
Archie segera mengacungkan pistolnya pada mereka yang kaget karena sudah dikepung oleh para tentara.
"Duduk, " kata prajurit itu menodongkan senjata pada pria yang mengaku-ngaku sebagai suami Ceyasa, dia langsung mengikuti instruksi prajurit itu, bibi dan paman Ceyasa pun tampak ketakutan karena ada 5 orang tentara yang menodongkan senjata pada mereka, wajah mereka panik dan juga ketakutan, apalagi mereka melihat wajah Archie, darah yang mengering tampak sedikit di dahinya.
"Dimana Ceyasa?" tanya Archie dengan suara yang bisa membuat orang gentar.
Bibi, paman dan pria itu saling menatap dengan wajah ketakutan, bingung harus menjawab apa, mereka kira mereka sudah aman, bukannya bos mereka mengatakan bahwa mereka sudah dijaga, jadi mereka merasa santai untuk menunggu Rain, namun yang datang malah para tentara ini.
"Jawab!" kata prajurit itu keras, khas tentara menggertak.
"Kami tidak tahu," kata bibi Ceyasa yang masih saja berusaha untuk mempertahankan uangnya.
Archie menatap bibi Ceyasa dengan sangat tajam, dia sangat marah pada wanita ini, karena wanita ini dengan kejam ingin menyerahkan Ceyasa pada Rain, pasti alasannya adalah uang.
Archie langsung menembakkan pelurunya ke arah kaki bibi Ceyasa, hanya tinggal berapa inchi lagi maka tembakan itu mehujam kakinya, bibi Ceyasa langsung pucat berteriak gemetar.
__ADS_1
"Percayalah, itu bukan tembakan yang meleset, jika kau mengatakan tidak tahu lagi, mungkin peluru ini akan ada di kepala suamimu," kata Archie pada wanita itu dengan suara yang menambah gemetar bibi Ceyasa.
"Dia ada di atas, percayalah, dia tidak apa-apa, kami tidak melakukan apapun," kata paman Ceyasa menunjukkan dimana Ceyasa, dia tahu benar istrinya pasti sudah sangat ketakutan hingga tak akan bisa lagi berbicara. Archie melihat ke arah atas, dia ingin langsung naik ke atas, namun pimpinan prajurit itu seperti mendapat kabar.
"Yang Mulia, dia datang," kata Pimpinan prajurit itu, Archie mengangguk pelan.
---****----
Rain datang menapakkan kakinya langsung ke depan rumah itu, dia sudah tak sabar untuk bisa bertemu dengan Ceyasa, akhirnya penantian dan kesabarannya terbayar juga, dia akan bisa mendengarkan langsung dari bibir Ceyasa tentang apa yang terjadi pada ibunya, selain itu ada alasan lebih kuat untuknya merasa sangat ingin bertemu Ceyasa, ada perasaan yang selalu menggebu untuk bisa mencium harum tubuh wanita itu dan juga senyumannya yang tak bisa dia hapuskan dari ingatannya walaupun sedetik pun.
Mereka saling mengacungkan pistol ke arah wajah masing-masing, namun Rain dan Asisten Ken sudah di kepung, dari beberbagai sisi tampak lampu berwarna merah mengarah ke tubuh Rain maupun Asisten Ken, jika mereka melakukan sesuatu pada Archie, maka tangan mereka sudah siap untuk melepaskan timah panas ini ke tubuh Rain dan juga Asisten Ken, 4 orang tentara mendekat juga mengacungkan senjata mereka pada Rain, sedikit saja mereka mengeluarkan gerakan, tubuh mereka akan habis di berondong peluru.
Namun Rain seolah tak peduli, dia hanya menatap Archie dengan sangat tajam, geram dengan apa yang terjadi, dia mengertakkan giginya, Archie pun rasanya ingin membunuh pria yang ada di depannya sekarang ini, kalau tidak memikirkan bahwa dia tidak punya hak istimewa lagi dan membunuh pria ini akan membuatnya di penjara, dan itu artinya sama saja dia akan berpisah dengan Ceyasa, dia pasti sudah melakukannya dari tadi.
"Kalau kau ingin membunuhku, bunuh saja," kata Rain seolah bisa menebak isi pikiran Archie, sebenarnya dia pun saat ini ingin sekali membunuh Archie.
