
Angga tampak berpikir, melihat ke arah jendelanya yang besar, wajahnya yang tampan itu menatap ke arah taman depan istana, sebuah mobil Rolls-Royce Phantom berwarna ungu tua memasuki halaman depan istana itu.
Tak lama ruangannya diketuk seseorang, membuat perhatiannya segera mengarah ke pintu itu, dan tak lama pintu itu terbuka, hanya satu orang yang bisa membuka pintu itu tanpa persetujuannya, Bella.
Bella masuk dengan anggunnya, mata mencari dimana suaminya sekarang berada, saat melihat ke arah jendela, akhirnya dia bisa menemukan sosok Angga sedang berdiri dan menatapnya, dia langsung tersenyum, Angga pun begitu.
"Masih di sini? mereka sudah datang," kata Bella mendatangi suaminya.
"Baiklah, ayo temui mereka," kata Angga dengan senyuman yang menyimpan sesuatu, Angga segera merangkul pundak istirnya.
Bella menatap wajah suaminya, sudah lebih dari 20 tahun bersama, dia bisa tahu bagaimana keadaan suaminya hanya dengan raut wajahnya, sekarang pasti dia sedang memikirkan sesuatu yang sangat berat di dalam pikirannya.
"Apa yang sekarang kau pikirkan?" tanya Bella dengan lembut pada suaminya sebelum Angga melangkah pergi.
"Ehm?" tanya Angga melirik pada istrinya.
"Aku sudah bersamamu lebih dari 20 tahun, dan wajah seperti itu, aku sudah pernah melihatnya dan selalu saja ada hal yang sangat penting saat kau berwajah seperti itu," kata Bella pada suaminya, menatapnya dalam, membuat Angga sedikit mengendurkan dahinya yang tadi berkerut dalam.
"Aku belum bisa menemukan Jofan, dia bahkan tidak mengatifkan alat pelacaknya, ponselnya aku temukan di tempat pembuangan sampah, tak ada data dia pergi atau keluar dari negara ini, dia bahkan tak menggunakan apapun seperti kartu kredit bahkan menarik uang di bank sekali pun, aku benar-benar berpikir keras kemana dia pergi," kata Angga tak habis pikir kemana sahabatnya itu pergi sekarang? Bella melihat wajah Angga yang cukup tertekan itu.
"Kita akan menemukannya, aku yakin, Jofan adalah orang yang penuh perhitungan, ingat dulu dia selalu membantu kita, dia selalu punya pemikiran yang hebat, aku yakin dia pergi karena memiliki suatu alasan," kata Bella lembut sambil mengusap dada suaminya, mencoba menenangkannya.
"Aku harap, apa yang harus katakan pada mereka?" kata Angga lagi, tapi wajahnya masih saja tampak cemas. Memikirkan tentang Aurora dan dua keponakan Jofan yang setidaknya menaruh harapan pada Angga.
"Tidak perlu mengatakan apapun," kata Bella lagi menatap Angga, Angga tampak tak puas dengan hal itu, "Oh, mungkin kau bisa mengatakan bahwa kau sudah menerima permintaan Jofan untuk perjodohan Suri dan Jared, mungkin itu bisa sedikit membuat mereka teralihkan, seperti peraturan kerajaan, putri hanya bisa menerima lamaran pada calon yang disetujui oleh Raja bukan? lagi pula, ini keinginan Jofan sejak dulu, Suri juga sepertinya sangat senang dengan Jared sekarang, dia tampak bahagia, jika terlalu lama, aku takut terjadi sesuatu yang membuat Suri sedih lagi, " kata Bella lagi menatap berharap pada suaminya
__ADS_1
l
"Apa ini waktu yang tepat?" tanya Angga lagi.
"Mungkin sedikit kebahagiaan diantara kesedihan akan sangat baik," kata Bella.
"Baiklah, akan ku bicarakan dengan Jared nanti," kata Angga lagi.
"Ya, mari kita sambut mereka dulu," kata Bella dengan senyum manisnya yang menular pada Angga, Angga mengangguk, segera membawa istrinya untuk keluar dari ruang kerjanya.
