
Jofan duduk menatap Jared yang juga duduk di depannya, Aurora sedang menyiapkan teh di sudut ruang pertemuan yang ada di kamar mereka, sedangkan Jenny tak ikut dan hanya mendekam di kamarnya, lagi pula Jenny tahu bahwa pamannya hanya ingin membicarakan tentang pertunangan Jared dan Suri.
Aurora membawa nampan berisi 3 buah cangkir bergaya klasik yang indah menuju ke tempat duduk Jofan dan Jared.
"Ini teh mawar milikmu, dan ini punya kita berdua Jared," kata Aurora yang membuat teh spesial milik Jofan, dia tahu teh kesukaan Jofan.
Jofan mengambilnya, menyerumputnya sedikit dan menikmatinya, dia cukup kaget Aurora tahu bagaimana teh kesukaannya, rose tea tanpa pemanis, Jofan melirik Aurora yang juga sedang menikmati teh buatanya, menerima lirikan itu Aurora sediki salah tingkah, apakah tehnya tidak enak.
"Apakah tidak enak? aku sengaja membawa teh itu dari tempat kita dulu, aku takut di sini teh itu tidak ada, apakah rasanya jadi berbeda? " tanya Aurora yang takut.
"Tidak, tehnya sangat nikmat, terima kasih," kata Jofan.
Aurora terdiam mendengar pujian itu yang membuat pipi Aurora memerah, jarang sekali dalam pernikahan mereka Jofan memujinya.
Jared menatap paman dan bibinya, keadaan canggung dan tidak dekat ini sudah bukan pemandangan yang mengejutkan baginya karena dari kecil mereka sudah tahu bagaimana hubungan paman dan bibinya, malah jadi hal yang aneh melihat mereka bisa bersama dan harmonis.
"Ada apa Paman memanggilku ke sini?" tanya Jared formal, pamannya memang mengajarinya dengan sangat ketat, seolah memang mendidiknya menjadi penerusnya nanti.
"Apa kau tahu tentang hubungan Archie dan Suri?" tanya Jofan serius, lirikan matanya yang tajam itu sekarang menatap mata Jared, keduanya ternyata punya kharisma yang sama, Aurora yang ada di sana hanya mengamati.
Jared sedikit kaget mendengar apa yang di katakan oleh pamannya, namun dia juga menebak pamannya pasti sudah mengetahui tentang hubungan Archie dan Suri sehingga dia bertanya.
"Ya," jawab Jared.
"Bagaimana kau tidak mengatakan hal itu pada Paman?" tanya Jofan lagi.
"Hingga saat ini aku merasa hal itu bukan urusanku, jadi untuk apa aku mengurusi hal itu dan memberitahukannya pada Paman," jawab Jared dengan gayanya yang dingin.
__ADS_1
"Mulai sekarang itu semua sudah menjadi urusan dan masalah bagimu, aku sudah membicarakan tentang pertunanganmu dengan Suri, Angga awalnya menolak, namun dengan kasus Archie dan Suri ini, aku rasa mereka akan menerimamu karena itu kau harus memanfaatkan keadaan ini," kata Jofan serius.
"Bukan kah itu tidak etis mengambil keuntungan dalam masalah mereka, aku rasa itu tidak baik, jika memang ingin menikah denganku, aku ingin itu memang keinginan Suri sendiri," kata Jared menatap pamannya, Jofan menatap keponakannya, dia punya sifat yang cukup keras kepala dan idealis, dari kecil hanya mengikuti apa yang menurutnya benar, dan Jofan tahu pasti walaupun dipaksa bagaimana pun sekali Jared mengatakan tidak mau, dia tidak akan mau.
"Aku tidak menyuruhmu untuk memaksanya mencintaimu atau menikahimu, aku hanya ingin kau memberikan perhatian lebih untuknya, wanita sangat suka diperhatikan apalagi dalam keadaan seperti ini, dia sangat butuh teman, temani dia lebih sering dan berikan perhatian, jika memang hal ini tidak berhasil, aku tidak akan memaksamu," kata Jofan lagi,
Mendengar apa yang dikatakan oleh Jofan, Aurora meliriknya, dia sedikit tersenyum tipis, Jofan seolah begitu mengerti bagaimana cara menyenangkan dan mengambil hati seorang wanita, namun tak pernah melakukan hal itu pada Aurora sama sekali.
"Baiklah, aku akan menemaninya tapi aku tidak akan memaksa apapun, biar dia saja yang memilih ingin menikah dengan siapa, jika tidak ada yang ingin dikatakan lagi, aku permisi," kata Jared berdiri dan memberikan salam pada pamannya, Jofan hanya mengangguk.
"Jared," suara Aurora terdenger lembut memanggil keponakannya yang sudah dianggapnya anak sendiri.
"Ya, Bibi?" ujar Jared yang sangat menghormati bibinya seperti ibunya sendiri.
"Apa kau mencintai Suri?" tanya Aurora.
