Shameless Prince : Our Incomplete Love Story

Shameless Prince : Our Incomplete Love Story
346 -


__ADS_3

Archie masuk ke dalam kamar Ceyasa, sekarang setelah mengetahui Ceyasa mengandung dia selalu tidur di kamar Ceyasa, ini dilakukannya untuk menemani istrinya yang selalu mengeluhkan kesusahan saat tidur.


Archie melirik ke arah dalam kamar, melihat Ceyasa sudah berbaring tertutup selimut tebal, Archie segera mendekati ranjang mereka, dia duduk dan segera masuk ke dalam selimutnya, memiringkan tubuhnya ke arah Ceyasa yang membelakanginya.


"Ceyasa," kata Archie pelan, mencoba untuk memastikan apakah Ceyasa sudah benar-benar tidur atau tidak.


"Hmm?" Ceyasa hanya bergumam menjawab Archie, malas untuk membuka mata dan bergerak menatap Archie.


"Kau sudah tidur?" kata Archie lagi memegang lengan Ceyasa.


Mendengar dan juga mendapat sentuhan hangat dari tangan Archie, Ceyasa mau tak mau membuka matanya, membalikkan tubuhnya menatap ke arah Archie.


"Kalau aku sudah tidur aku tidak akan menjawab pertanyaan mu," jawab Ceyasa yang hanya dijawab Archie dengan wajahnya malas, melihat wajah malas Archie Ceyasa lalu tersenyum sedikit, "Baiklah ada apa?"


Ceyasa menaikkan tubuhnya, memposisikan setengah berbaring tubuhnya agar dia bisa mendengarkan apa yang hendak dikatakan oleh suaminya ini.


"Aku baru saja bertemu dengan Paman Angga, dia memintaku untuk bertemu malam ini," kata Archie dengan suara serius, membuat Ceyasa pun menjadi lebih serius.


"Lalu?" tanya Ceyasa.


"Dia mengatakan dia ingin menanggalkan status Rajanya dan menyerahkannya padaku, dia akan menyerahkannya pada saat pernikahan kita nanti," ujar Archie melirik istrinya yang hanya menatapnya, wajah Ceyasa sedikit bertekuk.


"Jadi kau akan jadi Raja?" kata Ceyasa yang cukup kaget, dia belum memiliki bayangan sama sekali Archie akan segera menjadi raja, karena Ceyasa pikir mungkin saja Suri bisa menjadi Ratu.


"Ya, aku akan menjadi raja, dalam silsilah keluarga Aku adalah pewaris utama dari kerajaan ini, Paman Angga adalah keluarga jauh dari keluarga ku, dia bisa menjadi raja karena permintaan nenekku untuk sementara karena aku masih sangat kecil saat ayahku meninggal, saat ini dia merasa aku sudah cukup siap untuk menanggung seluruh tanggung jawab yang sudah aku punya sejak aku lahir," ujar Archie yang perlahan tubuhnya condong ke arah Ceyasa yang tampak terus mengerutkan dahinya.


"Kalau kau jadi Raja, maka aku akan jadi ...." kata Ceyasa sedikit berbicara rambat.

__ADS_1


"Ratu," kata Archie yang tiba- tiba saja sudah sangat dekat dengan Ceyasa.


"Ha? aku jadi ratu? bagaimana bisa?" Ceyasa tampak kaget mendengarkannya, bagaimana ada ratu seperti dia, dia sudah mengamati gerak gerik Bella, wanita itu lemah lembut, suara dan intonasi bicaranya begitu memikat, cara berjalannya, bahkan lirikan matanya saja begitu berbeda.


"Bisa,kau kan menikah dengan calon raja," kata Archie memandang kedua bola mata istrinya yang masih cukup syok mendengarkan hal itu, sudah lama dia tak sedekat ini rasanya, padahal baru beberapa hari, hal ini karena Ceyasa selalu mengeluh mual saat Archie terlalu dekat dengannya, alasannya selalu sama, wanginya terlalu kuat.


"Jangan becanda, bagaimana aku bisa jadi ratu, aku saja tak lulus dalam berjalan," ujar Ceyasa yang cukup panik, apa kata dunia ada ratu seperti dirinya.


"Apa menurutmu aku terlihat bercanda?" tanya Archie dengan tatapan serius langsung ke arah mata Ceyasa, mereka bertatapan sejenak, hanya diam seolah memancarkan perasaan keduanya karena walaupun bersama cukup lama tak sedekat ini.


Namun, adegan yang diharapkan oleh Archie langsung buyar saat Ceyasa langsung menutup mulut dan hidungnya, segera mengeluarkan gestur ingin muntah karena perutnya bergejolak mencium bau Archie.


"Jangan mendekat, aku sudah bilang wangimu tak enak," kata Ceyasa yang langsung mendorong wajah Archie darinya, Archie hanya mengeluarkan wajah malas memandang ke depan, kesal karena gagal sudah dia mengharap kemesraan dari istrinya.


"Sampai kapan sih kau ngidam?" kata Archie lagi melirik kesal.


"Ok, awas jika 20 Minggu kau masih mual melihatku," ancam Archie.


"Ya, itu semua tergantung bayinya, bagaimana bisa kau mengancamku begitu," kata Ceyasa ngambek, bibirnya maju ke depan.


