
Ceyasa membuka matanya, tadi malam dia sampai ke ibu kota sudah sangat larut, dia bahkan tak ingat dengan benar apa saja yang dia lalui, dia hanya ingat dia dibangunkan untuk pendaratan yang menurutnya lebih menakutkan dari pada saat dia terbang dan tiba-tiba dia sudah ada di Ibu kota dengan hiruk pikuk dan penuh dengan keramaian, dia bahkan turun jauh setelah Archie turun dan di tutupi oleh selimut, Gerald mengatakan demi keamanannya mereka harus melakukannya, karna Archie bukan orang sembarangan, setelah itu dia diarahkan ke sebuah mobil yang terpisah dengan mobil Archie, dia hanya ditemani oleh Gerald dan dia segera dibawa ke rumah sakit, karena sudah malam, dia diminta untuk menginap di rumah sakit untuk penanganan lebih lanjut.
Ceyasa melihat ke sekeliling kamar rawatnya yang bahkan lebih luas dari rumahnya di desa, di dominasi warna putih yang cerah, dengan beberapa sofa dan tempat makan sendiri, bahkan di terdapat ruang tamu tersendiri dan dapur, ini rumah sakit atau rumah? pikir Ceyasa yang baru kali ini melihat ruangan rawat begitu lengkap, siapa yang tak nyaman tinggal di tempat seperti ini, hanya bau disinfektan yang terasa mengganggu.
"Selamat pagi," sapa Gerald yang membuka pintu kamar Ceyasa, di belakangnya seorang perawat membawakan makanan pagi untuk Ceyasa, meletakknya pada meja kecil agar Ceyasa bisa makan di atas ranjangnya, Ceyasa melihat makanan yang disuguhkan untuk sarapan ini, bahkan bisa untuk makan hingga siang, begitu banyak dan lengkap, ada lauk, sayuran, nasi, buah-buahan hingga jus dan susu, mana bisa dia menghabiskan semua ini.
"Makanan ini semua untukku?" tanya Ceyasa tak percaya.
"Ya, tentu, Pangeran ingin seluruh keperluan Anda terpenuhi, silakan makan, saya ingin memberikan Anda ini, karena disini semua orang mengenal beliau, beliau tidak bisa keluar sesuka hati, karena itu beliau tidak akan datang ke sini, beliau akan menghubungi Anda dengan ponsel ini," kata Gerald menyerahkan ponsel itu pada Ceyasa yang mulai memakan makanannya perlahan sambil mendengarkan apa yang dijelaskan oleh Gerald.
"Ehm, tapi …. " kata Ceyasa menggenggam ponsel yang mirip dengan milik Archie.
"Anda tidak tidak bisa menggunakannya kan, aku sudah diperintahkan oleh Pangeran untuk memberikan pelajaran singkat tentang hal ini, setelah Anda makan, aku akan mulai mengajari Anda semuanya," kata Gerald tersenyum, Ceyasa mengangguk dan Gerald mulai sibuk dengan pekerajaannya yang lain.
Setelah selesai makan, Gerald segera memberikan pelajaran singkat untuk menggunakan ponsel, Ceyasa mendengarkannya dengan seksama, dia cukup cepat untuk menangkap informasi baru jadi dia sudah lumayan mulai bisa menggunakannya, selain itu dia juga pernah meminjam ponsel Nadia, walaupun tak secanggih ini, namun berkat itu dia juga sudah tahu gambarannya.
"Siang nanti mungkin Pangeran akan menghubungi Anda, saya akan tinggalkan Anda dulu, saya harus mengurusi hal yang lain," kata Gerald tersenyum sabelum keluar dari kamar rawat Ceyasa.
"Gerald," panggil Ceyasa, membuat Gerald urung melanjutkan langkahnya.
"Ya?"
"Terima kasih banyak," senyum Ceyasa mengembang begitu manis. Gerald melihat hal itu langsung sedikit tersipu, ternyata gadis ini jika tersenyum begitu manis.
"Sama-sama," kata Gerald kembali tersenyum membalas Ceyasa.
Ceyasa duduk di kamar itu memandangi ponsel barunya, mencoba-coba fitur-fitur yang ada di sana, kamera bahkan permainannya, Gerald bilang Ceyasa bisa mengunduh banyak hal, permaianan, bacaan dan lain-lainnya di sebuah aplikasi, jadi Ceyasa mencoba untuk mengunduh permainan-permainan untuk dirinya agar tidak terlalu bosan dan dengan cepat dia sudah mulai terbiasa menggunakan mainan barunya itu.
__ADS_1
Tak lama menunggu, seorang dokter datang dan segera melakukan pemeriksaan pada Ceyasa, kaki Ceyasa hanya mengalami Muscle sprain (keseleo) dan tidak ada masalah yang lain, jadi dia hanya diminta untuk tidak terlalu banyak mengerakan kakinya dan juga minum obat yang diberikan oleh Dokter, setelah Dokter melakukan pemeriksaan, Ceyasa masih harus menunggu lagi karena Gerald belum juga datang.
Saat dia sedang bermain di ponselnya, tak lama ponselnya bergetar dan nada dering panggilan masuk terdengar, dia melihat serangkaian nomor karena kontaknya masih kosong Ceyasa merasa mungkin saja ini dari Gerald, dia segera mengangkatnya dan segera meletakkan ponsel itu di dekat telinganya.
"Halo?" kata Ceyasa.
"Ini panggilan video, tidak perlu meletakkannya di depan telingamu," suara Archie terdengar besar, Ceyasa langsung menjauhkan ponsel itu dari telinganya, lalu melihat ke layar, wajah Archie terpampang di sana, dia sedang terlihat mengunyah sesuatu.
