Shameless Prince : Our Incomplete Love Story

Shameless Prince : Our Incomplete Love Story
293 - Kalau kau tidak mau, ya sudah.


__ADS_3

Ceyasa memasukkan baju hangat pada koper yang akan dibawa oleh Jofan, dia hanya membawa sedikit barang karena memang tujuannya hanya ingin menjemput Aurora dan Jenny, Ceyasa lalu melihat ke arah ayahnya yang terpaku menatap ke luar jendela, dia lalu mendatanginya perlahan, tak ingin cepat-cepat membuyarkan apapun yang sekarang menjadi pikiran ayahnya.


 


"Apa yang ayah pikirkan?" tanya Ceyasa yang melihat wajah ayahnya, sudah cukup berumur namun tetap gagah, pasti ayahnya begitu tampan saat mudanya, Jofan melirik Ceyasa, sedikit memberikan senyuman hangat yang mengayomi.


 


"Hanya sedikit berpikir, bagaimana jika ibu sambungmu ternyata sudah melupakan ayah, ayah pergi tanpa pesan dan tiba-tiba datang untuk menemuinya," kata Jofan yang mengeluarkan isi kepalanya pada putriya, dia rasa dia bisa mempercayai putrinya sendiri.


 


"Bibi Aurora orang yang sangat lembut dan penuh kasih sayang, walaupun tak sempat berbicara dengannya, namun dia begitu ramah, dia orang pertama yang memberikan senyuman manis padaku di sini, aku rasa dia akan terus mencintai ayah, aku percaya, kalian memang ditakdirkan untuk bersama," semangat Ceyasa pada ayahnya yang tak putus memandangnya, mendengar hal itu Jofan menaikan sudut bibirnya.


 


"Dulu, Ayah sangat mencintai Ibumu," kata Jofan membuang kembali ke luar jendela yang mulai menerang, meninggalkan gelap malam.


"Aku yakin itu," kata Ceyasa tersenyum, melihat ke arah luar jendela lagi.


"23 tahun ayah mencarinya, dan ayah benar-benar menutup semua hati ayah hanya untuknya, namun ternyata dia juga meninggalkan ayah selamanya dan meninggalkan kau sebagai gantinya," kata Jofan melirik putrinya yang wajahnya tampak cantik tertimpa lampu kamar itu. Ceyasa tersenyum.


 


"Aku sudah ada di sini, aku yakin ibu pun ingin sekarang ayah mengejar kebahagiaan ayah yang sebenarnya, dan aku yakin hanya bibi Aurora yang bisa membuat ayah merasakan cinta kembali dan kalian adalah kebahagian bagi diri kalian masing-masing, karena itu, berjanjilah padaku bagaimana pun nantinya, bawa kembali bibi Aurora ke sini secepatnya," kata Ceyasa lagi melihat wajah ayahnya.


 


"Baiklah, ayah harus segera pergi ke bandara, pesawat ayah sudah menunggu di sana," kata Jofan lagi melirik jam yang sudah hampir menunjukan pukul 06.00 pagi.


"Ya, ayah yakin tak ingin aku antar hingga ke bandara?" tanya Ceyasa lagi.


"Tidak perlu, istirahatlah, ayah akan segera kembali," kata Jofan lagi menyambut pelukan dari Ceyasa.


"Ya, ayah harus pulang," kata Ceyasa lagi melihat ayahnya yang telah melepaskan pelukannya, mengambil koper yang sudah di siapkan oleh Ceyasa tadi, Jofan hanya mengangguk lalu dia segera menjulurkan tangannya, kembali merangkul Ceyasa sembari mereka keluar dari kamar dan segera menuju ke gerbang utama, Jared yang sudah menunggu di ruang tamu segera melihat Jofan dan Ceyasa yang mendekatinya.

__ADS_1


"Paman yakin tak ingin di antar hingga bandara?" tanya Jared yang sama dengan pertanyaan Ceyasa tadi.


"Tak perlu, paman hanya pergi sebentar, tak perlu khawatir," kata Jofan lagi memberikan senyuman pada Jofan.


"Baiklah," kata Jared lagi.


"Hati-hati di jalan paman," suara lembut Suri yang langsung disambut anggukan dan juga senyuman manis oleh Jofan, dia lalu melihat mobilnya sudah siap untuk mengantarkannya ke bandara, pelayan juga sudah siap memasukkan barang bawaannya ke bagasi, Jofan lalu berjalan beriringan dengan Ceyasa, Jared dan Suri mengikutinya dari belakang.


"Hati-hati di jalan, Paman," kata Archie yang menyambut Jofan.


"Ya, jagalah putriku selama aku tidak ada," kata Jofan yang berdiri di depan pintu mobil yang sudah terbuka, melihat Archie yang langsung menyambut Ceyasa, merangkul pinggang kecil anaknya.


