Shameless Prince : Our Incomplete Love Story

Shameless Prince : Our Incomplete Love Story
89 - Setiap aku butuh, kau harus siap!


__ADS_3

Setelah melewati halaman rumah yang menurut Ceyasa bisa membuat 3 rumah lagi, mereka sampai di pintu utama yang terlihat sangat astetik dengan gaya modern minimalisnya, Ceyasa mengerutkan dahi.


"Aku tidak lewat pintu samping saja?" tanya Ceyasa yang merasa seorang kurir seperti dia lebih baik bukannya masuk dari samping saja?


"Tidak, Tuan Rain sudah menunggu di dalam, Nona silakan," ujar  Asisten Qie yang membukakan pintunya sendiri untuk Ceyasa.


Sejuknya udara di dalam rumah itu langsung menghempas tubuh Ceyasa yang dari tadi kegerahan terselimut oleh panas terik dan debu dari jalanan, ketika dia masuk ke dalam rumah itu, dia langsung diam menatap ruang tamu yang luas, gayanya minimalis dengan dominasi warna kream dan putih, lantainya di lapisi oleh parquet kayu senada dengan dindingnya dan terdapat bar kecil di sana, benar-benar membuat Ceyasa melongo sekaligus menggigil karena merasakan panas dan dingin bersamaan.


"Tuan Rain sebentar lagi akan mendatangi Anda, silahkan duduk di mana saja Anda suka," ujar  Asisten Qie segera masuk ke dalam rumah, Ceyasa melihat beberapa sofa dengan segala bentuk, sedikit kebingungan dia harus duduk di mana, apa lagi sekarang dia sedang kotor, dia tidak akan sanggup mengganti sofa yang ada di sana nanti, jadi dia putuskan untuk tidak duduk, mencoba melihat-lihat lebih detail ruangan yang sekali lihat saja sudah tahu, ini pasti hasil campur tangan dari para ahli di bidang design interior.


Ceyasa menatap ke arah lukisan besar yang dipajang di sana, di lihat dari seluruh tata letaknya, kerapian tempat ini, dia tahu Tuan yang di sebut oleh  Asisten Qie pasti orang yang tegas dan perfeksionis, Ceyasa jadi benar-benar penasaran siapa sebenarnya pria ini.


Derap langkah terdengar mendekat, turun dari lantai 2 menuju ke ruang tamu itu, Ceyasa yang mendengar itu langsung melihat ke arah sumber suara, melihat kaki sorang pria yang semakin lama semakin menunjukkan dirinya, Ceyasa langsung membuang wajahnya, melihat pria itu turun hanya menggunakan kimono tidur yang dengan motif kotak-kotak khas merek terkenal.


"Nona Ceyasa, Tuan Rain ingin bertemu dengan Anda," ujar  Asisten Qie mengenalkan Rain, Rain mengerutkan dahinya, kenapa Ceyasa malah tampak membuang mukanya?


"Kalau kau ada di rumah seseorang, seharusnya kau melihat Tuan rumahnya," ujar Rain dengan wajah ketusnya, tak ramah sama sekali, tak suka dengan kelakukan Ceyasa yang seperti itu.


"Kalau kau punya tamu, kau seharusnya menemuinya dengan sopan, bukan hanya mengunakan handuk seperti itu," ujar Ceyasa lagi tetap bersekukuh tidak ingin melihat ke arah Rain.


"Siapa bilang aku hanya pakai handuk, aku pakai kimono," ujar Rain lagi, memberikan kode agar  Asisten Qie meninggalkan mereka berdua. Rain lalu berjalan mendekati Ceyasa yang masih membuang wajahnya, menunduk entah untuk apa.


"Ya, tapi tidak bisakah kau pakai baju yang pantas? Rumah sebesar ini, tapi membeli baju saja tak bisa," gerutu Ceyasa.


"Siapa bilang aku tak sanggup membeli baju? Membeli dirimu saja aku sanggup," ujar Rain ketus, mendengar itu tentu saja Ceyasa jadi kesal sendiri, membeli? Memangnya dia apa? barang yang bisa dijual.


"Hei, Tuan, aku ke sini karena orangmu itu yang memaksa aku ke sini, katanya kau yang menyuruhku ke sini, kalau kau tidak suka aku di sini, aku pergi saja, tak perlu mengatakan hal yang aneh-aneh tentangku, dasar pria cabul," kata Ceyasa dengan sikapnya yang menantang, terserahlah, dia tidak peduli siapa yang ada di depannya ini, mau dia raja, mau dia presiden sekalipun, Ceyasa tak takut, dia lebih takut kalau harga dirinya di injak-injak.


