
Ceyasa membuka matanya, Dalam cahaya remang dalam kamar tidurnya dia menatap pria yang sudah tertidur tenang di sampingnya, sama seperti tadi siang, dia bahkan tidak bisa untuk memejamkan matanya dan berharap dia akan ketiduran, namun semakin larut bukannya dia bisa tidur, malah semakin cerah matanya.
Dia dari tadi melihat ke arah Archie yang tidur di sampingnya, tampak begitu lelap dengan napasnya yang teratur, wajahnya yang tampan itu begitu menghayutkan, membuat Ceyasa tak jemu untuk melihatnya, bahkan walaupun tubuhnya sudah cukup pegal dalam posisi miring menghadap Archie, Ceyasa tetap tak ingin melepasakan pandangannya pada Archie.
Ceyasa sudah meminta untuk tidur terpisah, namun Archie juga bertindak seperti tadi siang, tiba-tiba sudah berbaring di sampingnya dan langsung tidur seperti tidak ada masalah sama sekali, apa dia tidak canggung tidur di samping wanita seperti ini? jangan-jangan dia sudah sering melakukannya? Ya, mungkin saja, hal ini sudah biasa baginya seperti dia terlihat biasa saja saat merampas ciuman pertama Ceyasa.
Memikirkan hal itu entah kenapa Ceyasa jadi kesal sendiri, dia lalu segera membalikkan tubuhnya tidak ingin melihat Archie lagi, namun baru beberapa menit dia membalikkan tubuhnya, dia merasa posisi itu juga tidak nyaman, dia lalu mengganti posisinya, terlentang mencoba menatap langit-langit yang indah di atas kamar Archie, namun sekali lagi napasnya jadi semakin sesak, ini yang tidak nyaman posisinya atau hatinya? pikir Ceyasa bingung, sekali lagi dia ingin mengubah posisinya, kali ini berbalik menghadap Archie, dan saat dia berbalik, dia sudah melihat pria itu menatapnya, Ceyasa langsung kaget dan gugup bersamaan, apa dia sudah membangunkan Archie?
"Kenapa begitu gelisah?" tanya Archie seolah dia tidak baru bangun tidur, menatap sangat sendu pada mata yang baru saja terperangkap di sana.
"Mungkin hanya belum terbiasa," kata Ceyasa pada Archie.
"Maka biasakanlah," ujar Archie cepat, terus memandang mata Ceyasa yang menurutnya sangat indah, "Karna kau akan tidur disampingku selamanya. "
Ceyasa terdiam, wajahnya otomatis memanas mendengar ucapan Archie, apa lagi Archie bahkan terus menatap wajah Ceyasa dengan tatapan sendu.
"Apa kau sering melakukan ini?" tanya Ceyasa, tak ingin pikirannya terganggu dengan hal itu.
"Hal apa?" tanya Archie pelan dan lembut.
__ADS_1
"Tidur bersama wanita?" kata Ceyasa lagi to the point. Archie yang mendengarnya langsung tersenyum.
"Menurutmu?" tanya Archie membalikkan pertanyaannya.
"Entahlah, aku kan tidak tahu," ujar Ceyasa sedikit ketus, tak suka saat dia bertanya Archie malah menanyakan lagi.
"Kau yang pertama," kata Archie lagi membuat Ceyasa langsung kembali terdiam, jantungnya berdebar menatap tatapan mata Archie yang begitu menghaturkan.
Archie mendekatkan tubuhnya ada Ceyasa, dia sedikit mengangakat tubuhnya, bertumpu pada lengannya, perlahan namun pasti mendekatkan wajahnya pada wajah Ceyasa, Ceyasa melihat wajah Archie yang tampak sekarang ada di atasnya, dia kaku tak bisa bergerak, hanya matanya yang bergerak-gerak memandang wajah Archie, sangat gugup melihat tingkah Archie, bahkan napasnya terhenti, jantungnya berdegup begitu keras hingga rasanya Archie juga bisa mendengarnya, hembusan napas Archie terasa menerpa pipi Ceyasa, kali ini Ceyasa benar-benar tidak bisa melakukan apapun, dia ingin bertanya apa yang ingin dilakukan oleh Archie, namun entah kenapa rasanya lindahnya begitu kelu untuk hanya mengatakan hal itu.
Archie yang melihat wajah Ceyasa yang tampak begitu memerah membuatnya semakin tak bisa menahan diri, bagaimana pun wanita di depannya ini adalah istrinya, dia tersenyum manis menatap wajah istrinya yang tampak remang dan perlahan tapi pasti dia langsung mencium Ceyasa, Ceyasa tak kaget dengan perlakuan ini, bagaimana pun di sudah tahu apa yang akan dilakukan oleh Archie, namun yang tak disangkanya, bahkan tubuhnya seolah menerima perlakuan itu, bagaimana dia bisa tidak menolaknya?
