
Archie duduk dengan diam di dalam kantornya, matanya tampaknya menarawang, tangannya terus menerus mengetuk-ngetuk kaca meja kerja dengan kuku jari telunjuknya, dari wajahnya tampaknya dia sedang berpikir, terlalu penasaran dengan hubungan Ceyasa dan Rain, kenapa pria itu begitu menginginkannya? jika tak ada sesuatu, pria seperti Rain tak akan mau menggelontorkan uang sebegitu besarnya hanya untuk seorang wanita biasa seperti Ceyasa. Siapa sebenernya Ceyasa?
Tak lama, pintu ruangan kantornya terbuka, Gerald masuk dengan wajahnya yang cukup masam dari pada biasanya, Archie tak mengubah posisinya, dia hanya memindahkan pandangannya ke arah Gerald, meliriknya cukup tajam, mengamati sahabatnya itu yang mulai melangkah mendekati dirinya.
"Ada apa?" kata Archie yang dari wajah Gerald tahu ada yang ingin dikatakan oleh Gerald, dan sepertinya tidak baik.
"Tuan Angga ingin bertemu dengan Anda, Beliau tidak jadi datang ke perusahaan, beliau menunggu Anda di istana utama sekarang," kata Gerald lagi yang tahu apa yang akan terjadi, pasti kabar tentang penolakan investasi pada Rain sudah sampai kepada Angga. Saat ini Gerald benar-benar bingung harus bagaimana dan cemas akan kelangsungan karir dari Archie.
"Baiklah," kata Archie yang perlahan berdiri, memperbaiki sedikit jasnya dan segera keluar dari area meja kerjanya, Gerald menatap wajah Archie yang tampak serius, wajah diamnya itu membuat Gerald sedikit merasa sedikit tak enak melihatnya. Hal yang selama ini ditakutkan ternyata datang dengan sangat mudah.
"Archie," kata Gerald tertahan, tak tahu harus mengatakan apa.
"Hm?" Suara Archie menjawab, dia sedikit menoleh dan melirik sahabatnya itu. Namun melihat lirikan Archie yang seolah siap dengan apapun yang nantinya dikatakan oleh pamannya, Gerald tak bisa lagi mengatakan apapun, "Semua akan baik-baik saja, toh jika tak jadi CEO di sini, aku tetap seorang pangeran," ucap Archie menghibur Gerald, padahal dia hanya menghibur dirinya sendiri.
__ADS_1
Gerald memberikan senyum terpaksa, dia tahu betul Yang Mulia Raja adalah orang yang sangat keras dan sangat ketat dalam urusan perusahaan, perusahaan ini dibangunnya sendiri tanpa bantuan siapapun, namun karena dia tidak memiliki anak laki-laki dan tak mengizinkan Suri untuk mengurusi hal ini, dia memberikan harapan itu pada Archie, siapa sangka, bahkan dalam waktu sangat singkat setelah dia menyerahkan seluruh kepemimpinan pada Archie, Archie sudah menolak investasi dari investor terbesar yang sangat menjanjikan untuk perusahaan ini, Gerald sudah bisa membayangkan betapa kecewa dan marahnya Angga pada Archie nanti, bisa-bisa dia akan langsung dicopot dari jabatannya ini.
Archie melangkah keluar ruangan kantornya, beberapa karyawan yang ada di sana menatap pada Archie, penolakan investasi yang nilainya fantastis, entah dari mana, namun begitu cepat tersebar, membuat para karyawan merasa Archie sangat bodoh karena sudah menolaknya, bisik-bisik tentang dirinya terdengar sedikit sumbang, namun Archie tetap melangkah dengan mantap dan gayanya yang serius.
Gerald yang menjadi risih dengan tatapan-tatapan itu, kalau bisa dia akan menegur mereka semua, sayangnya, dia tak punya waktu sekarang, mereka segera menuju ke lift khusus dan segera turun menuju basemen dan segera masuk ke dalam mobil, meluncur langsung ke istana.
