
Bella berdiri dengan cemas di atas balkon rumah sakit itu, suasana pagi ini cukup cerah saat mereka melihat helikopter yang semakin lama semakin jelas terlihat, Bella mengetatkan tangannya pada tangan suaminya yang juga tampak gugup, wajah mereka sayu, dari semalam tak tidur sama sekali.
Suara gemuruh helikopter itu terdengar kencang, angin yang disebabkannya pun menerbangkan rambut Bella sedikit keras. Namun wajah berharapnya dan juga sedihnya tampak tak tertutupi lagi.
Helikopter itu mendarat dengan perlahan dan setelah baling-baling helikopter itu berhenti, Angga dan Bella segera berjalan, tak menyia-nyiakan waktunya lagi, mereka sudah sangat gusar menunggu kedatangan Suri dan Jared.
Kemarin saat mereka masih sibuk dengan perpindahan, mereka dikejutkan dengan kabar dari Jared, lagi-lagi Suri pingsan, tapi kali ini dia tidak mimisan ataupun kejang seperti sebelumnya, dia hanya tak sadarkan diri cukup lama, Angga dan Bella ingin melihat keadaan anaknya, namun cuaca buruk dan juga akses jalan darat yang ternyata terputus membuat mereka tidak bisa melihat bagaimana keadaan anaknya, mereka hanya memantau dari ponsel, dan setelah cuaca cukup bersahabat, Angga mengirimkan helikopter ambulans untuk menjemput Suri dan Jared.
Jared keluar dari helikopter itu, menatap ke arah wajah yang cemas dari kedua orang tua istrinya, tak lama 2 perawat yang ikut segera mempersiapkan tubuh Suri, selain itu dokter yang juga sudah bersiap dari tadi untuk menangani Suri, mereka segera mendorong ranjang rumah sakit, membaringkan tubuh Suri di atas rajang rumah sakit itu dan tanpa ada obrolan sama sekali mereka segera membawa tubuh Suri untuk ditangani segera.
Angga, Bella dan Jared berdiri di depan ruangan penangannan Suri, wajah mereka tegang, dari mereka bertemu mereka sama sekali tidak berbicara.
"Bagaimana bisa terjadi?" tanya Angga yang mulai ingin tahu bagaimana, walaupun sebenarnya dia sudah menanyakannya beberapa kali di telepon dari Jared.
"Suri memaksa untuk memasak makan malam, saat itu aku harus mengurus beberapa pekerjaan, tapi aku baru sadar saat bau gosong dari dapur, saat aku ada di sana, Suri sudah pingsan, padahal pagi dan siang harinya dia sangat energik, kami juga tidak melakukan hal yang bisa membuat Suri kelelahan, saat aku meninggalkannya pun, dia masih tampak begitu sehat, tidak pucat seperti pertama kali dia terserang penyakit itu," kata Jared menjelaskannya kembali, membuat Angga dan Bella memandang Jared, Angga tampak berpikir keras.
"Apa kau sudah memberikan serumnya?" tanya Angga melirik ke arah Jared lagi.
"Sudah, dokter segera menyuntikkan serum pada tubuh Suri, tapi dia masih saja belum sadar," Jared lagi sambil menundukkan kepalanya yang penuh, dari kemarin dia pun tidak tidur, menunggui istrinya, wajah cemasnya terlihat sama dengan wajah Angga dan Bella.
Suasana kembali hening, tidak ada satu pun yang berbicara di sana, tak lama dokter keluar dari ruangan Suri, semua orang yang tadinya duduk cemas segera berdiri mengelilingi dokter itu, semua dari mereka memandang menuntut jawaban.
"Suri tidak apa-apa, keadaannya stabil, Beliau akan segera dibawa kembali ke ruangan, tapi ada beberapa pertanyaan yang ingin aku tanyakan pada Anda, Tuan Jared," kata dokter itu menatap Jared, Angga yang mendengar itu pun segera melihat Jared.
__ADS_1
"Baiklah," kata Jared mengangguk mantap.
"Kita bicara di ruanganku saja," kata Angga langsung, dia melihat ke arah Bella, Bella yang mengerti arti tatapan suaminya itu hanya mengangguk.
"Baik Tuan," kata dokter itu patuh.
Angga segera melangkah, melepaskan genggaman tangannya dari tangan Bella yang dari tadi digenggamnya untuk menenangkan istrinya, mereka segera berjalan menuju ruangan Angga, Angga duduk di tempat duduknya yang biasa, di depannya dokter dan Jared saling berhadapan, sedangkan Asisten Lin setia menunggu di belakang Angga.
