Shameless Prince : Our Incomplete Love Story

Shameless Prince : Our Incomplete Love Story
271 - Aku Tak Percaya Padamu!


__ADS_3

Ceyasa membuka matanya perlahan, melihat keadaan kamar yang tampak remang, dia lalu memperhatikan ruangan itu, megah, sangat megah namun entah kenapa merasa seperti ada di dalam istana, dia melihat gorden yang tebal menutupi jendela, di sisi-sisinya terlihat cahaya yang menyembul keluar, terlihat sudah cukup terang dibalik gorden itu.


Ceyasa mengerutkan dahi, menyibakkan selimut tebal berbahan beludru berwarna hijau tua itu, dia ingat kemarin dia di jemput dan pergi menuju ke istana, tapi di tengah perjalanan dia sangat mengantuk dan tiba-tiba terbangun di sini, bukankah dia seharusnya bertemu dengan Archie?


Ceyasa segera menurunkan kakinya, menginjak lantai yang terlapisi karpet mewah itu, baru saja dia ingin melangkah, kakinya langsung terhenti, melihat sosok yang masuk dengan gayanya yang sangat percaya diri, Rain menghisap rokoknya dalam, membiarkan api menyala di ujung rokoknya, lalu menghembuskan asap yang langsung mengembang ke atas.


"Sudah bangun?" tanya Rain dengan suara datarnya yang dingin, membuat Ceyasa menggigil seketika, tubuhnya gemetar melihat setiap langkah Rain yang semakin mendekatinya, pria ini sudah menimbulkan trauma baginya.


"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Ceyasa dengan suara bergetar ketakutan.


"Aku yang harus bertanya seperti itu, kau tidur di kamar tidurku," kata Rain lagi sambil duduk salah satu sofa di dekat ranjang itu, Ceyasa mengerutkan dahinya dan melirik ranjang, tempat tidur Rain? Ceyasa lalu kembali melihat Rain dan hanya mencoba menjaga jarak sejauh mungkin dari pria menyeramkan itu.


"Apa maumu?" kata Ceyasa menatap ngeri.


"Menurutmu apa?" kata Rain kembali berdiri karena wajah ketakutan Ceyasa yang membuat dirinya tertarik mendekati wanita itu, Ceyasa hanya mundur, namun sialnya dia tertahan oleh tembok, dia melihat ke arah kanan dan kirinya, mencoba untuk lari, namun tangannya segera ditangkap oleh Rain, Rain mencengkram pergelangan tangan Ceyasa dengan begitu erat hingga Ceyasa menyengir kesakitan.

__ADS_1


"Rain, aku tidak membunuh ibumu," kata Ceyasa menggeleng keras, Rain menatap wajah Ceyasa, ekspresi ketakutan Ceyasa sangat terlihat jelas.


"Aku tahu kau tidak membunuhnya, tapi gara-gara dirimulah dia terbunuh," kata Rain menarik Ceyasa lebih dekat, kembali mencengkam dagu Ceyasa, membuat wajah wanita itu untuk melihat ke arah dirinya.


"Tidak, ibumu yang ingin membunuhku," kata Ceyasa sedikit terbata, rahangnya tercengkram erat oleh tangan Rain, membuatnya benar-benar terdongak menatap Rain, betapa pun dia ingin melihat ke arah lain, Rain tetap menahan wajahnya untuk berhadapan dengannya, tangannya pun masih dicengkram erat oleh Rain.


Rain terdiam, dia tentu tidak percaya apa yang baru saja dikatakan oleh Ceyasa, mana mungkin ibunya yang begitu lemah lembut dan penuh perhatian  itu tega membunuh anak umur 3 tahun, Rain menatap mata Ceyasa, menganalisa dari wajahnya ingin melihat apakah ada kebohongan dari matanya, sialnya dia tidak melihat hal itu.


Mata Ceyasa memancarkan keteguhan, dia bahkan tak berkedip menatap tatapan tajam dari mata Rain, dia terlihat menantangnya, Ceyasa tahu dan ingat, semakin dia menunjukkan ketakutannya pada pria ini, semakin beringas dia.


"Aku tidak bohong, ibumu yang menculikku, dia ingin membunuhku padahal Jendral Indra sudah membujuk ibumu agar mengurungkan niatnya tapi dia tetap ingin menembakku, karena itu Jendral Indra terpaksa menembaknya, dia ingin membunuhku untuk balas dendam," kata Ceyasa lagi menjelaskan semuanya agar Rain tahu apa yang terjadi sebenarnya pada malam kelam itu.


