Shameless Prince : Our Incomplete Love Story

Shameless Prince : Our Incomplete Love Story
236 - Kita akan pikirkan nanti.


__ADS_3

"Bagaimana jika tidak? Ceyasa, apakah anak sangat penting bagimu?" tanya Archie melihat ke arah Ceyasa lembut namun penuh emosi.


Ceyasa menatap mata Archie yang sudah basah, melihat hal itu Ceyasa menunduk, dia menyukai anak-anak, dia selalu bermimpi membesarkan anaknya dengan penuh kasih sayang sehingga apa yang selama ini tak pernah dia dapatkan, dia akan memberikannya pada anaknya, mencurahkan seluruh yang dia bisa.


Archie bisa melihat kekecewaan itu, walaupun Ceyasa tidak menjawab, dia tahu Ceyasa menginginkannya.


Archie mengigit bibirnya, "Jika kau sangat menginginkannya, kita bisa pikirkan nanti, mungkin mengadopsi atau jika kau ingin anak dari rahimmu sendiri, kita akan mencari donor untukmu," kata Archie, perasaannya sebenarnya terluka mengatakan hal itu, dia bukan tak bisa memberikan anak untuk Ceyasa, namun hal itu hanya seperti memberikan kebahagiaan sejenak sebelum bom kesedihan yang tak terbayangkan akan meledak, mungkin satu-satunya cara adalah begini, walaupun sebenarnya perasaannya tak rela sama sekali.


Archie berdiri untuk menyudahi hal ini, saat dia ingin melangkah tangannya ditarik oleh Ceyasa, membuat Archie seketika berhenti dan melihat istrinya yang sudah mengangkat kepalanya, sedikit mengulum senyum lalu berdiri mendekati Archie.


"Aku tak perlu donor, kita adopsi saja anak yang senasib dengan kita, aku rasa kita bisa membuat hidup mereka lebih baik dari kita," kata Ceyasa lembut, mencoba menekan egonya karena bagaimana pun sekarang Archie adalah suaminya, perasaan suaminya juga penting baginya, dia tahu walaupun Archie mengatakan hal itu, sebenarnya dia juga sangat terluka, apalagi jika harus membiarkan dirinya mengandung anak dari benih orang lain, Archie pasti sangat-sangat terluka.


"Kau yakin?" Tanya Archie sambil mengerutkan dahinya, tahu itu pasti berat bagi Ceyasa, dia melihat wajah Ceyasa yang tersenyum tipis.


"Ya," kata Ceyasa lagi, walaupun menyebalkan, Ceyasa bisa merasakan Archie benar-benar mencintainya, melakukan hal itu karena tak ingin dirinya sedih.


Archie tak menjawab, hanya menarik tubuh istrinya, memberikan pelukkan hangat pada Ceyasa, Ceyasa hanya tersenyum tipis menerimanya, ya mungkin memang mereka ditakdirkan untuk membuat hidup anak lain tak seperti mereka, Ceyasa mencoba untuk menyakini hal itu, walau dalam lubuk hatinya yang terdalam, masih ada keinginan untuk memiliki anaknya sendiri.


"Kita harus bergegas bukan?" Kata Ceyasa melepaskan tubuhnya dari Archie. Archie menatap wajah Ceyasa, senyumnya begitu manis namun dia sama sekali tidak melihat ke arah mata Archie. Archie mengulum senyumnya, apakah dia terlalu egois tentang ini?


"Ya," kata Archie seadanya.


"Baiklah, ayo, kita harus menyiapkan semuanya," kata Ceyasa berjalan duluan, Archie mengikutinya dengan perlahan di belakangannya, entah kenapa ada rasa canggung di keduanya.


Archie menunggu di sebuah butik langganan kerajaan, tempat nenek, ibu dan sekarang Ceyasa sedang mencari gaun untuk mereka gunakan di acara Jared dan Suri, dia juga harus menyiapkan pakaiannya dan juga pakaian untuk Jared, Jared harus menggunakan pakaian resmi kerajaan tanpa atribut, karena Angga yang akan memasangkan atribut itu sebagai tanda dia telah resmi masuk dalam jajaran keluarga kerajaan.

__ADS_1


"Bagaimana persiapan di sana?" tanya Archie yang menelepon Gerald.


"Sudah hampir selesai, aku mengikuti semua rancangan yang kau berikan, sejauh ini semuanya berjalan dengan baik, undangan tamu khusus pun sudah disebar dan rata-rata mereka mengkonfirmasi mereka bisa datang, bahkan presiden pun bisa datang," kata Gerald senang, sepertinya urusan yang tadinya dia khawatirkan berjalan dengan sangat mudah.


"Baguslah kalau begitu, beri kabar jika ada yang bisa aku bantu," kata Archie lagi, dia tampak mengangguk-angguk sedikit dan segera mematikan panggilan ponselnya.


"Yang Mulia Pangeran, baju Anda sudah selesai, untung saja Anda sudah memesan baju ini beberapa bulan yang lalu," kata seorang perancang busana itu memberikan baju resmi kerajaan Archie, Archie merasa baju itu lebih cocok dikenakan oleh Jared nantinya.


"Ya, itu bagus, apa masih ada baju resmiku yang lain?" kata Archie.


"Ini terlalu mendadak, aku hanya punya satu yang ini," kata perancang itu lagi.


