
Ceyasa duduk dipojok toserba yang baru saja ditutup, dia merentangkan kakinya ke depan, bagian betisnya sedikit terasa tegang hari ini begitu juga pundaknya, terasa sangat lelah, mungkin karena hari ini dia harus menangkat begitu banyak buah dan sayuran, malam minggu seperti hari ini memang sangat ramai oleh para pembeli.
"Hei, Ceyasa, lelah? " tanya Tommy mengambil beberapa kardus yang ada di depan Ceyasa, Tommy memberikan senyumannya.
"Ya, lumayan," ujar Ceyasa sambil memukul-mukul kecil pundaknya yang terasa seperti ada batu besar yang menindihnya.
"Bukannya kau sudah boleh pulang? pulanglah, ini tugas kami sekarang," ujar Tamara yang sekarang sedang menyusun beberapa barang dari keranjang belanjaannya.
"Ya, baiklah, terima kasih," kata Ceyasa mencoba untuk bangkit, celemek yang selalu digunakannya saat berkerja dibukanya, dia segera melempar senyum pada teman-temannya yang masih mengerjakan pekerjaan mereka, memberikan lambaian tangan sebentar, lalu segera pergi menuju pintu keluar dari pintu belakang.
Ceyasa merasakan telapak tangannya semakin kasar, tadi pagi dia sempat menjaga bagian ikan dan daging segar, yang membuat tangannya harus terendam air terus menerus, namun Ceyasa bukan wanita yang terlalu peduli tentang hal-hal kecantikan, jadi baginya walaupun kulit tangannya penuh dengan kulit yang mulai mengelupas, dia tak peduli.
Baru saja Ceyasa ingin keluar dari areal toko toserba saat tiba-tiba ponselnya bergetar, membuat Ceyasa berhenti sebentar, dia lalu melihat ke arah ponselnya, sebuah nomor tanpa nama terpampang di sana? Siapa yang meneleponnya, selain Archie tak pernah lagi dia mendengar suara nada dering ponselnya. Dia terus memandangnya, jangan-jangan ini Archie, Ceyasa mengangkat telepon itu.
"Halo? " sapa Ceyasa.
"Mengapa begitu lama mengangkat teleponku?" suara pria yang asing terdengar, ini bukan suara Archie, Ceyasa mengerutkan dahinya, melihat lagi ke arah ponselnya, siapa ini? pikirnya.
"Ehm, maaf, apa Anda tidak salah sambung?" tanya Ceyasa lagi.
Suara dengusan terdengar dari seberang sana, Ceyasa semakin bingung mendengarkannya.
__ADS_1
"Kau tidak menyimpan nomor teleponku di ponselmu? Bukannya aku katakan kau harus siap kapan pun aku membutuhkanmu," ujar Rain lagi
Mendengar itu mata Ceyasa terbuka lebih lebar, jangan-jangan ini Pria yang punya rumah istana di atas bukit itu, siapa namanya, aduh otak Ceyasa benar-benar sangat 'lemot' jika lelah.
"Oh, maafkan aku, aku sedikit susah berpikir jika sedang lelah," ujar Ceyasa mencari alasan.
"Aku butuh kau sekarang," ujar Rain lagi.
"Sekarang? haruskah? Aku sangat lelah," ujar Ceyasa yang benar-benar lelah, apa lagi dia sedang tak ingin pergi ke tempat pria itu, saat siang saja menyeramkan, apalagi malam hari seperti ini, mungkin tempatnya akan seperti rumah hantu, bayang Ceyasa.
"Aku tidak meminta, aku memerintah, " ujar Rain terdengar suaranya sangat serius.
"Aku ke sana naik apa? soalnya aku tidak punya kendaraan, dan sekarang sudah malam, besok saja ya," pinta Ceyasa lagi.
"Kau ingin melakukan apa padaku?" kata Ceyasa lagi, pria ini aneh sekali, sukanya mengancam.
"Aku tunggu kau dalam waktu 20 menit, Jika kau tidak datang dalam waktu yang ku berikan, aku akan datang menculikmu dan memaksamu untuk tinggal di rumahku, jadi setiap saat aku butuh dirimu, kau tak dapat lagi mengelak," ujar Rain seolah tak punya simpati.
"Kau hanya main-main kan?" tanya Ceyasa yang sedikit tak percaya.
