
Archie berdiri di balkon kamarnya, sedikit menghirup udara segar setelah makan malam yang cukup tenang tadi, setelah berbincang sedikit mereka akhirnya memutuskan untuk tidur karena Gerald mengingatkan, Archie harus pergi ke perusahaan pagi-pagi sekali.
Ceyasa yang baru saja membersikan dirinya segera menangkap sosok Archie di sana, dia tampak sedang terdiam menatap pemandangan luar, Ceyasa lalu ingat bahwa dia harus membicarakan tentang hipnoterapi besok pada Archie, karena itu dia segera mendekati Archie, lalu berdiri di samping pria itu, wangi khas Archie diterbangkan angin malam, membuat Ceyasa dapat menciumnya dengan jelas.
"Apa yang ingin kau katakan padaku?" tanya Archie yang melihat ke arah Ceyasa, melihat wajah ragu Ceyasa membuatnya ingat tadi sore Ceyasa ingin mengatakan sesuatu pada Archie. Ceyasa menatap Archie, sepertinya suasana ini cocok untuk berbicara tentang hal itu padanya.
"Aku minta kau tidak marah tentang ini," kata Ceyasa pada Archie.
"Tentang apa?" tanya Archie mengerutkan dahinya, suara angin sedikit menganggu namun juga membuat suasana semakin sendu.
"Yang Mulia Raja tadi pagi ingin aku menemuinya," kata Ceyasa mengamati perubahan wajah Archie yang semakin mengerutkan dahinya, untuk apa pamannya memanggil Ceyasa?
"Untuk apa?" tanya Archie.
"Dia mengatakan dia penasaran denganku, dia juga tahu bahwa aku punya hubungan dengan Rain dan juga Rain baru-baru ini menculikku," ujar Ceyasa menjelaskan pada Archie, Archie yang tadinya bersandar di pagar pembatas balkon itu langsung menegapkan tubuhnya.
"Bagaimana dia bisa tahu tentang itu?" tanya Archie kaget.
"Aku rasa dia tau dari Gerald, sepertinya diam-diam pamanmu juga mengawasi dirimu," kata Ceyasa lagi.
"Lalu?"
"Aku menceritakan semua yang aku tahu, aku mengatakan bahwa aku mendapatkan kilasan gambaran, juga tentang Rain yang mengatakan bahwa gara-gara aku ibunya terbunuh," kata Ceyasa sepertinya dia juga belum pernah mengatakan hal itu pada Archie.
Archie semakin tampak bertanya, dia belum tahu tentang kematian Ibu Rain, setelah menolong Ceyasa, fokusnya teralihkan oleh masalah di istana, dia bahkan belum tahu kenapa Rain nekat menculik Ceyasa, jadi itukah alasannya, Rain menculik Ceyasa karena menganggap ibunya terbunuh gara-gara Ceyasa.
"Bagaimana bisa ibunya terbunuh gara-gara dirimu?" tanya Archie bingung.
"Aku juga tidak tau, aku hanya mendapatkan gambaran-gambaran itu, dan Rain sangat marah karena aku melupakan kejadian itu, jadi Yang Mulia Raja dan Gerald ingin aku melakukan hipnoterapi untuk membuka ingatan masa laluku," kata Ceyasa lagi menatap Archie.
Archie mengerutkan dahinya, kenapa Yang Mulia Raja dan Gerald tidak mengajaknya untuk berbicara hal itu, padahal mereka tahu bahwa Ceyasa adalah istrinya sekarang.
"Kenapa mereka berbicara padamu saat aku tidak ada?" tanya Archie, tampak emosinya sudah terpancing.
"Aku juga tidak tahu, awalnya aku kira mereka memanggilku untuk membicarakan masalah pernikahan kita, tapi aku tidak tahu ternyata mereka mengatakan hal ini, aku juga sudah mengatakan bahwa aku akan melakukannya asalkan kau ada di sana," kata Ceyasa menatap Archie yang tampak menatap ke sembarang arah.
"Pantas saja tadi pagi dia menyuruhku ke perusahaan kembali dan Gerald meminta izin entah kemana, mereka memang sengaja ingin merahasiakan semua ini dariku, ternyata mereka masih menganggapku tidak ada," kata Archie tampak tertawa tak percaya, tawanya menyimpan luka.
__ADS_1
"Archie …. " kata Ceyasa mencoba menenangkan Archie yang tampaknya mulai terkuasai emosinya.
"Kau istriku, tapi kenapa mereka malah tidak mengatakan apapun padaku, kau tahu, itu karena mereka takut padaku, Mereka takut aku menjadi seperti ayahku! Sial! harus bagaimana lagi agar mereka percaya bahwa aku adalah aku dan aku bukanlah ayahku!" kata Archie dengan nada tinggi.
