
"Aku ingin tahu pasien atas nama Aurora," kata Jared segera.
"Apakah Anda Tuan Jared?" tanya petugas di informasi itu.
"Ya?" kata Jared sedikit mengerutkan dahinya, bagaimana petugas ini tahu namanya.
"Tuan Madison sudah menunggu Anda di lantai khusus," seorang pria tiba-tiba langsung menghampiri Jared. Jared langsung melihat pria yang dari tampilannya sepertinya adalah Asisten dari Liam.
"Baiklah," kata Jared lagi.
"Silakan, saya akan mengantar Anda," ujar pria itu dengan gaya formalnya, Jared hanya mengangguk dan mengikuti pria itu dari belakang.
Mereka segera masuk ke dalam sebuah lift, pria itu menempelkan sebuah kartu berwarna hitam dengan gambar mahkota berwarna emas, pria itu segera menekan tombol lantai C, lantai paling atas dari seluruh tombol yang ada di sana, Jared memperhatikan itu sejenak.
"Tuan Jared, ini adalah kartu khusus untuk keluarga dan kenalan keluarga Medison, jika Anda ingin melihat bibi Anda, Anda harus membawa kartu ini untuk naik ke lantai tersebut, jika tidak, Anda tidak akan bisa sampai ke sana," kata Asisten itu menjelaskan dengan sangat sopan.
"Baiklah," kata Jared yang cukup terkejut, Liam pasti bukan orang sembarangan.
Tak lama lift mereka terbuka, menunjukkan sebuah lantai yang tampak megah dengan lantai terukirkan mahkota dibawahnya, marmer hitam mengihiasinya, di bagian tengah terdapat sebuah sofa yang tampak kontras berwarna putih dengan sedikit hiasan-hiasan bunga terlihat sangat minimalis, di kanan kirinya Jared bisa melihat tempat perawatan yang khusus, bahkan mereka punya ICU sendiri di ruangan itu.
Jared lalu menemukan sosok Jenny duduk di tengah itu, tampak sedikit lebih tenang, Jenny yang begitu melihat kakaknya masuk langsung berdiri.
"Kakak, kenapa lama sekali?" tanya Jenny melihat Jared yang terus mendekat padanya.
"Aku harus mengurus administrasinya dulu, bagaimana keadaan Bibi?" kata Jared yang mengamati wajah Jenny yang lebih tenang, sepertinya ada kabar baik, setidaknya tidak ada kabar buruk yang akan menyambutnya.
"Bibi dimasukkan dalam ruangan ICU, belum sadarkan diri, namun hingga detik ini keadaannya stabil," kata Jenny menjelaskan.
__ADS_1
"Dimana? … " kata Jared melihat kesekelilingnya, mencari Liam.
"Paman Liam?" tanya Jenny, Jared mengangguk, "Sedang ada di dalam ICU, hanya diizinkan dua orang masuk ke dalamnya, itu juga hanya boleh dari balik kaca, aku sudah melihatnya tadi, dia sedang berbicara dengan dokter."
"Baiklah, apa ada kabar dari paman?" tanya Jared lagi.
"Tidak, tidak ada kabar dari paman sekali, kemana dia? Apa dia tidak melihat berita? Apa dia tidak punya firasat, aku benar-benar membenci paman! Lebih baik dia tidak usah datang lagi ke sini," ujar Jenny yang merasa sangat emosi mengingat tentang pamannya, tangannya yang lentik mengepal kuat.
"Jenny, kau tidak boleh mangatakan hal itu, jangan pernah membuka rahasia keluarga kita, " kata Jared menatap adiknya yang wajahnya benar-benar penuh emosi.
"Rahasia apa? kakak takut Paman Liam tahu tentang keadaan keluarga kita, sayangnya dia bahkan sudah tahu semua itu, karena itu dia sangat kasihan pada Bibi, mereka dulunya adalah sepasang kekasih, namun karena orang tua Bibi tidak merestuiapi mereka harus berpisah," ujar Jenny sedikit menggema di ruang tengah yang kosong itu.
Jared terdiam, menganalisa apa yang dikatakan oleh Jenny, jadi pria ini ingin merebut bibinya dari pamannya.
"Jenny, Paman sudah menyukai Bibi," ujar Jared pelan pada adiknya, membuat Jenny mengerutkan dahinya, benarkah? sekian tahun akhirnya pamannya bisa menyukai bibinya? Kenapa begitu terlambat setelah memberikan segala luka dan cobaan, dia baru bisa menerima bibinya? Sangat lucu, hal itu membuat Jenny sedikit tertawa sinis, membuat Jared sedikit mengerutkan dahinya.
