Shameless Prince : Our Incomplete Love Story

Shameless Prince : Our Incomplete Love Story
356 - mungkin esok.


__ADS_3

Di depan pintu ruangan Ceyasa, dokter sudah menunggu.


"Bagaimana keadaannya?" tanya Archie cepat.


"Yang Mulia Ratu keadaannya stabil, namun masih sangat lemah, jika ingin melihat, diperbolehkan namun hanya boleh 1 orang yang masuk ke dalam ruangan ini," kata dokter itu melihat Archie dan Jofan yang tampak antusias.


Archie memandang Jofan, tak mungkin mengajuka dirinya sendiri pada ayah mertuanya ini, Jofan pun sebenarnya sangat berharap bertemu dengan anaknya, namun dia mengerti, saat ini yang pastinya ingin Ceyasa temui adalah Archie.


"Kau dulu," kata Jofan pada Archie.


"Terima kasih, Ayah," kata Archie.


Archie masuk ke dalam ruangan itu, sebelumnya dia diharuskan mencuci tangan dan menggunakan pakaian khusus, setelah itu ruangan dibukakan lebar untuknya, Archie berjalan perlahan melihat tubuh Ceyasa yang tampak hanya berbaring, dia lalu segera mendekati Ceyasa, Ceyasa yang masih sedikit merasakan sakit kepala, dia masih cukup linglung, mungkin pengaruh biusnya belum juga hilang.


"Hei, bagaimana perasaanmu?" tanya Archie menatap Ceyasa yang meliriknya kebingungan, tangan Archie menyisip menggenggam tangan Ceyasa.


"Ini dimana?" tanya Ceyasa yang melirik Archie. Archie tersenyum melihat bibir pucat istrinya, di lehernya terlihat goresan bekas penekanan pisau.


"Di rumah sakit, bagaimana keadaanmu, apakah ada yang sakit?" tanya Archie begitu lembut, mencoba sekuat tenaga untuk tak lagi terlihat lemah.


"Hmm ..." kata Ceyasa mengamati, dia melihat sekeliling lalu jatuh pada daerah perutnya, perutnya rata, Ceyasa membesarkan matanya, kemarin bukannya dia masih mengandung?


"Archie? ... Archie? Mana anak kita?!" kata Ceyasa panik, dia tak belum ingat dengan peristiwa dramatis tadi, sebuah pertahanan tubuh untuk tetap menjaga agar keadaan kejiwaan tetap stabil, seseorang bisa melupakan peristiwa traumatis yang dia hadapi sebelumnya.


Archie melirik ke arah perut Ceyasa, sudah rata seperti sebelumnya, menggelitik sisi sedihnya, apa yang harus dia katakan pada Ceyasa, mengatakan anaknya sekarang juga sedang bertaruh nyawa di ruang NICU, Ceyasa pasti terpukul dan juga akan membuat keadaanya kembali menurun.


"Anak kita sudah lahir," kata Archie mencoba tersenyum, mengetatkan genggaman tangannya pada tangan Ceyasa yang tampak panik.


"Lahir? bukannya dia baru 7 bulan? kenapa aku melahirkan sekarang?" kata Ceyasa melepaskan tangannya dari genggaman Archie, menyibakkan selimut yang menutupi tubuhnya, mendapati perutnya yang di perban. Ceyasa tanpa sadar menangis karenanya, apa yang terjadi?


Archie segera menutup kembali perut Ceyasa, menutupnya agar terasa hangat.

__ADS_1


"Apa yang terjadi? anakku? dimana anak kita?" tanya Ceyasa lirih, rasanya begitu sedih, apa yang terjadi? kenapa anaknya harus dilahirkan sekarang?


"Ceyasa, tidak apa-apa, anak kita harus dilahirkan sekarang, dia tak apa-apa," kata Archie juga menahan air matanya, dia pilu melihat istrinya ini.


"Benarkah? dia tidak apa-apa?" kata Ceyasa.


"Benar, kita akan melihatnya segera, cepatlah pulih, kita akan melihatnya, bukankah Tuhan memberikan kita anugrah untuk bisa melihatnya lebih cepat?" kata Archie dengan senyuman diantara tangisnya.


Ceyasa mengerutkan dahinya, namun mencoba tenang, dia mengangguk-anggukan kepalanya.


"Berjanjilah untuk menjaganya, aku tak apa-apa, dia pasti sangat kesepian, ayah dan ibunya tak ada di sana," kata Ceyasa, air matanya mengalir deras, membayangkan anaknya yang sekarang sendiri, seharusnya dia ada di sampingnya sekarang.


