melihat Ceyasa, dia tahu Ceyasa sudah di kamar ini seharian penuh, bahkan dia tidak makan siang, dia berjalan mendekati wanita itu, tak seperti yang lalu, Ceyasa diam saja, tak meringkuk, tak juga menghindarinya.


 


"Sudah bangun?" tanya Rain, suaranya kembali lembut, dia membuka jas yang dia gunakan, melemparkannya asal ke atas sofa yang ada di sana.


 

__ADS_1


Ceyasa hanya melirik pria itu menggunakan ujung matanya, dia sedang tak ingin melakukan apapun, tubuhnya terasa berat dan pegal semua, ternyata patah hati juga bisa membuat orang merasakan sakit disekujur tubuhnya, sendi-sendinya terasa lemas tak bertenaga.


"Permisi Yang Mulia, makanannya hendak di letakkan di mana?" suara pelayan wanita terdengar.


"Letakkan saja di atas meja," kata Rain lagi.


"Baik Yang Mulia," kata pelayan itu, pelayan itu melirik ke arah Ceyasa yang masih meringkuk di bawah selimutnya, sama sekali tidak memperhatikannya.


Ceyasa bisa merasakan Rain duduk di ranjang sisi yang lain, tubuhnya masih sangat enggan untuk di ajak bergerak walaupun sebenarnya dia tahu bahwa dia seharusnya waspada dengan hal ini.


Ceyasa lalu melihat lampu tidur yang ada di sampingnya, jika saja Rain macam-macam padanya, dia akan memukul kepalanya dengan lampu itu.


"Makanlah selagi masih panas," kata Rain terdengar lembut.


"Tidak," kata Ceyasa, mulutnya terasa lengket ketika mengatakan hal itu.


"Kau tidak makan dari siang tadi," kata Rain lagi, dia melirik punggung Ceyasa.


"Jangan sok perhatian seperti itu, bisakah kau keluar saja, aku sedang tidak ingin melihat dirimu," kata Ceyasa ketus.


 


 


"Untuk apa menangisi pria yang sudah tidak mengingatmu, dalam ingatan Archie yang ada hanya Suri, lagi pula dia mengalami itu semua karena kecelakaan itu, demi untuk menyelamatkanmu dia harus mengalami itu, jadi apa itu salahku?" kata Rain berdiri melihat punggung Ceyasa.


 


Ceyasa yang mendengar hal itu segera membuka matanya lebar-lebar walaupun terasa mengganjal akibat bengkaknya, dia langsung terduduk dan menatap Rain dengan sangat tajam.


 


"Jika bukan kau menculikku\, dia tidak akan seperti ini! kau pria br*ngsek! " teriak Ceyasa melimpahkan semua emosinya\, dia bahkan terlonjak keluar dari ranjang itu dan berjalan mendekati Rain\,  pria ini! salah apa dia harus bertemu dengan pria sebr*ngsek dia.


"Aku hanya mengambil milikku," bela Rain menatap Ceyasa yang sudah sangat marah padanya.

__ADS_1


 


"Aku bukan milikmu, Archielah suamiku," kata Ceyasa.


"Kau pikir jika dia tahu tentangmu yang sebenarnya dia akan tetap menerimamu!" kata Rain yang terpancing sisi emosinya, namun nada bicaranya masih cukup baik. Ceyasa mendengar itu terdiam, dia mengerutkan dahinya, apa lagi maksud pria ini.


 


"Apa maksdumu?" tanya Ceyasa. Rain mengamati Ceyasa sejenak.


"Aku tahu siapa dirimu? siapa ayah dan ibumu, dan aku tahu apa yang mereka lakukan pada ayah Archie? " kata Rain berjalan mendekati Ceyasa. Mata Ceyasa membesar mendengar hal itu.


"Kau tahu? Tidak, kau orang yang sangat licik, kau pasti mencoba untuk mempermainkan aku," kata Ceyasa tak ingin percaya, pria di depannya ini penuh dengan muslihat, Rain yang menatap wajah tak percaya Ceyasa itu segera mengambil ponselnya yang diletakkannya di meja, dia langsung menelepon seseorang.


 


"Asisten Ken, bawa semua berkas tentang Nona Ceyasa kemari," Perintah Rain sambil terus melihat wajah Ceyasa yang masih terlihat antara percaya dan tidak padanya, tentu itu membuat Rain merasa tak senang, bagaimana Ceyasa tak bisa mempercayainya.


 


Mereka menunggu dengan hanya saling berpandangan, saling memasang wajah kesal dan juga curiga, dan tak lama pintu itu segera diketuk, dengan suara besarnya, Rain menyuruh Asisten Ken untuk masuk, Asisten Ken segera masuk dan dia segera menyerahkan Berkas yang cukup tebal pada Rain, Rain segera memberikan gestur agar Asisten keluar dari sana, tentu dia patuh dan segera keluar dari ruangan itu.


 


Setelah mendengar suara pintu tertutup, Rain lalu menjulurkan berkas itu ke depan wajah Ceyasa.


"Kalau kau tidak percaya denganku, kau bisa baca sendiri siapa dirimu sebenarnya, siapa orang tuamu, dan apa yang sudah mereka buat pada ayah Archie," kata Rain dengan tatapan teguhnya.


 


Ceyasa melihat berkas itu, dia melirik sedikit mata Rain yang sebenarnya sangat indah itu, dia segera mengambil berkas itu, membukanya dengan perlahan dengan tangannya yang sedikit bergetar, wajahnya bertekuk penasaran dengan apa yang tertulis di dalam berkas dengan sampul berwarna kuning muda itu.


 


 

__ADS_1


Ceyasa membuka lembar pertama, melihat foto masa kecilnya di sana, dia langsung membaca semua yang tertulis di sana, bagaimana kisah hidupnya, dia diserahkan, diculik lalu diberikan lagi kepada orang lain, dia membuka lembar demi lembar dari berkas itu dan akhirnya terkejut melihat foto pria yang tentu dia kenali, pria itu adalah Tuan Mantan Presiden yang kemarin dia temui di markas militer. Ceyasa sampai tidak bisa menutupi wajah kagetnya, dia harus menutup mulutnya yang ternganga.


__ADS_2