
"Kampus, semester 4? Ingat?" kata pria itu lembut, suaranya yang sedikit berat membuat penampilannya semakin menawan.
"Oh! Liam! Benar kan?" kata Aurora akhirnya mengingat pria ini, seorang senior yang mengambil S2 dari kampusnya. Saat Aurora kuliah mereka sering menghabiskan waktu bersama karena mereka tergabung dalam kelompok belajar yang sama, Liam sering membantu Aurora untuk belajar saat itu.
"Akhirnya kau mengingatku," kata Liam dengan senyum manisnya, semanis yang diingat oleh Aurora.
"Bukannya kau ada di luar negeri, aku dengar kau pulang ke negaramu," kata Aurora mengingat.
"Yah, aku baru pulang ke sini beberapa hari yang lalu untuk mengantarkan abu pemakaman istriku," kata Liam terlihat sedikit kesedihan di dalam matanya, Aurora yang menanyakan hal itu menjadi merasa tak enak hati.
"Maafkan aku, aku tidak tahu bahwa kau …. " kata Aurora menunjukkan simpatinya.
"Tidak apa-apa, bagaimana denganmu? sudah lama sekali tidak bertemu, apakah kau sudah … " kata Liam terdengar lembut.
"Menikah? Ya, aku suaminya," kata Jofan yang tiba-tiba ada di sana, dia membawa sebuah mantel panjang yang langsung dipakaikannya ke tubuh Aurora, Aurora yang melihat hal itu hanya bisa kaget dengan apa yang dilakukan oleh Jofan, kenapa tiba-tiba membelikannya mantel panjang yang bahkan sangat kebesaran bagi tubuh Aurora, Jofan segera mengacingkan mantel itu, membuat seluruh tubuh Aurora tertutup mantel besar.
Jofan memang sengaja memberikan Aurora sebuah mantel untuk menutupi tubuhnya, benar-benar merasa gerah melihat mata-mata yang liar menatap tubuh Aurora, seakan ingin memangsanya, pria mana yang tahan melihat istrinya ditatap penuh nafsu oleh banyak pria.
Setelah dia selesai membelinya dan kembali, dia bertambah panas melihat Aurora malah berbicara dengan seorang pria dengan sangat akrab, Jofan tak tahu kenapa? hanya dia merasa tak suka dengan hal itu, karena itu dia cepat-cepat mendatangi aurora.
"Oh, aku Liam Medison, aku teman sekampus Aurora dulu," kata Liam segera menjulurkan tangannya, sebenarnnya cukup terkejut dengan kedatangan Jofan yang tiba-tiba.
Jofan memperhatikan pria di depannya, secara fisik, Jofan merasa cukup tersaingin dengan pria ini, tubuhnya tampak dijaga dengan baik, tinggi dan wajahnya pun nyaris sempurna, tidak akan ada yang bisa mengatakan bahwa pria ini tidak menarik.
"Jofan, suami Aurora," kata Jofan membalas uluran tangan Liam dengan sangat mantap dan erat.
Aurora yang mendengar hal itu keluar dari bibir Jofan tak percaya Jofan bisa mengatakan hal seperti itu, dia tidak pernah melakukan hal ini sebelumnya, ada apa dengan Jofan? namun tak bisa dipungkiri, semua perlakukan Jofan hari ini benar-benar membuat hati Aurora terasa sangat senang, jadi dia hanya tersenyum sumringah melihat kelakukan Jofan.
__ADS_1
"Wah, Anda sangat beruntung mendapatknnya, aku ingat seberapa banyak pria yang dulu mengejarnya," kata Liam tersenyum manis.
"Apa termasuk Anda?" tanya Jofan langsung dengan suaranya yang dingin dan membuat Liam sedikit terdiam dan Aurora langsung salah tingkah.
"Tanya dia berapa kali aku harus patah hati, " kata Liam memandang Aurora sendu, Jofan melirik Aurora yang tampak sedikit salah tingkah, entah kenapa merasa perasaannya tak sejahtera melihat istrinya bertingkah seperti itu.
"Kau hanya bercanda, kan dari awal kau memang sudah bersama Melisa, aku sungguh berduka cita tentang dia," kata Aurora dengan simpatinya.
