
Jofan segera masuk ke dalam mobilnya, ibunya mengikuti setelah menggunakan mantel cukup tebal, dia duduk di samping Jofan, setelah memastikan ibunya menggunakan sabuk pengaman, Jofan segera melajukan mobilnya, dia melajukan mobilnya cukup kencang membuat jantung ibu Jofan lumayan terpacu.
Cukup lama perjalanan mereka menuju markas militer daerah selatan, bahkan mereka harus melewati sebuah jembatan besar karena memang markas militer daerah selatan adalah markas militer paling terpencil dan berada di pulau tersendiri. Pantas saja dia tidak bisa menemukan keberadaan bahkan kabarnya, karena ternyata dia ada di dekatnya selama ini, bahkan saat bertugas menjadi presiden, Jofan beberapa kali menginap di markas militer ini.
Mereka memasuki wilayah militer, saat di depan gerbang mobil mereka segera dihentikan pasukan tentara khusus, karena memang daerah ini adalah daerah militer khusus.
"Selamat malam Tuan," kata Pasukan khusus itu dengan senjata lengkap.
"Izinkan kami masuk," kata ibu Jofan menunjukkan sebuah lencana yang bahkan Jofan tidak tahu ibunya memiliki itu, melihat hal itu mereka langsung mundur dan seperti memberi kode untuk membukakan gerbang itu. Jofan hanya menatap ibunya.
"Ayahmu yang memberikannya, hanya dengan ini kita baru bisa masuk setelah kita tidak berkuasa lagi," kata ibunya menjelaskan.
"Jadi siapa saja yang tahu hal ini?" tanya Jofan serius.
"Jendral Indra, Jendral Adrian, dan tentu presiden, mereka sudah memberikan izin untuk memanfaatkan fasilitas ini karena memang fasilitas ini dibangun dan dibiayai sepenuhnya oleh perusahaan keluarga kita, mereka tidak bisa menolak," kata ibu Jofan.
__ADS_1
Jofan langsung melajukan mobilnya ketika gerbang besar itu terbuka, tidak ingin membuang waktunya, dia lalu segera mengarahkan mobilnya menuju tempat yang di arahkan oleh ibunya, mereka menuju belakang markas militer itu.
"Hentikan mobil ini di sana," kata ibu Jofan mengarahkan ke sebuah tempat yang seperti gedung belum jadi, Jofan ingat gedung ini, saat dia menjadi presiden, gedung ini juga masih dibangun, setelah sekian lama ternyata bukan karena tidak dibangun, bangunan ini memang sengaja dibiarkan seperti itu sebagai kamuflase.
Jofan segera turun, dia membukakan pintu untuk ibunya yang keluar dengan perlahan, angin daerah selatan itu cukup kencang, hingga membuat rambut ibunya yang mulai memutih seluruhnya terbang, dia segera berjalan mendahului Jofan dan dengan perlahan Jofan mengikutinya, ibu Jofan memindai lencana itu di depan pintunya dan seketika pintu itu terbuka, tak sama seperti yang terlihat di luar, ruangan itu malah terlihat bagus, sangat bagus dengan peralatan-peralatan modern dan minimalis.
Mereka berjalan masuk dan segera menuju sebuah pintu, sekali lagi ibunya memindai lencana itu dan pintu itu terbuka, sebuah lift dengan pintu kaca yang transparan terlihat , ibu Jofan menekan tombol buka dan pintu kaca itu terbuka lalu mereka segera masuk dan ibunya menekan tombol angka 5, lantai paling dasar.
"Di sini tempat penelitian di seluruh bidang, baik kesehatan, bidang militer, dan bidang yang lainnya, dulu saat kau menjabat, di sini hanya ada ruang penahanan dan perawatan Sania, setelah kau tidak lagi menjabat, seluruh tempat ini diubah menjadi pusat penelitian negara dengan jaminan keluarga kita tetap bisa mengakses tempat kita sampai kapan pun dan lantai 5 adalah lantai khusus untuk Sania," kata ibu Jofan memberikan penjelasan.
