Shameless Prince : Our Incomplete Love Story

Shameless Prince : Our Incomplete Love Story
315 - Aku akan marah padamu.


__ADS_3

Jam bergulir, semakin lama semakin naik, matahari sudah berganti dengan bulan, membiarkan hari berselimut kegelapan, sama dengan hati Jared malam ini, di kaca yang menjadi pembatas antara dirinya dan Suri dia hanya bisa menatap nanar, wanitanya berjuang sendiri di garis antara kehidupan dan kematian.


 


Jared menunggu sendiri di sana, Angga dan Bella dibiarkannya untuk sekedar membersihkan tubuh dan makan malam, dan hari ini sangat melelahkan, walaupun tidak melakukan apapun, rasanya seluruh energi terkuras hanya untuk menunggu sebuah kabar. Setiap detik dalam waktu 24 jam ini sangat berarti, jika Suri bisa melewatinya dengan baik, maka kemungkinan terbaik untuknya semakin besar.


 


Sejujurnya, Jared paling benci dengan hal ini, menunggu seseorang sadar apalagi orang yang sangat penting adalah hal yang paling menyiksa, tak bisa menebak kapan mereka akan sadar, akankah harapan itu hanya sia-sia belaka, atau bagaimana?


 


Jared memegang kaca pembatas yang terasa dingin, Suri masih terlihat pucat dengan alat bantu pernapasan dan juga segala monitor yang terpasang di sebelahnya.


 


"Suri, cepatlah sadar, " bisiknya lemah.


Jared sudah mencari-cari informasi tentang keadaan Suri, perdarahan otak bisa menyebabkan seseorang kehilangan kemampuannya, baik dalam berbicara, melihat, gerakan, bahkan dia bisa kehilangan kemampuannya dalam berpikir, namun Jared sudah bersiap, apapun yang nantinya Suri alami setelah ini, dia akan menerimanya, asalkan wanita itu ada di sampingnya.


 


Suara monitor itu sedikit familiar, suasana putih nan sendu pun terasa akrab, namun tetap saja tidak bisa terbiasa, jarak mereka hanya beberapa langkah, namun terasa begitu jauh, pemisah mereka yang terlihat hanya kaca, namun serasa bagaikan jurang lebar yang tak berdasar.


 


Entah sudah berapa lama dia hanya terpaku melihat kondisi Suri, matanya tertuju ke sana,  namun pikirannya entah pergi kemana, dia di antara optimis namun  juga harus menyiapkan diri untuk kabar terburuk sekali pun, saat kau ingin percaya semua akan baik-baik saja, namun di detik lain dia harus mencoba pasrah dan menerima semuanya.


 


Dokter Irena melihat keadaan Suri yang untungnya stabil dari terakhir mengalami serangan gangguan irama jantung, dia melihat ke arah jendela kaca, menatap pria yang berdiri tegar namun dengan tatapan sendu, matanya menatap dalam, basah dan lelah, namun dia tampak begitu bertahan di sana.


 


Dokter Irena berjalan menuju Jared, pria itu tidak menyadarinya padahal Dokter Irena begitu dekat, hanya berbatas kaca tipis, saat dokter Irena melambaikan tangannya di  depan wajah Jared, baru mata Jared tertuju pada dokter itu, Dokter Irena tersenyum, dia lalu memberikan gestur menunjukkan ke arah pintu, Jared mengerutkan dahi, otaknya sedikit susah untuk memproses informasi sekarang, namun dokter Irena tersenyum manis sambil berjalan ke arah yang dia tunjuk tadi.


 


Jared melihat hal itu, mengikuti dokter Irena, Jared keluar dari ruang untuk melihat Suri, dia lalu segera menuju pintu tempat ruangan Suri, Jared tiba duluan namun tak lama pintu itu terbuka, sosok dokter Irena yang sudah membuka baju khususnya tampak memberikan senyuman.


 


"Pangeran, sebenarnya dalam 24 jam Putri tidak boleh di jenguk siapa pun, itu perintah langsung dari Dokter Malvis tapi …. " kata dokter Irena melihat wajah Jared yang memandangnya serius, matanya yang tajam itu membuat semua orang gugup.


"Tapi apa?" suara serak dan  berat itu terdengar.


"Tapi saya rasa Putri pun ingin bertemu dengan Anda, keadaan beliau stabil lebih dari 6 jam ini, saya yakin jika Anda ada pasti putri akan lebih semangat, dan mana tahu putri segera siuman, " kata Dokter Irena yang dari tadi melihat cinta yang mendalam terbersit hanya dengan tatapan Jared.


