
Jam menunjukkan pukul 2 pagi, keadaan sepi di ruangan lantai C rumah sakit itu, lampu-lampu sudah diredupkan, semua orang terlelap akan tidur, terlalu lelah, semua orang masuk dalam tidur lelap mereka.
Suara mesin monitor hidup terdengar tak asing, pelan dan berirama teratur, seolah menghipnotis semua orang untuk tetap dalam tidur lelap mereaka.
Jofan terdiam, menatap kosong pada ruangan itu, mematung tak bergerak, hanya matanya yang basah yang bisa menceritakan bagaimana lelahnya dia sekarang. seandainya sekarang dia bisa ada di sana, di dalam ruangan itu, dia ingin memengang tangan Aurora, menemaninya.
Di bibirnya tersunging senyuman, mengingat bagaimana tingkah Aurora yang selalu salah tingkah jika bersamanya, Jofan menarik tangannya dari kaca pembatas itu, sampai sekarang dia tak tahu bagaimana takdir bisa begitu kejam padanya, setiap wanita yang dia cintai, akan bernasib sama, terbaring di atas ranjang rumah sakit. Kenapa bukan dia saja?
Jofan menyandarkan dahinya pada kaca penghalang itu, membiarkan air matanya turun sekali lagi membasahi matanya yang benar-benar sudah terasa begitu nyeri, dia bahkan tak menyangka, dia masih bisa mengeluarkan air mata setelah hampir setiap hari dalam minggu ini dia menangis. Kesal, marah, penyesalan, bahkan rasa tak berdaya, tak tahu harus bagaimana? rasanya semua salah, di mana dia harus berpijak, harus apa dia sekarang, bahkan dia tak tahu. Seandainya Aurora sekarang ada di sisinya, dia pasti bisa melewati ini semua, namun sekarang wanita itu bahkan tak ada disisinya di saat terendahnya.
"Aku membutuhkanmu sekarang," uajr Jofan dengan suara serak yang lirih, serasa tercekik dalam kesunyian ini.
Dia tahu langkah yang di ambilnya benar-benar salah, entah apa yang dipikirkannya saat itu, dia benar-benar serasa ada di ujung tanduk, apapun yang dia lakukan akan membuatnya jatuh, dia tak tahu seberapa menyesalnya dia jika saja tadi Aurora tidak bisa disalamatkan, karena itu dia sama sekali tidak bisa memejamkan matanya dan memutuskan untuk kembali ke sini, hanya untuk sekedar menumpahkan kerinduan dan rasa bersalah yang bahkan lebih merongrong dirinya dari pada apapun.
__ADS_1
"Maafkan aku, " bisik Jofan lagi, seolah kehadirannya di sisi Aurora memang hanya membuat salah untuknya.
"Untuk apa datang lagi jika sudah memutuskan untuk pergi," suara Jared terdengar memecah suasana sendu itu, membuat Jofan segera melihat ke arah Jared, Jared masuk dengan tatapan marahnya, seolah tak sudi untuk melihat pamannya, dia bahkan tak meliriknya, bersandar di dekat pintu, cukup dekat untuk bisa melihat bibinya, tangannya di lipat di depan dadanya, menunjukkan sikap tak bersahabatnya.
Jofan menarik napasnya dalam, mencoba menghapus air matanya, dan membersihkan hidungnya yang mulai berair, matanya yang cekung dan memerah menatap wajah dingin Jared yang hanya menatap lurus ke arah bibinya.
Jofan berjalan lemah melewati Jared, Jofan sudah tak tahu apa yang harus dia katakan pada Jared, bahkan kata maaf pun terlalu takut dia katakan karena dia tahu itu tak akan pernah cukup, dia sudah menghancurkan segalanya, dia tahu itu, apa yang sudah dilakukannya hari ini benar-benar tak termaafkan. Jofan melangkah ingin memindai kartunya.
"Seorang Pria dinilai dengan perlakukaannya pada istrinya dan pada anak-anakknya, dan Anda gagal pada keduanya, Anda sudah pasti bukan suami yang baik, Anda juga bukan Ayah yang baik, Jika Anda merasa dengan membela anak Anda yang jelas salah adalah kasih sayang seorang ayah, Anda salah besar," ucap Jared yang pelan namun seolah mengiris-ngiris hati Jofan, membuatnya terdiam.
