Shameless Prince : Our Incomplete Love Story

Shameless Prince : Our Incomplete Love Story
306 -


__ADS_3

Suri duduk tegang di dalam ruangan dokter yang baginya terasa sedingin es, dengan warna putih yang mendominasi sehingga membuat Suri merasa tempat itu menyeramkan baginya, untung saja tangannya setia digenggam oleh Jared yang duduk di sampingnya, dokter yang ingin mereka temui belum datang, mereka hanya dipersilakan untuk masuk ke dalam ruangan dokter itu.


Suri menatap suaminya dengan mata sembabnya, walaupun sudah ditutupi oleh sedikit riasaan, namun mata sedih itu tidak dapat disembunyikan, Jared yang menangkap lirikkan istrinya itu hanya tersenyum.


Tak lama, pintu ruangan itu terbuka, dokter yang menangani Suri masuk dengan wajah sungkan sudah membuat Jared dan Suri menunggu cukup lama.


"Maafkan saya Putri dan Pangeran, ada beberapa hal yang saya lakukan di laboratorium tadi," kata dokter itu langsung menuju tempat duduknya, Jared hanya menjawab dengan anggukan. Dokter itu lalu mengamati wajah Suri dan Jared yang tampak tertekan, dia sudah tahu bahwa Jared pasti sudah menjelaskan tentang keadaaan Suri.


"Lalu apa yang bisa saya bantu, Putri?" tanya dokter itu ramah.


"Apa benar aku mengalami penyakit keturunan itu? Apa Anda tidak salah, aku merasa sangat sehat sekarang, aku yakin semua ini salah, bukan?" tanya Suri langsung, tak ingin berlama-lama lagi, dia masih tidak bisa menerima semuanya, dia melihat ke arah dokter dan Jared bergantian, Jared hanya menggigit bibir dalamnya, dia juga sangat berharap semua ini salah.


Dokter itu tersenyum, Suri sedang ada dalam tahap penolakan dalam lima tahap kesedihan yang normal terjadi pada orang-orang yang mendapatkan berita yang membuatnya sedih, setiap orang yang mendapatkan hal yang tak sesuai dengan keinginan mereka akan mengalami hal ini, awalnya mereka pasti akan menolak, setelah itu mereka akan masuk di tahap dimana mereka akan sangat gampang terpicu kemarahannya atau tahap kemarahan, setelah kemarahan mulai pudar, mulai timbul rasa bersalah dan diam-diam akan membuat kesepakatan atau penawaran dengan Tuhan sabagai upaya melindungi diri dari rasa sakit atau tahap penawaran, lalu masuk kedalam fase depresi diakhiri dengan penerimaan.


"Putri Suri, menurut dari hasil pemeriksaan dan juga gejala, semua mengarah pada penyakit keturunan itu, namun yang membuat diagnosa ini pasti adalah hasil pemeriksaan darah dari Anda, Anda sudah mengalami penyakit keturunan itu," kata dokter menyerahkan berkas yang ada di atas mejanya, Suri menghela napas panjangnya sebelum mengambil berkas itu, membacanya seksama, wajahnya tampak sedikit terkejut namun tak sekaget saat Jared menyampaikan yang pertama kalinya.

__ADS_1


Suri kembali menghela napasnya berat, hal itu sering dilakukannya setelah mengetahui keadaannya, dia lalu menatap dokter yang tampak menunjukkan sikap simpatinya.


"Jadi belum ada obat untuk penyakitku? aku tidak akan bisa sembuh?" tanya Suri lagi menguatkan dirinya untuk mengetahui hal itu.


"Keadaan Anda sungguh berbeda dengan yang dialami oleh Yang Mulia dan Pangeran Archie, mereka memiliki darah dengan penyakit asli itu, namun Anda, Anda mendapatkan penyakit itu dari Yang Mulia dimana darah Yang Mulia sudah mengandung Antibodi, pengobatan biasa saja tidak bisa membuat penyakit Anda sembuh, hanya sejenak membuatnya melemah," kata dokter itu, mengambil napas sejenak melihat wajah Suri yang tampak mendengarkan dengan serius.


"Kami berusaha sebisa dan secepat mungkin mencari pengobatan untuk Anda, karena kapan saja penyakit itu bisa mengganas di tubuh Anda, itulah yang sekarang  kami harapkan tidak  terjadi, jika penyakit Anda mengganas maka penelitian kami akan sia-sia, namun hasil penelitian untuk menyembuhkan penyakit Anda  ini juga tidak bisa seratus persen menyembuhkan Anda, ada resiko kegagalan yang harus di kita ambil," kata dokter itu.


