Shameless Prince : Our Incomplete Love Story

Shameless Prince : Our Incomplete Love Story
168 - Redup dan Hilang


__ADS_3

"Aku tidak membawa apapun," kata Ceyasa lagi, namun baru saja dia mengatakan itu, ponsel yang ada di saku dalamnya bergetar, penjaga itu menatap Ceyasa dengan tajam, "Masa aku tidak boleh membawa ponsel, aku hanya takut Rain meneleponku," kata Ceyasa lagi mencari alasan, penjaga itu tanpa basa basi langsung mengadahkan tangannya, Ceyasa dengan wajah cemberut lalu mengeluarkan ponselnya, dia sedikit melihat ke arah ponselnya, sederet angka yang dia ingat seperti nomor telepon Archie terpampang di sana, saat Ceyasa mengamati itu, penjaga itu merampasnya begitu saja dan dia langsung membuang ponsel Ceyasa keluar, ponsel itu segera hancur terhempas di aspal yang keras.


"Hei, kau harus menggantinya!" ketus Ceyasa kesal menatap pada penjaga itu, Ceyasa sama sekali tidak terlihat ketakutan walaupun hanya dia wanita di dalam mobil itu, namun tiba-tiba penjaga yang ada di sampingnya menutup mulutnya dengan lakban, Ceyasa kaget mendapatkan perlakuan ini, rasa paniknya mulai muncul, belum dia selesai merasa kaget, dari belakang tiba-tiba pula matanya juga di tutup oleh kain, penjaga yang di depannya pun mengikat tangannya, membuat Ceyasa sekarang mulai ketakutan, dia tidak bisa berteriak, tidak bisa bergerak, juga tidak bisa melihat, sebenarnya apa yang akan terjadi padanya nantinya?


Perjalanan mereka cukup jauh, Ceyasa merasa dia tidak dibawa ke rumah Rain, karena jika dia di bawa ke sana, pasti mereka sudah sampai sekarang. Mobil itu akhirnya berhenti, Ceyasa di arahkan turun dari mobil itu perlahan, mencium bau amis lautan, suara debur ombak pun saut-saut terdengar, sekali lagi dengan kasar dia ditarik oleh para penjaga itu, Ceyasa bisa merasakan dia di bawa ke sebuah ruangan.


"Ceyasa!" Suara Nadia terdengar saat Ceyasa di bawa ke ruangan itu, Nadia menangis melihat temannya diikat seperti itu dan digiring kasar bagaikan hendak dibunuh. Ceyasa langsung berontak, mencari-cari sumber suara Nadia. Namun dia tidak bisa melakukan apapun.


"Diam!" suara pria garang terdengar dan juga suara tamparan keras, jeritan Nadia menyaut setelahnya, membuat Ceyasa semakin panik dan cemas.


"Duduk!" perintah salah satu penjaga itu pada Ceyasa, dia memaksa Ceyasa untuk duduk, dan seketika tubuh Ceyasa yang kecil langsung terduduk, dia lalu menggelengkan kepalanya ke kanan dan ke kiri, seolah mencari, namun pandangannya masih saja gelap.


Dia mendengar langkah kaki yang berjalan ke arahnya, perlahan namun pasti, berhenti di depannya. Mendengar itu tentu Ceyasa ketakutan, namun dia berusaha bertahan agar tak tampak sedang takut, tak lama ikatan matanya terbuka, dan wajah pertama yang dia lihat adalah wajah pria yang sangat tak ingin dia lihat sekarang, menyeringai dengan senyuman sinisnya. Ceyasa ingin mengumpat dan marah, namun tak bisa berkata apapun karena mulutnya masih tertutup oleh lakban, hanya suaranya yang tak jelas yang terdengar.

__ADS_1


"Aku sudah berbaik hati padamu untuk memberikanmu kesempatan menyerahkan diri tanpa perlu paksaan, namun, kau ternyata lebih suka bermain kucing-kucingan padaku, kau ingin main-main dengan ku, inilah yang kau dapat," kata Rain dengan suaranya yang bahkan bisa membuat orang gemetar. Ceyasa menatap tajam pada Rain, seakan dari tatapannya Rain tahu bahwa Ceyasa ingin mengatakan sesuatu pada Rain, Rain lalu membuka penutup mulut Ceyasa.


"Lepaskan dia, kau sudah berjanji," kata Ceyasa menatap Rain seolah tanpa takut, melirik ke arah Nadia yang tampak keadaannya cukup baik, hanya pipinya yang memerah karena tamparan tadi.


"Kau tak takut padaku?" tanya Rain yang tak melihat kilasan takut apalagi kengerian pada mata Ceyasa. Wanita ini, bagaimana bisa tampak begini?


