Shameless Prince : Our Incomplete Love Story

Shameless Prince : Our Incomplete Love Story
67 - Pesawat Kertas


__ADS_3

"Aku tidak tahu sudah berapa kali aku meminta maaf padamu, tapi rasanya tidak akan pernah cukup," kata Jofan lembut, sama sekali tak bergeming menatap Aurora yang juga hanya memantung di depannya.


"Aku sudah memaafkanmu, tapi jangan lagi menyakiti dirimu sendiri, lagi pula untuk apa kau melakukan ini?" ucap Aurora pelan penuh perasaan, bagaikan merayu mendayu, mengelus lembut tangan Jofan yang tertutup perban.


"Mungkin karena aku cemburu," kata Jofan tidak ingin menutupinya lagi, dia tidak ingin kehilangan seseorang lagi yang begitu penting bagi


Aurora yang mendengar pengakuan Jofan langsung menatap wajahnya, apa dia tidak salah dengar? Jofan cemburu? Cemburu tentang apa?  kalau Jofan cemburu berarti dia ….


"Aku tidak suka kau tersenyum pada orang lain, aku tidak suka kau tertawa karena hal yang bukan dariku, " ujar Jofan yang membuat Aurora menahan napasnya, terlalu kaget dan juga terharu mendengarkan kata-kata Jofan. " Aurora, maafkan aku, sepertinya kau mulai menyukaimu," kata Jofan pada Aurora.


Aurora benar-benar tidak bisa menahan dirinya, matanya berkaca-kaca mendengarkan hal itu, wajah kaget dan tak percayanya benar-benar terlihat, dia bahkan sampai menutup mulutnya, takut Jofan melihat mulut kecilnya yang menganga, air mata haru turun begitu saja, tak bisa dia bendung apalagi disembunyikan.


Delapan belas tahun hanya kata-kata itu yang dia impikan, delapan belas tahun dia bertahan hanya demi sebuah pengakuan, delapan belas tahun bukan waktu yang singkat untuk menahlukkan hati seseorang, Aurora mencoba, terus mencoba menjadi yang bisa di pandang oleh Jofan, namun semua terasa sia-sia, berulang kali ingin menyerah namun hati kecilnya yang rapuh ingin terus berjuang, menikah bukannya hanya untuk satu kali bukan? namun sekarang rasanya benar-benar tak bisa dilukiskan dan perjuangan itu sebanding ketika akhirnya, Jofan bisa menerimanya.


Jofan menghapus air mata bahagia dari mata Aurora yang secantik mata boneka, tak mengizinkan air mata merusaknya walaupun karena bahagia, Jofan mencium pipi Aurora yang memerah, pelan, tak lama namun penuh perasaan, membuat seluruh tubuh Aurora kaku karenanya.


"Aku pasti sangat jahat padamu sebelumnya, sampai kau menangis seperti ini," ujar Jofan setelah melepas ciumannya. Aurora tak bisa berkata-kata, hanya diam sambil menggeleng pelan, sambil mengusap hidungnya yang mulai basah.


Jofan tersenyum sedikit, tingkah istrinya tampak begitu menggemaskan untuknya, seperti seorang gadis remaja yang malu ketika digoda oleh kekasihnya, Jofan menarik Aurora dalam pelukannya, memeluknya erat penuh perasaan, saling merasakan perasaan nyaman hingga tak ingin melepaskan.

__ADS_1


"Aku sangat beruntung memilikimu, Aurora, berikan aku kesempatan sekali lagi," bisik Jofan yang membuat hati Aurora terasa manis, dia mengangguk cepat tanpa berpikir lagi, bahkan tak bertanya bagaimana posisinya di hati Jofan, bukan kah ada Sania, bagi Aurora ini saja sudah sangat cukup untuknya, tak ingin merusaknya lagi,


Aurora melepaskan dirinya dari pelukan Jofan, menatap mata Jofan yang tak jemu-jemu dia lihat. Jofan tersenyum begitu lepas dan manis padanya.


"Kita harus ke rumah sakit," kata Aurora yang tetap memikirkan kesehatan Jofan.


"Jangan," jawab Jofan.


"Kenapa?" kata Aurora menekuk dahinya.


"Aku tak ingin tidur tanpamu, mulai sekarang kau harus tidur di sampingku," kata Jofan terdengar menggoda, namun itu memang sebenarnya, terlalu tergantung akan keberadaan Aurora di sampingnya.


