Shameless Prince : Our Incomplete Love Story

Shameless Prince : Our Incomplete Love Story
109 - Tuan Rain, Jangan Panggil Aku Terlalu Sering Ya!


__ADS_3

Jam masih menunjukkan pukul 6 pagi, saat Rain sudah turun dari lantai dua rumahnya, dia sudah terlihat sangat rapi dengan setelan jas putih, dia melirik rumahnya yang luas namun terkesan sepi, karena memang hanya dia yang tinggal di sana.


Asisten Qie sudah dengan sikap sempurna berdiri menyambutnya di ujung tangga bagian bawah.


"Selamat pagi Tuan Rain," kata  Asisten Qie menyambutnya.


"Selamat pagi, ehm, apa dia belum bangun?" tanya Rain menatap  Asisten Qie sambil terus menerus memegang jas kerjanya.


"Sudah, Nona Ceyasa sudah bagun pagi-pagi sekali," kata  Asisten Qie.


"Dimana dia sekarang?" tanya Rain lagi sambil memperbaiki jam tangan yang sudah terpasang di tangannya.


"Nona ada di dapur Tuan," kata  Asisten Qie lagi.


Rain menatap  Asisten Qie, untuk apa gadis itu di dapur, setiap sudut ruangan rumahnya sudah punya pelayan masing-masing, dan tentu mereka sudah punya pelayan dan juru masak terbaik yang hanya memasak untuk Rain, lalu untuk apa wanita itu pagi-pagi sekali sudah ada di dapur?


"Untuk apa dia di dapur?" tanya Rain lagi sambil melanjutkan jalannya menuju ke ruang makan dalam ruangannya, seperti biasa sarapannya sudah terhidang sempurna di atas meja yang tebuat dari batu marmer itu.


"Nona membuat sesuatu, saya juga tidak mengerti, namun Nona bilang dia ingin membuatkan sesuatu untuk Anda," ujar  Asisten Qie menjelaskan.


Rain tak langsung menjawab, dia langsung duduk di tempat biasa dia makan, dia lalu melirik ke arah  Asisten Qie yang setia ada di dekatnya, beberapa pelayan wanita yang ada di sana segera menuangkan kopi hangat di cangkir porselennya.


"Panggil dia, aku tidak ingin menunggunya untuk sarapan," ujar Rain lagi pada  Asisten Qie.


"Baik Tuan," ujar  Asisten Qie segera bergegas.


Asisten Qie segera berjalan menuju dapur, menemukan Ceyasa yang sudah terlihat begitu ceria, rambutnya dia ikat satu, dia menggunakan celemek putih dan dengan sangat perlahan menuliskan sesuatu diatas kue yang baru saja dia buat.

__ADS_1


"Nona, Tuan sudah menunggu Anda," kata  Asisten Qie memanggil Ceyasa yang langsung melirik ke arah  Asisten Qie, Ceyasa memberikan sedikit senyuman.


"Ya, baiklah, aku juga sudah selesai, tunggulah sebentar," ujar Ceyasa lagi.


"Anda membuatkan Tuan sebuah kue?" tanya  Asisten Qie mengerutkan dahinya.


"Ya, sedikit hadiah untuk ulang tahunnya yang sangat biasa saja," ujar Ceyasa masih mencoba mendekorasi kue dengan krim putih itu.


"Tapi Tuan Rain tidak suka makanan manis, apalagi untuk sarapan, dia selalu mual jika memakan makanan manis," ujar  Asisten Qie dengan suara sedikit sungkan, dia tahu betul bosnya itu sangat tidak menyukai makanan manis, dia pernah bermasalah dengan hal ini sebelumnya.


"Oh, benarkah? sayang sekali," ujar Ceyasa sedikit kecewa, dia menatap kue ukuran sedang yang sudah dia buat, terlihat sederhana namun menyelerakan, Ceyasa membuka celemek putih yang dipakainya, lalu dengan segera meletakkanya di atas meja di dekat kuenya, "Baiklah, tidak apa-apa jika dia tidak suka, kalian boleh memakannya," ujar Ceyasa lagi segera bersiap-siap.


"Baiklah Nona,  Tuan sudah menunggu di ruang makan bagian dalam," ujar  Asisten Qie lagi.


"Terima kasih," ujar Ceyasa segera keluar dari dapur itu,  Asisten Qie mengikutinya dari belakang,


"Selamat pagi," kata Ceyasa memberikan salam. Rain tak mengubrisnya, sibuk dengan apa yang di bacanya, Ceyasa merasa ya sudahlah, tidak terlalu mengambil hati jika Rain tidak menjawabnya.


Tak lama Rain menyudahi membaca korannya, meletakkan kopinya di meja, lalu meliaht ke arah Ceyasa, Ceyasa yang tadinya tidak di gubris merasa tak perlu melihat ke arah Rain,jadi dia hanya berdiri dan melihat ke arah meja makan itu.


"Duduklah," ujar Rain lagi melihat Ceyasa.