"Ayahku tak akan pernah menghancurkan hatiku, ayahku adalah seseorang yang memegang bahuku saat aku menangis menatap pusara kedua orang tuaku, yang mengatakan padaku untuk menjadi seorang pria, harus kuat seperti seorang pria jangan menangis, ayahku adalah orang yang selalu tampak hebat dengan segala masalahnya, yang mengajariku bahwa jika ada masalah kita tak boleh lari dan harus menghadapinya, berani untuk berkata dan membela yang benar, Ayahku …. " kata Jared tertahan, menelan kecewa yang amat sangat, seolah dia tak bisa lagi menahannya, air matanya mengalir begitu saja, terlalu kecawa hingga merasa sakit. Jofan yang mendengar itu hanya bisa menangis.
"Pergilah dan pulanglah saat ayahku sudah kembali, dan jika memang tak bisa, maka jangan pernah kembali, izinkanlah ibuku untuk bisa menerima kebahagiannya, tolong jangan beri kami harapan apapun, aku yakin, jika bukan dengan Anda, Tuhan pasti memberikannya kebahagiaann yang lain, pergilah, Anda sudah memilih, " kata Jared lagi menguatkan dirinya, Jofan melirik ke arah Jared dengan matanya yang basah, kata-kata Jared benar-benar menghunus hatinya dengan pedang, serasa menghantamnya dengan palu gada, namun Jared hanya mengadahkan kepalanya ke atas, mencoba membuat air matanya tak lagi turun.
__ADS_1
Jofan ingin mengatakan kata maaf, namun kata itu tak juga bisa meluncur dari bibirnya yang terkunci, Jofan menutup matanya sejenak, mengumpulkan segala tenaga yang dia punya, lalu melangkah meninggalkan tempat itu karena memang dialah biang masalah ditempat itu, mungkin dengan perginya dia, maka yang dikatakan Jared benar, Aurora akan punya kebahagiaannya sendiri,
Cukup lama Jared menutup matanya, mencoba menenangkan dirinya dari segala emosi yang menyelimutinya, dia baru saja mengusir pamannya, entah itu hal yang tepat atau tidak, namun dia tak ingin lagi membuat ibunya menderita hanya karena pria itu, Jared membuka matanya perlahan, melihat ke arah pamannya tadi, sosok gagah yang dulu sangat dihormatinya itu telah tidak ada di sana, Jared menggigit bibirnya, tangannya mengepal, perasaannya berkecambuk sekarang, akankah ini langkah yang tepat?
Saat Jared baru saja ingin keluar dari ruangan itu, ujung matanya menangkap sesuatu, dia segera melihat lebih dekat, lebih seksama, dan dengan kepalanya sendiri dia bisa melihat bibirnya mulai menggoyangkan tangannya, menggenggam tangannya sendiri, Jared kaget namun segera tersenyum bahagia, dia langsung keluar dari ruangan itu dengan buru-buru, dia segera menekan bel untuk memanggil para petugas medis yang berjaga di ruangan lain.
"Ada apa Tuan?" kata seorang perawat yang sigap keluar dari ruangan yang tempatnya di sebelah ruangan Aurora.
"Aku lihat tangan bibiku bergerak," kata Jared dengan antusias.
"Benarkah, saya akan segera melapor," kata perawat itu masuk ke dalam ruangannya lagi, Jared yang melihat itu segera masuk kembali ke ruangan dimana dia bisa melihat bibinya, dan tak lama dokter segera masuk ke ruangan Aurora yang benar saja sudah membuka matanya.
Dokter segera melakukan pemeriksaan, Jared yang melihat itu dengan harap-harap cemas, tak lama Liam ikut bergabung dengan Jared di dalam ruangan kaca itu, memperhatikan apa yang terjadi.
__ADS_1
"Dia sadar?" tanya Liam yang masih menggunakan baju tidurnya.
"Ya," kata Jared semangat. Liam hanya tersenyum mendengarnya, lalu hanya melihat para dokter yang masih melakukan pemeriksaan pada Aurora.