"Baiklah, tapi jika besok bertambah parah, kita harus ke rumah sakit," jawab Aurora.


"Baiklah mantan Ibu Negara."


Aurora cukup terkekeh mendengarnya.


"Ya, kau sudah lapar, ayo makan, aku akan menyuapimu karena tanganmu sedang terluka," kata Aurora lagi penuh kehangatan.

__ADS_1


Jofan mengangguk, cukup rindu diperhatikan begini. Aurora tersenyum kembali, mereka segera pergi ke ruang makan, Aurora membersihkan tangannya yang berlumur darah, menyiapkan makanan dan segera menyuapi Jofan dengan sabar, suasana begitu hangat, kebahagiaan terpancar, senyum selalu merekah dan semua itu menyertai mereka sepanjang malam.


-----***----


Suasana di ruang lukis itu terasa hangat, sinar matahari menjadi penerangnya, menerobos masuk melalui kaca-kaca patri yang tersusun berwarna warni menunjukkan gambaran-gambaran indah, cerita kekuasaan kerajaan mereka dulu.


Suri menatap bosan pada kanvas yang sudah dia corat-coret dengan cat minyaknya, campuran warna  warni itu membentuk gambaran bunga teratai yang indah di tengah danau, namun Suri masih tak puas dengan karya. Alunan suara biola terdengar indah menemaninya mengeluarkan semua imajinasi, namun belum juga dia bisa melanjutkan lukisannya itu.


Saat dia menyisipi gambaran-gambaran yang muncul di pikirannya, tiba-tiba sebuah pesawat kertas masuk dari jendela di dekat Suri yang terbuka lebar, pesawat kertas itu terbang dengan angun dan meliuk-liuk di sekitar ruangan itu sebentar sebelum mendarat di ubin ruangan itu, Suri yang memperhatikan pesawat itu sedikit kaget, siapa yang melemparkan pesawat itu?


Dia segera meletakkan palet lukisnya, berjalan dengan angun ke arah pesawat itu, mengambilnya dari lantai dan segera mendekati jendela, karena ruangan lukis itu terletak di bagian atas, Suri langsung melihat ke arah bawah, melihat Jared yang sudah ada di bawah sana, mendongak melihat ke arahnya, dia tampak tersenyum, Suri melihat hal itu juga langsung tersenyum, Jared mengeluarkan gestur untuk Suri membuka pesawat kertas itu.


Suri yang melihat itu tentu mengerti, dengan sedikit rasa penasaran, Suri mencoba membuka pesawat kertas itu, menemukan sebuah catatan yang ditulis tangan oleh Jared.


‘Ingat waktu kecil, saat kita tidak punya ponsel untuk berbicara, aku sering mengirimu pesan dari pesawat kertas ini, jadi aku ingin mengulanginya lagi. By the way, hari ini aku libur dan cuaca sangat indah, apakah Tuan Putri punya waktu untuk berjalan\-jalan dengan hamba?’


Suri membaca itu perlahan dan langsung tesenyum manis, memang dulu Jared sering melakukan hal ini padanya, mengirimkan pesan-pesan lucu agar dia bisa tertawa, awalnya Jared dan Suri cukup dekat, namun entah kenapa tiba-tiba Jared berubah dan menjadi lebih tetutup darinya ditambah lagi Jared harus pindah keluar negeri, hingga hubungan mereka benar-benar putus.


Suri lalu melihat ke arah Jared yang masih setia menunggunya di bawah, memperhatikan perubahan wajah Suri yang awalnya datar menjadi tersenyum manis, sebuah kepuasan tersendiri bagi diri Jared,, melihat itu dia tersenyum tipis. Suri memberikan isyarat agar Jared menunggu, dia lalu berjalan ke arah tempat-tempat barangnya, tidak menemukan pensil ataupun pena untuk membalas pesan pesan dari Jared karena itu dia lansung mengambil kuas lukis rigger (kuas ujung runcing) dan mencelupkannya ke dalam pot tinta berwarna hitam, dan perlahan mulai membalas surat Jared, dia menunggunya sedikit lebih lama agar mengering, lalu segera melemparkannya pesawat kertas itu ke arah Jared, pesawat meliuk-liuk dengan indah, Jared tampak memperhatikan kemana kira-kira pesawat itu akan mendarat, melihat tingkah Jared yang memperhatikan itu, Suri jadi tertawa.

__ADS_1


__ADS_2