
"Dari mana kau tahu bahwa istriku selamat dalam kebakaran?" kata Jofan lagi dengan senyuman, melihat Ceyasa sumringah.
"Ya, karena aku yang menyelamatkannya, eh, aku tidak bermaksud untuk sombong, tapi aku kenal Jared di sana, Jared menghubungi Anda terus menerus di rumah sakit itu, tapi katanya Anda tidak bisa dihubungi," kata Ceyasa menjelaskan apa yang dia ingat saat di rumah sakit itu, Jofan yang mendengarkan hal itu, sedikit menggigit bibirnya, terasa sangat bodoh saat itu karena terlalu percaya dengan seorang gadis muda yang ternyata adalah penghancur keluargannya, bahkan karena dirinya dia harus berpisah dan bersembunyi seperti ini.
"Tuan, maafkan aku, aku tidak bermaksud membuatmu sedih," kata Ceyasa yang merasa dia sudah salah berbicara tentang itu.
"Tidak, tidak apa-apa, terima kasih sudah menolong istriku," kata Jofan melihat Ceyasa, Ceyasa hanya tersenyum sungkan.
Suasana hening sejenak, Jofan masih sedikit larut dengan rasa bersalah, sedangkan Ceyasa segan dan sungkan untuk melanjutkan pembicaraan, dia takut dirinya akan menyinggung perasaan Jofan, walaupun sekarang di otaknya dia berpikir, kenapa sekarang Jofan malah ada di sini, tidak bergabung dengan keluarganya di istana.
"Bagaimana kau bertemu dengan Archie? " tanya Jofan yang akhirnya memutuskan untuk duluan membuka pembicaraan.
"Oh, sebuah kecelakaan, saat di desa, dia melompat ke dalam danau, dan aku menolongnya, awalnya dia mengatakan bahwa dia sedang cidera, maka aku mengizinkannya tinggal di rumahku lalu setelah itu dia membawaku ke ibukota dan …. " kata Ceyasa mencoba menjelaskan bagaimana dia bertemu dengan Archie, membuat kilasan balik yang cukup lucu menurut Ceyasa, mengenang bagaimana dia bisa bertemu dengan Archie, bagaimana dia tak menyukai pria itu dulu, pria paling menyebalkan namun sekarang entah kenapa sangat dia rindukan kehadirannya.
"Dan kalian menikah? Begitu saja?" kata Jofan yang sedikit aneh, hanya begitu saja? benarkah? seorang pangeran jatuh cinta dengan gadis dari desa hanya karena menolongnya.
"Sebenarnya dia menikahiku karena ingin menolongku untuk lepas dari paman dan bibiku hal itu dia lakukan sebagai balas budi karena aku sudah menolongnya, dia juga menggunakan nama samaran saat menikahiku," kata Ceyasa yang merasa entah kenapa sangat terbuka dengan Jofan.
"Lalu? Bukankah itu sama saja pernikahan kalian tidak sah? lalu kenapa dia membawamu ke istana?" tanya Jofan lagi, kali ini lebih serius mendengarkannya.
"Saat itu aku di culik dan demi melindungiku, Archie membawa aku ke dalam istana dan mengakui bahwa kami sudah menikah, dan saat pihak kerajaan tahu bahwa pernikahan kami palsu, aku membuat keadaan di sana menjadi kacau hingga Ibunda Ratu pingsan gara-gara diriku," kata Ceyasa terlihat sedikit sedih, membuat Jofan bersimpati padanya.
"Ya, aku mendengar kau diculik, jadi sebelumnya juga kau sudah pernah diculik? Kenapa kau diculik?" tanya Jofan yang merasa familiar dengan keadaan ini, sepertinya memang di negara ini sering sekali menculik wanita.
__ADS_1
"Aku diculik oleh seseorang yang menyangka bahwa ibunya terbunuh karena diriku, padahal aku tidak ingat apapun tentang itu karena saat kejadian umurku masih 3 tahun," kata Ceyasa menatap Jofan, Jofan mengerutkan wajahnya, memiringkan sedikit kepalanya, terbunuh?
"Ibunya terbunuh karenamu? Lalu sekarang kau bisa mengingatnya?" tanya Jofan yang merasa hal ini sedikit lebih kompleks dari pada pikirannya.
