Shameless Prince : Our Incomplete Love Story

Shameless Prince : Our Incomplete Love Story
126 -


__ADS_3

Jofan segera berlari, tak peduli begitu banyak mata yang melihat ke arahnya karena restauran ini benar-benar restuaran kelas atas, namun dia terus mempercepat langkahnya, yang ada dalam pikirirannya sekarang dia hanya ingin tahu bagaimana keadaan Aurora, pantas saja dari tadi dia tak menjawab pesannya, dia benar-benar panik, tak ingin membuang waktu untuk bisa mengetahui keadaan Aurora.


Siena yang mengikuti Ayahnya juga jadi berlari kecil, karena tak hati-hati dia malah menyenggol punggung seseorang, Pria itu langsung melihat ke arah Siena yang juga langsung melihatnya.


"Maafkan aku, maafkan," Kata Siena memandang pria menatapnya dengan sangat tajam, Siena sedikit terkesima menatap tatapan pria itu, dingin namun menggoda.


Rain memandang Siena dengan wajahnya yang angkuh, menatap wajah kecil Siena cantik namun dia terlalu biasa melihat wanita seperti ini, Rain hanya menaikan sedikit sudut bibirnya, lalu membuang kembali pandangannya, tak menghiraukan tatapan terpukau Siena, lalu Siena melihat asisten Jofan yang berjalan ke arahnya, dia segera sadar dan kembali mengikuti ayahnya.


Saat Jofan sampai di mobilnya, dia segera masuk, Siena juga tak ingin membuang waktu segera duduk di samping ayahnya,  Asisten Jofan segera duduk di depan dan tanpa buang waktu mereka segera melaju.


"Bagaimana keadaan Aurora? Apakaha ada kabar?" tanya Jofan pada  Asisten.


"Menurut kabar, seseorang dievakuasi ke rumah sakit, tapi sampai sekarang saya belum mendapatkan info kemana dia dibawa, saya rasa itu Nyonya, Tuan," kata  Asisten Jofan pada Jofan.


Jofan langsung merogoh sakunya, mencari ke dalam jasnya, namun dia tak menemukan ponselnya, dia tampak frustasi, mencoba mencari berulang-ulang, namun tetap tidak menemukannya, Siena hanya bisa diam melihat ayahnya yang begitu cemas itu.


"Mungkin ponsel ayah tertinggal di restauran," kata Siena dengan suara kecilnya, Jofan mengingat-ingat, dia memang meletakkan ponselnya di atas meja tadi.


"Kau punya nomor Jenny atau Jared?" tanya Jofan pada  Asistennya, berpikir kenapa kedua anaknya itu tak menghubunginya.


"Maaf Tuan, saya tidak memiliki keduanya, saya akan hubungi  Asisten Tuan Angga, bertanya apakah ponsel Anda ada di sana, " kata  Asisten Jofan segera, Jofan hanya mengangguk, menunggu cemas, tak berapa lama balasan pun datang. "Maaf Tuan, tapi ponsel Anda tidak tertinggal di sana," kata  Asisten Jofan lagi.


"Sial!" kata Jofan memukul kursi di depannya, dia sangat takut sekarang, baru saja dia kehilangan Sania beberapa hari yang lalu, dan sekarang, dia tak akan sanggup jika harus kehilangan Aurora juga.


"Tuan, kemana kita pergi?" kata  Asisten Jofan.

__ADS_1


"Ke rumah, dan cepat cari tahu dimana orang itu dibawa pergi," kata Jofan yang menghempaskan tubuhnya, dia tampak begitu khawatir, hanya menatap tak tenang keluar jendela, merasa sangat bodoh untuk tidak mengikuti intuisinya untuk membatalkan pertemuan ini.


"Ayah, maafkan aku," kata Siena dengan suara sedikit bersalah, Jofan melirik ke arah Siena tanpa mengubah posisinya, tangannya dikepalkannya di depan wajahnya. Jofan tidak bisa menjawabnya, dia kembali melihat ke arah jendela, tak tahu harus apa sekarang.


Mobil mereka akhirnya masuk ke dalam area rumah mereka yang sudah penuh dengan orang-orang yang melihat kebakaran rumah mereka, beberapa mobil pemadam kebakaran tampak mengelilinginya, juga ada beberapa mobil polisi dan ambulans.


Jofan langsung keluar dari mobil yang sama sekali tidak bisa mendekati gerbang rumahnya, dia dengan cepat menerobos kerumunan orang-orang yang mengitari rumahnya hingga akhirnya dia dihadang oleh polisi.


"Tuan, Anda tak boleh masuk," kata polisi yang sedikit mengamati wajah Jofan, serasa pernah melihat pria ini.