Rain menggertakkan giginya, dia masih tidak bisa percaya dengan apa yang keluar dari mulut Ceyasa, baginya dan dalam ingatannya ibunya adalah wanita paling baik yang pernah ada, lemah lembut, penyayang, penuh kasih sayang, sabar, dan bahkan dia tak pernah memarahi Rain sedikit pun, mana mungkin dia percaya bahwa wanita cantik yang melahirkannya itu bisa begitu tega menculik dan ingin membunuh anak kecil, pasti Ceyasa sudah diperintahkan untuk memanipulasi semua ingatannya.


"Sekali lagi kau mengatakan bahwa ibuku melakukan hal seperti itu, kau pasti menyesal," kata Rain menarik rambut Ceyasa, mencengkram erat kepala belakangnya hingga Ceyasa meringis kesakitan. Rain menatap Ceyasa dengan mata penuh amarah yang memerah, gengggamannya itu benar-benar erat, terasa beberapa rambut Ceyasa tercabut dari kulit kepalanya, namun Ceyasa tak ingin mengeluarkan suara kesakitannya, Iblis ini pasti akan menyukainya.

__ADS_1


"Tapi itulah yang sebenarnya," kata Ceyasa tak gentar.


Rain tampak begitu emosi, napasnya dalam dan berat menerpa pipi Ceyasa, tangannya semakin erat menggenggam rambut Ceyasa, benar-benar seolah ingin menumpahkan rasa amarahnya,  bahkan wajahnya memerah dan bergetar, dan tak lama dia kembali menghempaskan kepala Ceyasa ke atas ranjang.


Dia tampak gusar, dia beberapa kali berjalan mondar mandir, kedua tangannya menyisir rambutnya yang pendek, tampak tak bisa menutupi kemelut yang ada di dalam pikirannya, Ceyasa yang melihat hal itu hanya diam, dia berusaha menjauh dari Rain, menyeret tubuhnya ke sudut yang lebih jauh, Rain lalu meliriknya.


"Jangan harap aku melepaskanmu!" kata Rain yang masih tampak gelisah, dia menunjuk Ceyasa yang hanya diam memperhatikannya, kenapa Rain begitu gusar? pikir Ceyasa, dia lalu berjalan dan meninggalkan Ceyasa di kamar itu, suara pintu yang dibanting terdengar keras, Ceyasa hanya diam, di matanya baru terlihat ketakutan, dia merangkak mencoba untuk melihat ke arah ruangan itu, apakah Rain benar sudah keluar dari ruangan itu.


Dengan perlahan dia kembali turun dari ranjangnya, tubuhnya baru gemetar sekarang, gemetar hingga menggigil rasanya, rambutnya tampak acak-acakkan akibat dari tarikan tangan Rain tadi, dan dengan menyeret kakinya perlahan, dia melihat ke arah pintu keluar, ruangan itu kosong, sepertinya Rain memang sudah pergi.


Ceyasa mencoba untuk melihat keberuntungannya, mana tahu Rain sedang emosi dan lupa untuk mengunci kamar itu, tapi sayangnya dia tak seberuntung itu, pintu itu terkunci rapat, Ceyasa yang mendapati hal itu sedikit kesal, dia menarik-narik gagang pintu itu, kenapa harus terkunci sih? Ah, kenapa dia selalu sial? pikir Ceyasa yang ingin berteriak, saking kesalnya dia sampai menangis dan terduduk di lantai, merasa cukup frustasi.


Tiba-tiba dia mendengar suara langkah kaki, suara itu seperti langkah kaki pria, Ceyasa langsung sadar dan menuntup mulutnya, mencoba untuk menahan suara isakan tangisnya, jangan-jangan Rain kembali lagi, dia tak boleh terlihat menangis.


"Tuan Rain memerintahkan menjaga ruangan ini, jangan biarkan siapapun masuk kecuali dia, jangan berikan Nona Ceyasa makan kecuali Tuan Rain mengizinkan," suara seorang pria  seperti memberikan instruksi pada para penjaga.

__ADS_1


Mendengar itu air mata Ceyasa turun lagi, apa lagi salahnya? Dia sudah mengatakan yang sebenarnya pada Rain, Semuanya! tapi kenapa Rain tidak mempercayainya? Kenapa? apa salahnya, Tuhan?


__ADS_2