"Pasti," kata Archie.


"Bagaimana dia? sudah kah kau bertemu dengannya? dia perempuan atau laki-laki," tanya Ceyasa lagi, mencoba untuk tetap berpikir positif.


"Aku belum bertemu, dokter mengatakan setelah lahir dia harus di awasi 24 jam dulu, karena itu cepatlah sembuh agar bisa ke sana," kata Archie.


Suasana hening sejenak, namun segera pecah ketika mendengar ketukan dari kaca yang ada di depan ranjang Ceyasa, Ceyasa kaget melihat begitu banyak keluarga mereka yang ada di sana.


Ceyasa mengerutkan dahinya, mencoba untuk tersenyum melihat keluarganya yang menyambut Ceyasa dengan senyuman, Ceyasa melirik Archie.


"Mereka datang untuk menyemangatimu," kata Archie menjelaskannya.


"Ayah dan ibu juga? kenapa mereka pulang?" kata Ceyasa yang merasa cukup aneh dengan hal ini.


"Tentu untuk menyambut Cucu pertama mereka, aku sudah mengatakan jangan pulang, tapi mereka tetap pulang," kata Archie mengarang cerita agar Ceyasa tak terlalu banyak bertanya.


"Oh," kata Ceyasa percaya saja.


"Yang Mulia, sudah cukup malam, biarkan Yang Mulia Ratu beristirahat kembali, " kata dokter yang harus menghentikan pertemuan ini, bagaimana pun keadaan Ceyasa masih sangat lemah.

__ADS_1


"Baiklah, aku akan menunggumu di sana, jangan takut, cobalah untuk kembali tidur," kata Archie, memberikan ciuman wajibnya sebelum tidur.


"Archie, jaga saja anak kita," kata Ceyasa lirih.


"Aku akan menjaga kalian berdua, sudah jangan dipikirkan, istirahatlah agar secepatnya kita bertemu dengan anak kita," kata Archie, mengulum senyum, menyamarkan rasa ragu entah kapan mereka akan bertemu dengan anak mereka, apakah hal itu akan terjadi?


"Ya, terima kasih, Papa," ucap Ceyasa mengulas senyuman manis.


Archie tak membalas senyuman Ceyasa, dengan cepat dia segera memalingkan wajahnya, kata-kata papa itu sangat menyakitkan sekarang, bagaimana pun dia tahu keadaan anak mereka sangat kritis sekarang. Archie keluar dari ruang itu tepat sebelum air matanya turun, dia bersender di dinding sambil menahan gejolak perasaannya, rasanya begitu menyiksa, Archie tak bisa menahan air matanya.


"Yang Mulia," kata Dokter itu, sedikit sungkan dengan keadaan ini.


"Ya, Ya, ada apa? bagaimana istriku tak ingat dengan kejadian yang baru dia alami," kata Archie menghapus air mata dan air dari hidungnya.


"Aku rasa Yang Mulia Ratu mengalami Amnesia Psikologis, sebuah hilang ingatan karena tekanan psikologis yang kuat, hingga seseorang melupakan apa yang terjadi padanya saat peristiwa yang sangat menekan psikisnya," jelas dokter itu.


"Apakah itu akan selamanya?" tanya Archie.


"Terkadang menetap, namun terkadang juga tidak, itu semua tergantung keadaannya," kata Dokter lagi.


"Baiklah, bagaimana dengan anakku?" kata Archie lagi, dia harus tau keadaan anaknya.


"Keadaan Pangeran masih harus dipantau, tak bisa saya pungkiri, Pangeran masih dalam status kritis," kata dokter itu.


Pangeran? mereka memiliki seorang pangeran? itu artinya anaknya adalah laki-laki, sebuah kabar bahagia tentunya untuk Ceyasa, dia selalu ingin punya anak laki-laki, ternyata Tuhan mengabulkannya, Archie sedikit tersenyum mendengarnya.


"Apakah dia bisa bertahan? tolong katakan yang sebenarnya," kata Archie lagi.


"Kami akan melakukan yang terbaik," kata Dokter itu.


Archie mengulum senyuman mendapatkan jawaban yang tak pasti itu, rasanya hatinya tahu yang akan terjadi, Archie menarik napas panjang, tak tahu harus apa, dia hanya mengangguk sejenak, membuka baju khusus itu lalu segera keluar dari sana.

__ADS_1


Semalaman, Archie menunggu di sana, di ruang berbatas kaca, melihat Ceyasa yang sepertinya terkena efek obat hingga tidur dengan pulas. Dia memang belum bisa ke tempat anaknya, mungkin esok.


__ADS_2