Shameless Prince : Our Incomplete Love Story

Shameless Prince : Our Incomplete Love Story
51 - Kami Akan Menikahkanmu!


__ADS_3

"Mana yang benar? Jika memang pria ini, dia harus bertanggung jawab! Lagi pula apa yang kalian lakukan di dalam kamar berduaan?" tanya paman Ceyasa lagi bertambah emosi menatap Archie, Archie yang ditatap emosi oleh semua orang mulai menunjukkan sikap bertahannya.


"Aku hanya menolongnya membalurkan obat untuk kakinya," kata Archie membela dirinya. " Pria itu yang tadi malam ingin memperkosanya." tunjuk Archie pada Nathan yang sedikit salah tingkah.


"Tidak mungkin, anakku pria terpelajar, dia tidak mungkin memperkosa, pria ini pasti hanya memfitnahnya," ujar seorang pria tua, semua orang mengangguk, ayah Nathan adalah orang terpandang di desa itu.


"Aku? kalau aku memperkosanya, tentu Ceyasa tidak akan mengizinkanku ada di sini," kata Archie lagi merasa tertekan dihakimi seisi desa.


"Dia pasti mengancam Ceyasa," kata Nathan dengan suara yang seperti orang makan makanan yang panas. Tak begitu terdengar jelas.


"Aku tidak diancam, dia benar-benar menolongku, kau yang memaksaku," kata Ceyasa marah pada Nathan, Nathan terlihat melirik tajam pada Ceyasa.


"Tidak! Nathan tidak bersalah, aku saksinya, aku bersamanya tadi malam, melihat Ceyasa diganggu oleh pria itu, dia mencoba menolong, tapi malah di pukuli seperti ini," kata Carla tiba-tiba muncul, Archie melihat wanita itu dengan emosi, sejak kapan dia jadi saksi.


"Kau bohong, kau saja tidak ada di sana," kata Ceyasa lagi.


"Oh, aku tahu, sebenarnya kau tidak diperkosa kan? Kalian memang ingin melakukan hal yang tidak senonoh di desa ini, lihat saja mereka ada dirumah ini berduaan, sangat tidak pantas," kata Carla menyulut amarah para warga.


"Sudah, yang pasti pria itu pria yang tidak baik, dia sudah memukuli anakku seperti ini, ayo kita tahan dia," kata Ayah Nathan mengarahkan massa, semua masyarakat di sana segera mendekati Archie, Archie yang masih bingung mencoba untuk melawan, tapi karena kalah jumlah dia dengan gampangnya diringkus mereka, Archie melihat ke sekeliling, ingin lari tapi kemana?

__ADS_1


Ceyasa yang melihat itu pun hanya kaget, dia berusaha untuk melindungi Archie, dia ingin berjalan ke arah Archie, namun kakinya yang sakit dan bibinya terus menahannya, dia tidak bisa melakukan apa pun.


"Hei! Dia tidak bersalah, lepaskan dia!" kata Ceyasa berteriak, Archie yang di kepung semua warga hanya bisa pasrah, kalaupun dia berontak yang ada dia akan dipukuli orang-orang yang sudah tampak tersulut informasi salah ini, Archie hanya melihat Ceyasa yang sekuat tenaga ingin melepaskan diri dari paman dan bibinya, berteriak-teriak bahwa Archie tidak bersalah.


Setelah mereka mengikat tangan Archie ke belakang, Archie hanya memandang Ceyasa, Ceyasa yang merasa bersalah hanya bisa menangis.


"Ceyasa telepon Gerald, dia ada di handphoneku! Katakan aku butuh bantuan sekarang juga!" teriak Archie sambil ditarik keluar dari rumah Ceyasa.


Ceyasa yang mendengar kata-kata Archie langsung tanggap, dia mencoba sekuat tenaga menahan nyeri di kakinya, tertarih masuk kembali ke dalam kamarnya, dia mencari handphone Archie yang entah di mana dia letakkan, kenapa dia bisa lupa?


"Ceyasa, apa yang sudah kalian lakukan?" kata bibi Ceyasa mengintrogasi.


"Ceyasa, kau dengar aku tidak!" bentak bibi Ceyasa sambil memegang tangan Ceyasa, Ceyasa tentu kaget dengan kelakuan bibinya yang memang selalu kasar padanya dari kecil.