Archie merasa sudah tidak tahan, seumur hidup dia dinilai dari apa yang sudah ayahnya lakukan, dia tahu ayahnya sudah melakukan hal yang sangat kejam pada seluruh orang yang ada di istana sekarang, tapi apa salahnya? Bahkan dia tahu, kelahirannya adalah kesalahan dari ayahnya, karena itu ibunya harus bunuh diri karena hadirnya dia.
Tapi apa salahnya? Dia tak minta dilahirkan sebagai seorang pangeran, dia tidak ingin dilahirkan dari ayah yang punya sejarah kelam, tapi apa bisanya? Dia tidak bisa memilih dimana dia dilahirkan.
Archie mengepalkan tangannya erat, merasakan emosi yang lagi-lagi harus ditahannya, tak tahu harus sampai kapan, tak tahu harus kemana melampiaskannya, dia hanya tak ingin dia malah melampiaskannya pada Ceyasa.
"Archie, aku juga sudah mengatakan bahwa aku akan pergi jika kau menyetujuinya, jika kau tidak ingin, aku tidak akan melakukannya," ujar Ceyasa mencoba menenangkan Archie, suara Archie yang emosi terdengar mengelegar di malam yang sunyi itu, Ceyasa memegang tangannya yang tergenggam erat, perlahan menyusup ke kepalan tangan itu, mencoba membukanya agar Archie tak lagi terkuasai emosinya.
Archie lalu melihat wajah Ceyasa yang tampak sabar, melihat wajah Ceyasa emosinya sedikit menurun.
"Pergilah, aku tidak akan melarang, tapi aku tidak akan ikut, jika mereka dari awal tidak ingin aku ada, untuk apa aku ke sana, " kata Archie lagi.
"Aku mengatakan pada mereka bahwa kau adalah orang yang bisa mereka percaya, alasan mereka adalah emosimu yang tidak stabil, tapi aku tahu kau bukanlah orang yang seperti itu, aku ingin menunjukkan pada mereka bahwa suamiku adalah orang yang berbeda dengan orang yang mereka bayangkan, dia adalah orang yang kuat dan dapat dipercaya, benarkan suami?" kata Ceyasa lembut sekali, menenangkan rasa emosi yang tadi menguasai Archie, apalagi mendengar kata-kata suami yang baru pertama kali di dengar Archie dari mulut Ceyasa, perasaaan Archie langsung tentram karenanya.
"Ayo tunjukkan pada mereka bahwa selama ini mereka salah, walaupun aku tak tahu seberapa buruk ayahmu dulu, tapi aku yakin, mereka akan sangat terkejut melihat seberapa berbedanya kau dengan ayahmu, aku yakin itu," kata Ceyasa lembut mendayu, seolah membujuk Archie, benar-benar membuat Archie tenang, baru kali ini seseorang bisa membuatnya mengendalikan dirinya, membuang semua emosinya dengan begitu cepat, melenyapkannya hingga tak bersisa, Archie menatap Ceyasa.
"Baiklah," kata Archie mengangam tangan Ceyasa, emosi Archie turun seketika.
"Ya," kata Archie lagi sedikit tersenyum, sekarang dia sdar, dia tak butuh orang-orang yang ada di sekitarnya itu semua percaya akan dirinya, dia hanya butuh Ceyasa percaya padanya, itu sudah lebih dari cukup untuk meneruskan hidupnya.
Tangan Archie memegang pipi Ceyasa, menyusup diantara telinga dan rambut-rambut Ceyasa, dengan sangat perlahan menarik kepala Ceyasa mendekat kearahnya sembari dirinya pun mendekat ke arah Ceyasa. Seketika mencium bibir wanitanya dengan perlahan, dengan gerakan lembut untuk merasakan segala sensasi yang ada, membangkitkan perlahan rasa yang tertahan untuk keduanya, Ceyasa benar-benar merasakan nyaman atas perlakuan ini, cium Archie benar-benar lembut hingga membuainya.
Archie langsung mengendong tubuh Ceyasa, membuat Ceyasa kaget karenanya, namun Archie tak membiarkan Ceyasa untuk lepas dari dirinya, kembali memautkan bibirnya, tak ingin memutuskan perasaan yang sudah menggebu tak tertahankan, Archie melangkah, membawa tubuh Ceyasa ke atas ranjangnya, meletakkannya dengan perlahan, dia segera membuka sweater yang digunakannya, membiarkannya jatuh di lantai.
Ceyasa hanya bisa menatap sendu, tak tahu apa yang terjadi pada dirinya, sedikit takut apa yang akan dilakukan oleh Archie selanjutnya, namun dia juga tak ingin menolak hal ini, malah ada perasaan yang ingin Archie terus melakukannya, karena itu saat Archie naik ke ranjang dan berada di atasnya, dia hanya bisa diam dan pasrah.
Archie menatap wajah Ceyasa sekali lagi, melihat sendu mata Ceyasa membuatnya sudah tidak bisa menahannya, mencium Ceyasa kali ini jauh lebih ganas, dia menyapu semua yang ada di dalam mulut Ceyasa, Ceyasa hanya diam saja, namun lama-lama terpancing untuk melawan, dan perlawanan itu malah membuat Archie semakin menggila.