"Aku adalah pemilik rumah ini! aku ingin melihat keadaannya!" kata Jofan yang langsung membentak petugas polisi itu, bahkan jika tidak diizinkan, dia akan tetap menerobos masuk. Polisi yang dibentak itu segera membukakan penghalangnya.


"Baik Tuan," kata polisi itu, Jofan segera berlari menuju ke gerbang rumahnya, namun langkahnya terhenti ketika melihat tim evakuasi yang menggotong kantung jenazah berwarna kuning keluar dari gerbang itu dan segera menuju ke ambulans.


Seketika dunia Jofan hening, rasanya seluruh dunianya berputar, terasa berdengung hingga ke telinganya, dia bingung, dia tampak linglung, apa yang dia harus dia lakukan, bahkan untuk berdiri pun dia tampak sedikit goyah.


"Aku pemilik rumah, siapa yang dibawa dengan kantung jenazah, ada berapa?" tanya Jofan ingin penjelasan.


"Jenazah hanya ada satu Tuan, sebelumnya ada seorang wanita yang dibawa ke rumah sakit kami namun karena rumah sakit kami tidak sanggup, mereka membawanya ke rumah sakit Crown, pasien tersebut atas nama Nyonya Auroara," kata petugas medis itu segera, membuat Jofan merasa cukup lega, dia sedikit ada harapan.


"Rumah sakit crown! Baiklah, terima kasih," kata Jofan segera pergi dari sana, kembali menerobos kerumunan orang-orang dan mulai untuk kembali ke mobilnya, dia langsung masuk.


"Rumah Sakit Crown!" perintah Jofan dan mobil itu segera melanju kencang.


---***---

__ADS_1


Jared baru saja selesai untuk mengurusi semua administrasi saat tiba-tiba ponselnya  berdering, dia segera melihat ke arah ponselnya, takut jika Jenny menghubungi dan memberikan kabar yang tak baik, namun dia sedikit kaget, bukan Jenny yang menghubunginya.


"Halo?" kata Jared segera mengangkat teleponnya.


"Sedang apa? bisakah sekarang kau bertugas?


" suara manja Suri terdengar dari ujung sana, membuat Jared langsung mengembangkan senyumannya, setelah penat dengan semua kejutan hari ini, hanya suara Suri sudah bisa membuatnya tersenyum.


"Maaf, tapi hari ini aku tidak bisa," kata Jared yang langsung berhenti sejenak dan menyandarkan diri ke tembok.


"Kenapa?" kata Suri yang sedikit mengerutkan dahinya, padahal dia sedang ingin bertemu dengan Jared hari ini, semenjak dari labirin kemarin, sudah dia putuskan untuk memantapkan hati dan memilih, kemana cintanya akan dia labuhkan kembali.


"Bibiku mengalami kecelakaan, dia sedang dilarikan ke rumah sakit, jadi … maafkan aku jika tidak bisa menemanimu hari ini," ujar Jared memijit sedikit keningnnya yang dari tadi terus berkerut.


"Benarkah? bolehkah aku melihatnya?" kata Suri yang sedikit kaget mendengarnya.


"Boleh, tapi aku tidak bisa menjemputmu, aku harus bergegas ke rumah sakit crown untuk melihat keadaannya, Jenny juga sudah menunggu di sana," ujar Jared lagi.


"Tidak masalah, aku akan pergi dengan supir, Mama juga pasti akan mengizinkanku untuk melihat Bibi," ujar Suri langsung bangkit dari ranjangnya dan segera melihat pakaian apa yang cocok digunakkannya nanti, harus cukup sopan dan tentu menarik, harus terlihat cantik di depan Jared bukan?


"Ehm, baiklah, tapi berhati-hatilah," kata Jared pada Suri.


"Baiklah, kita bertemu di sana, aku tutup dulu ya," kata Suri yang cukup senang, walaupun alasan untuk melihat keadaan bibinya, tapi tetap saja dia senang karena ada Jared di sana.


"Ya."

__ADS_1


Jared memperhatikan layar ponselnya, namun tak lama dia segera berjalan keluar dan segera menuju mobilnya, tak menunggu lama dia segera pergi meninggalkan tempat itu.


Jared kembali mengendarai mobilnya dengan sangat cepat, mencoba memecah kepadatan jalanan agar bisa cepat sampai di sana, dan untungnya Jared adalah pengendara yang lihai, dia bisa dengan segera sampai di rumah sakit yang langsung mengesankan Jared saat pertama kali melihatnya, gedungnya sangat modern dan besar juga luas, dia segera berjalan dan masuk menuju ke pusat informasi.


__ADS_2