"Apa yang bibi inginkan? kenapa kalian tiba-tiba muncul di sini?" Ceyasa memandang mereka penuh emosi, setelah tiga tahun pergi, untuk apa kembali lagi? mereka bahkan tidak peduli Ceyasa masih bisa hidup atau tidak, sekarang setelah Ceyasa terbiasa hidup sendiri, kenapa mereka harus kembali lagi.


"Kami akan menikahkanmu," kata Bibi Ceyasa.


"Apa? menikah? Apa kalian gila?" kata Ceyasa memandang bibi dan pamannya.

__ADS_1


"Tidak, kami sudah memikirkannya, kau akan menikah dengan Sebastian," kata bibi Ceyasa dengan senyuman yang sinis.


"Sebastian? si mata keranjang itu? kalian akan menikahkanku dengan pria yang bahkan lebih cocok menjadi kakekku? apa kalian punya hati?" kata Ceyasa tak habis pikir, Sebastian itu pria gendut, umurnya saja hampir kepala 6, dia juga sudah punya banyak istri, pasti bibi dan pamannya mendapatkan sesuatu dari hal ini. "Berapa kalian menjualku?" Ceyasa memandang kedua orang yang tak pantas dia sebut paman dan bibinya.


"Cukup mahal, tiga ratus juta, tapi itu jika kau perawan, jika kau sudah tidak perawan, mungkin yah, setarus lima puluh juta itu juga lumayan, lagi pula kau seharusnya bersyukur, jika ketahuan berduaan dengan bersama pria di kamar seperti ini, siapa yang mau menikahi mu nanti!" kata bibirnya sinis.


"Kalian memang iblis, aku lebih baik tidak menikah seumur hidupku dari pada harus menikahi pria menjijikkan itu!" kata Ceyasa melempar bibinya dengan barang-barang yang bisa dia lemparkan, karena jika ingin menyerang bibinya, dia tahu tubuhnya tak sanggup.


"Au! Sakit! Akan ku pastikan kau menikah dengannya malam ini! dia akan datang!" kata bibinya keluar dan menutup pintu kamar Ceyasa, menguncinya dari luar.


Ceyasa terdiam, air matanya langsung keluar, dia jatuh terduduk di lantai kamarnya yang dingin, apalagi ini? kenapa bibi dan pamannya harus kembali dan membuat hidupnya kacau lagi. cukup lama Ceyasa terdiam, pikirannya kosong, air matanya yang basah itu dibiarkan saja, tidak dihapus, juga tidak mengalir lagi hanya meninggalkan jejak basah di pipinya, entah kenapa rasanya hidupnya tiba-tiba hancur sekarang.


"Yasa, Yasa?" terdengar suara sedikit berbisik memanggil Ceyasa dari arah jendela kamar Ceyasa yang tertutup, Ceyasa langsung kaget dan sadar akan keadaannya, dia menghapus air matanya, dengan sekuat tenaga dia berusaha untuk bangkit, terseok-seok berjalan ke arah jendelanya, dia segera membuka jendelanya dan melihat Nadia ada di sana.


"Nadia! Kemana saja kau selama ini?" kata Ceyasa kaget, antara senang dan juga tak percaya, akhirnya sahabatnya ini berguna juga.


"Ceyasa, maaf, aku baru dari luar kota, kemarin aku baru kembali dan tadi pagi akuĀ  mendengar masalahmu, mereka membawa pria itu ke kantor polisi dan menahannya di sana, dia sungguh kasihan," kata Nadia menjelaskan.


"Benarkah?" Ceyasa kaget, karena masalahnya dengan bibinya, dia jadi lupa akan Archie, dia lalu segera melihat ke arah kamarnya perlahan-lahan, di mana dia meletakkan ponsel itu, dan akhirnya matanya melihat ke sudut tempat tidurnya, ponsel itu ada di sana sedikit tertutup oleh selimut Ceyasa, dia segera mengambil ponsel itu. dia bingung, sejujurnya Ceyasa tak punya ponsel, jadi dia tidak tahu harus apa dengan ponsel itu.

__ADS_1


"Kau tahu cara menggunakannya?" kata Ceyasa pada Nadia dengan suara berbisik, takut didengar bibi dan pamannya. Nadia menggeleng, "kau bisa ke kantor polisikan? temui Cendro dan berikan ini padanya, sampaikan maafku karena aku dia menjadi seperti ini," kata Ceyasa dengan suara lemah, kesedihan tampak jelas dari raut wajah dan matanya.


__ADS_2