
Aurora meletakkan makanan yang dia buat di atas meja makan, dia tampak puas dengan berbagai macam makanan yang sudah dia siapkan dari tadi pagi, dia tahu anak-anaknya akan datang hari ini, jadi dia ingin menyiapkan makanan spesial bagi mereka, apa lagi dia sudah cukup merindukan kedua anaknya itu, cukup lama pula mereka tidak bertemu.
Jofan memeluk istrinya dari belakang, membuat Aurora sedikit terkejut dengan perlakuannya, Aurora sangat sibuk di dapur hingga tidak mengetahui bahwa Jofan sudah bangun dan memperhatikannya dari tadi.
"Jam berapa kau bangun?" ujar Jofan sedikit terkejut melihat begitu banyak makanan yang sudah tersedia di atas meja makan mereka.
"Oh, jam 4 tadi, Jared dan Jenny akan datang, aku ingin mereka senang ada di sini," ujar Aurora menatap suaminya yang ada di belakangnya.
"Mereka pasti senang, tenang saja," ujar Jofan menarik napas cukup panjang.
"Kau gugup?" tanya Aurora yang melihat wajah Jofan.
"Sedikit, aku masih belum begitu yakin bagaimana harus menjelaskannya pada mereka," ujar Jofan lagi, dia melepaskan pelukannya, membalikkan tubuh Aurora agar berhadapan dengannya.
"Katakan saja yang sejujurnya, mereka sudah dewasa, dan mereka anak yang baik, mereka pasti sangat mengerti, lagi pula, Siena anak yang sangat baik, aku rasa mereka akan segera akrab," ujar Aurora memandang mata indah Jofan, Jofan sedikit tersenyum, hatinya sedikit tenang mendapatkan nasehat dengan suara lembut Aurora.
"Aku harap begitu," kata Jofan masih penuh keraguan.
"Tuan, laporan hari ini, semua masih seperti biasanya," ujar Dokter Elly melaporkan keadaan Sania, seperti biasa yang di lakukannya.
"Baiklah, terima kasih," ujar Jofan.
"Sama-sama Tuan, jika tidak ada hal lain, aku dan beberpa perawat akan pergi ke laboratorium sebentar," ucap Dokter Elly.
"Tunggulah setelah sarapan, aku juga sudah menyediakan makanan untuk kalian semua," ucap Aurora begitu ramah hingga Dokter Elly tak enak menolaknya.
"Baik Nyonya, saya permisi," kata Dokter Elly meninggalkan pasangan itu.
Aurora kembali menatap suaminya, sejenak hampir terperangkap, namun ini pagi yang sibuk jadi Aurora segera ingat apa yang harus dia lakukan.
__ADS_1
"Aku harus memastikan ruangan Sania baik, kira-kira jam berapa mereka akan datang?" tanya Aurora lagi.
"Mungkin sebentar lagi, Jared sudah memberi kabar mereka akan ke rumah sakit dahulu untuk menjengguk Bella, lalu setelah itu mereka akan langsung kesini," kata Jofan lagi, sedikit menyeruput air putih yang sudah tersedia di sana.
"Baiklah, bersiap lah, aku akan menyediakan bajumu setelah memeriksa ruangan Sania," ujar Aurora lagi, Jofan tersenyum melepas kepergian istrinya yang menuju ruangan Sania.
Aurora menuju ke ruangan Aurora, dia sedikit terhenti melihat Siena yang ada di dalam ruangan ibunya, sudah beberapa hari ini dia menyakinkan Siena agar Siena ingin menemui ibunya, namun Siena selalu menolaknya, melihat Siena ada di dalam sana pagi ini, membuat Aurora cukup senang.
Jofan yang awalnya ingin mandi, memutuskan untuk melihat keadaan Sania dulu, dia juga terdiam di belakang Aurora saat dia melihat Siena ada di dalam sana.
"Lihatlah, akhirnya dia sudah bisa masuk ke dalam sana," ujar Aurora tersenyum manis.
Jofan mengangguk, sedikit merasa terharu melihat Siena yang akhirnya bisa menerima keadaan ibunya, mereka tidak ingin mengganggu keadaan di dalam sana, jadi Aurora memutuskan lebih baik dia membersihkan tubuh dulu untuk menyambut anak-anaknya, setelah mengamati cukup lama, Jofan pun kembali melanjutkan pekerjaannya.