"Baiklah, Paman tak perlu khawatir, ada aku yang akan menjaganya," kata Archie dengan wajah yang terlihat serius, Jofan mengangguk kecil, lalu segera masuk ke dalam mobil yang akan membawanya ke bandara, dia membuka jendela mobilnya, menatap keponakan dan juga anaknya sebelum mobilnya melaju meninggalkan area istana itu.


 


"Ayahmu sudah pergi," bisik Archie setelah Jared dan Suri yang juga meninggalkan mereka.


"Lalu? "kata Ceyasa melirik Archie dengan wajah pura-pura bertanya.


"Sekarang Kita bebas," kata Archie dengan senyuman senang.


"Ya, tentu, kalau ada ayahmu aku bahkan kesulitan mendekatimu, sekarang aku bisa dengan leluasa berdekatan denganmu," kata Archie yang ingin memeluk Ceyasa, namun Ceyasa langsung berjongkok menjauhkan dirinya dari Archie. Archie melihat itu sedikit mengerutkan dahi, padahal dia sudah lama menahan diri untuk tidak bermesraan dengan istrinya ini, tapi Ceyasa malah bersikap jual malah, Archie memasang wajahnya kesal, memang ya, wanita ini sangat menyebalkan, apa dia tidak tahu Archie sudah menahan gejolak rindunya selama ini.


"Jangan coba-coba, aku tidak menerima permintaanmu," kata Ceyasa yang sedikit jual mahal, dia mulai berdiri tegak lagi.


"Aku tidak meminta, aku memaksa," kata Archie yang langsung memeluk pinggang Ceyasa, mengendong wanita itu di bahunya seperti mengendong sebuah karung, Ceyasa yang melihat Archie memanggulnya langsung ketakutan, namun Archie tidak peduli, dia langsung membawa Ceyasa menuju ke istananya.


 


"Turunkan tidak, kalau tidak aku akan teriak nih!" kata Ceyasa yang sedikit berontak di atas gendongan Archie.


"Teriak saja, tidak akan ada yang menolongmu dan semakin kau meronta, kita akan menjadi pusat perhatian," kata Archie lagi yang sepertinya sangat mudah memanggul Ceyasa di pundaknya.


"Baiklah aku akan menurut, tapi  turunkan aku sekarang," kata Ceyasa lagi yang tahu seberapa keras kepala suaminya ini.

__ADS_1


"Benarkah?" tanya Archie lagi.


"Benar, ayo turunkan aku! aku mulai pusing begini," kata Ceyasa lagi.


 


Archie perlahan menurunkan Ceyasa, melihat wajah Ceyasa yang memerah karena malu melihat beberapa penjaga yang memandangi mereka dari tadi, Archie benar-benar tidak tahu malu.


"Kau tidak malu, semua penjaga melihat kita," kata Ceyasa.


"Kenapa harus malu? Mereka bekerja untukku dan pamanku, lagi pula kalau kau tadi tidak sok jual mahal, aku tidak akan memaksamu seperti ini, jadi ini adalah salahmu," kata Archie lagi.


"Bagaimana bisa ini salahku, ini salahmu, kan ayahku bilang kau jangan macam-macam," kata Ceyasa lagi tak ingin di salahkan.


"Mentang-mentang sekarang punya ayah, semua harus izin ayahmu ya?" kata Archie kesal.


"Iya dong, wek," kata Ceyasa mengejek Archie.


"Baiklah kalau tidak mau bermesraan denganku, aku pergi saja," kata Archie yang tampak merajuk, dia pergi meninggalkan Ceyasa begitu saja, membuat Ceyasa mengerutkan dahi, kenapa malah Archie yang ngambek sekarang?


"Hei, kau mau kemana?" kata Ceyasa yang mengejar Archie.


"Mau tidur," acuh Archie yang tak peduli, Ceyasa yang tampak bingung mengikutinya masuk ke istananya.


"Sudah pagi kenapa mau tidur lagi?" kata Ceyasa yang mencoba mengejar Archie, namun tiba-tiba Archie berhenti dan berbalik badan melihat Ceyasa, Ceyasa yang tadinya mengejar jadinya menabrak tubuh Archie. Archie langsung mengambil kesempatan itu mendekap Ceyasa agar tak menjauh darinya, Ceyasa lalu melihat wajah Archie yang memandangnya dengan tatapan tajam namun juga lembut, tatapan penuh makna.


"Aku ingin tidur dengamu," kata Archie yang terdengar serius dan sendu.


"Tapi masih pagi," kata Ceyasa yang mencari-cari alasan.


"Kita pernah melakukannya pagi hari," kata Archie lagi dengan senyuman tipis mengembang, tahu Ceyasa hanya mencari-cari alasan.


"Tapi …. " kata Ceyasa lagi.


"Tak ada tapi-tapian, ayo, " kata Archie yang langsung menggendong kembali Ceyasa yang sekarang hanya bisa pasrah dibawa Archie ke dalam kamarnya.

__ADS_1


 


 


__ADS_2