Shameless Prince : Our Incomplete Love Story

Shameless Prince : Our Incomplete Love Story
186 - Semoga mereka mengerti.


__ADS_3

Asisten Qie cepat menulis plus code-nya, setelah itu dia segera menutup jendela peta digital itu dan segera keluar dari sana sebelum ada yang melihatnya, karena bagaimana pun tindakannya ini sudah sangat membahayakan dirinya, dia lalu segera kembali ke ruangan Ceyasa, melihat dokter yang tampak kebingungan dengan sikap Ceyasa yang terus meringis kesakitan.


Asisten Qie masuk dan ketika Ceyasa melihatnya, Ceyasa langsung menenang, membuat dokter itu juga kaget.


"Aku rasa obatnya sudah bekerja," kata Ceyasa yang tetap sedikit meringis, tak mungkin tiba-tiba hilang seketika.


"Benarkah? bukankah saya sudah mengatakannya tadi, itu hanya karena efek obat yang diberikan belum bekerja, Anda membuat kami takut," kata dokter itu akhirnya bisa bernapas lega.


"Maafkan saya," kata Ceyasa.


"Tidak apa-apa Nona," kata  dokter itu lagi tersenyum.


"Bagaimana keadaannya, aku harus melaporkan keadaan Nona pada Tuan Rain jika dia sadar," kata  Asisten Qie yang memang mendapatkan perintah itu.


"Sudah membaik, kadar gula darahnya sudah normal, namun untuk makan dia harus memakan makanan cair dulu karena lambungnya pasti akan kaget jika langsung diberikan makanan keras," kata dokter itu.


"Baiklah terima kasih, Anda boleh beristirahat," kata  Asisten Qie lagi.


"Baik Tuan," kata dokter itu, mereka memberikan salam lalu pergi dari sana.


Asisten Qie melihat mereka pergi, memastikan tidak ada orang dia sana, lalu dia menunjukkan kertas yang di atas sudah tertulis plus code koordinat tempat mereka. Ceyasa yang melihat itu langsung terlihat sangat senang,  Asisten Qie benar-benar pelindungnya disini.


"Aku akan pergi memberitahu mereka, Nona, kembalilah beristirahat, aku yakin mereka akan menjemputmu segera," kata  Asisten Qie lagi segera ingin pergi dari sana.


" Asisten Qie, terima kasih sekali lagi, aku akan minta mereka melindungimu," kata Ceyasa

__ADS_1


"Tak perlu memikirkan aku Nona, beristirahatlah," kata  Asisten Qie melempar senyum manis, dia lalu segera keluar, tak ingin menunggu lama, dia tahu sebenarnya mereka sedang melawan waktu, siapa yang tahu kapan Rain tiba-tiba pulang dan muncul di sini,  Asisten Qie hanya berdoa semoga dia masih bisa menyampaikan plus code ini untuk siapa pun yang menerima pesan ini.


Asisten Qie mengambil ponsel satelit yang memang jadi satu-satunya hal yang mereka punya untuk berkomunikasi,  Asisten Qie segera mengeluarkan nomor telepon yang diberikan oleh Ceyasa, dia harus keluar ruangan, mencari tempat terbuka agar koneksi ponsel satelit itu bagus, dia tidak ingin mengambil resiko meneleponnya dari dalam ruangan, selain memperburuk koneksi, banyak penjaga dan mata-mata yang akan mengetahuinya.


 Asisten Qie segera menekan tombol dan menelepon setelah merasa dia sudah cukup jauh dari para penjaga dan juga ada di daerah terbuka, para penjaga yang melihat  Asisten Qie tak curiga, mereka pikir  Asisten Qie akan menghubungi Tuan Rain.


---***---


Archie menunggu dengan sangat cemas, lagi-lagi dia bahkan tak memakan makan siangnya, dia sudah menunggu cukup lama, hingga malam ini belum ada kabar apapun.


Tiba-tiba dikeheningan ruangan yang bahkan detak detik jam tangan pun bisa terdengar, ponsel Gerald berdering, Gerald langsung mengangkat ponsel itu.


"Tuan, kami  sudah melacak dimana Rain berada," suara tegas khas seorang tentara  langsung  terdengar, Gerald sengaja men-loudspeaker-kan panggilan itu agar bisa didengarkan semua, mendengar itu semuanya langsung mengeluarkan wajah kaget dan penasaran terutama Archie yang langsung mendekati Gerald.


"Dimana dia?" kata Gerald yang mewakili Archie.


