Shameless Prince : Our Incomplete Love Story

Shameless Prince : Our Incomplete Love Story
321 - Terima kasih Suri!


__ADS_3

Semua orang yang mendengar hal itu kaget, sangat kaget, hingga Bella tidak bisa menutup mulutnya yang terbuka lebar mendengarkan penjelasan dokter itu, melihat wajah Suri yang tampak menangis dengan sangat sedih, dia tersedu-sedu mendengarkan vonis dokter padanya, Suri sebenarnya sudah tahu hal itu, dia tidak bisa mengeluarkan sepatah kata pun semenjak dia bangun, dan kaki kanannya pun tak bisa dia gerakkan, bahkan bergeser pun tidak bisa, dia sangat terpukul mengetahui hal itu, bagaimana dia bisa mengutarakan perasaannya jika yang keluar dari mulutnya hanya suara erangan yang tak jelas, bagaimana dia bisa melewati semuanya, jika kakinya saja tak bisa dia gerakkan lagi.


Jared yang mendengar hal itu terdiam, memandang Suri yang hanya bisa menunduk, menangis cukup histeris, dia tahu istrinya pasti sangat terpukul mendengarkan kabar itu.


"Angga pernah mengalaminya, dan sekarang dia sudah bisa bicara dengan baik, Suri, Suri pasti sembuh, papa juga pernah mengalaminya, jadi Suri pasti bisa sembuh," kata Bella yang merasa dan berharap Suri pasti bisa sembuh, bukannya dulu Angga juga seperti ini?


"Kelainan Yang Mulia dengan yang di alami oleh putri Suri berbeda, pada Yang Mulia Angga, itu hanya kerusakan sementara akibat dari obat kimia, namun pada putri Suri, pecahnya pembuluh darah tidak akan bisa di kembalikan karena sudah rusak secara permanen, putri Suri akan selamanya terkena afasia, Maafkan saya harus menyampaikan kabar ini pada kalian," kata dokter itu dengan suara rendah, menunjukkan simpatinya.


Jared menatap Suri dalam, melihat wanita itu menangis tersedu-sedu dalam pelukan Bella, Bella hanya menatap dokter itu, mengapa begitu tega mengatakan hal itu.


Angga pun hanya bisa terdiam kaku, dia selamanya tak akan pernah lagi mendengar celoteh manja anaknya, bagaimana cerewetnya ia ketika berhadapan dengan Angga, air mata Angga turun, namun terlihat sekali dia mencoba untuk menahannya.


Jared yang masih memengang tangan Suri mengetatkan pegangan tangannya, membuat Suri teralihkan dari pelukan ibunya.


"Hei, Suri, ini semua tidak apa-apa, tidak akan merubah apapun, Tuhan sudah mengambulkan permintaanku, Aku hanya minta kau kembali padaku, bahkan ini jauh lebih baik dari pada pikiranku, kau bisa berbicara atau tidak, itu bukan masalah, karena bagaimanapun aku sudah sangat bersyukur  kau ada bersamaku sekarang, lagi pula kita tetap bisa bicara, kau bisa menuliskan atau bagaimana? aku akan berjanji belajar bahasa isyarat dengan cepat, yang paling penting, kau ada di sini bersama kami," kata Jared sedikit menundukkan tubuhnya, mensejajarkan matanya ke mata indah Suri yang hanya bisa terpaku, terlihat basah namun tak mengurangi keindahannya, seperti kristal yang menawan.


Bella hanya bisa menutup mulutnya, menahan suara tangis mendengar kata-kata Jared yang menyentuh hatinya, ya, saat ini melihat Suri bisa membuka mata, duduk bersama dengannya itu adalah hal yang terbaik yang bisa mereka minta, apa lagi? bukankah masih banyak hal buruk yang bisa saja terjadi?

__ADS_1


"Percayalah padaku, aku tidak menikahi mu karena kata-katamu, aku juga tidak menikahimu karena kau bisa berjalan di sisiku atau tidak, aku menikahimu karena dirimu, aku menikahimu untuk selalu berada di sampingmu,” kata Jared, dia menarik napasnya sejenak, Jared lalu memberikan senyuman manisnya, "aku tahu kau sudah berjuang dengan sangat berat, kau sangat hebat, kau melewati semuanya dengan sangat baik,  Suri, terima kasih, terima kasih sudah berjuang untuk kembali padaku, Terima kasih," kata Jared menjelaskan pada Suri, dia mencium tangan Suri yang dari tadi dia pegang lalu dahi Suri dengan begitu hangat, membuat air mata Suri kembali meleleh namun tak lagi tersedu ataupun histeris, namun tersentuh begitu dalam dengan kata-kata Jared, Mendengarkan ketulusan itu, membuat hatinya menjadi tenang.