"Oh, hai," kata Ceyasa gugup melihat tampang Archie yang kelihatan baru bangun tidur.
"Bagaimana keadaanmu? apa kata dokter? Kau sudah diperiksa kan? Kalau tidak biar aku menyuruh Gerald untuk mempercepat pemeriksaanmu," kata Archie langsung mencerca Ceyasa dengan pertanyaan, Ceyasa bisa melihat Archie sedang sarapan, beberapa pelayannya menuangkan susu untuknya, pantas saja dulu dia tidak tahu cara menyapu, semua hidupnya pasti dilayani oleh para dayang-dayang seperti itu, pikir Ceyasa.
"Kenapa tidak menjawab?" tanya Archie lagi.
"Oh, iya, kakiku cuma keseleo, tidak ada masalah, kan sudah aku bilang aku sering begini, bengkaknya juga sudah tidak terlihat lagi, hanya sedikit sakit saja, bisakah aku keluar dari rumah sakit sekarang? aku tidak terlalu suka rumah sakit," kata Ceyasa.
"Ha? rumah? tidak, aku tidak mau, kau sudah mengeluarkan uang begitu banyak, kau tidak boleh boros, simpan uangmu!" kata Ceyasa dengan ekspresi kagetnya.
"Tabunganku bahkan tidak muat lagi, jadi aku berikan padamu," kata Archie sombong, membuat Ceyasa menatapnya kesal. "Atau biar aku saja yang memilihkanmu rumah sendiri, bagaimana? Kalau kau tidak mau tinggal serahkan saja pada orang lain, aku tidak suka mengambil barang yang sudah aku berikan pada orang lain," ucap Archie lagi melirik ke arah Ceyasa, merasa selalu senang melihat wajah kesal Ceyasa.
"Baiklah, aku akan memilihnya, tapi terserah aku mau rumah yang bagaimana ya, kau tidak boleh protes," kata Ceyasa.
"Baiklah, sudah tunggu saja di sana, Gerald akan segera menemuimu," kata Archie.
"Iya, iya, ehm … terima kasih," kata Ceyasa. Archie yang pertama kali mendengar Ceyasa berterima kasih langsung kaget, dia bahkan hampir tersedak. "Tidak perlu berlebihan seperti itu juga," kata Ceyasa kembali kesal melihat reaksi Archie yang berlebihan, Archie melihat itu langsung tertawa, Ceyasa mematikan panggilan telepon itu, Archie segera mengubah tawanya menjadi senyuman, meletakkan handphonenya di sampingnya.
"Kau tidak ingin mengganti ponselmu itu, sudah retak," kata Gerald yang duduk di samping Archie melihat ponsel Archie yang retak layarnya.
__ADS_1
"Tidak, kau dengar sendirikan, aku tidak boleh boros," senyum Archie merekah sambil mengatakan itu, entah kenapa dia malah menjadi begitu senang karena dimarahi terus menerus oleh Ceyasa.
"Ehm, kau yakin melepaskan Ceyasa?" kata Gerald lagi.
"Ya, memangnya kenapa?" kata Archie melirik Gerald yang berwajah serius.
"Aku rasa kita bisa meminta bantuannya untuk membantumu di kerajaan, kau bisa membuatnya sebagai tameng untuk Suri dan Raja Angga, untuk Suri kau bisa menjadikannya alasan hingga Suri tidak akan mengganggumu lagi dan untuk Raja Angga, dia akan merasa kau bukan lagi masalah," kata Gerald sambil menatap Archie yang tampak begitu serius mendengarkan Gerald, sebagai Asisten merangkap penasehat merangkap sebagai sahabat, Gerald memang harus memikirkan dan memberi solusi yang baik untuk Pangerannya.
"Jadi maksudmu kita bisa memanfaatkannya?" lirik Archie pada Gerald.
"Bahasa kasarnya ya seperti itu," kata Gerald enteng, karena menurutnya Ceyasa itu sangat tepat untuk dijadikan tameng, lagi pula Archie sudah keluar uang begitu banyak untuknya, tentu saja Ceyasa harus membayar kebaikan Archie bukan?
"Tidak, aku tidak ingin dia masuk ke dalam lingkaran kerajaan, dia tak akan sanggup melewatinya, sekali masuk lingkaran istana, kau tidak akan bisa keluar selamanya," kata Archie sambil memainkan gelas yang ada di tangannya.
"Baiklah, kalau itu keputusanmu, tapi coba pikirkan lagi, itu kesempatan yang bagus," kata Gerald lagi, merasa sayang melewatkan kesempatan ini.
"Sebisa mungkin jauhkan dia dari apapun yang berhubungan dengan istana, setelah ini, aku juga akan memutuskan semua hubungan dengannya," kata Archie mengamati gelas kristalnya namun pikirannya pergi jauh entah ke mana.
"Baiklah kalau begitu, aku akan segera mengurusnya semua, berapa yang harus aku berikan untuknya sebagai pegangan," tanya Gerald berdiri dari kursinya.
"Lima ratus Juta saja, aku rasa cukup," kata Archie.
"Kau menghabisakn 1 Miliyar dalam 2 hari, belum bisa memecahkan rekormu yang dulu," kata Gerald lagi pada Archie.
"Ya, tak ada masalah bukan?" kata Archie sambil mengambil roti di depannya, sudah lama tidak memakannya.
"Kalau untukmu, itu tidak ada efeknya sama sekali," kata Gerald lagi, segera pergi dari sana meninggalkan Archie yang kembali menikmati sarapannya sambil tampak berpikir dengan sangat serius.
__ADS_1