"Tidak apa-apa, dia juga sudah cukup lama menderita, aku harus tegar untuk anak kami, bagaimana kalian? sudah berapa anak kalian?" kata Liam lagi.
Jofan terdiam, anak? dia tidak punya anak dengan Aurora, bagaimana punya anak, berbicara dengan wanita ini saja baru-baru ini bisa dilakukannya dengan lebih leluasa, Jofan baru sadar, betapa egoisnya dia, bukannya perjanjian awalnya memang seperti ini, Aurora dan dia bebas melakukan apapun yang mereka mau, lagi pula dengan gamblangnya Jofan sudah mengatakan bahwa jika Sania sadar, dia akan memilih Sania, tapi Aurora malah dengan senang hati merawat Sania, apakah memang di sengaja agar Sania cepat sembuh agar dia bisa lepas dari Jofan? dan melihat tingkah Aurora yang dari tadi tampak sumringah apa lagi cukup salah tingkah di depan Liam, Jofan merasa dulunya mereka memang ada sesuatu, Jofan memasukkan tangannya ke dalam sakunya, menunjukkan sikap pertahanannya lagi. Liam melihat hal itu, dia hanya melirik ke arah wajah Jofan yang dingin.
"Kami sudah punya 2 anak, mereka kembar," kata Aurora melihat ke arah Jofan yang tampak menunjukan ketidak nyamanannya di wajahnya.
"Benarkah? aku iri sekali melihat kalian berdua, " kata Liam lagi.
Jofan tidak bisa tersenyum, dia hanya mulai menggaruk alisnya, Aurora memperhatikan hal itu, 18 tahun menjadi istrinya membuat Aurora mengerti gerak tubuh Jofan jika dia mulai tak nyaman dan bosan dengan sebuah situasi, dia akan menggaruk alisnya kecil dan bertingkah tak bisa diam, Aurora tersenyum.
"Oh, ya, baiklah, " kata Liam dengan senyuman ramah itu,
Jofan memandangnya dengan serius, menunjukkan aura kepemimpinannya, sorot matanya seperti memperingatkan Liam agar dia tidak macam-macam dengan dirinya dan istrinya. Namun Liam bukan orang yang tidak suka tantangan dan dia juga bukan orang biasa, mendapatkan pandangan itu, dia malah menantangnya dengan senyuman manis.
"Aurora," Panggil Liam lagi pada Aurora dan Jofan yang sudah mulai pergi menjauh.
"Ya?" kata Aurora yang merasa terpanggil, dia melihat ke arah Liam yang berbalik melihat mereka, dia merogoh sesuatu dari jasnya. Jofan mengerutkan dahinya melihat tingkah Liam ini. Liam mengeluarkan sesuatu dari dompetnya dan menyerahkannya pada Aurora yang tampak kaget dan bengong melihat apa yang diserahkan Liam, dia hanya bisa diam sambil melihat wajah Liam.
"Ingat saat kita berpisah, aku sudah memenuhinya, untukmu aku menyimpannya, aku rasa ini saatnya mengembalikannya padamu, 23 tahun, semoga kau masih mengingatnya," kata Liam dengan wajah sendu yang menyimpan banyak makna yang bahkan Jofan pun tak tahu apa itu, Jofan benar-benar tak betah dengan suasana ini, perasaannya sungguh tak nyaman sekarang.
__ADS_1
Liam berbalik dan segera pergi bahkan sebelum Aurora bisa menghentikan rasa kagetnya, Aurora bahkan hanya bisa melihat tubuh pria itu pergi itu meninggalkannya, dia melihat sebuah daun kering yang di laminating, di daun itu tertulis kata-kata yang pernah di tulisnya.
‘Sebuah catatan cinta di atas sebuah daun kering’
Di baliknya dia melihat sebuah tanda tangan, Liam memenuhi janjinya pada Aurora, membuat Aurora merasa kaget, terharu namun juga tak enak.