"Aku?" tanya Ceyasa pura-pura seperti tidak tahu.


"Siapa lagi?" tanya Rain.


"Oh, baiklah Tuan," ujar Ceyasa duduk di sebuah kursi yang sudah di tarik oleh  Asisten Qie.

__ADS_1


"Terima kasih  Asisten Qie," ujar Ceyasa tampak begitu ramah pada  Asisten Qie, membuat Rain mengerutkan dahinya, namun Rain juga tak punya minat untuk menanyakannya.


Rain melanjutkan sarapannya, Ceyasa yang duduk di sampingnya kembali hanya melihat Rain makan, lagi-lagi tak ada makanan untuknya, dan untungnya Ceyasa sudah makan sedikit di dapur tadi.


"Kenapa kau melihatku seperti itu?" ujar Rain yang bahkan tak melirik ke arah Ceyasa dari tadi, dan memang dari tadi Ceyasa menatap ke arah Rain.


"Yah, aku hanya ingin tahu kapan kau melepaskanku?" tanya  Ceyasa menatap ke arah Rain dengan tajam.


"Melepaskanmu?" tanya Rain melirik ke arah Ceyasa.


"Ya."


"Memangnya aku menahanmu? Kan kau bebas keluar jika kau ingin," ujar Rain dengan sangat entengnya.


"Ya, tapi bangaimana aku keluar jika ada banyak binatang peliharaanmu di depan itu?" ujar Ceyasa dengan nada kesal, mengizinkan pergi tapi di depan pintunya saja sudah banyak perliharaan yang menyeramkan, bagaimana Ceyasa bisa pergi.


"Mereka hanya berkeliaran jika malam, sekarang jika kau ingin keluar, kau tinggal keluar saja," ujar Rain sambil kembali menyeruput kopi hangat yang aroma tercium kuat bagi Ceyasa.


"Benarkah? kalau begitu aku akan pergi, aku akan terlambat kerja jika terlalu lama di sini," ujar Ceyasa senang, dia langsung berdiri tanpa aba-aba, Rain melihat ke arah Ceyasa yang begitu senang, seolah baru saja keluar dari sarang seorang pembunuh, "Aku akan mengambil barang-barangku, setelah itu aku akan pergi, tak perlu repot, aku akan pergi sendiri, Terima kasih," ujar Ceyasa sambil menepuk pundak Rain secara spontan, membuat  Asisten Qie dan Rain kaget melihantya,  Asisten Qie tak pecaya apa yang di buat oleh Ceyasa, seumur dia bekerja dengan tuannya, tak ada yang berani menyentuh dirinya, kecuali memang dia yang mengizinkannya, seolah seluruh tubuhnya harus steril dari campur tangan orang lain.


Begitu juga Rain, dia melihat ke arah jas putihnya, yang sebenarnya tidak ada apa pun yang menempel di sana, namun dia melirik jijik ke pundaknya, dengan wajah kesal, dia langsung membuka jasnya, melihat itu  Asisten Qie langsung mengerti, dia langsung menyuruh pelayan untuk mengambil jas putih yang 'bersih' untuk Rain.


Ceyasa dengan segera meninggalkan mereka, naik tangga kayu itu dengan buru-buru hingga menimbulkan suara yang cukup berisik, membuat Rain merasa agak terganggu dengan sikap Ceyasa,  Asisten Qie saja sudah takut melihatnya, Nona muda itu sudah membuat mood Tuannya buruk.


Sama seperti saat dia naik, Ceyasa turun dengan langkah yang tak kalah berisiknya, membuat Rain benar-benar harus memasang wajah terganggunya,  Asisten Qie tak tahu harus apa, toh yang mengajak Ceyasa ke sini adalah bosnya sendiri.


Ceyasa segera menuju ke ruang makan, melihat Rain dan semuanya masih pada tempat yang sama, dia meyelempangkan tas kerjanya dan sudah berganti pakaian dengan pakaian kerjanya semalam, Rain melirik malas pada Ceyasa, sedikit terkejut wanita ini cepat sekali berganti pakaian.

__ADS_1


"Baiklah, Tuan Rain, aku akan pergi, terima kasih  Asisten Qie, tak perlu mengantarku, semoga harimu menyenangkan, oh, ya, kue yang aku buat, jangan lupa dibagi pada yang lain ya, sangat sayang jika tidak di makan, toh Tuan Rain tidak suka makanan manis, semuanya, selamat tinggal! Tuan Rain, jangan panggil aku terlalu sering ya," ujar Ceyasa sambil berjalan mundur dan berteriak-teriak seolah tempat itu adalah tempat umum, memcahkan keheningan rumah yang selalu disukai oleh Rain, benar-benar membuat rumah itu terkesan gaduh, bahkan saat dia menutup pintu, suaranya hingga terdengar sampai ke seluruh ruangan, Rain benar-benar tak menyukainya, hingga tangannya mengepal, untung saja wanita itu sudah pergi, kalau tidak, dia bisa menelannya sekarang.


__ADS_2