Bella yang mendengar itu segera menghapus air matanya dengan keras, dia menarik napasnya dengan sangat dalam lalu memasang senyuman manisnya, saat ini mereka harus membuat Suri senang, tenang dan merasa di terima, Suri tak butuh tangis mereka, Suri hanya butuh dukungan mereka.


"Benar, tidak peduli Suri bisa berbicara atau tidak, bisa berjalan atau tidak, atau bahkan tidak bisa melakukan apapun, Mama tidak peduli, Suri adalah putri Mama dan melihat Suri sekarang bisa ada di samping Mama, itu sudah menjadi sesuatu yang  terbaik buat Mama dan Papa, terima kasih Suri sudah kembali untuk Papa dan Mama, Mama sangat senang," kata Bella dengan senang, seolah benar-benar berterima kasih kepada Suri, Angga pun memasang senyumannya, mengelus kepala Suri dengan sangat lembut seperti yang sering dia lakukan saat Suri kecil.


"Ma … eh … Pa …. " kata Suri begitu sulit hanya mengeluarkan kata-kata itu.


"Jangan dipaksakan, Kita bisa berkomunikasi dengan bahasa isyarat, Papa dan Mama dulu juga suka melakukannya," kata Bella dengan senyuman manisnya sambil melirik Angga.


"Benar, Kita akan belajar itu bersama," kata Jared lagi membuat bola mata seindah berlian itu kembali melihatnya.


"Selamat datang lagi Suri, aku senang sekarang kau sudah bisa bebas dari penyakit itu, percayalah, Jared akan lebih suka jika tidak ada yang mencerewetinya nanti," kata Archie sedikit menguraikan kesedihan yang sedikit tersisa.


"Apa maksudmu?" kata Ceyasa melirik ke arah Archie, "aku cerewet, gitu?"


"Tuh kan?" kata Archie lagi sambil melirik ke arah Ceyasa yang tampak memasang wajah cemberut, hal itu sukses sedikit memancing senyum Suri yang membuat Jared dan keluarganya senang melihatnya.

__ADS_1


"Keadaan putri masih sangat rentan, Anda tak boleh terlalu stress, perlahan-lahan kita bisa melakukan fisioterapi dengan keadaan kaki Anda, saya tidak bisa berjanji akan kembali seratus persen namun kemungkinan itu bisa terjadi, jadi jangan putus harapan, yang Anda butuhkan adalah selalu semangat untuk kembali bangkit," kata dokter Malvis yang senang melihat tanggapan dan juga penerimaan yang luar biasa dari keluarga Suri, memang itulah yang dibutuhkannya sekarang.


"Terima kasih dokter," kata Bella melihat dokter Malvis, dokter Malvis hanya mengangguk, perasaannya cukup lega, dia memberikan salam sejenak lalu segera keluar dari ruangan itu.


"Sepertinya aku juga sudah tidak dibutuhkan di sini, aku harus mengembalikan anak perempuan ini kepada ayahnya yang tadi malam sudah mengancamku jika tidak mengembalikan anaknya hari ini dia akan segera melarangku untuk menikahinya, sepertinya ayah mertuaku sangat terpaksa menikahkan anakknya pada ku," kata Archie melirik Ceyasa, Ceyasa yang mendengar itu langsung melotot pada Archie, Ceyasa langsung mencubit sisi perut Archie, membuat Archie langsung meringis ke sakitan.


"Apaan sih?" kata Archie kesal.


"Kenapa malah berbicara seperti itu tentang ayahku?" tanya Ceyasa sambil menaikan dagunya dan memandang Archie kesal.


"Memang ayahmu bilang dia terpaksa kan? Kalau aku tidak benar-benar jatuh cinta padamu, aku tidak akan menikahimu," kata Archie dan Ceyasa  yang sudah tak sadar ada orang yang baru saja sadar dari koma di hadapan mereka.


"Ehm … bisakah pertengkaran rumah tangganya jangan dilakukan di sini?" tegur Bella yang langsung membuat Archie dan Ceyasa kembali ke ruangan itu, memandang Jared, Suri, Bella dan Angga yang mengerutkan dahi melihat tingkah mereka.


"Maafkan kami Bibi, tuh kan, kau memang tak punya malu, ayo kita pergi sekarang," kata Ceyasa memasang wajah sungkannya.


"Kami permisi dulu," kata Archie memberikan salam sempurnanya pada keluarga pamannya, Ceyasa yang melihat itu langsung mengikutinya.

__ADS_1


"Baik, bangkitlah, hati-hati saat perjalanan pulang," suara Angga terdengar lebih ringan dari beberapa hari ini, Archie mengangguk, lalu segera menarik Ceyasa untuk keluar dari ruangan itu, meninggalkan sedikit tawa bagi yang melihat tingkah mereka.


__ADS_2