
"Iya," kata Ceyasa menarik napasnya karena tenggorokannya sekarang terasa tak enak sekali, dia menyiram sekali lagi, mencoba bangkit lalu melihat Archie yang masih melihatnya dengan wajah cemas, "Tolong jangan pakai wewangian apapun jika ingin bertemu denganku, aku tidak tahu mengapa tapi itu sangat mengganggu, " kata Ceyasa melihat ke arah Archie.
"Baiklah, apa ada yang bisa aku lakukan lagi?" tanya Archie.
"Bisa bawa makanannya keluar," kata Ceyasa.
"Ya, nanti akan ku perintahkan mereka membawanya keluar, tapi kau harus makan sesuatu, ada yang ingin kau makan?" tanya Archie.
Ceyasa terdiam, dia sedikit terlihat berpikir kira-kira apa yang dia inginkan sekarang, memikirkan makanan manis membuatnya langsung merasa tak enak di perutnya.
"Sepertinya aku ingin makan sesuatu yang pedas," kata Ceyasa lagi, Archie langsung mengerutkan dahinya.
"Pedas? Kau sedang mengandung, lagi pula kau baru saja muntah-muntah, makanan pedas akan semakin memperburuk keadaanmu, tidak jangan makan pedas," kata Archie yang memikirkan keadaan Ceyasa.
Ceyasa mendengar perkataan Archie hanya mengerucutkan bibirnya, apa yang dikatakan Archie benar adanya, tapi entah kenapa dia malah merasa semakin ingin karena Archie melarangnya.
"Aku mau makan pedas, pokoknya ingin makan yang pedas," kata Ceyasa yang terasa cukup manja, merengek meminta makanan pedas, padahal sebelumnya dia tidak pernah semanja itu pada siapapun.
Archie menambah dalam lekukan di dahinya, kenapa Ceyasa malah bertingkah seperti itu.
"Baiklah, aku akan menyuruh juru masak membuatkan makanan pedas, tapi hanya sedikit, jangan terlalu pedas, aku akan meninggalkanmu sekarang, istirahatlah, aku akan meninggalkan susu di sana, minum jika kau bisa," kata Archie mengatakan hal itu pada Ceyasa.
Ceyasa hanya menangguk, mencoba menjaga jarak sejauh mungkin dari Archie agar wanginya tak terasa, Archie menatap Ceyasa lagi sejenak sebelum dia meninggalkan Ceyasa, mau tak mau meninggalkannya karena entah bagaimana dia bisa membuat Ceyasa mual.
Setelah meminta makanan pedas untuk Ceyasa, Archie kembali ke istananya, kembali untuk mandi, setelah mandi dia mengikuti kata-kata Ceyasa untuk tidak menggunakan apapun, Archie membuka pintu kamar Ceyasa, dia berjalan masuk ke dalam kamar utama, mengintip sejenak apa yang sekarang sedang dilakukan oleh Ceyasa, dia lalu sedikit mengangkat sudut bibirnya, melihat Ceyasa sedang duduk di ranjangnya dan memakan roti tawarnya, hanya roti tanpa menggunakan apapun.
"Aku sudah mandi, jangan bilang lagi wangiku sangat tajam lagi, aku sudah tidak menggunakan apa-apa," kata Archie mendekati Ceyasa.
"Ya kan aku tidak tahu, tiba-tiba saja wangimu sangat membuat mual," kata Ceyasa melirik Archie yang mendekat ke arahnya, wanginya masih cukup tajam bagi Ceyasa, namun tak semenggangu tadi.
"Kenapa tidak menggunakan selai atau mentega di rotimu?" tanya Archie yang mengambil piring yang berisi 2 lembar roti tawar tanpa apapun itu dari tangan Ceyasa, duduk di depan Ceyasa yang hanya menatap Archie.