"Akhirnya dia bisa sadar juga, sayangnya, rasa simpatiku padanya sudah memudar, dari pada bibi harus terus menderita mengurus paman dengan anak dari wanita selingkuhan paman, aku lebih suka dia sekarang dengan Paman Liam," ujar Jenny lagi masih sama menggebu-gebunya.
"Jared, kau sudah datang," ujar Liam yang baru keluar dari sebuah ruangan besar yang ada di belakang Jared, saat dia keluar, udara dingin dari ruangan sebelah terasa menerpa mereka di sana. Liam memberikan gestur pada Asistennya, Asistennya segera memberikan salam dan segera pergi meninggalkan mereka.
"Ya, Paman," kata Jared yang mencoba untuk tetap bersikap sopan dengan pria ini.
"Ingin melihat bibimu, keadaannya stabil, tapi kita belum diperbolehkan untuk masuk ke dalamnya," kata Liam dengan senyuman ramah yang membuat wajahnya semakin mempesona.
"Baiklah," kata Jared lagi.
"Ayo, ikuti aku," kata Liam, dia kembali membalikkan tubuhnya ke arah pintu dimana dia keluar, pintu itu pintu otomatis yang terbuka hanya dengan menggunakan kartu atau tanda pengenal khusus keluarga Medison.
__ADS_1
Liam langsung memindai gelang tanda pengenal keluarganya, dan seketika pintu itu terbuka, begitu terbuka, Liam mengambil langkah pertamanya, Jared mengikutinya dari belakang.
"Kau sudah diberikan kartu khusus bukan? semua pintu di lantai ini hanya bisa dibuka jika memiliki kartu itu," kata Liam melirik ke arah Jared yang berjalan di sampingya.
"Ya, dia sudah memberikannya, terima kasih," kata Jared sedikit menangkat senyumnya.
"Pakai baju itu, dan segera masuk ke ruangan kaca itu, dari sana kau bisa melihat Aurora, aku harus mengurus sesuatu untuk pengobatan Aurora, maaf tidak bisa menemanimu, aku akan memanggil Jenny jika kau mau," kata Liam lagi dengan suara yang sangat kebapakan.
"Tidak, aku ingin melihat bibiku sendiri saja, terima kasih sekali lagi paman," kata Jared kembali melihat ke arah Liam, Liam memberikan senyuman hangat, sangat tahu bagaimana harus berhadapan dengan Jared.
Liam segera meninggalkan ruangan itu dan Jared segera menggunakan baju khususnya, setelah dia selesai, dia membuka pintu dengan kartu yang sudah di berikan, dan segera bisa melihat bibinya dari balik jendela kaca itu.
Dia tampak sedang tertidur tenang, dengan alat ventilator dan monitor hidupnya, wajahnya pucat, Jared hanya bisa menatap ibunya itu, merasa sangat takut kehilangan, namun dia tidak bisa mengatakannya sekarang, tatapan matanya yang biasa tajam, kali ini menyendu, Jared hanya diam saja, tak mengatakan apapun di sana, matanya yang awalnya sendu, lama-lama tampak mulai berair.
Tiba-tiba ponselnya bergetar, membuat dia segera sadar dan segera menghapus matanya yang berair. Dia melihat nama Suri terpampang di sana, Jared yang melihat itu segera keluar dari ruangan khusus itu, membuka dulu baju khususnya, lalu segera mengangkat telepon Suri sebelum telepon itu mati.
"Halo?" kata Jared segera keluar dari ruangan itu lagi dan segera melihat adiknya. Jenny yang melihat kakaknya keluar langsung mengerutkan dahi.
"Siapa? Apakah paman?" tanya Jenny yang mengira pamannya sudah bisa di hubungi.
"Tunggu sebentar, aku akan segera menjemputmu di bawah," ujar Jared lagi setelah itu dia segera menutup panggilan teleponnya.
"Siapa?" tanya Jenny lagi yang penasaran.
"Suri, aku akan menjemputnya ke bawah," kata Jared.
"Suri? Untuk apa dia datang kemari? Aku kira paman," ujar Jenny lagi melihat kakaknya.
__ADS_1
"Bersikaplah dengan baik," Jared memperingatkan adiknya.
"Ya, ya, baiklah," kata Jenny tak ambil pusing oleh itu.