Saat Ceyasa menatap wajah pria itu, dia baru sadar, ini pria yang kemarin dia temui di supermarket itu, tatapan tajamnya langsung sedikit membuat Ceyasa terdiam, apa dia mencari Ceyasa hanya karna kesal Ceyasa menanyakan kasir padanya?


Rain menatap Ceyasa dalam-dalam, seolah mengamati wajah cantik wanita di depannya ini, tidak terlalu tinggi dan mungil hingga jika mereka di sandingkan seperti ini, lagi-lagi Ceyasa hanya sedada Rain, namun walaupun tubuhnya kecil, dia sangat berani, tak ada yang mengatakan hal itu sebelumnya pada Rain, mengingat Ceyasa sudah melihat seberapa besar kekuasaannya dengan hanya melihat rumahnya saja.

__ADS_1


Rain menaikkan sedikit sudut bibirnya, dan dengan kasar dia malah mengenggam pergelangan tangan Ceyasa lagi, tepat di bawah gelang yang selalu di gunakan Ceyasa, dia menggangkat tangan Ceyasa secara paksa.


"Hei, kau ini apa-apaan sih? Lepaskan!" teriak Ceyasa sedikit menggema di ruangan itu.


Rain memperhatikan wajah Ceyasa yang semakin berontak semakin disukainya, tampak panik namun juga bertambah manis, tampak marah namun menggoda, benar-benar wanita yang berbeda, namun seberapa pun Ceyasa berontak, tangannya tak bisa lepas dari genggaman erat Rain, Rain menikmatinya sekali.


"Kau ini, aku tendang loh!" ancam Ceyasa pada Rain yang bergeming.


"Lakukan saja jika kau berani," ucap Rain lagi begitu dingin, Ceyasa cukup gentar hanya mendengar suara Rain tapi bukan Ceyasa kalau langsung tak berani jika ditantang. Dia segera mengambil ancang-ancang dan ingin menendang Rain, tapi Rain lebih cepat, dia menghindar dan segera melihat ke arah Ceyasa, wanita ini serius rupanya.


"Lepaskan tidak?" ujar Ceyasa lagi, padahal jika Rain ingin melakukan sesuatu padanya, tubuh Ceyasa hanya seperti ranting, sangat gampang diremukkan oleh Rain.


Rain menatap Ceyasa dengan sangat tajam, dia kembali menaikkan bibirnya, terlalu berbeda dengan wanita-wanita yang sebelumnya.


"Kau menggunakan gelangnya, tapi tak tahu siapa yang memberikannya, " ujar Rain berat sebelum Ceyasa mulai lagi berontak.


Ceyasa terdiam mendengar perkataan Rain, mata Ceyasa menatap mata tajam Rain, terpaut sesaat untuk mencerna apa yang di katakan oleh Rain.


Rain kembali menaikkan sedikit sudut bibirnya, menunjukkan senyuman sinisnya yang dingin, dia melepaskan tangan Ceyasa, dan dengan santainya berjalan menuju salah satu sofa, duduk dengan santai sambil merentangkan tangannya, dan kaki yang terlipat, apa yang dia pikirkan, dia hanya pakai kimono, pikir Ceyasa yang lagi-lagi harus membuang wajahnya, tak tahu bahwa Rain memakai celana pendek di balik kimono itu.


"Kau benar-benar yang menolongku dulu?" ujar Ceyasa mencoba berani melihat Rain dan keadaan Rain tak seperti yang dipikirkan oleh Ceyasa.


"Menurutmu? Gelang itu milik ibuku," ujar Rain.


Ceyasa yang mendengar itu lalu memengang gelang di tangan kanannya itu, tak menyangka pria seperti ini yang selama ini dia cari, pria seperti ini yang dulu sempat mencuri hatinya, dulu Ceyasa merasa dia begitu beruntung, namun entah kenapa? sekarang dia merasa ini bukan keberuntungan, ini awal dari malasah.


"Asisten Qie," panggil Rain cukup keras, membuat  Asisten Qie yang menunggu dengan setia di ruang sebelah segera datang dan berdiri dibelakang sofa Rain, " serahkan padanya, " ujar Rain lagi santai menyalakan rokoknya, dan mulai menghisapnya dan mengebulkan asap muntupi pandangan Ceyasa terhadap wajahnya.


