
"Kakak! Bangun!" Suara keras membuat Archie terbangun, belum lagi pukulan pedas di bagian pipinya, membuatnya langsung tersentak kaget hingga terduduk.
Archie menatap kosong sesaat ke arah kamarnya, terbengong sebentar, kepalanya langsung sakit sekali, rasanya berdenyut bagaikan bom yang ingin pecah rasanya, dia baru bisa tidur pukul 4 tadi pagi, dan tiba-tiba dia dibagunkan dengan cara begini? Rasanya dia ingin membunuh orang yang membangunkannya sekarang.
"Sial, William, tak bisakah kau membiarkan aku tidur?" umpat Archie yang benar-benar kaget dibagunkan seperti itu, dia mengambil ponsel yang ada di dekatnya, masih pukul 6 pagi, dia hanya tidur 2 jam, kemarin juga dia hanya tidur 2 jam dan sekarang kepalanya benar-benar berat.
"Ibu yang menyuruhku membangunkanmu, kita harus ikut sarapan di istana utama, lagi pula bagaimana ada pangeran semalas dirimu?" kata William melihat kakaknya yang tampak kacau, lingkar matanya menghitam. Sudah berapa lama dia tak tidur, pikir Wiliam mengamati.
"Aku tidak ikut sarapan katakan itu pada ibu dan papa," kata Archie enteng saja, masih terlalu mengantuk, namun tiba-tiba dia langsung ingat sesuatu, dan dia langsung mengambil ponselnya
"Tidak bisa, ibu dan ayah bilang kau harus ikut, Raja ingin bertemu denganmu, ah, untung saja negara ini sudah tidak lagi dipimpin oleh kerajaan, jika tidak akan sangat kacau jika kau jadi raja," kata William lagi.
Archie terlihat tak peduli apa yang dikatakan oleh adiknya ini, dia lalu segera menghubungi Gerald. Dia hanya ingin mengetahui apakah ada kabar tentang Ceyasa, dan mudah-mudahan sudah ada.
"Halo?" terdengar jawaban Gerald dari seberang.
"Bagaimana? apakah sudah ada kabar?" tanya Archie cepat, membuat William yang tadi berbicara padanya merasa sedikit diacuhkan oleh kakaknya ini, mereka jarang bertemu, sekalinya bertemu seperti ini.
"Belum ada titik terang, kami masih mencarinya, hari ini beberapa orang akan pergi mencari apakah dia kembali ke Giovert atau tidak," kata Gerald lagi yang juga pusing mencari Ceyasa, apakah dia harus sampai mengerahkan para tentara untuk mencari Ceyasa, bagaimana jika benar dia hanya ngambek dan pulang ke desanya? Bukankah itu akan sangat berlebihan dan juga akan memalukan, pikir Gerald.
Archie terdiam sejenak, semalaman dia menunggu kabar dari Gerald dan tak sadar tertidur, saat dia bangun hal pertama yang dia ingat adalah Ceyasa, ah, bagaimana dia bisa begitu cemas dengan wanita itu.
"Baiklah, beritahu aku jika sudah ada kabar walaupun sedikit mungkin," kata Archie lagi sambil mengusap wajah ngantuknya. Ada rasa sedikit kecewa di hatinya.
"Baiklah, kau jagalah kesehatanmu," kata Gerald yang masih merasa sedikit khawatir dengan Archie. Archie masih menghubunginya bahkan dini hari, dan sepagi ini dia sudah bangun.
__ADS_1
"Iya," kata Archie, dia langsung mematikan panggilan teleponnya, lalu melihat ke arah adiknya yang masih ada di sana.
"Kau masih di sini? tidak ke rumah sakit?" tanya Archie dengan wajahnya yang sangat tampak begitu mengantuk.
"Aku sudah menyelesaikan pendidikanku, tau kah kau? adik kecilmu ini sebentar lagi akan menjadi dokter, kau harus memberikanku hadiah kelulusan, bahkan Mercedesku saja belum kau tepati," kata William bangga dan sedikit melihat ke arah Archie dengan tatapan menuntut.
"Apa pasienmu tahu dengan sifatmu yang selalu meminta seperti itu? baiklah aku akan memberikannya sebagai hadiah nanti," kata Archie lagi.
"Tidak mau, kau harus memberikanku dua," kata William dengan senyuman senang.
