
"Ada apa dokter?" tanya Archie yang juga merasakan hal yang sama.
"Eh, sebentar," kata dokter Ivie yang bahkan tidak memperhatikan Archie atau pun Ceyasa yang sekarang melempar pandang dengan wajah bertanya, tampak begitu serius dengan layarnya.
Setelah menunggu beberapa lama akhirnya dokter Ivie menyelesaikan pemeriksaannya, dia lalu memcetak hasil usg yang tampak seperti sebuah lubang di dalamnya, dia meyerahkannya pada Archie, Archie mengerutkan dahi, tak mengerti apa yang ada di dalam foto itu, Ceyasa mengangkat sedikit kepalanya, ingin mengintip apa yang ada di dalam kertas yang di pengang oleh Archie.
"Maaf, Tuan dan Nona, namun sepertinya saya tidak bisa memasang alat IUD itu sekarang," kata dokter Ivie dengan wajah menyesal.
Archie dan Ceyasa menatapnya bersamaan, dari wajahnya terlihat kaget dan bertanya.
"Kenapa? apa ada masalah dengan kandunganku?" kata Ceyasa kaget, jangan-jangan dia punya kista atau penyakit lain di kandugannya.
"Ya, karena bagaimana saya ingin menghalangi kehadirannya, jika bayinya sudah ada di dalam," kata dokter Ivie menjelaskan dengan suara dan senyuman sumringah.
Mendengar hal itu, mata Ceyasa membesar, dia langsung menatap Archie yang sama syoknya mendengarkan hal itu, Archie lalu melirik ke arah Ceyasa dengan wajah yang tak tahu ingin melakukan apa, apa mereka tidak salah dengar?
"Jadi? Aku hamil?" tanya Ceyasa yang ingin memastikan dia tidak salah dengar.
"Ya, dari hasilnya, sudah sekitar 4-6 minggu," kata dokter Ivie bangkit lalu berjalan ke arah mejanya, Ceyasa kembali memutar wajahnya lambat pada Archie yang juga hanya terdiam, bagaimana bisa tiba-tiba Ceyasa hamil? Bahkan saking kagetnya, gambar hasil USG itu jatuh dari tangan Archie, Ceyasa langsung mengambilnya, melihat gambaran bulat seperti kantung di rahimnya, itukah bayinya? Ceyasa terharu melihatnya.
Ceyasa dibantu untuk turun, Archie sudah duduk duluan di depan dokter Ivie yang sedang menuliskan sesuatu di status Ceyasa, Ceyasa lalu duduk di samping Archie, wajahnya bingung harus apa? apalagi melihat wajah Archie yang hanya diam saja, tidak ada wajah kebahagiaan bagi keduannya, hanya wajah syok dan bingung.
"Bagaimana kau bisa hamil?" bisik Archie.
"Aku tidak tahu, kenapa bertanya padaku? kau yang melakukannya kan?" kata Ceyasa yang merasa aneh di tanya begitu oleh Archie.
Archie mengigit bibirnya, sungguh dia tidak siap dengan kabar ini, bukannya tidak bersyukur, dia hanya bingung harus merespon bagaimana, terlalu tiba-tiba, apa lagi mereka belum menikah ulang.
__ADS_1
"Bagaimana jika ayahku tahu?" kata Ceyasa melirik Archie, bertingkah seolah mereka bukanlah suami istri.
Mendengar hal itu Archie langsung melihat ke arah Ceyasa, matanya membesar, iya, bagaimana jika ayah mertuanya yang galak itu tahu.
Dokter Ivie yang mendengar bisik-bisik pasiennya langsung mengerutkan dahinya, dia merasa pasangan yang ada di depannya ini sebenarnya tidak menginginkan kehamilan ini, jangan-jangan mereka punya niat untuk menggugurkan anak itu, pikirnya, terlalu sering mendapatkan pasangan seperti ini.
"Nona, anak adalah anugrah, begitu banyak orang yang ingin memiliki anaknya sendiri, jika memang kalian tidak siap, itu bukan salahnya jika dia lahir sebelum orang tuanya punya ikatan, jangan pernah berpikiran untuk melenyapkan anak Anda, aku akan dengan senang hati menjaga anak kalian nantinya, aku yakin anak kalian akan begitu tampan atau cantik nantinya," kata dokter Ivie yang mencoba untuk memberitahu Ceyasa agar mengurungkan niatnya untuk mengaborsi bayinya.
Mendengar hal itu, Archie dan Ceyasa segera menatap kearah dokter Ivie, mata mereka berdua membesar karena merasa dokter ini sudah salah sangka dengan mereka, sedikit pun mereka tidak pernah ingin mengugurkan kandungan itu, hanya saja terlalu syok dengan kabar mengembirakan ini. Archie pun hanya bisa terdiam.
