Shameless Prince : Our Incomplete Love Story

Shameless Prince : Our Incomplete Love Story
98 - Relakanlah.


__ADS_3

Aurora menahan ngantuknya, dia sedang terduduk di samping ranjang Sania, suasana kamar yang sepi dan dingin cukup membuainya untuk masuk ke dalam alam mimpi, apalagi Aurora harus bangun cukup pagi tadi pagi, Siena pun tampak sudah tertidur di ranjang penunggu, Aurora kembali mencoba menahan kantuknya, meletakkan kepalanya atas lipatan tangannya, menikmati kesejukannya.


"Aurora, " panggil seseorang terdengar lembut di telinga Aurora, Aurora yang baru saja meletakkan kepalanya sedikit malas untuk mengangkat kepalanya, "Aurora," suara itu memanggil kembali, mengusik Aurora, dia mencoba untuk melawan kantuknya, mengangkat kepalanya dan melihat seseorang yang dia rasakan kehadirannya di sampingnya.


Aurora memandang wajah orang yang ada di sampingnya, dia kaget, seorang wanita  dengan senyum manis menatap dirinya, Aurora yang masih antara sadar dan tidak merasa wajah itu familiar dengannya. Dia mencoba memeramkan matanya sekali lagi, dan wanita itu masih tetap tersenyum manis.


"Aurora, ikut aku, " ujar wanita itu.


Seolah terhipnotis, Aurora hanya diam saja dan mengikuti perintah wanita itu, wanita itu membuka pintu ruangan itu, rambutnya yang panjang terkibas indah, wanginya harum tercium hingga ke hidung Aurora, harum lembut yang menyenangkan.


Aurora kemudian ikut ke mana wanita itu membawanya, dia berhenti di dekat pintu keluar, Aurora melihat arah yang dia tunjuk, Aurora kaget, dia melihat Jofan yang sedang bicara dengan Dokter Elly.


"Dengarkan," ujar wanita itu pada Aurora, suaranya lembut mendayu, Aurora sekali lagi mengerutkan dahinya, merasa familiar, namun tak ingat siapa wanita ini sebenarnya. Aurora mencoba mendengarkan, perlahan-lahan dia mendekati Jofan, namun seperti tak melihatnya, Jofan terus saja berbicara dengan Dokter Elly.


"tapi apakah Anda tidak kasihan melihatnya, 23 tahun sudah tak terhitung berapa banyak dia mengalami kolaps, kembali dipertahankan untuk hidup, berapa kali sudah dadanya harus di pompa, apakah Anda yakin, Nona Sania masih ingin hidup?" suara Dokter Elly terdengar, membuat Aurora tersentak.

__ADS_1


"Dia pasti ingin hidup, Anda tak berhak mengatakan hal itu, dia masih punya aku dan anaknya, suatu hari dia akan sadar, jika Anda tidak sanggup lagi melakukan tugas Anda, Anda boleh berhenti," Jawab Jofan yang membuat Aurora menatap dirinya, dari matanya Aurora bisa melihat kemarahan dan kesedihan yang mendalam.


"Jika pun Nona Sania berhasil bangun, seperti yang aku katakan pada Anda, tak ada lagi di tubuhnya yang bisa berfungsi normal, semua anggota geraknya sudah mengecil, bahkan ototnya sudah lemah, jika Nona Sania bangun, dia bahkan akan kesusahan untuk menggerakkan tangannya, apakah Anda tega melihatnya bangun namun juga hanya bisa berbaring? " suara Dokter Elly kembali terdengar, Aurora lalu menoleh bolak balik melihat Jofan dan Dokter Elly yang seolah-olah benar-benar tidak melihatnya, padahal dia ada di antara mereka.


"Aurora, lihatlah," ujar wanita itu lagi menunjuk ke arah yang lain, mata Aurora membesar, melihat Jofan yang meringkuk di sudut rumah sakit itu, dia lalu melihat kearah sampingnya, Jofan yang tadinya bicara dengan Dokter Elly sudah tak ada, mereka seolah lenyap begitu saja. Aurora menahan napas, mencoba mendekati Jofan yang dia lihat, wajahnya takut namun penuh rasa penasaran, sedang apa suaminya di sana? Aurora melewati wanita yang terus saja menyunggingkan senyuman manis.