Cukup lama pautan itu terjadi, bahkan membuat Ceyasa dan Archie harus berhenti sejenak mengatur napas mereka. Ceyasa melihat kilatan nafsu sudah menguasai Archie, napasnya berburu. Apakah mereka akan melakukannya?
"Archie?" tanya Ceyasa yang sedikit ragu, tiba-tiba teringat status pernikahan mereka, benarkah mereka melakukan ini?
"Aku akan melakukannya dengan perlahan, aku tidak akan menyakitimu, percayalah," kata Archie yang langsung mencium leher putih Ceyasa, membuat sengatan yang menjalar diseluruh tubuh Ceyasa, dia terkaku, merasakan sensasi yang sangat berbeda, membuat pikirannya yang tadinya terasa waras, malah hilang seketika, Ceyasa menggigit bibirnya menahan suara yang ingin keluar.
__ADS_1
"Lepaskan saja," ujar Archie melihat Ceyasa menahannya, Ceyasa yang mendengar itu dan melihat Archie, hanya mengangguk.
Archie melanjutkan aksinya, mencium setiap jengkal tubuh Ceyasa, menghirup wanginya yang membuatnya makin ganas dan menggila, tangannya liar menjelajahi setiap jengkal tubuh Ceyasa, membuat tubuh Ceyasa menegang dan memanas.
Ceyasa menggenggam selimut yang ada dalam jangkauannya, mengenggamnya erat, Archie mencium kembali Ceyasa saat melihat wajah Ceyasa yang meringis karena perlakuan Archie, mencoba menenangkan Ceyasa.
Napas mereka bersatu, desahan memenuhi ruangan, bergumul menyalurkan perasaan yang semakin kuat, bermandikan peluh menikmati segala rasa yang tercipta hingga mencapai rasa yang tak terlupakan, dan akhirnya berpelukan setelah semua tersalurkan.
Ceyasa terbangun saat matahari belum muncul, hanya masih terlihat remang, Ceyasa lalu melihat Archie yang ada dalam satu selimut dengannya, memeluknya semalaman, Ceyasa lalu mengingat pergumulan mereka tadi malam, membuat wajahnya kembali memanas. Dia mengintip sedikit ke dalam selimutnya, tak sehelai pun benang yang ada di tubuhnya, begitu pula Archie, dia langsung menutup selimut itu segera.
"Selamat pagi," suara Archie terdengar lemah, Ceyasa yang kaget langsung melihat ke arah Archie, pria itu masih menutup matanya namun sudah bergerak sedikit, Ceyasa masih kaku, diam saja melihat Archie yang mulai membuka matanya. Melihat itu Ceyasa langsung memalingkan wajahnya.
"Kenapa tidak menjawab salamku?" tanya Archie yang mulai mengangkat tubuhnya, melihat wajah istrinya yang hanya diam terlentang.
"Eh, ya selamat pagi," kata Ceyasa lagi, tak ingin melihat ke arah Archie, dia masih sangat malu karena apa yang semalam mereka lalui.
"Kenapa tak ingin melihatku?" tanya Archie lagi.
"Oh, tidak, aku ingin ke kamar mandi," kata Ceyasa lagi, tapi dia ingat dia tak menggunakan apapun di bawah selimut itu.
"Baiklah," kata Archie lagi mempersilakan Ceyasa.
"Ehm, aku bawa selimutnya ya," kata Ceyasa lagi.
"Untuk apa?" kata Archie yang mulai duduk, menyibakkan selimut mereka, membuat bagian atas Ceyasa terbuka, dia langsung menutupinya dengan kedua tangannya dan memiringkan tubuhnya membelakangi Archie, membuat Archie tersenyum geli melihat kelakuan Ceyasa. Dia memperhatikan luka di punggung Ceyasa, terlihat sudah mengering, membuat kulitnya sedikit terlihat terkelupas.
Archie mendekati Ceyasa kembali, mencium bahu Ceyasa, membuat perasaan itu sekali lagi menjalar ke seluruh tubuh Ceyasa. Dia kembali kaku karenanya.
"Aku masih punya waktu sebelum bekerja," kata Archie berbisik di telinga Ceyasa, membuatnya kegeliaan.
"Eh, maksudmu?" kata Ceyasa mengerutkan dahi, jangan-jangan.
"Ayo bermain sekali lagi," kata Archie.
"Tapi kita sudah melakukannya semalam," kata Ceyasa lagi, masih sangat gugup, tubuhnya juga masih cukup nyeri.
"Tidak ada yang melarang untuk melakukannya 2 kali kan?" kata Archie lagi melihat Ceyasa yang mulai melirik.
__ADS_1
"Tapi aku …. " kata Ceyasa yang ingin mengelak.
"Jangan banyak bicara," kata Archie segera melancarkan serangannya membuat Ceyasa langsung tak bisa menolak karenanya dan sekali lagi mereka melakukannya.