"Apa yang ingin Anda tanyakan?" tanya Jared langsung saja.
"Apa dokter Anda sudah memasukkan serum itu pada Putri Suri," kata dokter itu menatap Jared.
"Sudah, mereka segera memberikan serum itu pada tubuh Suri," kata Jared segera.
"Atau apa?" tanya Angga yang semakin tegang mendengar kata-kata dokter itu.
"Seseorang atau sesuatu yang memang sengaja membuat dia tidur," kata Jared yang akhirnya sadar, dia segera mengambil ponselnya dan langsung menelepon seseorang, dia langsung berdiri, Angga yang mendengar itu mengepalkan tangannya, entah kenapa dia curiga hal ini ada hubungannya dengan Rain, jika benar dia benar-benar harus berhati-hati dengan pria itu.
"Tolong lihat CCTV saat kejadian Suri pingsan, aku ingin melihat apakah ada orang yang mencurigakan," kata Jared yang segera menginstruksikan hal itu pada asistennya, dia tampak sedikit mengangguk dan bergumam lalu segera mamatikan panggilan terleponnya.
Angga mengeluarkan gestur tangannya untuk memanggil Asisten Lin mendekat ke arahnya.
"Aku ingin tahu keadaan Ceyasa sekarang? apa Gerald sudah memberikanmu rekamannya?" tanya Angga yang merasa ada yang sengaja memanfaatkan kelemahannya dan penyakit putrinya, sengaja membuatnya untuk panik dan melupakan hal yang lain.
__ADS_1
"Baik, Tuan," kata Asisten Lin segera keluar untuk melakukan panggilan ke markas militer.
"Bagaimana dengan hasil penelitian darah itu?" tanya Angga, mendengar itu Jared langsung kembali duduk di depan dokter.
"Sedang kami lakukan prosedurnya, harap Anda menunggu sebentar lagi, tapi sepertinya kita butuh lebih banyak darah, karena darah yang saya ambil kemarin hanya cukup untuk beberapa penelitian dan dosisnya tidak cukup untuk mengganaskan penyakit Putri Suri," kata dokter itu dengan tatapan serius melihat Angga.
Angga yang mendengar hal itu hanya tampak berpikir, dia menyandarkan punggungnya pada sofanya, tampak memandang lurus ke depan dan tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka, membuat perhatiannya segera teralihkan, Asisten Lin datang terburu-buru.
"Nona Ceyasa sudah di jemput oleh Yang Mulia Raja tadi malam, mereka mengira Anda yang memintanya kembali," kata Asisten Lin segera dengan wajahnya yang cemas, mendengar itu Angga menggertakkan giginya, kembali kecolongan, dia semakin yakin, Rain lah dalang semua ini, Jared yang melihat perubahan wajah Angga hanya mengerutkan dahinya bingung, ada apa ini?
"Selain itu Tuan," kata Asisten Lin kembali membuat perhatian Angga ke arahnya, "Tuan Jofan juga pergi ke istana untuk menemui Anda, tentara yang mengawalnya mengatakan bahwa Tuan Jofan masuk ke dalam istana bersama asistennya," kata Asisten dengan wajah bertambah cemas.
Angga dan Jared langsung terlihat sangat kaget, bagaimana tiba-tiba Jofan bisa ke istana, pria itu sudah dicari kemana-mana namun saat Angga sudah tidak ada di istana, dia malah pergi ke istana.
"Untuk apa dia ke istana?" tanya Angga lagi, Jared hanya mengerutkan dahinya, apa pamannya kembali ke istana untuk bertemu dengan mereka?
"Bertemu Nona Ceyasa," kata Asisten Lin langsung yang membuat Angga dan Jared semakin kaget, kenapa Jofan yang hilang entah kemana, tiba-tiba muncul hanya untuk bertemu dengan Ceyasa, mata Angga bergerak-gerak seiring dengan otaknya yang memproses semuanya, jangan-jangan ….
"Asisten Lin, minta Gerald untuk membawa rekaman hipnoterapis itu sekarang ke sini," kata Angga langsung pada Asisten Lin.
"Baik Tuan," kata Asisten Lin segera keluar dari ruangan itu.
Suasana sejenak hening, dokter dan juga Jared tidak ingin mengganggu Angga yang tampak sedang berpikir keras, tampak kemarahan di matanya, tak menyangka pria yang diharapinya sekarang sama liciknya dengan saudaranya dulu.
__ADS_1