Shameless Prince : Our Incomplete Love Story

Shameless Prince : Our Incomplete Love Story
241 - Bisakah kau menunggu sedikit lagi?


__ADS_3

Mata Jofan saat itu langsung membesar, napasnya berat, emosinya memuncak, dia mengepalkan tangannya dengan sangat erat, dia ingat apa yang dituduhkan oleh Jenny pada Siena bahwa Siena-lah yang mencelakakan Aurora, dan ternyata wanita ituĀ  yang merancang semua ini, membakar rumahnya dan membuat Aurora hampir kehilangan nyawanya, dia memang bertujuan membunuh Aurora, jika begini dia harus menjauhkan wanita itu dari keluarganya, dalam benaknya sepertiĀ  Siena ingin melenyapkan seluruh keluarganya dan akan melenyapkannya terakhir kali, namun kenapa?


Jofan langsung mengembalikan ponsel itu dan buku itu segera, dan sebelum Siena keluar dari kamar mandi dia harus sudah kembali ke kamarnya.


Jofan segera menghubungi Ferdinan yang sekarang menjabat sebagai jendral menggantikan Jendral Indra, memintanya untuk menyelidiki tentang siapa Siena sebenarnya, dia harus tahu apa yang direncanakan wanita itu dan apa alasannya hingga dia harus menghancurkan keluarganya?


Setelah saat itu, Siena berulang kali meminta maaf padanya dan meminta Jofan untuk kembali ke keluarganya, namun Jofan berkilah dia tak akan lagi kembali ke keluarganya, karena dia lebih mementingkan perasaan Siena, Jofan mencoba terus mengawal Siena kemana pun dia bergerak dengan dalih khawatir padanya, dia harus melakukannya untuk menjaga keluarganya, menguak motif mereka dan tentu saja untuk menemukan anaknya yang sebenarnya, jika mereka tahu Jofan punya anak, tak menutup kemungkinan mereka juga tahu dimana anaknya sekarang, atau jangan-jangan anaknya dalam bahaya sekarang, dan karena sikap Jofan tersebut mungkin Siena pun sudah mulai risih dan merasa Jofan sudah tahu dengan rencanannya.


"Tuan Jofan, aku rasa kau harus berhati-hati, mereka akan melakukan perencanaan pembunuhan untukmu," kata Jendral Ferdinan memberitahu Jofan ditengah malam buta itu.


"Kau tahu apa rencanannya?" kata Jofan pada Jendral Ferdinan.


"Aku rasa mereka akan membuat ledakan untuk membunuh Anda, apakah kami sudah boleh bergerak sekarang?" tanya Jendral Indra yang sampai sekarang hanya bersikap pasif.


"Jangan, jika mereka ingin membunuhku, biarkan mereka melakukannya, jika aku masih bisa di selamatkan, maka selamatkan aku," kata Jofan lagi.


"Tapi Anda bisa saja terluka dan terbunuh Tuan," kata Jendral Ferdinan.


"Maka jika aku terbunuh, aku minta kau terus melakukan pencarian anakku dan juga menjaga keluargaku, jangan katakan kematianku, aku rasa aku adalah target terakhir mereka, jika aku mati, mereka tidak akan mengganggu keluargaku lagi," kata Jofan dengan tegas, membuat Jendral Ferdinan cukup lama terdiam. "Kau mengerti?" kata Jofan.


"Siap Tuan, kami akan memantau keadaan, Tuan, pakailah selalu baju perlindunganmu dan juga alat itu, selalu bawa kemana pun kau pergi," kata Jendral Ferdinan lagi.

__ADS_1


"Terima kasih," kata Jofan menutup panggilan terlepon itu.


Itu malam terakhirnya sebelum dinyatakan meninggal, yang dia ingat dia hanya sedang berjalan untuk keluar sebelum bagian dapur dari rumah itu meledak besar, tubuh Jofan terlempar jauh, dengan sepotong besi menancap dan menembus dari pinggang hingga ke perutnya, punggungnya penuh luka bakar dan juga luka kecil karena serpihan kaca yang meledak di dekatnya, Jofan sekarat malam itu dan saat dia terbangun dia sudah ada di rumah sakit.