Napas mereka berburu, Archie seolah menyedot semua napas Ceyasa, membuat Ceyasa sangat kesulitan bernapas, tangan Archie mulai menjelajahi tubuh Ceyasa, perlahan namun terasa pasti, saat Archie tak sangaja mengenggam lengan atas Ceyasa, Ceyasa langsung sedikit merintih, merasakan sakit karena bekas lukanya terkena tangan Archie, hal itu membuat Archie sadar seketika, dia langsung melepaskan bibirnya dari bibir Ceyasa. memandang wajah Ceyasa yang sedikit meringis, merasakan sisa nyeri yang perlahan menghilang, bibir Ceyasa tampak merah sedikit membengkak karena sedotan Archie, tatapannya tampak sendu membuat perasaan menggebu di dalam diri Archie rasanya tak terbendung lagi, namun dia masih punya cukup akal sehat, tak mau membuat memaksakan, keadaan Ceyasa belum pulih sepenuhnya.
"Tidurlah, luka mu masih belum sembuh," kata Archie segera kembali ke posisinya, lalu berguling membelakangi Ceyasa.
Ceyasa melihat itu sedikit merasa bingung, kenapa dia bisa merasakan persaaan seperti ini, Ceyasa menggigit bibirnya, mencoba meredam perasaan yang baru kali ini dia rasakan, dia juga mencoba menutup matanya, masalahnya sama sekali tidak bisa.
"Archie?" kata Ceyasa, ingin tahu apakah Archie sudah tidur.
__ADS_1
"Hmm?" jawab Archie, dia bergeming dengan posisinya.
"Bagaimana kau tahu aku diculik oleh Rain? Apa karena Asisten Qie yang memberitahukannya?" kata Ceyasa lagi, mencoba untuk melumerkan suasana canggungnya.
"Tidak, Nadia yang memberitahukanku pertama kalinya," kata Archie, dia tetap membelakangi Ceyasa, dia tahu jika dia kembali melihat Ceyasa, dia bisa-bisa tidak akan melepaskan wanita itu, walaupun status mereka sudah sah, namun Archie tak ingin melakukannya dalam keadaan Ceyasa seperti itu.
"Nadia?" kata Ceyasa yang langsung ingat temannya itu, "dimana dia sekarang?"
"Aku rasa William membawanya ke East Park, mungkin dia masih ada di sana," kata Archie yang akhirnya mengubah posisinya, mencoba untuk terlentang.
"Benarkah? berarti dia ada di sana sendirian, mungkin sekarang dia sangat ketakutan dan cemas, dia belum tahu aku sudah selamat kan?" kata Ceyasa melirik ke arah Archie, akhirnya sedikit teralihkan pikirannya dari kejadian yang baru saja terjadi.
"Ya, mungkin saja, kenapa? kau ingin bertemu dengannya?" tanya Archie melirik ke arah Ceyasa.
"Ya, aku ingin, aku juga harus berterima kasih, tanpa dia mungkin kau tidak tahu aku sedang diculik, bolehkah besok aku menemuinya?" kata Ceyasa lagi.
"Baiklah, besok kita akan pergi kesana, kau dilarang untuk keluar tanpa diriku, jadi besok kita akan pergi bersama-sama," kata Archie kali ini sepernuhnya melihat wajah Ceyasa yang sudah duluan menghadap ke arahnya.
"Baiklah, terima kasih," kata Ceyasa dengan senyuman manisnya, tampak begitu indah tertimpa cahaya temaram.
__ADS_1
"Tidurlah, besok kita harus bangun pagi, kalau tidak nenek akan semakin punya alasan untuk memarahimu," kata Archie memindahkan anak rambut Ceyasa ke belakang telinganya, lalu mengecup kembali dahi Ceyasa dengan sangat lembut, menarik tubuhnya sedikit ke arah Ceyasa lalu memeluk Ceyasa, mencoba memberikan kehangatan yang nyaman, namun malah membuat Ceyasa kembali merasakan debaran yang tak karuan, tapi Ceyasa tak bisa menolaknya, dia bisa mendengar suara napas Archie perlahan menjadi teratur, Ceyasa juga bisa mendengar sayup-sayup degupan suara jantung Archie, terdengar halus dan berirama, hal itu yang perlahan mengantarnya masuk ke dalam mimpi yang indah.