"Ya, Yang Mulia Raja ingin aku untuk melakukan hipnoterapi dan akhirnya aku bisa mengingatnya, aku rasa dia salah sangka, karena saat itu sebenarnya ibunya lah yang ingin membunuhku, dan dia terbunuh karena ditembak oleh tentara yang ingin melindungiku," kata Ceyasa lagi, bahkan dinginnya udara tak lagi mereka rasakan karena pembicaraan serius mereka ini.
Jofan menatap Ceyasa, menatapnya dalam, mencoba menganalisa kata-kata Ceyasa, saat dia umur 3 tahun dia sudah dilindungi oleh tentara, walaupun ini kasus penculikan, tapi jika dia anak dari seseorang yang biasa-bisa saja, tentara tidak akan turun tangan, pasti polisi yang melakukannya.
"Benarkah? siapa kau ini sebenarnya hingga harus diculik bahkan dari kecil?" tanya Jofan, tak bisa lagi menutupi rasa penasarannya.
"Entahlah, aku tidak bisa mengingat apapun, aku hanya diberitahu ayahku meninggal sebelum aku lahir, ibuku meninggal saat melahirkanku, dan aku di urus oleh paman dan bibiku di desa hingga aku bertemu dengan Archie, dan aku rasa itu semua juga adalah suatu kebohongan," kata Ceyasa tersenyum miris.
"Kenapa?" tanya Jofan lagi, rasa penasarannya pada wanita muda ini semakin menjadi.
"Benarkah?" kata Jofan yang tak tahu harus bicara apalagi, rasa simpatinya tampak jelas di wajahnya.
"Ya, tapi tidak apa-apa, aku bersyukur mereka bukan saudaraku, mereka cukup kejam," kata Ceyasa tersenyum senang, Jofan melihat itu tertular senyuman Ceyasa yang sangat manis, cukup terkesan dengan kepribadian Ceyasa, walaupun dalam keadaan sedih, masih tetap bisa tersenyum dan mengambil sisi baiknya.
Hujam semakin lebat, angin semakin kencang dan guntur mulai saut menyaut di atas mereka, sepertinya hujan ini akan berubah menjadi badai, membuat Ceyasa dan Jofan semakin tak nyaman di sana, apalagi mereka mulai terkena air hujan.
"Sebaiknya kau kembali ke rumahmu," kata Jofan berdiri.
__ADS_1
"Iya, akan ada badai," kata Ceyasa lagi melihat kelamnya malam itu.
"Senang berbicara denganmu Nona Ceyasa, aku harap bisa bertemu denganmu lagi suatu saat nanti," kata Jofan yang segera melihat Hana, Hana segera mengerti, dia segera mendekati Ceyasa.
"Sama-sama Tuan," kata Ceyasa lagi dengan senyuman manisnya.
"Pakai jas ini untuk menutupi dirinya, jangan sampai terkena hujan," kata Jofan tampak begitu perhatian, membuka jasnya dan di serahkan pada Hana yang langsung mengerti apa keinginan Jofan.
"Tak perlu, aku kebal air hujan kok," kata Ceyasa sedikit sungkan, mendengar hal itu Jofan jadi tertawa kecil, wanita muda ini ternyata punya selera humor yang cukup baik.
"Tidak apa-apa, pulanglah," kata Jofan lagi.
"Terima kasih Tuan," kata Ceyasa yang segera pergi meninggalkan Jofan, berlari kecil melawan tanah yang sudah tergenang air hujan, lalu saat dia sampai di gedung terdekat, dia melihat ke arah Jofan yang masih menunggu di bawah payung itu, melihat ke arahnya.
"Tuan, Anda seorang mantan presiden bukan?" tanya Ceyasa yang lupa menanyakan hal ini, dan dia takut esok dia tidak lagi bertemu dengan Tuan mantan presiden ini.
"Ya," kata Jofan sedikit berteriak, mencoba mendengarkan dengan jelas karena gemuruh angin dan juga hujan cukup mengganggu pendengaran.
"Apa Anda kenal semua Jendral-Jendral?" teriak Ceyasa cukup nyaring untuk di dengarkan.
"Kenapa?" tanya Jofan lagi.
"Aku mengingat satu nama orang yang menolongku saat umurku 3 tahun, bisakah kau mengucapkan terima kasih padanya?" kata Ceyasa lagi, untungnya Jofan bisa mendengarnya, Jofan mengerutakan dahinya. Jendral?
"Siapa dia?" tanya Jofan lagi.
__ADS_1
"Indra, Jendral Indra, " kata Ceyasa menatap Jofan.