
Ceyasa mondar mandir di ruang tengah rumahnya, melihat ke arah jam dinding yang sudah menunjukkan hampir pukul 11 malam, dia sedang menunggu Archie, sejak kejadian tadi siang, dia sama sekali tidak bisa menemukan Archie di mana. Apa dia mungkin sudah pulang? tapi barang-barangnya ada di sini.
Ceyasa menggenggam ponsel Archie yang tampak mati, kenapa dia harus khawatir? toh bukannya dari awal Ceyasa memang ingin Archie pergi dari sini? biarkan saja dia pergi? Bukannya memang seharusnya dia pergi dari sini? tapi bagaimana jika dia tersesat di hutan? Di gunung? Lalu bagaimana jika dia bertemu hewan buas, dia bisa di makan hidup-hidup atau jangan – jangan dia terpeleset masuk ke dalam danau lagi, dan … ah, kenapa dia harus cemas? Ceyasa benci dengan konflik yang ada di dalam dirinya sendiri.
Pintu rumahnya diketuk, Ceyasa langsung kaget dan segera buru-buru berjalan menuju pintunya, dia yakin pasti itu adalah Archie, dia sudah siap untuk memarahi Archie, bisa-bisanya dia membuat Ceyasa cemas karena menunggunya.
Ceyasa langsung membukakan pintu itu, entah karena terlalu senang atau emosi Ceyasa tidak mengikuti aturannya yang biasanya hanya membukakan pintunya hanya sedikit dan mengintip keluar, tapi dia langsung membuka pintunya dengan lebar.
"Kau ini dari masa saja sih? " gerutu Ceyasa kesal pada orang yang ada di depannya.
Ceyasa langsung terdiam, ternyata yang ada di depannya bukanlah Archie, matanya langsung membesar melihat Nathan dengan senyuman ciri khasnya. Wajah Ceyasa langsung berkerut, ini sudah jam 11 malam, kenapa Nathan datang ke sini? lagi pula Ceyasa sudah beberapa hari ini tidak ingin lagi bertemu dengan pria ini.
"Kau menunggu seseorang?" tanya Nathan memecah keheranan Ceyasa.
"Oh, tidak, ada apa kau datang kemari?" tanya balik Ceyasa.
"Apa aku tidak boleh kemari?"
"Ini sudah malam, aku harus tidur, maafkan aku, selamat malam," kata Ceyasa segera ingin menutup pintunya, tapi secepat mungkin ditahan oleh Nathan, melihat gelagat Nathan seperti ini, Ceyasa merasa ada yang aneh dengan ini, dia langsung waspada.
"Ceyasa, sebentar saja aku hanya ingin berbicara padamu," kata Nathan mencoba menahan pintu yang sudah didorong oleh Ceyasa itu.
"Datang lagi besok ya, aku sudah sangat lelah," kata Ceyasa mencoba mencari barang yang bisa dia buat untuk bertahan, melihat kesekitar dan dia akhirnya melihat sebuah payung yang ada di belakang pintu itu, dia rasa itu bisa menjadi senjatanya.
"Ceyasa, tolong jangan membuat ini menjadi susah, aku hanya ingin berbicara padamu," kata Nathan yang terdengar kesal karena Ceyasa masih menahan pintunya.
"Aku sedang tidak ingin bicara denganmu, pulang saja sana!"
"Ceyasa, kau terkadang memang sedikit susah di tebak, aku suka gayamu yang seperti ini, ayolah bukannya kau menyukaiku?" kata Nathan dengan tawa yang mengerikan, Ceyasa mencoba mengambil payung itu, tapi karena dia mendorongnya dengan satu tangan, Nathan bisa mendorong pintu itu dengan mudah, membuat Ceyasa terdorong ke dinding, untung saja tangannya sempat mengapai payung itu.
"Kau mau apa?" kata Ceyasa yang menyembunyikan payung itu di balik badannya.
"Mari bersenang-senang, kau tidak akan menyesal," kata Nathan dengan wajah yang beringas, Ceyasa sebenarnya cukup ketakutan melihat Nathan, tapi dia tidak ingin menunjukkannya, memandangnya dengan sangat tajam, Nathan tersenyum yang terlihat menjijikan bagi Ceyasa.
__ADS_1
"Jangan mendekat! " kata Ceyasa yang tampak panik.
"Kalau tidak apa? rumahmu jauh dari rumah yang lain, bahkan jika kau berteriak, tidak ada yang akan mendengarmu Ceyasa," kata Nathan dengan suaranya yang terdengar menakutkan.
Ceyasa tidak membalas apapun, dia segera mengayunkan payung itu tepat ke kepala Nathan, pukulan keras itu mengenai sisi kepala Nathan, membuatnya kaget dan juga membuat Nathan sedikit terhuyung.