Jofan yang melihat hal itu hanya bisa diam, sudah bisa dia pastikan bahwa dulunya diantara mereka pasti ada sesuatu, karena itu Jofan pergi saja dari sana, dia tidak ingin membuat perasaannya makin sakit dan juga tidak ingin nantinya lepas kontrol dan malah berdampak pada Aurora.
Aurora yang melihat Jofan pergi, dia langsung sadar dan segera mengikuti suaminya yang berjalan dengan cepat, sesampainya di lobby, Jofan berhenti dan menunggu mobilnya untuk diantarkan, setelah mobil mereka ada di depan mereka, Jofan membukakan pintu mobilnya untuk Aurora, Aurora memandang wajah Jofan yang tak sedikit pun melihat ke arahnya, terlihat begitu dingin, Aurora tahu Jofan sedang marah tapi marah karena apa? bukannya Aurora tidak membuat kesalahan apapun?. Setelah selesai semua mereka segera pergi dari sana.
Aurora masih memegangi daun kering itu, tak menyangka Liam masih ingat dan menyimpannya.
"Apa itu?" tanya Jofan yang tak tahan menahan rasa penasarannya, dia sebenarnya sudah berusaha untuk menahan diri agar tak bertanya, tapi melihat tatapan sendu dan Aurora yang terus menerus memegangi daun itu, perasaannya langsung berontak untuk bertanya.
"Oh, ini, sebuah daun dari sebuah novel yang aku pernah baca saat kuliah, daun ini di selipkan penulis sebagai pembatas buku atau bisa menjadi sarana untuk menulis pesan, novelnya berjudul 'sebuah catatan Cinta di atas daun kering', aku sangat menyukainya dulu, " kata Aurora dengan sendikit senyum mengingat tentang masa lalunya, Jofan melihat senyuman itu merasa sangat terganggu, Jofan dan Aurora mungkin memang hidup 18 tahun bersama, namun tak sedikit pun Jofan tahu tentang masa lalu Aurora. Dia tak pernah bertanya.
"Lalu apa hubungannya dengan Liam?" tanya Jofan lagi, tak bisa menahan dirinya.
"E … saat dia ingin melanjutkan kuliahnya ke Amerika, dia mengatakan ingin aku menunggunya, tapi aku tidak bisa menerimanya karena aku hanya merasa dia sebagai kakakku, jadi aku berikan daun ini, jika dia bisa mendapatkan tanda tangan penulisnya dan saat dia bisa mendapatkannya dan mengembalikannya padaku, aku akan menerimanya," kata Aurora lemah pada akhirnya, sedikit mengenang hal itu, Jofan menggertakkan giginya, entah kenapa perasaanya menjadi seperti ini, napasnya berat dan dia tak suka hal ini, emosinya tiba-tiba saja muncul, dia ingin marah, tapi tak tahu marah karena apa dan pada siapa? jadi dia hanya meremas kemudi mobilnya.
"Itu hanya kenangan yang tidak perlu dihiraukan, sudah 23 tahun yang lalu, dia hanya mengembalikannya saja," kata Aurora segera agar Jofan tak salah tanggap.
"Itu tak masalah, lagi pula dari awal kita sudah memiliki perjanjian, kau bebas bersama pria lain jika kau memang menginginkannya, aku tidak akan melarangmu," kata Jofan dengan sedikit senyuman tipis, hati dan bibirnya benar-benar bertentangan sekarang.
Aurora menatap wajah Jofan, mimik wajahnya berubah sedih, bagaimana Jofan mengatakan hal itu, seperti sebuah tamparan kembali bagi Aurora, seolah dia benar-benar tak berarti apapun bagi Jofan, jadi perasaan selama ini yang pelan-pelan Aurora rasakan, tak berarti apa pun, Jofan baik pada Aurora sekarang, semata karena dia pun sedang memperhatikan wanita yang di cintainya, bodohnya Aurora masih berharap pada Jofan.
Perjalanan mereka ditempuh dengan hening, tak satu pun berbicara, hanya larut dalam perasaan masing-masing yang punya alurnya sendiri-sendiri.
__ADS_1
------------------------------------------------
Jika ada Reader yang sudah baca novel saya yang berjudul 'Meadow', kalian akan tahu siapa Liam Medison ini. hahaha...