Jared terdiam sebentar mendengar pertanyaan bibinya, selama ini jika membicarakan hal ini, tak pernah ada yang menanyakan bagiamana perasaanya? semuanya hanya berpikir bagaimana caranya agar dia bisa menikah dengan Suri, selain memang untuk mendapatkan wanita yang layak untuknya, menikahi Suri termasuk batu loncatan dalam rencana pamannya agar dia bisa meneruskan jejaknya dipemerintahan negara ini.
Aurora mengulum senyum, menyukai bukan berarti mencintai, semua orang bisa menyukai, namun belum tentu bisa mencintai, entah mengapa Aurora merasa Jared hanya terpaksa melakukan hal ini untuk menyenangkan Jofan.
"Kenapa kau bertanya seperti itu pada Jared?" tanya Jofan dengan suaranya yang berat, melirik Aurora yang duduk di sebelahnya, semenjak mereka dipersatukan dalam satu ruangan seperti ini, mereka menjadi cukup dekat dan cukup sering mengobrol.
"Setidaknya kita harus tahu bagaimana perasaannya pada Suri, dia setuju menikah bukan berarti dia punya perasaan dengan Suri, aku takut jika nanti nya mereka menikah, pernikahan mereka akan …. " kata Aurora yang bingung menyampaikan kata-kata yang tepat.
"Akan seperti kita?" kata Jofan menatap wajah cantik Aurora.
"Semoga saja tidak," kata Aurora tersenyum begitu manis sambil meletakkan rambutnya yang halus ke belakang telinganya, dia lalu berdiri dan segera berjalan ke kamar utama mereka.
__ADS_1
Jofan mengamati wanita itu berjalan, tubuhnya masih terlihat sangat bagus bahkan jika diperhatikan tak akan ada pria yang menyangka bahwa sekarang umurnya sudah masuk kepala 4, harum aroma tubuhnya dari tadi mengganggu Jofan, bukan, bukan dia tak suka, namun perlahan-lahan entah kenapa dia malah terbiasa dengan aroma itu yang setiap malam menenangkannya untuk tidur.
Jofan berdiri lalu mengikuti Aurora ke dalam kamar utama, tapi baru saja dia ingin masuk dan menemui Aurora yang baru saja duduk di meja riasnya, ponsnya bergetar, dia melihat ke arah ponselnya dan melihat nama Jendral Indra di sana.
"Halo?" sapa Jofan.
"Tuan, saya ajudan Jendral Indra, saya ingin melaporkan bahwa keadaan Jendral Indra kritis, beliau sangat ingin bertemu dengan Anda segera," kata Ajudan itu pada Jofan.
"Benarkah? baiklah, saya akan ke sana," kata Jofan sedikit panik, Aurora yang mendengar nada suara Jofan yang cemas lalu melihat ke arah suaminya.
"Kami ada di Memorial Hospital Grace."
"Baik."
Jofan segera mematikan ponselnya, dia segera berjalan tanpa mengindahkan bahwa ada Aurora di sana yang menatapnya cemas, tapi hal itu sudah biasa pada Aurora, jadi diurungkannya niat untuk beertanya pada Jofan, Jofan pergi tanpa pamit itu bukan hal yang mengejutkan untuknya, bahkan dia tak pernah menjelaskan apa pun pada Aurora.
Jofan berjalan, namun dia terhenti sebentar saat dia ingin keluar dari kamar utama itu, dia ingat bagaimana wajah Aurora yang ingin bertanya, Jofan lalu melihat ke arah Aurora yang sudah kembali melakukan halnya di meja rias.
"Aurora," kata Jofan.
Mendengar itu Aurora yang tadinya ingin membersihkan wajahnya kaget, dia kira Jofan sudah pergi seperti biasanya, apalagi dia tadi terlihat sangat buru-buru, Aurora segera melihat ke arah suaminya.
"Aku akan pergi, tidak tahu jam berapa akan pulang, tidurlah dahulu, jangan menungguku," kata Jofan sedikit tersenyum tipis pada Aurora, Aurora bahkan kaget mendengar dan melihat hal itu, hal ini hanya dilakukan oleh Jofan jika ada orang lain di sekitar mereka, jika tidak, Jofan tak pernah melakukannya, 18 tahun bersama, melihat senyuman itu untuknya membuat detak jantung Aurora berdetak sangat kecang.
"Baiklah, hati-hati di jalan," kata Aurora berdiri dan tersenyum begitu manis.
Jofan melihat hal itu, membuat senyumannya sedikit lebih mengembang, dia lalu mengangguk dan segera melanjutkan perjalanannya, dia tersenyum melihat kegugupanAurora dan senyum manisnya, tanpa sadar hal itu membuat dia terus mengembangkan senyumannya.
__ADS_1
Aurora masih berdiri terpaku, senyuman yang walau pun sedikit itu menghangatkan malamnya, dia bagai ABG yang baru saja mendapat senyuman dari orang yang di incarnya, rasanya senang sekali bahkan dia tidak bisa berhenti tersenyum dan tertawa kecil, benar-benar serasa sedang kasmaran, bahkan dia kesulitan untuk tidur malam itu karena dia hanya ingin tersenyum.
Dia melihat bantal dan tempat kosong dimana Jofan biasanya tidur, dia mengusapnya, akhirnya suaminya tersenyum tulus untuknya. Dia tertidur dengan tangan di bantal Jofan.