 


"Benarkah?"kata Jared yang tampak sedikit lebih bersemangat, sepanjang hari memandang Suri dari balik kaca itu sungguh menyesakkan, sekarang adalah waktunya dia bisa setidaknya benar-benar berada di sampingnya.


 

__ADS_1


"Ya, Tolong siapkan pangeran, dia akan masuk ke ruangan Putri, jangan laporkan ini pada dokter Malvis," kata Dokter Irena memerintahkan pada salah satu perawat yang ada di sana, perawat itu mengangguk dengan senyuman.


 


 


"Silakan pangeran," kata perawat itu membiarkan Jared masuk, dia langsung menyiapkan sepasang sendal khusus, Jared juga di bimbing untuk mencuci tangannya, menggunakan baju khusus yang sudah di sterilkan, menggunakan penutup kepala dan masker, setelah dia selesai, dia di arahkan ke pada sebuah pintu berdaun 2, di sana dokter Irena sudah menunggu Jared, melihat Jared sudah siap, dokter Irena membukakan pintu.


 


 


"Silakan menikmati waktu Anda selama mungkin, jika terjadi apa-apa, panggil kami segera, kami ada di ruangan ini," kata dokter Irena kembali tersenyum, Jared mengerti dan hanya mengangguk.


 


 


Pintu itu terbuka, suara monitor kehidupan itu terdengar lebih nyaring dari pada yang tadi didengarkannya, dia melangkah perlahan, alat-alat yang entah apa gunanya terlihat lebih nyata di sana, dan Jared dengan perasaan berkecambuk mendekati Suri.


Keadaan Suri lebih terlihat menyakitkan dari sini, tubuh kecilnya terlihat lemah, bibirnya yang biasa seindah bunga sakura tampak putih menyamai warna dinding ruangan ini, Jared berdiri di samping Suri, tangannya terasa berat untuk menyentuh  tangan Suri yang tak bisa dia rasakan kelembutannya karena tangan Jared sekarang berbalut sarung tangan karet agar menjaga ruangan Suri tetap steril, tangan itu langsung digenggamannya erat, tak peduli apakah Suri bisa merasakannya atau tidak, namun dia hanya ingin Suri tahu bahwa dia ada di sini.


 


 


"Suri, aku ada di sampingmu sekarang," bisik Jared tepat di telinga Suri, serasa ada yang meninduksinya dari dalam, mata Jared langsung terasa perih, "Suri, kau melakukannya dengan baik, sekarang penyakit itu sudah hilang, kau mengalahkannya dengan baik," kata Jared dengan suara serak terbata menahan gejolak yang membuat napasnya serasa sangat berat, bahkan dia kesusahan untuk mengucapkan satu persatu kata.


 


 


 


 


"Suri, sekarang kembalilah padaku, jangan terlalu lama untuk menutup matamu, aku yakin kau ada di sana mendengarkanku, Suri, Aku ada di sini, kembalilah, buka matamu, kita sudah berhasil, bukankah kau ingin bersama denganku hingga kita punya rambut yang memutih," kata Jared, air matanya ternyata tak bisa di bendungnya, mengalir begitu saja jatuh dan menghilang di balik masker yang digunakannya.


 


Jared menarik napasnya yang terhalang cairan di hidungnya, tangannya mengelus lembut kepala Suri yang hanya tergeletak tak berdaya.


 


"Suri bangun lah, bukannya kau ingin memiliki anak dariku, kita sudah bisa memiliki anak, kau akan bisa mengandung, kita akan bersama, Suri, bangunlah," kata Jared memengang erat tangan Suri yang tak bergerak sama sekali, lemas bagai tak bernyawa.


 


"Suri, kau ingin aku marah padamu bukan? aku akan marah jika kau tidak sadar segera, Suri! Bangunlah! Jangan menyiksaku seperti ini! ayo! Bangun lah, jangan menyerah! Aku di sini untukmu, jangan pernah berani meninggalkanku, aku tidak akan pernah memaafkanmu walau dengan alasan apapun! Aku akan marah padamu! aku akan sangat marah padamu," kata Jared dengan suara sedikit meninggi dengan emosi yang dia coba tahan, di akhir suaranya terdengar melemah seperti putus asa.


 


Senyap sejenak, namu seolah menjawab semua perkataan Jared, monitor pemantau kehidupan Suri tiba-tiba berbunyi dengan sangat cepat, Jared yang mendengar perubahan itu tentu kaget, suara itu melengking dari awalnya yang terputus bagaikan suara detak jantung menjadi suara lurus yang panjang.