Melihat tingkah Ceyasa, Archie jadi tersenyum sedikit, ah, kenapa saat dia tak bisa berdekatan dengan Ceyasa? tingkah Ceyasa malah semakin membuatnya gemas.


"Sudah, jangan bertingkah seperti itu, kau ingin menyiksaku ya?" kata Archie yang memutuskan untuk membaringkan tubuhnya, bisa-bisa dia menerkam Ceyasa jika terus memandang istrinya itu.


"Menyiksa apa? aku tidak mencubit mu," kata Ceyasa yang masih bernada merajuk, mengikuti Archie membaringkan tubuhnya di ranjang mereka, menatap wajah Archie yang sedang menatap langit-langit, saat Ceyasa sudah di sampingnya, Archie melirik istrinya yang menatap dirinya.


"Karena aku sudah tak tahan ingin mencium dirimu," ujar Archie lembut, hal itu tentu menyiksanya, ingin dekat namun tak bisa, dia tak tega melihat Ceyasa muntah-muntah apalagi malam begini.

__ADS_1


"Kalau begitu cium saja," kata Ceyasa terkesan cuek, namun dia sebenarnya juga ingin dapat perhatian lebih, tapi juga tak sanggup mualnya, jadi Ceyasa bingung sendiri.


"Kau bercanda? baru dekat saja kau sudah mual-mual, bagaimana jika menciummu," kata Archie lagi, melirik Ceyasa dengan ujung ekor matanya.


"Ya kan belum di coba," kata Ceyasa cuek saja, dia melentangkan tubuhnya.


Mendengar tantangan dari Ceyasa itu, Archie langsung menyergap Ceyasa, tanpa aba-aba mencium bibir istrinya itu, sejenak menyalurkan perasaannya yang cukup rindu akan sentuhan dan kemesraan ini, dan mungkin karena dilakukan dengan tiba-tiba, Ceyasa tak menunjukkan gejala akan muntah.


Archie tahu diri, dia tak memaksakan diri untuk mencium Ceyasa lebih lama, dia lalu perlahan melepaskan diri, memandang sendu mata Ceyasa yang ada di bawah tubuhnya.


"Apakah sudah? aku sudah tak tahan," ujar Ceyasa sedikit lirih, Archie tentu belum puas, tapi bagaimana lagi dari pada Ceyasa tak bisa tidur karenanya, lagi-lagi dia mengalah.


"Sudah, tidurlah, Ratuku," kata Archie melepaskan diri dari Ceyasa, tidur kembali di tempatnya. Ceyasa hanya tersenyum, kembali sadar tentang tanggung jawabnya ke depannya, benarkah dia bisa menjadi ratu.


"Archie, kau yakin aku bisa menjadi ratu?" tanya Ceyasa dengan suara ragu.


"Ya, tentu, tak mungkin kan aku mencari ratu yang lain?" lirik Archie pada Ceyasa yang tampak berpikir, mendengar itu Ceyasa kembali memunculkan wajahnya kesal yang dibuat-buat, mencubit lengan atas suaminya dengan cukup keras, membuat Archie sedikit meringis. "Apaan sih? sakit tahu?" ujar Archie tak terima.


"Ya, aku sedang serius tapi kau malah mengatakan hal itu, aku itu takut tidak bisa menjadi ratu yang baik, bagaimana jika aku nantinya hanya mempermalukan dirimu dan kerajaan," kesal Ceyasa lagi, Archie selalu suka wajah kesal Ceyasa, kerenanya dia segera tertawa kecil sambil hanya memandangi Ceyasa.


"Sudah? sudah kesalnya?" tanya Archie yang menunggu untuk Ceyasa mengeluarkan semua perasaannya. Ceyasa memonyongkan bibirnya, mengangguk sedikit manja.


"Sudah jangan dipikirkan, kau tak akan mempermalukan ku, aku yakin itu, lagi pula sudah aku katakan, jika kau ratu, siapa yang akan berani menentangmu, mungkin hanya nenekku yang bisa, tapi dia tak akan ada di sini memperhatikanmu setiap saat, Aku pun sama takut dan ragunya denganmu, aku belum tahu apakah aku bisa menjadi raja yang baik nantinya, tapi perlahan kita bisa jalani dan belajar bersama, asalkan kau dan nantinya anak kita ada, aku yakin, aku bisa melakukan semuanya, lagi pula kau sudah menjadi ratu bagiku," ujar Archie, mengusap-usap pipi lembut Ceyasa dengan punggung jarinya, menenangkan istrinya, memberikan sedikit gombalan agar Ceyasa tersenyum, dan dia berhasil membuat wanitanya itu menyunggingkan senyuman.


Ceyasa tak menjawab, menjadi sedikit tenang mendengar kata-kata Archie, ya, tak peduli statusnya, apakah hanya orang biasa atau seorang ratu di istana, yang penting dia dan Archie juga anak mereka selalu bersama, maka semuanya akan baik-baik saja, Ceyasa yakin itu.


"Sudah malam, tidurlah," suara lembut Archie terdengar lagi, Ceyasa mengambil tangan Archie yang masih mengelus pipinya, memegangnya hangat sambil mengangguk kecil, perlahan menutup matanya, pemandangan sebelum dia tidur sangat indah, wajah tampan, tatapan penuh kasih sayang, dan senyuman menenangkan, menggiringnya masuk ke alam mimpi.

__ADS_1


__ADS_2