Melihat kesempatan itu, Ceyasa segera saja lari keluar, tidak ingin melihat bagaimana keadaan Nathan, yang pasti dia ingin pergi menjauh dari pria itu, di tengah rintik hujan yang mulai turun, Ceyasa langsung berlari, sialnya Nathan pun langsung tanggap dan mengejarnya.
"Kembali kau ke sini, dasar wanita murahan," teriak Nathan yang masih memegangi kepalanya yang cukup sakit terkena hantaman itu.
Archie baru saja berjalan pulang ke rumah Ceyasa, dia sedikit merasa canggung jika harus bertemu dengan Ceyasa karena apa yang sudah dibuatnya tadi siang pada Ceyasa, dia pasti sangat kaget dengan apa yang dilakukan oleh Archie padanya tadi, Archie tak tahu kenapa setiap dia marah, seolah dia bisa melupakan segalanya, dia sudah berusaha untuk mengontrol dirinya, namun sesekali masih tak bisa.
Saat dia turun dan ingin mengarah ke rumah Ceyasa, dia melihat seorang pria berlari keluar, Archie melihat hal itu kaget, apa lagi dia mendengar pria itu memanggil Ceyasa, Archie merasa ada yang tidak beres dan tanpa pikir panjang lagi, dia pun mengejar pria itu.
Ceyasa bingung, dia hanya terus berlari, dia tidak ingin Nathan menangkapnya namun udara dingin dan rintik hujan membuatnya cepat kelelahan dan beberapa kali hendak terjatuh karena licin, dia lalu masuk ke semak-semak mencoba menutup mulutnya agar tidak terdengar suara napasnya yang memburu, matanya yang ketakutan tampak awas, apa yang merasuki Nathan hingga dia bisa begitu? Dia pikir pria itu pria yang baik, tapi ternyata.
"Ceyasa!" kata Nathan yang berhenti tak jauh dari tempat Ceyasa bersembunyi, Ceyasa menutup mulutnya yang ketakutan, melihat Nathan yang juga tampak terengah-engah mengambil napas. Tiba-tiba Ceyasa merasa sesuatu yang dingin berjalan di kakinya, saat dia melihat ke arah kakinya, dia melihat seekor ular sawah tak terlalu besar, namun dengan perlahan merayap melewati kakinya yang basah, Ceyasa memekik tertahan, sisik-sisiknya yang dingin itu terasa melewati kulit kakinya, Ceyasa tidak tahu mana yang lebih menyeramkan, Nathan kah, atau ular yang melewati kakinya.
"Lepaskan aku! Tolong! " teriak Ceyasa kaget melihat wajah bengis Nathan yang penuh dengan nafsu menatapnya dikeremangan malam.
"Diam lah!" kata Nathan penuh emosi, dia langsung menampar Ceyasa dengan tenaga penuh, membuat Ceyasa lunglai, telinganya berdengung, bibirnya terasa perih tersobek sedikit. Nathan mencoba untuk mencium paksa Ceyasa namun Ceyasa tak membiarkannya, dia mencoba untuk berontak sekuat tenaga. Namun tiba-tiba tubuh Archie di tarik seseorang, dan dengan cepat sebuah pukulan telak mendarat di rahang Nathan. Membuat Nathan langsung tersungkur ke semak-semak.
Ceyasa yang kaget bisa melihat Archie yang menatapnya dengan tajam, Archie segera menarik kerah baju Nathan, Nathan menatap Archie yang terlihat samar-samar dari matanya.
"Siapa kau?" tanya Nathan dengan wajah yang sedikit kemerahan.
Archie tidak menjawab, langsung memberikan pukulan lagi kepada Nathan, Archie yang awalnya ingin menolong Ceyasa malah merasa ketagihan untuk memukul Nathan, seolah dirinya benar-benar bisa melampiaskan semuanya kepada Nathan, semua emosi yang sebenarnya tidak berkaitan dengan Nathan dan Ceyasa malah tersalurkan olehnya.
Ceyasa yang awalnya melihat Archie memukul Nathan mengira Archie hanya memukul karena emosi, tapi ketika dia melihat Archie seperti kesehatan memukul Nathan, Ceyasa malah ketakutan, bisa-bisa Archie malah membunuh Nathan nantinya.
"Cendro, sudah, sudah," kata Ceyasa mencoba membuat Archie berhenti, dia menarik tubuh Archie, Archie yang mendapat terguran dari Ceyasa akhirnya sadar, melihat ke arah Nathan yang sudah tak sadarkan diri dengan wajah yang penuh dengan genangan darah, hujan yang awalnya hanya rintik, saat ini malah melebat, membuat seluruh tubuh Archie dan Ceyasa basah kuyup. Ceyasa sampai kaget melihat wajah Nathan yang sudah tak berbentuk, Archie benar-benar memukulinya dengan sangat-sangat parah.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Archie melihat ke arah Ceyasa yang menggigil, tak tahu karena efek hujan yang sudah mengguyur tubuhnya atau karena melihat hal tadi, semuanya membuatnya syok, Nathan dan Archie menurutnya sama-sama menakutkan.