Pihak militer segera mengevakuasinya, menggantikan tubuhnya dengan mayat yang sudah hangus terbakar berharap para penyerang Jofan menganggapnya sudah mati, Jofan di rawat cukup lama, operasi darurat harus dilakukan karena luka di bagian pinggang dan perutnya itu sangat berbahaya, namun Tuhan masih memberikannya kesempatan, operasinya berjalan dengan baik dan dia perlahan pulih.


Namun saat tubuhnya belum pulih dengan baik, dia mendapatkan kabar bawah Siena merencanakan sesuatu untuk menghancurkan pesta pernikahan Jared, hal itu membuatnya harus turun tangan, dia tak ingin membuat pesta pernikahan keponakannya itu hancur karena hal ini, karena itu dia harus kesana untuk menjemput putrinya yang menjadi liar itu, memancing perhatiannya agar tidak lagi fokus dengan rencanannya itu.


Jofan membuka matanya, lagi-lagi dia harus bangun di ranjang rumah sakit, matanya melihat ke sekeliling ruangannya yang tampak redup, lalu melihat sosok yang duduk di salah satu sofa di sana, tertutup oleh kurangnya cahaya.


"Bukannya dokter di rumah sakitku mengatakan kau masih belum pulih dengan sempurna?" suara tak asing terdengar, pria itu berdiri mendekati Jofan, Jofan sedikit mengangkat sudut bibirnya.


"Pestanya berjalan dengan sangat baik," kata Liam lagi, "Dokterku dan seluruh alat yang kau butuhkan akan aku bawa kemari. "


"Terima kasih sudah menggantikan posisiku di sana," kata Jofan mencoba untuk duduk, walaupun nyeri di perutnya masih sangat terasa.


"Tidak, maafkan aku, aku kira Aurora hanya berhalusinasi, aku kira kau masih ada di sana, aku tidak bermaksud untuk mencari kesempatan," kata Liam yang tidak tahu keadaan tadi begitu genting di sana.


"Tak apa, aku yang tidak tahan untuk tidak melihatnya, lagi pula jika tidak ada kau, dia pasti terus mengejarku, jika itu terjadi, dia bisa dalam bahaya," kata Jofan lagi.


"Saat aku membaca surat yang kau berikan padaku saat kita bersalaman di kantorku terakhir kali, aku tak mengira keadaan akan separah ini, aku kira aku hanya perlu bantuanku menjaga mereka saja, tidak harus sampai melihatmu begini," kata Liam lagi duduk di dekat Jofan.

__ADS_1


"Negara ini kacau, bisakah kau membawa mereka keluar dari sini, di negaramu kau bisa melakukan perlindungan untuk mereka," kata Jofan.


"Aku bisa terus menggoda Jenny, namun Aurora dia sangat susah ditaklukkan," kata Liam menatap Jofan, Jofan mendengar itu hanya mengangkat sedikit sudut bibirnya, merasa senang dengan kata-kata Liam.


"Mintalah Jenny terus merayunya untuk liburan, dia tidak akan menolak keinginannya," kata Jofan lagi.


"Baiklah, aku sedikit aneh melihat dirimu, kau tidak takut Aurora akan berpaling padaku? atau bisa saja aku tak akan membiarkannya kembali padamu," kata Liam lagi.


"Kalau begitu, buatlah dia bahagia, aku hanya ingin melihatnya bahagia walau bukan denganku," kata Jofan.


"Sial, bagaimana aku bisa menang darimu jika begini," kata Liam sedikit tersenyum.


"Tolong jaga mereka sampai aku bisa menjaga mereka," kata Jofan lagi.


"Baiklah, beristirahatlah, aku akan menjaga mereka sebisaku, aku harus pergi sekarang, Jendral Ferdinan mengatakan untuk tidak terlalu lama di sini atau mereka akan mulai mencurigai aku juga," kata Liam berdiri dan mulai melangkah keluar.


"Terima kasih," kata Jofan lagi.


"Tak perlu begitu, beristirahatlah," kata Liam lagi sembari keluar dan menutup pintu meninggalkan Jofan di ruang kosong itu, dia menatap langit-langit ruangannya.


Aurora bisakah kau menungguku sedikit lagi? pikir Jofan.

__ADS_1


__ADS_2