Mereka segera berjalan menuju ruang tengah istana megah mereka, di sana mereka langsung melihat Aurora, Jared, Suri dan Jenny sudah datang, Nakesha pun bergabung di sana mewakili dari istana pangeran karena Ibunda Ratu Ayana sudah tak terlalu bisa untuk berkumpul dan Daihan harus mengurus perusahaan mereka, sedangkan Archie, hingga saat ini tidak bisa dihubungi.
"Selamat datang," kata Bella menyambut Aurora dengan senang, tak terlihat lagi jejak-jejak bahwa dia pernah hampir kehilangan nyawa, hanya saja wajah lelah dan mata yang cukup bengkak itu terlihat, Bella mencoba untuk memakluminya, ditinggal suami yang entah kemana? Siapa pun pasti akan begitu sedih bukan?
"Jangan terlalu formal, jika di dalam sini, berlakulah seperti biasa, kita keluarga bukan?" kata Bella lagi.
"Ya, benar, akhirnya kita berkumpul lagi," kata Nakesha yang langsung ikut bergabung dengan Aurora dan Bella, mereka langsung bisa akrab dan mengobrol bersama.
Angga berjalan menuju Jared dan Suri yang tampak berdiri berdampingan sedang mengamati pertemuan kembali 3 orang wanita yang sekarang tampak saling menghibur.
"Jared, bisa ikut denganku," kata Angga dengan suaranya yang berat, membuat Jared dan Suri sedikit kaget, Suri menatap ayahnya yang sedikit mengangkat sudut bibirnya. "Papa akan mengembalikan priamu dengan utuh," canda Angga pada Suri yang membuat Suri langsung tertawa kecil, ayahnya tak pernah bercanda, sekalinya bercanda terlalu garing untuk dikatakan lucu, namun karena kegaringannya itu yang membuatnya menjadi lucu. Angga berjalan segera.
"Baiklah, pastikan mengatakan iya jika papa memintamu untuk menikahiku," bisik Suri pada Jared yang membuat Jared sedikit mengerutkan dahinya, merasa Suri sedang menggodanya.
"Jika tidak?" kata Jared balik mempermainkan Suri.
__ADS_1
"Aku akan menghantuimu seumur hidupmu," ucap Suri lagi dengan wajah cemberut yang dibuat-buatnya, dia lalu mendorong Jared yang hanya melempar senyuman manis, Jared lalu mengikuti langkah Angga yang sudah duluan pergi dari sana.
Suri dan Bella sama-sama melihat ke arah pria mereka masing-masing, Suri tak lama bergabung dengan para wanita.
Angga berjalan mantap namun perlahan, melewati lorong dengan begitu banyak barang-barang seni dan lukisan, Jared mengikutinya dari belakang dengan sikapnya yang sempurna, sedikit gugup berjalan di belakang Angga.
Tak lama Angga memasuki sebuah tempat, para penjaga yang menjaga termpat itu segera membuka pintu, sebuah ruangan musik, Angga segera duduk di salah satu sofa yang ada di sana.
"Duduklah, ada yang ingin aku bicaraka padamu, " ujar Angga dengan tatapan yang serius.
"Baik Paman," kata Jared dengan wajah serius menatap Angga, sikapnya sempurna saat dia duduk. Angga lalu menatap Jared dengan serius.
"Apa ada kabar dari pamanmu?" tanya Angga lagi.
"Tidak, dia tidak memberikan apapun, aku sudah mencoba untuk melacaknya, bahkan dia meninggalkan semua, perusahaan pun dia tinggalkan begitu saja, tanpa ada mandat ataupun perintah khusus," kata Jared lagi.
"Gadis itu, Siena, apakah kau masih punya data tentangnya?" tanya Angga.
"Yang aku punya hanya dokumen tentang bukti DNAnya, " kata Jared lagi menatap Angga.
"Bisakah kau memberikan itu padaku?" kata Angga lagi.
"Ya, aku akan menyerahkannya padaPaman nantinya," kata Jared lagi.
"Satu lagi, Apakah kau serius dengan Suri?" tanya Angga, kali ini nada bicara jauh lebih serius dari pada yang tadi.
__ADS_1