"Kau boleh coba," kata Rain, dia langsung mematikan panggilannya membuat Ceyasa terdiam, dia mengerutkan dahinya, Ceyasa menatap layar ponselnya yang kosong, dalam hatinya bertanya, pria ini serius atau hanya main-main sih? Pikir Ceyasa.
__ADS_1
Ceyasa tak ingin ambil pusing, kepalanya saja sekarang sudah pusing, terserahlah, pria itu paling juga hanya mengertak dirinya, mana mungkin dia akan mencari Ceyasa, memangnya aku itu siapa sampai Tuan muda sepertinya harus datang menjemputnya.
Ceyasa memasukkan ponselnya ke dalam tas, sekali lagi mencoba untuk berjalan ke arah luar dan segera berbelok ke jalan pulang ke rumahnya, dia sudah benar-benar lelah, sangat ingin melihat kasur rumahnya. Namun baru beberapa blok dia berjalan keluar toserba tempat dia bekerja, tiba-tiba ponselnya kembali berdering, dari nomor yang sama, Ceyasa tidak ingin mengangkatnya, paling juga pria aneh itu hanya akan mengancamnya lagi.
Ceyasa segera mempercepat jalannya dan untungnya toserba itu tidak terlalu dari rumahnya, saat dia ingin masuk ke gang rumahnya, tiba-tiba saja gang itu dihalangi oleh mobil yang entah dari mana datangnya, mobil itu benar-benar berhenti tepat di depan Ceyasa, Ceyasa langsung mengerutkan dahi, dalam hatinya mengumpat, apa lagi sih ini?
Pintu jendela mobil yang berwarna hitam itu terbuka, menunjukkan sosok yang membuat Ceyasa langsung mebelalakkan matanya.
"Masuk!" suara dingin sedingin angin hembusan malam ini terdengar memerintah Ceyasa, Rain tampak tak acuh duduk di ujung yang lain, sedikit remang menutupi ketampanannya, Rain bahkan tak melirik ke arah Ceyasa yang mematung, pria ini benar-benar serius ingin menculiknya? Tetapi kalau benar-benar menculik, kok dia mengatakannya? Pikir Ceyasa lagi menganalisis dengan logikannya.
"Masuk, atau kau ingin aku menyuruh para penjagaku untuk menyeretmu masuk," lirik Rain melihat Ceyasa yang masih hanya tediam di luar, Ceyasa yang mendengar itu langsung sadar, pria ini tidak bercanda, bahkan seperitnya dia tidak punya selera humor sama sekali.
"Eh, tidak, tidak, tidak perlu, aku akan masuk sendiri," ujar Ceyasa yang segera membuka pintu mobil sedan Rain, dia lalu masuk dan duduk di samping Rain. Tak perlu perintah, begitu Ceyasa duduk dan pintu tertutup, mobil itu langsung berjalan meninggalkan tempat Ceyasa.
Perjalanan itu senyap, Ceyasa bisa melihat mobil ini membawanya kembali ke areal rumah di atas bukit itu, ternyata tak seperti rumah hantu bayangan Ceyasa, rumah itu makin bersinar dan terlihat indah pada malam hari seperti ini.
"Eh, kau ingin aku melakukan apa?" tanya Ceyasa yang merasa harus menanyakan apa yang diingkan pria ini padanya.
"Diam, saat ini aku hanya ingin kau diam," kata Rain ketus, mendengar itu Ceyasa hanya memasang wajah masamnya, kalau hanya diam kenapa harus menculiknya seperti ini, lebih baik dia tidak ada di sini kan? Sehingga pria aneh ini tidak akan terganggu oleh suaranya, Ceyasa jadi bingung melihat pria ini, dia hanya duduk sambil memainkan ponselnya.
Mobil masuk ke dalam halaman rumah yang mewah dan megah itu, mereka berhenti tepat di depan pintu utama yang lebih tampak bersinar ketika malam hari, pintu mobil mereka segera dibukakan, Rain turun dan Ceyasa pun ragu-ragu untuk turun.
__ADS_1
"Nona, selamat datang, lebih baik Anda cepat mengikitu Tuan Rain kalau tidak Tuan pasti akan marah, moodnya sedang tak bagus malam ini," ujar Asisten Qie pada Ceyasa, tampak senyum sungkan di wajahnya, Ceyasa mendengar itu mengangguk mengerti, sebenarnya untuk apa dia disini, itu lah yang belum dia mengerti.