"Baiklah, tidak masalah, aku masih punya banyak di istana, tolong disiapkan," kata Archie kembali ingin duduk di tempatnya, harus kembali menunggu karena 3 wanita itu belum juga menunjukkan tanda-tanda akan selesai, namun baru saja dia ingin duduk.


"Archie," suara Nakesha terdengar, ibunya itu hanya menunjukkan sedikit kepalanya yang keluar dari gorden tempat ruang ganti wanita.


"Berdirilah di situ, ibu ingin menunjukan sesuatu," kata Nakesha dengan wajah sumringahnya, Archie geleng-geleng kepalanya, tingkah ibunya ini selalu saja beda dengan yang lain, mungkin itu juga yang membuat Archie bisa menyukai Ceyasa.


"Baiklah," kata Archie berdiri di tempat yang di tunjukkan oleh ibunya.


"Tunggu sebentar," kata Nakesha.


Archie hanya mengerutkan dahinya, entah apa yang disembunyikan ibunya, namun sebagai anak yang baik dia mengikuti saja apa yang ibunya inginkan, dan saat dia menunggu, gorden yang menjadi pembatas antara ruangan dirinya dan ruangan ganti itu terbuka, menampakkan sosok Ceyasa yang berdiri di atas tengah ruangan ganti yang dipenuhi kaca.


Archie yang tadinya sedikit tidak peduli kali ini kembali terdiam, melihat wanitanya yang sedang berdiri dengan begitu anggun di tengah ruangan, Ceyasa tampak begitu mempesona dengan gaun potongan A dengan taburan batu permata berwarna champaigne, bagian dadanya tepotong rendah memperlihatkan garis dada Ceyasa, dengan ukiran bunga  yang mewah di bagian dada dan bagian ujung lengannya, lengannya bajunya yang panjang tampak menembus, memperlihatkan kulit Ceyasa yang tampak sosok sekali menggunakan gaun berwanar champaigne itu, Archie tak bisa berkedip melihatnya.

__ADS_1


"Bagaimana?" kata Nakesha melihat anaknya hanya terpaku melihat menantunya.


"Em, kenapa memakai baju seperti ini, tidak lihat ini terlalu rendah, kau ingin memamerkannya ya?" kata Archie yang membuka jasnya segera sambil berjalan dia sekaligus menggerutu, saat Ceyasa sudah di depannya, dia langsung menutupi bagian dada Ceyasa yang terlalu terekspos itu, Nakesha yang melihat itu hanya geleng-geleng kepala, anak dengan ayah, sifatnya sama aja.


"Aku juga merasa begitu, ibu yang menyuruhku untuk memakainya," bela Ceyasa namun sebenarnnya tak ingin mengadu.


"Iya, benar, ibu yang menyuruh, bukannya gaun ini sangat cantik, Ceyasa juga sangat cantik, di pesta itu pasti mereka akan terpukau melihatnya, istri seorang pangeran bukannya harus menarik perhatian semua orang," kata Nakesha senang karena Ceyasa sangat cantik menggunakan pakaian pilihannya, terbukti Archie menjadi tercengang melihatnya.


"Kalau begitu, jangan menggunakan gaun ini," kata Archie melihat Ceyasa dan ibunya.


"Lalu? Dia pakai baju apa?" tanya Nakesha lagi.


"Apa saja asal jangan baju seperti ini, aku tidak suka, gantilah, Ibu juga harus cepat memilih gaun, waktu kita sempit, aku harus menyerahkan baju Jared untuk di pakainya nanti," kata Archie jadi sewot terus menerus.


"Baiklah, sudah kau hubungi papamu dan adikmu, mereka juga harus bersiap-siap," kata Nakesha.


"Sudah, papa dan William sudah ada di istana, mereka mengatakan akan menunggu kita," kata Archie lagi.


"Baiklah, tunggu sebentar lagi, gara-gara kau tidak suka gaun ini aku harus mencari yang lain," kata Nakesha yang segera meninggalkan Archie dan Ceyasa, dia tampak mencari gaun yang lain untuk dipakai oleh Ceyasa. Sibuk sendiri mencarikan menantunya ini gaun, menantunya harus bersinar dalam pernikahan itu.


"Maafkan ibuku, dia benar-benar ingin punya anak perempuan, jadi dia yang sibuk mencarikan gaun untukmu," kata Archie melihat Ceyasa yang berdiri di depannya.


"Ya, ibumu baik sekali, aku akan melepas gaun ini," kata Ceyasa ingin berbalik kembali ke kamar ganti, namun saat dia berjalan turun, tangannya langsung di genggam oleh Archie, Ceyasa menatap Archie dengan wajah bertanya.


"Kau cantik sekali dengan gaun itu, tapi aku tidak suka wanitaku menjadi perhatian orang lain, bisakah mencari gaun yang lebih sederhana, biarkan aku saja yang melihat seberapa cantiknya dirimu, jangan orang lain," kata Archie memandang serius Ceyasa, Ceyasa melihat itu tersenyum tipis, merasa suaminya ini sedang menggodanya.

__ADS_1


"Gombal," kata Ceyasa meleparkan jas yang tadi diletakkan Archie pada dadanya,  Archie yang mendapatkan lemparan jas itu segera menangkapnya, melepaskan tangan Ceyasa yang segera pergi masuk ke dalam ruangan ganti, Archie melihat tingkah istrinya hanya tersenyum, ke bar-barannya tak pernah hilang juga.


__ADS_2