"Tidak ingin, aku hanya ingin makan seperti itu," kata Ceyasa lagi, mencium wangi yang segar dari tubuh Archie, kenapa pria ini tanpa menggunakan apa-apa, wanginya tetap saja semerbak, pikir Ceyasa.
Archie memotong kecil roti itu lalu membawanya ke depan mulut Ceyasa, Ceyasa menatap Archie, Ceyasa membuka mulutnya, Archie lalu memasukkan roti itu ke mulut Ceyasa, menyuapi Ceyasa perlahan.
"Kau ini kenapa?" tanya Ceyasa disela mengunyah rotinya, merasa perhatian Archie begitu berlebih sekarang.
__ADS_1
"Kenapa apanya?" tanya Archie menatap Ceyasa yang memandangnya dengan wajah tak percaya.
"Kenapa begitu perhatian?" tanya Ceyasa lagi.
Archie mengerutkan dahi, pertanyaan istrinya ini ada-ada saja, masa dia jadi lebih perhatian pun menjadi pertanyaan.
"Aku sudah membaca, wanita akan lebih lambat berpikir jika sedang hamil, tapi tidak menyangka akan selambat ini, ya tentu aku perhatian pada istriku yang sedang mengandung, jadi kau ingin aku bagaimana? memarahimu terus? Ada-ada saja, " kata Archie sambil geleng-geleng kepala, sebuah senyuman manis menghias di bibirnya, dia lalu mengambil roti itu lagi, menyuapinya dengan sabar pada Ceyasa.
"Ya, soalnya aku sedikit kaget ternyata kau bisa begitu perhatian padaku," kata Ceyasa cuek.
"Saat ibuku mengandung, ayahku tidak ada di sampingnya, dia bahkan tak tahu aku ada, walaupun aku tidak tahu bagaimana rasa dulu saat ibuku mengandung diriku, aku rasa itu pasti berat untuknya, karena itu lah aku berjanji, jika nanti istriku mengandung anakku, maka sebisa mungkin aku akan ada di sampingnya," kata Archie melirik Ceyasa, Ceyasa yang mendengar hal itu terdiam, lalu dia sedikit tersenyum, entah kenapa begitu yakin, Archie akan menjadi ayah yang baik nantinya.
Ceyasa membuka mulutnya lagi, ingin Archie untuk menyuapi roti itu, namun Archie menyingkirkan piring berisi roti itu, meletakkannya ke meja, Ceyasa mengerutkan dahi.
"Kenapa diletakkan di sana, kan belum habis?" protes Ceyasa.
"Jangan terlalu banyak makan roti sebelum makan nasi, sebentar lagi makanan pedasmu pasti sudah selesai, makanlah, agar kau bisa makan vitaminmu nanti," kata Archie lagi, Ceyasa kembali tersenyum, merasa hangat akan semua ini.
"Baiklah," kata Ceyasa.
"Entahlah, saat ini rasanya aku baik-baik saja asal tidak mencium bau-bau yang terlalu menyengat," kata Ceyasa.
"Kita tidak mungkin melarang tamu untuk tidak menggunakan wewangian bukan? jika memang tidak sanggup, kita bisa melakukan pernikahan yang biasa saja," kata Archie.
"Ehm, baiklah, kita lihat nanti, aku yakin anakku tidak akan manja," kata Ceyasa lagi dengan semangat sambil mengelus perutnya yang bahkan berubah sama sekali.
Tak lama pintu kamar mereka diketuk, seorang pelayan membawakan makanan pesanan Ceyasa, Ceyasa yang melihat makannya yang berwarna merah itu segera turun dari ranjangnya, sekarang perutnya terasa sangat kosong.
"Mual tidak?" tanya Archie yang melirik ke arah Ceyasa, Ceyasa sumringah, dia tidak mual, dia malah bersemangat ingin makan itu.