"Dua? Dasar, bukankah itu terlalu tamak, aku tak akan ingin jadi pasienmu nantinya," kata Archie lagi kembali mengusap wajahnya, masih terlalu pusing karena semua hal ini.
"Ngomong-ngomong soal pasien, aku mendapatkan pasien lucu tadi malam," kata William tiba-tiba ingat dengan Nadia yang meracau tadi malam.
"Ya, dia pasien dengan gangguan kejiwaan, masa dia bilang temannya diculik oleh hujan, dan kau tahu, dia bilang teman khayalannya itu adalah istri seorang pangeran, hahaha, lucu sekali, dia tak tahu aku adiknya pangeran, bagaimana kau sudah menikah?" kata William mengingat kata-kata ‘ngawur’ Nadia semalam.
Archie yang otaknya belum terlalu terkoneksi hanya menaikkan sedikit sudut bibirnya, banyak orang yang mengaku-ngaku menjadi istrinya, dan bagaimana bisa hujan menculik temannya, e? hujan? tiba-tiba otak Archie langsung berkerja.
"Siapa nama temannya itu?" tanya Archie langsung berwajah serius, membuat William yang tadinya tertawa sambil geleng-geleng kepala langsung kaget.
"Ya, teman khayalannya itu bernama Ceyasa, seingatku seperti itu," kata William langsung mengertukan dahinya, Archie membesarkan matanya, Ceyasa?
"Apa yang dia katakan? Siapa namanya? dimana dia sekarang?" kata Archie dengan cepat langsung mendatangi William yang langsung tampak kaget dengan cercaan pertanyaan dari Archie.
"Dia ditemukan tidak sadar di pinggiran jalan raya, saat dia bangun dia meracau tentang temannya yang bernama Ceyasa yang diculik oleh hujan, dia juga mengatakan dia harus keluar dari rumah sakit untuk bertemu dengan pangeran, dia mengatakan Ceyasa mengatakan padanya bahwa pangeran tinggal di East, tapi dia tidak bisa mengingatnya," kata William dengan rinci mengatakannya.
__ADS_1
"Siapa namannya? apa namanya Nadia?" tanya Archie langsung.
"Sial, kau kenal dia?" kata William lagi, padahal dia tidak pernah mengatakan nama pasien itu, bagaimana kakaknya tahu nama pasien itu, dia lalu menatap Archie dengan curiga, ada apa ini sebenarnya?
Archie memegangi kepalanya, kepalanya yang pusing itu bertambah pusing, apa yang harus dia lakukan sekarang?
"Dimana dia sekarang?" kata Archie.
"Dia di rumah sakit tempatku koas, di ruang isolasi gangguan kejiwaan," kata William lagi.
Archie kembali lagi menyambar ponselnya, dia langsung menekan tombol untuk menelepon Gerald.
"Gerald, temui aku di rumah sakit pemerintah sekarang!" perintah Archie seolah tak terbantahkan yang bahkan tidak membiarkan Gerald untuk berbicara sepatah kata pun. Archie mematikan ponselnya, William melihat tingkah kakaknya yang panik itu pun hanya mengerutkan dahi.
"Kau! kau ikut denganku!" kata Archie menunjuk pada adiknya, William yang melihat wajah kakaknya sangat serius itu hanya mengangguk patuh.
Archie segera ingin keluar dari kamarnya, sangat panik hingga dia buru-buru sekali.
"Kakak! hei!" kata William menepuk pundak kakaknya, menahan kakaknya melanjutkan langkahnya.
"Apa lagi?" kata Archie yang kesal, dia sedang panik tapi adiknya malah sangat santai seperti ini, tak tahukah hal ini sangat penting untuknya sekarang?
"Kau ingin pergi keluar dengan baju tidur, dan juga sendal rumah seperti itu? aku rasa nantinya kau yang dikira pasien gangguan jiwa," kata William melihat penampilan kakaknya, Archie lalu melihat tubuhnya, karena sangat terburu-buru dia bahkan tidak memperhatikan penampilannya yang benar-benar kacau.
"Ganti bajumu, aku akan menyuruh penjaga untuk meyiapkan mobil," kata William lagi segera keluar dari kamar kakaknya, kali ini mau tak mau Archie mengikutinya segera.
__ADS_1