"Tidak, aku tidak takut, lagi pula kau sudah berjanji tak akan melepaskannya, kau seorang pria, seorang pria yang dipegang adalah perkataan dan janjinya, jika kau pria, kau akan melepaskannya," kata Ceyasa lagi mantap, seolah benar-benar tak takut oleh Rain.


"Tak ku sangka kau wanita yang penuh dengan intrik, mencoba memainkan egoku? cerdas, tapi masalahnya aku tak berjanji tidak melukainya, aku akan melepaskannya setelah dia mendapatkan pelajaran untuk tidak main-main denganku, aku harap dia tak sekeras kepala dirimu, dan dia bertahan setelahnya," kata Rain lagi terdengar sangat tak berprikemanusiaan.


Ceyasa juga tampak kaget dan takut, dia tak masalah jika dirinya yang terkena siksaan, tapi dia tak ingin temannya yang menanggung akibatnya. Ceyasa hanya seorang anak yatim piatu, dia tak punya siapa pun yang mencintainya, jika dia mati maka tak akan ada yang berduka, tapi jika Nadia, apalagi itu karna dirinya, Ceyasa akan menyalahkan dirinya sendiri seumur hidupnya, lebih baik mati dari pada menanggung beban begitu dalam.


Ceyasa langsung bergerak, menjatuhkan dirinya ke lantai yang keras segera bertumpu pada lututnya, hantaman itu membuat lututnya nyeri seketika.

__ADS_1


"Aku mohon, aku sangat memohon padamu, jangan lakukan apapun padanya, tolong jangan menyentuhnya, aku yakin dia tidak akan berani melakukan apapun lagi, aku janji, jika kau ingin menyiksa, siksa saja aku, jika kau ingin membunuh atau melakukan susuatu, lakukan saja padaku, Dia tidak tahu apa-apa, dia masih punya keluarga, tolonglah, jangan buat orang tuanya sedih, meratapi nasib anaknya yang sebenarnya tak salah apapun, jika aku memang punya salah denganmu, biar aku yang menanggungnya, jangan biarkan ibunya menangis untuknya," ujar Ceyasa menyembah, tak peduli apapun yang terjadi padanya, Nadia tak punya salah apapun pada Rain, dia hanya salah sudah berteman dengan Ceyasa.


Ceyasa menangis tersedu, menurunkan egonya, berlutut, menyembah di kaki Rain, Rain tersenyum sinis, merasa puas dengan apa yang dilakukan Ceyasa, akhirnya sikap seolah tak kenal takut apapun dari gadis ini bisa ditahlukkannya.


"Baiklah, buat dia pingsan dan buang dia, jangan lakukan apapun, jika salah satu dari kalian berani melukainya, kalian tahu akibatnya," kata Rain lagi, membuat Ceyasa menangis lega, Nadia yang dari tadi sudah menangis histeris melihat temannya yang menyembah demi dirinya pun hanya bisa diam menatap Ceyasa.


"Berikan salam perpisahan pada temanmu, dia tak akan mungkin melihatmu lagi setelah ini," kata Rain sambil memegang dagu Ceyasa, dengan keras, berbicara dengan emosi yang sangat di depan wajah Ceyasa, dia menghempaskan wajah Ceyasa dan segera melangkah pergi.


"Siapkan keberangkatan kita," kata Rain pada  Asisten Qie yang ada di sana,  Asisten Qie hanya mengangguk saja, Ceyasa meliriknya,  Asisten Qie hanya menatap Ceyasa dengan wajah tak tega namun segera meninggalkannya.


Salah satu penjaga melepaskan Nadia, dia langsung memeluk Ceyasa yang masih berlutut di lantai, memeluk Ceyasa dengan erat, namun Ceyasa tak bisa membalas pelukan itu karena tangannya masih terikat


"Ceyasa," kata Nadia sedikit histeris dengan tangisan yang tersedu, air matanya sudah banjir, Ceyasa pun menangis, namun dia tahu ini bukan waktunya untuk menangis.

__ADS_1


"East Park Recidence," bisik Ceyasa cepat namun tepat di telinga Nadia, membuat Nadia yang tadinya menangis sedikit terhenti, namun tak berapa lama seorang pria memukul leher belakang Nadia, membuatnya langsung terkulai.


"Nadia, Nadia!" kata Ceyasa dengan wajah ketakutan dan cemas melihat Nadia jatuh ambruk di lantai, tak lama mereka menyeret tubuh Nadia keluar, air mata ceyasa kembali keluar, dan tiba-tiba Ceyasa merasakan pukulan di belakang lehernya dan seketika semua hening dan gelap, pandangannya pada tubuh Nadia yang terseret meredup dan hilang.


__ADS_2