"Oh, tidak, aku tidak akan mengugurkan anakku, bukan begitu," kata Ceyasa salah tingkah, langsung ingin meluruskan hal itu pada dokter Ivie.
"Ya, baguslah, harus dijaga kandungannya ya, ini ada penguat rahim dan juga vitamin, ingat jangan menggugurkannya," kata dokter Ivie menyerahkan resep pada Ceyasa.
"Ya, baiklah, terima kasih dan satu lagi, kami sudah menikah," kata Archie segera mengambil kertas itu, lalu menarik Ceyasa keluar dari sana, membuat Dokter Ivie hanya menatap mereka pergi.
Ceyasa dan Archie langsung keluar dan menuju ke apotik untuk menembus obat yang di resepkan oleh dokter itu, Ceyasa hanya diam mengikuti Archie di belakang, merasa Archie pasti kecewa dengan hal ini, tapi dia tidak ingin mengugurkan kandungannya. Ceyasa setuju untuk tidak mempunyai anak, tapi Ceyasa tidak ingin melenyapkan anaknya jika begini.
"Kita harus mempercepat pernikahan ulang kita," kata Archie yang serius mengandeng Ceyasa menuju apotik rumah sakit itu.
"He?" kata Ceyasa yang tadi pikirannya sedang kalut memikirkan hal ini.
"Ya, kita harus mempercepat pernikahan kita, nanti setelah di istana, aku akan bertemu dengan ayahmu untuk membicarakan hal ini," kata Archie segera melirik ke arah Ceyasa, dia menyerahkan resep itu pada petugas yang bergegas mengambil obat-obatan itu karena tahu siapa Archie.
"Maafkan aku, Aku tahu kau pasti kecewa, aku juga tidak tahu dia tiba-tiba sudah ada di sini, tapi, boleh kah aku melahirkannya?" kata Ceyasa dengan suara seperti orang yang bersalah, berdiri di samping Archie, seperti orang ketakutan.
"Apa maksudmu?" kata Arhie melirik ke arah Ceyasa.
__ADS_1
"Kau tidak ingin punya anak kan? Pasti kau sangat kecewa bukan?" kata Ceyasa lagi.
Archie menatap wajah Ceyasa yang hanya menunduk, seperti seorang anak yang takut dimarahi ayah atau ibunya, melihat wajah Ceyasa seperti itu, justru Archie semakin gemas.
"Ya, awalnya mungkin aku berpikir untuk tidak memiliki anak denganmu karena takut akan mengalami hal seperti Suri, tapi, semakin aku bersama mu, semakin aku yakin aku ingin memiliki versi kecil dirimu, aku yakin anak kita akan semengemaskan dirimu," kata Archie menarik Ceyasa dalam pelukannya, memeluknya dengan kehangatan, membuat Ceyasa kaget atas perbuatan Archie.
"Benarkah?" kata Ceyasa lagi melihat Archie setelah melepaskan pelukannya, Ceyasa ingin melihat apakah Archie terpaksa mengatakannya, namun tidak ada wajah terpaksa itu.
"Ya, lagi pula tadi aku juga sudah ingin membatalkannya, tapi kau yang ingin memakainya," kata Archie lagi.
"Karena kan awalnya kau yang ingin.”
"Tidak, aku berubah pikiran, lagi pula, aku rasa dia datang untuk menolong ayahnya," kata Archie lagi tersenyum, membuat Ceyasa mengerutkan dahinya, menolong?
"Menolong apa?" kata Ceyasa bingung, bagaimana anaknya yang masih sangat kecil di rahimnya bisa menolong ayahnya. Archie memasang wajah malasnya, dia lalu memencet hidung Ceyasa, mengoyang-goyangkan hidung istrinya gemas.
"Mudah-mudahan dia tak sebodoh ibunya, tentu dia menolongku, karena jika ayahmu tahu kau mengandung anakku sekarang, dia jadi tidak punya alasan lagi untuk menolak dan memperlama pernikahan kita," kata Archie memberikan alasannya, Ceyasa membesarkan matanya, dia baru mengerti tentang hal ini, dia langsung tersenyum senang.
"Pangeran, silakan ini obat Anda," kata petugas itu bahkan harus keluar dari apotik untuk menyerahkan vitamin itu.
"Terima kasih, ayo, kita pulang, aku harus bertemu dengan ayahmu sekarang dan kau harus banyak istirahat," kata Archie dengan sumringah, mengenggam tangan Ceyasa dengan sangat erat, kali ini tak ada alasan lagi mereka tidak dinikahkan.
"Baiklah," kata Ceyasa juga sumringah, dia meraba bawah perut bawahnya.
"Jaga anakku baik-baik ya," bisik Archie sebelum kembali melangkah, membuat hati Ceyasa bergetar hangat.
"Ya," kata Ceyasa dengan senyuman sumringahnya.
__ADS_1
Mereka melangkah keluar dan segera pergi menuju istana membawa kabar baik untuk mengawali hari itu.