"Lidia?" kata Archie menatap Gerald, Gerald juga hanya mengerutkan dahinya, tak mengenal siapa wanita yang dimaksud.


"Baiklah, kabari aku bagaimana perkembangannya, aku sudah mengirimkan semua data tentang Nona Ceyasa pada kalian," kata Gerald lagi.


"Siap, sudah kami terima," kata tentara itu lagi begitu tegas.


"Terima kasih," kata Gerald lagi dan dia memutuskan panggilan telepon itu lagi. Gerald menatap wajah Archie yang tampak kesal, apakah dia harus menunggu lagi?


"Sial!" umpat Archie lagi, emosinya tersulut, dia sudah tak sabar, dia tak bisa hanya menunggu seperti ini, apalagi diam saja,"ayo, kita ke markas militer," kata Archie segera keluar dari ruangan yang mulai membuatnya muak.

__ADS_1


Gerald yang melihat itu cukup kaget dengan pergerakan Archie, namun dia langsung sigap mengikuti Archie yang jalannya saja sangat terburu-buru, William dan Nadia pun sama kagetnya, dengan cepat mereka juga keluar dari sana dan mengikuti Archie.


"Siapkan mobil van, pangeran ingin pergi segera," kata Gerald yang langsung mengkoordinir keinginan Archie.


Archie segera melangkah keluar dari rumahnya, tak lama mobil van miliknya segera berhenti di depan mereka, Gerald membukakan pintu untuknya, Archie segera masuk dan duduk di tempat biasa dia duduk, William duduk di sampingnya, sedangkan Gerald dan Nadia mereka duduk di bagian belakang dan mereka segera keluar dari sana.


Mobil mereka bergerak cepat menuju markas militer, Archie mengigit bibirnya, setiap jam yang terlewat membuatnya semakin takut, semakin lama Ceyasa bersama pria itu, semakin khawatir dirinya, terakhir kalinya saja Ceyasa pernah mengadu padanya bahwa Rain memaksanya untuk tinggal dan menahannya dengan mengeluarkan binatang peliharaannya yang menyeramkan, kali ini apa yang akan dia terima? Bodoh! Kenapa awalnya dia percaya Ceyasa pergi dengan kemauannya sendiri, kenapa dia tidak berpikir mungkin dia melakukannya dengan terpaksa, kenapa dia tidak percaya bahwa Ceyasa bukanlah wanita yang begitu gampang untuk meninggalkannya? Rasanya sekarang dia ingin sekali berteriak, Ceyasa! kau dimana?


Tiba-tiba ponsel Archie berdering saat dia sedang dilanda rasa gundah itu, semua orang yang ada di mobil itu segera melihat ke arah Archie, Archie cepat-cepat melihat ponselnya dan melihat sebuah nomor asing yang formatnya pun terlihat berbeda.


"Seperti dari telepon satelit," kata Gerald yang pernah melihat hal itu. Archie melihat Gerald sejenak, dia langsung mengangkatnya dan men-loudspeaker-kan ponselnya.


"Halo?" tanya Archie.


"Catat! WWJ5+CP, sekali lagi, WWJ5+CP, dia menunggumu," suara  Asisten Qie terdengar, dia melihat ke arah salah satu penjaga yang mulai mendekatinya, melihat itu dia langsung mematikan panggilannya.


"Hei, Qie, Tuan Rain kapan akan pulang?" tanya penjaga itu


"Dia tidak memberitahu," kata  Asisten Qie yang cukup merasa kaget, jantungnya berdetak cukup kencang.


"Baiklah, bisakah aku istirahat sejenak, beritahu aku jika Tuan Rain akan datang, kau tahu maksudku kan," kata penjaga itu lagi dengan senyuman ramah.


"Ya, ya, baiklah, aku akan memberitahumu," kata  Asisten Qie mengehembuskan napas lega, diantara tawa kakunya dia mencoba menutupi kegugupannya.


"Baiklah, kau juga harusnya beristirahat, lihat tawamu jadi sangat kaku," kata penjaga itu lagi.

__ADS_1


"Iya, baiklah," kata  Asisten Qie, dia segera berjalan kembali masuk ke dalam rumah dan berjalan menuju ruang perawatan, melihat ke arah Ceyasa yang tampaknya sudah mulai kembali tertidur, dia tak enak untuk membangunkannya,  Asisten Qie hanya berdoa, semoga mereka mengerti dan segera mencari Ceyasa sebelum Rain memindahkannya kembali.


__ADS_2