__ADS_1
"Aku tidak apa-apa," kata Ceyasa dengan bibir biru bergetar, menatap wajah Archie yang menatapnya tajam, dia sungguh takut dengan Archie sekarang, entah kenapa dia merasa Archie bukan orang yang biasa. "Aku ingin pulang," ujar Ceyasa makin gemetaran, Archie yang melihat Ceyasa ketakutan itu malah merasa kasihan, dia pasti sudah membuat wanita itu ketakutan.
"Apa aku masih boleh pulang?" tanya Archie menatap Ceyasa yang sudah mulai membalikkan tubuhnya. Ceyasa terdiam, tapi dia tidak mungkin membiarkan Archie tinggal di jalanan. Ceyasa hanya mengangguk.
Ceyasa masuk ke dalam rumahnya, Archie mengikutinya dari belakang, Ceyasa langsung saja masuk ke dalam kamar mandinya, membersihkan sedikit tubuhnya, masih merasa sangat syok dengan kejadian yang baru saja dia lihat, tadi dia melihat Archie benar-benar menakutkan, seolah dia benar-benar bisa membunuh Nathan.
Ceyasa mencoba menenangkan dirinya, menarik napasnya dalam-dalam, dia harus berpikir jernih, setidaknya Archie sudah menolongnya, kalau tidak ada dia, entah bagaimana keadaan Ceyasa sekarang, sekarang dia malah merasa sedikit tidak enak pada Archie, dia bahkan tidak berterima kasih pada Archie, Ceyasa secepatnya keluar dari kamar mandi itu, tidak ingin membuat Archie menunggu lama.
Saat Ceyasa membuka pintunya, Archie ternyata sudah berdiri di sisi kamar mandinya, membuat Ceyasa langsung kaget melihatnya. Wajah Archie terlihat dingin dan serius, membuat Ceyasa merasa sedikit takut menyapanya dan yang pasti dia lebih malu karena dia hanya mengunakan handuk, Ceyasa segera masuk lagi ke kamar mandi.
"Bisakah kau pergi dulu, aku hanya mengunakan handuk," kata Ceyasa yang sungkan, karena belum pernah dia seperti ini di depan pria.
"Baiklah, aku akan berbalik dan tidak melihat ke arahmu," kata Archie yang merasa hal ini sedikit lucu, dia besar di lingkungan yang lumayan terbuka, melihat wanita yang hanya mengunakan handuk tak akan membuatnya tergoda.
"Ok, katakan jiika sudah," kata Ceyasa lagi.
"Iya, sudah," kata Archie masih tersenyum, akhirnya dia bisa sedikit tersenyum.
Ceyasa membuka pintu kamar mandi, melihat Archie benar-benar membalikkan tubuhnya agar tidak melihat Ceyasa, dia segera berjalan sedikit berlari, tapi karena tak hati-hati, dia malah terpleset dan jatuh.
"Aduh," kata Ceyasa yang jatuh terduduk, kakinya terasa sangat sakit.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Archie yang kaget mendengar suara jatuh Ceyasa yang cukup keras, Archie yang khawatir langsung mendekatinya.
"Hei, jangan ke sini," kata Ceyasa yang tidak mau Archie mendekatinya, dia tidak memakai apapun di balik handuk ini, jadi kalau Archie mendekat dia takut akan menjadi masalah. Archie yang mendengar perkataan Ceyasa itu langsung berhenti, memangnya kenapa? dia hanya ingin menolong.
"Aku sudah bisa, jangan kemari, aku bisa," kata Ceyasa yang mencoba untuk berdiri dan berusaha untuk menahan handuknya agar tidak jatuh, tapi tetap saja kakinya terasa sangat sakit dan hampir terjatuh lagi.
"Kau benar-benar tidak apa-apa?" tanya Archie yang khawatir melihat Ceyasa yang berjalan sangat kesusahan. terpincang-pincang.
"Iya, tidak apa-apa, mandilah, nanti kau yang sakit," kata Ceyasa berjalan tertatih, Archie yang awalnya ingin menolong tapi karena terus merasa ditolak jadi dia tidak ingin ambil pusing lagi, dia segera masuk ke dalam kamar mandi.
Setelah membersihkan diri Archie segera keluar, melihat rumah itu sudah sepi, sepertinya Ceyasa juga sudah tidur, jadi diurungkan niatnya untuk meminta maaf pada Ceyasa, mungkin besok pagi dia bisa meminta maaf.
__ADS_1