
Jofan berdiri di ruang tengah rumahnya yang baru saja selesai, dia memandang dinding kaca yang membatasi ruangannya dengan ruangan Sania, Aurora sedang sibuk mempersiapkan semua hal, dia sedang mendekorasi ruang yang seharusnya menjadi ruang kerja Jofan di rumah itu.
Ruangan itu jauh lebih baik dari pada ruangan Sania sebelumnya, jendela kaca yang memastikan udara di sana berganti dengan baik, pengaturan suhu hangat dan dingin terus di jaga, cahaya matahari dengan bebas masuk ke dalamnya, selain itu Aurora mendekorasinya dengan beberapa bunga agar ruangan itu terasa nyaman.
Aurora benar-benar melakukannya dengan baik dan tulus, semua detail ruangan itu diperhatikannya dengan baik, pemilihan warna, bahkan ranjang untuk Sania nanti benar-benar dipilihnya sendiri, Jofan hanya bisa melihatnya dari luar, melihat Aurora yang sibuk memperhatikan ruangan itu sekali lagi sebelum Sania akan dipindahkan beberapa hari lagi.
Jofan memperhatikan Aurora yang bahkan tak sadar ketika Jofan datang dan bersandar di kusen pintu ruangan itu, dia terlalu fokus, memperhatikan gorden berwarna cerah namun juga lembut, Aurora terlihat berbeda hari ini, rambutnya yang bisa terurai indah, diikatnya seperti kuncir kuda agar tak mengganggunya dalam menata ruangan itu, dia yang biasa terlihat anggun menggunakan gaun, hari ini hanya menggunakan kaos dan celana panjang jeans yang tampak santai, entah kenapa Jofan lebih menyukai penampilan Aurora yang seperti ini, hal ini membuat Jofan tersenyum manis.
Aurora menarik gorden itu, namun entah kenapa, gorden yang menutupi dinding kaca itu tersangkut di tengah, tidak ingin menutup dengan sempurna, Aurora menarik-nariknya, mencoba untuk menutupnya karena hari mulai panas.
Namun walaupun Aurora menariknya tetap saja gorden itu tesangkut di atasnya, dia mulai melompat-lompat kecil untuk menariknya, namun tetap saja tidak bisa tertutup sempurna.
Jofan yang melihat Aurora sedikit kesusahan awalnya hanya ingin mengamati tingkah istrinya yang lucu, namun akhirnya Jofan mencoba membantunya, dia segera berdiri di belakang Aurora dan segera membantu wanita itu karena memang tubuhnya lebih tinggi, Jofan dengan mudah menarik gorden itu, Aurora yang melihat tangan Jofan langsung kaget dan seketika berbalik, melihat suaminya sudah ada di belakangnya dan dia tidak bisa apa-apa karena punggungnya terhalang oleh dinding kaca itu.
"Eh, kau sudah pulang?" tanya Aurora salah tingkah, tentu jantungnya pun sudah sangat berdetak keras.
"Baru saja," kata Jofan dengan sedikit senyuman ramah.
"Oh, aku akan meminta mereka menggantinya, sepertinya sedikit rusak," kata Aurora sekarang benar-benar gugup, Jofan benar-benar dekat dengannya.
"Ya, baiklah, ini bukan masalah yang besar,"kata Jofan lagi.
"Iya, ehm, aku akan pergi untuk membeli beberapa aroma terapi, apa wangi kesuakaan Sania?" tanya Aurora lagi sambil mencoba keluar dari situasi yang membuatnya gugup itu.
__ADS_1
"Ehm, bagaimana kalau kita pergi mencarinya bersama-sama," kata Jofan pada Aurora.
"E? maksudmu?" kata Aurora sedikit kaget, Jofan tak pernah ingin keluar bersamanya jika tidak ada hubungannya dengan pekerjaan, dari awal pernikahan, jika Aurora ingin pergi atau kemana saja yang tidak ada hubungannya dengan Jofan, dia tidak akan pergi bersamanya.
"Ayo kita cari bersama wangi kesukaan Sania," kata Jofan lagi dengan senyuman manisnya, Aurora mencoba menahan dirinya agar tak terlalu ge-er karena hal ini, mungkin Jofan mau keluar karena ada kaitannya dengan Sania.
"Baiklah, aku akan bersiap-siap dulu," kata Aurora tersenyum sedikit.
"Tidak perlu, kau sudah terlihat cantik," puji Jofan pada Aurora, tentu hal ini langsung membuat Aurora tak bisa berkata apa-apa, seumur mereka menikah, baru kali ini Jofan memujinya tanpa ada maksud apa pun, hal ini benar-benar membuat Aurora terpaku.
"Ayo," kata Jofan segera melihat Aurora yang masih terpaku pada tempatnya.
"Oh, ya, baiklah," kata Aurora mengambil tasnya.
"Maafkan aku," kata Jofan sambil mengendarai mobil mereka dengan santai.
"eh? tentang apa?" kata Aurora lagi.
"Selama ini aku sudah benar-benar memperlakukanmu dengan tidak adil," kata Jofan yang mulai sadar kelakuannya selama ini dengan Aurora begitu tidak baik, dia benar-benar tidak memperhatikan wanita yang berstatus istrinya ini, dia tak tahu ada wanita yang begitu hebat ada di sampingnya, selain itu Jofan baru menyadari betapa tulusnya kelakuan wanita ini.