Di dalam ruangan Sania.
Siena mengenggam tangan Sania yang cukup dingin, tangannya hanya terasa tulang, sudah mengecil karena puluhan tahun tak digunakan, hanya organ-orang vitalnya saja yang masih berfungsi, selainnya, tak ada lagi yang normal di tubuhnya.
"Ibu, ini aku," bisik Siena.
Senyap, hanya suara alat pemantau tanda vital Sania yang terdengar.
"Ibu, aku harap ibu tidak seperti ini, aku akan berdoa dan melakukan terbaik agar ibu terlepas dari segala penderitaan ini," ujar Siena lagi, namun sama saja semuanya senyap.
Siena menarik dirinya, sekali lagi diam cukup lama untuk bisa mengamati wajah ibunya yang kecantikannya bahkan tak terlihat lagi, dia sedikit tersenyum, kembali menikmati keheningan dan tangan kurus ibunya yang digenggamnya cukup lama.
----***----
Aurora baru saja selesai membersihkan dirinya, dia lalu berjalan kembali ke ruang makan dan mendapati Siena sudah duduk di sana sendiri.
__ADS_1
"Selamat Pagi," ujar Siena dengan ulasan senyum manis di bibirnya yang kecil.
"Selamat pagi," ujar Aurora mengambil susu kotak dan menuangkannya ke dalam sebuah gelas, lalu menyerahkannya pada Siena.
"Terima kasih," ujar Siena lagi.
"Sama-sama," ujar Aurora tersenyum manis. Siena hanya meliriknya sedikit, mengembangkan senyuman tipis. Lalu suasana terlihat sedikit canggung, Aurora memang belum terlalu dekat dengan Siena, pribadinya yang cukup tertutup membuat Aurora kesulitan untuk langsung dekat dengannya.
Suara bel terdengar, membuat Aurora langsung menghentikan pekerjaannya, dan langsung berjalan menuju ke arah pintu utama mereka, ternyata tak hanya Aurora yang mendengarnya, Jofan pun tampak sedang menuju ke arah pintu utama itu.
Jofan dengan cepat membuka pintu rumah mereka, dan benar saja yang telah ditunggu akhirnya datang juga.
"Bibi! Aku sangat merindukanmu!" ujar Jenny yang langsung menghambur melihat ke arah bibinya, dia benar-benar sudah merindukan bibinya ini yang dari kecil sudah di anggapnya sebagai ibunya sendiri, bahkan dia tidak bisa meminta lebih dari bibinya untuk menjadi ibunya.
"Jenny, bibi juga merindukanmu," ujar Aurora memeluk anak gadisnya yang sangat di manjanya. Mata Aurora menatap anaknya yang lain, tersenyum sangat hangat padanya.
"Bibi, apa kabarmu?" ujar Jared dengan suara berat khas dirinya.
"Baik, Jared bagaimana kabarmu? apa perusahaan membuatmu begitu sibuk?" tanya Aurora penuh dengan perhatian, cukup lama tak melihat anak laki-lakinya ini.
"Tidak juga," ujar Jared tersenyum manis.
Jared dan Jenny menatap pamannya, walaupun pamannya adalah paman kandung mereka, sudah cukup lama mereka tak terlalu dekat dengan pamannya ini, membuat hubungan mereka sedikit kaku, jadi Jared dan Jenny hanya tersenyum pada Jofan, Jofan merasakan perbedaan ini.
"Bibi, aku lapar, aku sengaja tidak makan di istana demi makan masakan Bibi, Bibi masak kan?" ucap Jenny lagi, menggandeng tangan bibinya, dan kepalanya di sandarkannya di bahu Aurora, begitu manja dan lengket, seolah tak ingin terpisah. Mereka berjalan menuju ke ruang makan.
"Semua masakan yang Jenny suka sudah bibi siapkan," kata Aurora lembut meladeni tingkah Jenny
"Benarkah! wah aku akan sangat sen …. " ujar Jenny yang awalnya menggebu-gebu dengan semangat tiba-tiba hilang ketika melihat seorang wanita seumurannya duduk di meja makan itu, siapa dia? pikir Jenny, Jared yang melihat wanita itu juga ikut mengerutkan dahinya.
__ADS_1