Aurora berhenti di depan Jofan yang terduduk sambil menundukkan kepalanya, tubuhnya bergetar menandakan dia sedang menangis, Aurora ingin menyapa suaminya, menanyakan kenapa dia menangis, namun saat dia ingin menjulurkan tangannya ke arah Jofan, Jofan malah berdiri, dan seketika menembus tangannya, lagi-lagi seolah Aurora tak di situ, Jofan pergi meninggalkannya.


Aurora menutup mulutnya, dia tak tahu apa yang terjadi, kenapa Jofan tak melihatnya dan lagi, bagaimana tangannya bisa menembus tubuh Jofan, wanita itu tampak menatap Jofan dengan lembut dan penuh perasaan saat Jofan melewatinya, wanita itu bahkan melihatnya sampai Jofan menghilang, di titik ini Aurora akhirnya sadar siapa wanita yang menariknya keluar, Sania.


"Jangan takut, aku tidak datang untuk menakutimu," ujar Sania sedikit dengan tawa kecil, menatap Aurora yang terpaku diam, matanya memancarkan ketakutan yang nyata, "Aurora, terima kasih sudah menjaganya, dia pria yang sangat keras kepala bukan," suara Sania sangat lembut, membuat sedikit demi sedikit ketakutan Aurora berkurang, namun dia belum bisa mengeluarkan suaranya, dia hanya mengangguk.


"Aurora, aku datang ingin kau menyampaikan ini padanya," kata Sania dengan wajah cantiknya.


"Apa?" kata Aurora masih penuh ketakutan.

__ADS_1


"Katakan padanya, relakanlah," kata Sania lagi terdengar menggema. Aurora mengerti kata-kata Sania, Sania ingin Jofan melerelakannya.


"Tapi, apa kau tidak ingin kembali padanya?, dia sudah menunggumu begitu lama, lagi pula bagaimana dengan anakmu, Siena, " ujar Aurora yang melihat Sania perlahan seperti melayang mundur meninggalkannya. Sania tersenyum lebar, tak mengerikan malah menambah teduh wajahnya, dia lalu sedikit menggeleng-gelengkan kepala.


"Relakanlah, " kata Sania sekali lagi terdengar menggema, herannya suara itu ada namun bibir Sania sama sekali tidak bergerak.


"Sania tunggu, tapi …  Jofan tidak akan pernah melepaskamu, dia sangat mencintaimu, dia tak akan mendengarkan kata-kataku," ujar Aurora lagi sedikit mengejar Sania, namun herannya seperti dia hanya berjalan di tempat, Sania berhenti di depan ruangannya, dia berbalik dan ingin masuk ke dalam ruangannya, namun sebelum dia masuk, dia kembali tersenyum melirik Aurora.


"Dia sudah jatuh cinta padamu, aku sudah bisa tenang, katakan padanya, secangkir Mocha latte telah dibayarkan," kata Sania yang langsung masuk ke dalam ruangannya.


"Sania tunggu," ujar Aurora yang ingin mengikuti Sania masuk ke dalam, tapi bukannya masuk dia malah tersentak bangun dan terkaget, napasnya memburu, sangat cepat seolah dia baru benar-benar berlari mengejar Sania,  dia memandang ruangan itu, masih seperti sebelumnya, Siena masih tidur, Aurora menatap tubuh Sania yang ada di depannya, dia kaget hingga mendorong kursinya ke belakang, tubuh itu masih kaku, berbeda sekali dengan apa yang dia lihat tadi, apakah tadi dia hanya bermimpi? Tapi kenapa mimpi itu terasa begitu nyata.


Pintu tiba-tiba terbuka, Aurora tanpa sadar sedikit memekik, dia memegangi dadanya, jantung Aurora yang begitu kencang menjadi semakin kencang, dia hampir saja terkena serangan jantung.


Jofan merasa sudah mulai membaik jadi dia putuskan untuk kembali ke ruangan Sania, namun saat dia membuka pintunya, dia malah melihat Aurora yang tampak begitu pucat, seolah dia baru saja kaget karena bertemu hantu, Jofan mengerutkan dahinya. Siena terbangun mendengar suara teriakan Aurora tadi.

__ADS_1


__ADS_2