"Oh, tidak apa-apa," kata Aurora tersenyum manis, memacarkan kecantikannya yang sangat terawat, kenapa Jofan baru sadar Aurora memiliki senyuman yang begitu indah, hal itu membuat Jofan sedikit gugup.
Tak lama mereka sampai ke sebuah tempat perbelanjaan yang cukup ramai, Jofan membukakan pintu untuk Sania sebelum menyerahkan kunci untuk petugas yang akan memarkirkan mobil mereka.
__ADS_1
Aurora bejalan dengan anggun masuk ke dalam pusat perbelanjaan itu, Aurora adalah wanita yang cantik, wajahnya putih, memiliki bentuk wajah yang sempurna, matanya, wajahnya, bibirnya, bahkan tak akan ada yang mengatakannya tidak sempurna, di tambah lekuk tubuhnya yang bahkan masih bisa menggoda pria-pria yang umurnya jauh darinya,walaupun tubuhnya mungil, hal itu yang membuatnya makin imut, apa lagi saat ini dia hanya menggunakan kaos dan celana jeans yang benar-benar membuat lekuk tubuhnya terlihat.
Aurora segera sibuk mencari barang-barang yang menurutnya akan bagus jika ada di ruang Sania, dia mengambil lilin-lilin dengan warna ungu muda, wangi lavender menyeruak dari lilin-lilin itu, Aurora senang menciumnya.
"Apakah dia akan suka wangi ini?" tanya Aurora menyerahkan lillin itu pada Jofan. Jofan yang dari tadi terlihat awas melihat sekitar, tak menyangka Aurora benar-benar bisa jadi pusat perhatian semua orang, kenapa dia baru tahu sekarang? dan dia benar-benar tenganggu dengan mata-mata pria yang menatap istrinya itu, baik yang muda maupun yang sudah berumur.
"Aku rasa apa yang kau suka dia juga akan suka, apakah kau sudah selesai?" tanya Jofan lagi buru-buru, merasa tak nyaman akan hal ini.
"Oh, apa kau buru-buru? kalau ada yang ingin kau lakukan kau boleh meninggalkan aku di sini karena aku harus membeli beberapa selimut dan bantal untuk Sania nantinya," kata Aurora lembut, tak memperhatikan gelagat suaminya yang sudah mulai risih melihat mata-mata nakal yang mengarah padanya, Jofan yakin dia tidak akan lagi membiarkan istrinya menggunakan pakaian seperti ini.
"Baiklah, ayo kita mencari," kata Jofan yang tanpa sadarnya refleks menenggam tangan Aurora, membawanya pergi dari sana segera.
Aurora yang melihat hal itu kaget setengah mati, baru kali ini Jofan menggenggam tangannya, mereka jarang sekali berpegangan tangan seperti ini, bahkan jika Aurora ingat tidak pernah, beberapa kali mereka berpegangan tangan hanya untuk foto ataupun di depan orang-orang dan itu hanya sekejap, kali ini hangatnya tangan Jofan bisa dirasakan Aurora lebih lama, bahkan sangat lama, dia menggenggamnya hingga mereka sampai di tempat bantal dan selimut terpajang di etalase.
Jofan tidak tahu kenapa, dia hanya sangat terganggu, dia ingin memberitahu kepada semua orang yang ada di sana dan yang dari tadi menatap Aurora bahwa wanita ini adalah miliknya, selama wanita ini menjadi istrinya, dia tidak ingin ada pria yang menatapnya seperti itu.
"Carilah dulu, aku pergi dulu sebentar, tunggu saja di sini, aku akan segera kembali," kata Jofan yang terlihat sedikit buru-buru.
Aurora yang melihat hal itu segera mengangguk, bingung melihat tingkah Jofan hari ini, tapi hangatnya tangan Jofan itu masih menyelimuti dirinya, membuat Aurora tertawa sangat manis, kenapa Jofan bisa sangat berubah.
Aurora segera mencari-cari barang yang dia inginkan, melihat satu persatu barang-barang yang ada di sana, mencoba mencari yang terbaik untuk Sania, dia ingin Sania merasa nyaman saat tinggal di sana nantinya. Dia mencoba mengambil bantal yang ada di bagian atas, Aurora memiliki tubuh kecil dan mungil, membuatnya sedikit kesusahan untuk menggapainya, apalagi sekarang dia tidak menggunakan sepatu berhak tingginya. Saat dia ingin mengambilnya, seseorang mengambilnya duluan dan menyerahkannya pada Aurora, Aurora kira itu adalah Jofan, sama seperti saat dia membantu Aurora memperbaiki gorden tadi, tapi ternyata itu bukan, sorang pria dengan tubuh tinggi dan wajah sedikit familiar bagi Aurora.
"Kau masih mengenaliku?" tanya pria itu menatap Aurora, Aurora melihat kearahnya, dilihat dari estetiknya, pria ini tampan, auranya matang dan dewasa, dan benar, Aurora seolah penah melihat pria ini? dia mencoba untuk mengingatnya lagi.
__ADS_1