Jofan yang mendengar itu hanya diam, melihat mereka menuruni setiap lantai, di mana Jofan bisa melihat setiap lantai dipenuhi orang yang masih sibuk melakukan pekerjaannya, seolah tak pernah kenal waktu.
Ibu Jofan langsung menuju ke tengah ruangan, tempat itu sepi, sangat kontras dengan 4 lantai yang dilewati Jofan tadi, bahkan lorong-lorongnya kosong, hanya ada 1 orang yang tampak sedang menunggu di sana, seorang wanita dengan mengunakan pakaian dokter. Saat dia melihat kedatangan Ibu Jofan, dokter itu langsung berdiri dan mendekatinya.
"Selamat malam Nyonya, sudah lama Anda tidak ke mari dan ini sudah cukup larut malam," kata Dokter itu.
__ADS_1
"Ini Dokter Elly, dia yang sekarang bertugas mengawasi keadaan Sania, dia bekerja di lantai 2 di bidang penelitian medis," kata ibu Jofan mengenalkan dokter itu pada Jofan, Jofan hanya mengangguk dengan tegas, jantungnya masih saja berdetak sangat kencang.
"Selamat malam Tuan, saya mengenal Anda, Anda mantan presiden, anak pedana menteri, Anda sudah sangat ditunggu oleh Nona Sania," kata Elly langsung memimpin jalan mereka, Jofan sedikit terkejut, ternyata semua orang tahu tentang hubungan mereka, hal ini membuat Jofan merasa bodoh dan juga tak enak, dia tak tahu apakah Sania benar-benar menunggu dirinya.
"Keadaan Nona Sania dalam 15 tahun ini tidak ada perubahan sama sekali, dia dalam keadaan koma tanpa ada pemburukan maupun pembaikan, tapi …. " kata Dokter Elly terhenti sambil menggesekkan kartu pengenalnya pada suatu pintu.
"Tapi apa?" tanya Jofan penasaran.
"Beberapa hari ini keadaannya sedikit berfluktuatif, detak jantungnya sempat turun naik dan kembali lagi dengan baik, saya rasa Nona Sania tahu Anda akan datang, sehingga dia bereaksi seperti itu," kata Dokter Elly menjelaskan bersamaan terbukanya pintu otomatis yang bergeser, memperlihatkan sebuah kamar dengan perlengkapan medis yang sangat lengkap, suara alat monitor terdengar melengking memenuhi seluruh ruangan itu.
Jofan terpaku, detak jantungnya benar-benar membuat dadanya sesak, membuat dia tak bisa bernapas, terasa udara di tempat itu tiba-tiba sangat tipis bahkan seperti menghilang, Jofan menguatkan dirinya untuk bisa melangkah masuk ke ruangan yang remang itu, Dokter Elly memutar alat kontrol pencahayaan membuat ruangan itu lebih terang namun tak terlalu terang hanya cukup untuk membuat Jofan bisa mengenali wanita yang berbaring di sana.
"Maaf, saya tidak bisa membuat keadaan lebih terang, ini cara untuk memberitahukan Nona Sania keadaan sekitarnya," kata Dokter Elly.
Ibu Jofan hanya melihat anaknya perlahan-lahan berjalan ke arah Sania dengan wajah diam tak percayanya, ibu Jofan bahkan bisa melihat air matanya yang mengalir begitu saja dari mata anaknya yang sudah memerah, tampak menahan haru yang sangat dalam.
__ADS_1
"Kami akan meninggalkan kalian berdua," kata ibunya, melihat ke arah Dokter Elly yang mengerti hal itu, mereka segera keluar dari ruangan itu, menutup pintunya, meninggalkan kedua orang yang saling mencintai namun tidak pernah bisa bersama ini hanya berdua di ruangan itu.
Jofan mendekati tubuh kaku Sania, semakin dia mendekat, semakin tidak bisa dia mengontrol dirinya, air matanya turun begitu saja, perasaannya tidak bisa dilukiskan, haru, sedih, merasa bersalah namun juga senang karena akhirnya permintaanya terkabul yaitu untuk bisa melihat Sania bahkan untuk terakhir kalinya.