Asisten Qie langsung dengan sigap mengelurakan sesuatu untuk Ceyasa, sebuah kertas berawarna putih dengan tulisan mandarin 雨 (hujan) dan deretan angka, Ceyasa mengerutkan dahi, membolak balik kartu nama kecil itu, hanya itu isinya.


"Apa ini?" tanya Ceyasa menatap Rain yang masih santai menikmati rokoknya, bau rokok itu sampai juga ke hidung Ceyasa, sedikit menyengat hidungnya dan membuatnya terbatuk, Rain yang melihat Ceyasa terganggu dengan bau rokok itu segera mematikan rokoknya.

__ADS_1


"Kartu namaku," ujar Rain singkat.


"Untuk apa kau berikan kartu namamu untukku? kalau ingin memesan makanan tinggal terlepon ke toserba saja," ucap Ceyasa yang masih berpikir dia sini hanya karena mengantar makanannya saja.


"Bodoh, masih berpikir aku ingin membeli makanan," ujar Rain masih sama santainya.


"Jadi?" ujar Ceyasa.


"Itu nomorku, setiap kali aku meneleponmu, kau harus siap untukku," kata Rain angkuh, menegakkan tubuhnya, mencondongkannya ke arah Ceyasa, lalu melirik Ceyasa dengan sangat serius, seolah tidak bisa dibantah perintahnya.


Ceyasa mengerutkan dahi sambil kembali melirik ke arah kartu nama itu, untuk apa dia melakukan hal itu, kalau begini sama saja dia seperti wanita panggilan.


"Untuk apa aku melakukan hal itu?" ujar Ceyasa lagi.


"Karena kau berhutang nyawa padaku, lakukanlah ini jika kau ingin membalas budi," ujar Rain lagi.


"Heh? Maksudmu?" tanya Ceyasa makin bingung.


Rain kembali melirik Ceyasa dengan sangat tajam, dia lalu berdiri dan segera mendekati Ceyasa, Ceyasa yang dilihat dan di tatap dengan sangat tajam itu sampai memundurkan tubuhnya karena sekarang Rain bergitu dekat dengannya, tangan Rain yang kekar dan lebar itu menangkap kepala bagian belakang Ceyasa, membuat kepala Ceyasa yang tadinya mundur ke belakang dipaksa agar lebih dekat dengannya.


"Tanpa diriku kau sudah tak ada di sini sekarang, jadi aku akan mintamu untuk membayar semuanya, ikuti perintahku, atau aku bisa menarik kembali apa yang sudah kuberikan padamu," kata-kata Rain yang bukan seperti permintaan malah seperti perintah tak terbantah, Ceyasa yang mendengar itu sedikit gentar, aroma rokok yang keluar dari mulut Rain menerpa wajah Ceyasa karena mereka sangat dekat sekarang.


Ceyasa masih terdiam, terperangkap wajah Rain yang dingin dan sangat tak ramah itu, sorotan matanya yang hitam menusuk hingga membuat Ceyasa kali ini benar-benar tak bisa berkutik lagi. Dia bahkan tak bisa bernapas saking tegangnya, dia hanya bisa mengangguk.


Melihat anggukan Ceyasa, Rain melepaskan tangannya dari belakang kepala Ceyasa, membuat leher Ceyasa tegang karenannya.


"Sekarang pulanglah, aku sedang tidak butuh denganmu," ujar Rain seolah sekarang Ceyasa adalah bawahannya, Ceyasa menghembuskan napasnya yang tertahan, namun segera melihat ke arah pintu yang sudah di bukakan oleh  Asisten Qie, Ceyasa tak ingin mengambil waktu lama, dia langsung keluar dari sana.


Rain sedikit menolehkan wajah melihat Ceyasa yang lagi dengan buru-buru keluar dari sana, Rain melihat tingkah Ceyasa mengerutkan dahi, sedikit senyuman mengembang, baru kali ini ada wanita yang bahkan lari darinya.


"Tuan, apa yang harus kita lakukan?" tanya  Asisten Qie lagi.

__ADS_1


"Biarkan saja dia, biarkan dia sedikit tenang, baru kita melakukan rencana selanjutnya," ujar Rain, senyuman sinis kembali mengembang, namun cepat berganti dengan senyuman menahan tawa, mengingat cara Ceyasa lari terbirit-birit keluar dari rumahnya.


__ADS_2