Mobil Archie berhenti di depan istana utama, tempat yang beberapa waktu lalu adalah tempat terlarang untuknya. Gerald langsung sigap turun dari mobil dan membuka pintu untuk Archie, Archie segera memperbaiki jasnya seketika dia keluar dari mobil dan segera melangkah ke tangga kecil untuk masuk ke dalam istana utama itu, pintu utama itu terbuka lebar untuknya.
"Selamat datang Pangeran Mahkota Archie," kata penjaga pintu saat Archie melewati pintu utama itu, dia segera masuk ke dalam istana itu, sudah cukup lama tak melihat keadaan di istana itu.
"Terima kasih," kata Archie sedikit mengangguk, melanjutkan langkahnya menuju ruang kerja Angga
Namun saat dia berjalan dan ingin berbelok untuk menyusuri lorong menuju ruang kerja Angga, langkahnya terhenti, melihat sosok Suri yang tampak sedang bercengkramah dengan dayangnya, tampak begitu ceria tanpa ada masalah sama sekali, dari wajahnya terlihat dia begitu bahagia, berbeda dengan yang diingat Archie terakhir kalinya, Suri yang melihat sosok Archie di depannya pun terdiam dan terhenti sejenak, menghilangkan tawa renyahnya tadi.
__ADS_1
Sesaat mereka hanya mematung, saling menatap dengan tatapan diam yang punya begitu banyak makna, dalam tatapan Archie, tampak rasa rindu yang sangat, namun juga kesedihan yang tertahan, Suri hanya diam, mengamati sosok pria itu, tidak tahu kenapa? tidak ada yang terasa, hanya kaget melihat sosok itu ada di sana.
"Kakak," kata Suri dengan senyuman manis yang malah membuat hati Archie menjadi kecut, Suri memberikan sedikit salamnya pada Archie, dan setelah itu kembali berjalan menuju tunjuannya, semua tampak biasa dan alami, seolah bagi Suri tak pernah ada perasaan untuk pria di depannya ini, dia bahkan tampak kembali berbincang dengan dayangnya yang awalnya juga terlihat kaku, namun kembali kesuasana biasanya.
Suri berjalan melewati Archie yang masih terpatung, suara tawa itu sangat dirindukannya, terasa begitu dekat dengan telinganya, begitu Suri melewati Archie, semerbak wangi bunga lavender yang tercium lembut sampai ke indra penciuman Archie, membangkitkan rasa rindu yang sangat, juga membuat bayang-bayang masa lalu terasa kembali menghampiri, wangi itu yang dulu selalu dekat dan menyelimutinya, namun sekarang untuk menciumnya saja, terasa menyesakkan.
Saat Suri berjalan di samping Archie, Archie begitu ingin mengenggam tangan Suri, menahannya, setidaknya ingin membuat Suri lebih lama ada di sana, berada di dekatnya, namun dia tak bisa melakukannya, mencoba untuk menahan dirinya, hingga Archie hanya mampu mengepalkan tangannya, membiarkan cintanya itu pergi berlalu begitu saja melewatinya.
Dia menutup matanya, merasakan perasaan paling tak disukainya, sesak dan menyakitkan, tawa ceria itu perlahan menghilang namun nyeri dan sakit akibatnya malah semakin menjadi dalam hati Archie.
"Pangeran, Yang Mulia menunggu Anda," kata Gerald yang mengingatkan, merasa sangat kasihan melihat posisi Archie sekarang.
Gerald saja tak percaya, selama ini dia pikir yang akan menjadi masalah adalah Suri, namun tak disangka wanita itu bahkan bertingkah sangat bahagia seolah Archie bukan siapa-siapa baginya.
__ADS_1
Gerald melihat Archie yang menarik napas panjang, membuka matanya dan dia kembali melanjutkan langkahnya, walaupun tampak begitu tegas dan mantap, namun Gerald tahu, bertapa tercabiknya hati Archie sekarang, belum lagi harus menghadapai Yang Mulia Angga, Gerald tak bisa melakukan apa-apa.