__ADS_1
"Aku tidak akan terjebak," kata Archie menatap Rain.
"Baiklah, aku yang terjebak, bagus sekali," kata Rain lagi, senyuman sinisnya mengembang, selalu saja membuat Archie tak nyaman, Rain mengulum bibirnya, menurunkan pistolnya perlahan yang langsung di sambut oleh pengamanan dari para tentara. "kali ini kau boleh menang, aku ingin tahu seberapa lama kau bisa menahanku, tapi setelah aku bebas, jangan harap ada kebebasan untukmu dan dia," kata Rain saat dia dibawa keluar melewati Archie, Archie yang mendengar itu langsung menggenggam erat tangannya, melirik ke arah Rain yang menatapnya dengan sangat serius, senyumannya itu mengembang lagi membuat Archie benar-benar ingin membunuhnya sekarang.
Namun Archie menahan dirinya, dia ingat tentang Ceyasa, dia segera berjalan ke arah tangga, dia tahu pasti Ceyasa sangat ketakutan sekarang, dia ingin melihat bagaimana keadaannya? Apakah dia benar-benar baik-baik saja.
Archie segera melihat satu persatu kamar di lantai 2, namun tak ada apapun di sana, lalu dia berjalan menuju salah satu kamar yang tertutup, dia mencoba untuk membukanya, namun pintu itu seperti ada yang menghalangi, dia terus berusaha untuk mendorong pintu itu, sekelebat melihat siluet seorang wanita yang dia yakini adalah Ceyasa.
Archie segera mendorong lebih keras dan pintu itu langsung terbuka, namun begitu pintu itu terbuka, dia melihat Ceyasa yang sedang berlari ke arah balkon, mata Archie membesar dan dengan refleksnya dia segera berlari mengejar Ceyasa yang sepertinya ingin melompat dari sana, Archie melihat Ceyasa sedang menaiki pagar pembatas itu, Archie segera mempercepat langkahnya dan saat Ceyasa sudah hendak melompat, dia segera menangkap tubuh Ceyasa, dia menahan Ceyasa memegang bagian pinggang Ceyasa agar dia tak jadi untuk melompat, Archie langsung menarik tubuh Ceyasa ke bawah namun Ceyasa terus berontak.
"Lepaskan! Aku tidak ingin kau sentuh! Lepaskan!" teriak Ceyasa bagaikan orang yang kesetanan di dalam pelukan Archie yang memeluk perutnya dari belakang, Ceyasa memukul-mukul tangan pria yang dia kira adalah Rain, Ceyasa langsung mengambil tangan pria itu dan segera mengigitnya dengan keras, membuat Archie langsung berteriak kesakitan.
Mendengar suara yang familiar, Ceyasa langsung berhenti dan melihat ke arah sumber suara, melihat Archie sedang mengibas-ngibaskan tangannya yang sangat sakit digigit oleh Ceyasa.
"Aku rasa kau tidak perlu pertolongan jika seperti ini," kata Archie melihat ke arah Ceyasa sambil berwajah pura-pura kesal, Ceyasa yang melihat Archie di sana hanya bengong, dia merasa mungkin sekarang dia sebenarnya sudah jatuh dan kepalanya terbentur sangat keras hingga dia halusinasi melihat Archie yang datang padanya, melihat wajah Archie yang kesal itu Ceyasa langsung menangis, airnya meleleh begitu saja membasahi pipinya, baru saja beberapa jam tidak bertemu, ternyata dia begitu merindukannya bahkan hingga diakhir hayatnya pun yang dia ingin temui adalah Archie.
__ADS_1
Archie menatap Ceyasa yang langsung menangis dengan sangat sedih, menatapnya bagai sudah seribu tahun tak pernah bertemu, Archie yang melihat sorot mata yang penuh dengan rasa cinta itu pun mengerti apa yang Ceyasa rasakan, dia sedikit menaikkan sudut bibirnya dan segera mendekatkan dirinya pada Ceyasa, spontan memeluknya, memeluknya erat sekali, Ceyasa pun membalasan pelukan itu dengan sangat erat, bahkan hingga membuatnya sangat sesak, mencium wangi pria itu dalam-dalam.