"Tidak," kata Ceyasa duduk di meja itu, dia segera mengambil sendok, dan mencicipinya, sesuai sekali dengan keinginannya, dia segera makan dengan lahap membuat Archie tertawa kecil melihat tingkah istrinya sekarang.
"Pelan-pelan saja makannya, aku tidak akan memintanya," kata Archie yang melihat Ceyasa buru-buru memakannya.
"Jika kau meminta juga aku tidak akan memberikannya," kata Ceyasa melirik Archie yang duduk di depannya.
"Dasar, istri pelit," kata Archie mengejek Ceyasa.
__ADS_1
"Biarin, setelah ini kau ingin apa? tidak ke perusahaan?" tanya Ceyasa lagi sambil berbicara dengan mulut penuh, membuat Archie menggeleng-gelengkan kepalanya, bagaimana bisa punya istri seperti ini, sayangnya, wanita ini yang sudah membuatnya jatuh cinta.
"Setelah kau makan aku akan ke sana, ada rapat penting yang harus aku hadiri, tidak apa-apa aku tinggal sendiri?" tanya Archie pada Ceyasa.
"Aku sedang mengandung, bukan sedang sakit, jadi ya tentu aku tidak apa-apa di tinggal sendiri, pergilah, tak mungkin kau menungguiku hingga melahirkan dan tidak bekerja bukan?" kata Ceyasa lagi.
"Baiklah, setelah ini istirahatlah lagi, hubungi aku jika ada apa-apa, aku sudah memerintahkan Gerald untuk mencari seseorang yang bisa menjagamu," kata Archie.
"Bagaimana dengan Lusy?" tanya Ceyasa.
"Dia sudah mengundurkan diri," kata Archie lagi.
"Oh, aku punya penjaga saat di markas militer, namanya Hana, dia seorang tentara wanita, bagaimana menurutmu?" kata Ceyasa melirik Archie
"Apa dia bisa membantumu dan menjagamu?"
"Dia sangat menjagaku saat di sana."
"Baiklah, kalau begitu aku akan mencoba untuk meminta dia menjagamu," kata Archie, setelah mengatakan hal itu ponselnya berbunyi, dia melirik sekilas, Gerald mengingatkannya akan rapat hari ini.
"Sudah dipanggil?" tanya Ceyasa melirik ke arah Archie.
"Ya, aku sepertinya harus pergi sekarang, aku harus mengganti pakaianku, Ceyasa, aku akan bertanya pada Ayahmu untuk mengizinkanmu tinggal di istanaku agar setiap malam aku bisa menjagamu," kata Archie berdiri bersiap-siap untuk pergi.
"Baiklah, aku juga akan mengatakan hal itu padanya, hati-hati bekerjanya," kata Ceyasa melempar senyuman manis.
"Ya, istirahatlah, jaga dirimu dan dia baik-baik," kata Archie sambil mengelus pelan perut bawah Ceyasa, sembari mendaratkan ciuman hangat di dahi Ceyasa.
"Baiklah, Papa," goda Ceyasa, Archie tertawa kecil mendengarnya.
"Aku suka panggilan itu, baiklah, minum vitaminmu, jika bisa minumlah susu, aku akan mengabarimu setiap saat," kata Archie lagi.
"Iya, iya, kau sudah menyuruhku melakukan hal itu berkali-kali, pergilah," kata Ceyasa dengan gaya mengusir Archie, tahu sebenarnya Archie berat untuk meninggalkannya, dan memang Archie merasakan hal itu.
"Baiklah," kata Archie mau tak mau melangkah keluar dari kamar itu.
Ceyasa tersenyum kecil menatap punggung Archie yang masih sempat meliriknya sejenak saat dia ingin pergi, dia tak melanjutkan makannya, entah kenapa rasanya tak senikmat yang tadi, dia lalu kembali ke ranjangnya, kembali berbaring, dan tak lama kembali tertidur, sepertinya muntah tadi membuatnya menjadi sangat lemas.
__ADS_1