"Berapa persen aku bisa sembuh?" kata Suri lagi, suaranya berat bergetar, tangannya yang mungil mengenggam tangan Jared lebih erat.


Suri terdiam, hanya 60%? Dalam pengobatan itu bukan angka yang menjanjikan, bahkan termasuk kecil, Suri menggigit bibirnya, lalu dia melihat ke arah Jared yang menatapnya dengan tatapan lembut nan sendu. Suri mencoba menahan tangisnya lagi walau matanya sudah mulai perih.


"Putri Suri, Yang Mulia  sudah mengetahui hal ini, Anda boleh memikirkan hal ini, semua keputusan adalah milik Anda, kami tidak akan memaksa, namun sekali lagi aku harus mengingatkan Anda dan Pangeran, bahwa kita semua dibatasi oleh waktu, jangan sampai penyakit itu mengganas, jika dia mengganas dan tidak lagi bisa ditangani oleh serum dari Pangeran Archie maka, darah dari Tuan Rain tak akan mampu mengubah sifat dasar penyakit itu," kata dokter itu menyakinkan Suri, Suri melirik dokter itu lagi, semakin dia mendengarkan dokter itu, semakin sakit kepalanya, dia seperti seorang yang divonis mati yang bisa terjadi kapan saja, menebak-nebak sampai kapan dia bisa bertahan.


Jared menarik tangan Suri, mengalihkan pandangan Suri ke arah Jared yang sudah mencodongkan tubuh ke arah Suri yang tampak sudah mulai linglung memikirkan semuanya.

__ADS_1


"Aku rasa kita pulang dulu saja, kita bisa berpikir bersama-sama, jangan terburu-buru" kata Jared memberikan pengertian pada Suri, Suri hanya mengangguk lemah, kepalanya yang berat tadi tiba-tiba saja terasa kosong, sangat kosong.


Perjalan pulang itu hanya dihabiskan Suri dengan melihat pemandangan di luar jendela mobilnya, tawa dan senyum cerianya tak terdengar sama sekali, wajahnya datar, tatapannya kosong, dia hanya memantung dalam satu posisi.


Jared tampak sedih menatap ke arah Suri, dia kembali memegang tangan Suri, membuat Suri sedikit bereaksi, menatap tangan Jared yang memegangnya lalu melirik ke arah Jared, senyuman canggung terlihat di bibir Suri, menangkap tatapan khawatir dari Jared.


"Aku tidak apa-apa, aku ingin sedikit beristirahat," kata Suri menyandarkan tubuhnya pada jok mobil itu, menutup matanya untuk sedikit mengurangi tekanan di kepalanya yang terasa sangat berat, Jared tak mengeluarkan kata-kata apapun, melihat wajah istrinya yang beristirahat di sampingnya.


Mobil mereka berhenti di depan istana utama, Jared memperhatikan Suri yang tertidur di bahunya,  dia mengusap sedikit pipi halus istrinya membuat Suri sedikit bergerak dan membuka matanya, mata Suri menatap Jared yang tersernyum lembut.


"Kita sudah sampai," suara lembut Jared menenangkan Suri, Suri menangkat ujuang bibirnya sedikit, lalu menaikan sedikit bibirnya, Suri bangkit, Jared segera keluar untuk membukakan pintu untuk Suri, Suri keluar dan melihat ibunya yang menyambutnya dengan senyuman tipis, Suri langsung mencoba untuk membalas senyuman ibunya namun ternyata tak bisa, dia menangis dalam pelukan Bella.


Bella sudah tahu bahwa hari ini Suri akan mengetahui tentang penyakitnya, karena itu dia tahu betul bagaimana keadaan anaknya, dia pasti sangat syok mendengarkan yang sebanarnya.


Dari arah dalam Angga berjalan mendekati Bella yang masih memeluk Suri, Suri bisa melihat ayahnya mendekatinya, air matanya semakin mengucur, Bella malingkan wajahnya sambil terus memeluk Suri, menangkap sosok suaminya yang hanya bisa berwajah suram di sampingnya.  Jared hanya bisa melihat hal itu dengan  nanarnya.

__ADS_1


__ADS_2