__ADS_1


 


Jared melepaskan tangannya ketika Dokter Irena menyelanya, menggeser tempatnya yang membuat Jared mundur beberapa langkah, semua di ruangan itu tiba-tiba terlihat dan terdengar samar tertutup rasa kaget dan syok yang terjadi pada Jared.


 


"Pangeran, Anda harus menunggu di luar," kata seorang perawat yang langsung membawa Jared kembali ke ruangan itu, kesibukan dan suara lengkingan panjang suara monitor itu.


 


Jared mengangguk patuh dan dia segera keluar dari ruangan itu, meninggalkan segala hiruk pikuk yang terjadi, di luar Jared menyandarkan tubuhnya di dinding yang terasa dingin, dia memengang kepalanya, merasakan pusing luar biasa, apa yang baru saja dia lakukan? dia baru saja membuat Suri seperti itu? itu adalah salahnya, seharusnya dia tidak memaksa Suri.


 


Jared tampak bingung dengan apa yang harus dia lakukan, namun dia bergegas menuju ruangan tempat tadi dia menunggu, di sana dia bisa melihat semua tampak sibuk, Dokter Irena sedang memberikan tekanan pada dada Suri. Jared membesarkan matanya, melihat tubuh istrinya yang kecil harus di tekan dan terhentak karena apa yang dilakukan oleh dokter Irena di atas tubuh istrinya.


 


Dia mendekatkan tubuhnya ke arah kaca, melihat tubuh kecil istrinya seperti itu perasaan Jared benar-benar tak tega, Pintu ruangan itu terbuka, Angga segera masuk berlari, Bella pun bergegas melihat hal itu. Jofan dan Daihan berserta istri mereka hanya bisa terdiam melihat hal itu, mereka tak berani untuk melangkah, hanya menunggu di bagian belakang ruangan itu.


 


"Apa yang terjadi?" kata Angga melirk Jared yang hanya terdiam terpaku.


 


Jared menatap Angga yang menuntut jawab, dia tidak bisa menjawab apapun, Jared hanya kembali memalingkan wajahnya ke arah Suri.


 


Di dalam ruangan.


Dokter Irena terus memberikan resusitasi jantung untuk tubuh Suri, dia tidak bisa memberikan kardioversi karena monitor jantung menunjukkan garis lurus yang panjang, dia harus terus memberikan  tekanan di dada Suri untuk memacu jantung Suri kembali berdetak.


 


"Suntikan adrenalin cepat!" kata dokter Irena memerintahkan pada seorang perawat, perawat itu tanggap dan langsung menyediakan dan menyuntikkan adrenalin yang di minta oleh dokter Irena.


 


"Ayolah Putri, jangan menyerah setelah sejauh ini," kata Dokter Irena terus menekan tubuh Suri walaupun sebenarnya dia juga sudah kelelahan, namun tak ada respon sama sekali, Dokter Irena langsung segera mencoba lebih lagi untuk memberikan tekanan.


Setelah beberapa menit dia melakukan hal ini dan akhirnya ….


 


"Dokter! Pulse!" kata perawat yang melihat dokter Irena yang terlalu fokus memberikan tekanan jantung luar, dia menghentikannya, melihat ke arah monitor yang sudah mulai kembali menunjukkan denyut jantung.


Dokter Irena menarik napas lega, dia melihat ke arah Suri yang tampak belum sadarkan diri, hanya seperti sebelumnya, hampir saja, mereka kehilangan Suri.


 


"Putri, tolong jangan ada kejutan yang lain," kata dokter Irena melihat ke arah Suri, namun akhirnya sadar ada mata-mata yang melihatnya dengan penuh ketegangan dan haru, tampak kesedihan terpancar di wajah-wajah di balik kaca itu, mereka lupa untuk menutup tirainya, hingga Angga, Bella, dan Jared bisa melihat apa yang dia lakukan dengan jelas, untunglah mereka bisa mengembalikan Suri, jika tidak, momen paling berat dalam hidup Dokter Irena akan terulang, melihat tangis kehilangan.

__ADS_1


 


"Kau harus secepatnya bangun Putri, banyak orang yang sangat menyayangimu, percayalah, mereka selalu ada di sini untukmu," bisik Dokter Irena yang harus mengatur napasnya, terasa berburu karena kejutan yang baru saja di berikan oleh Suri.


__ADS_2