
"Kau ini! Dasar pria tak tahu malu, pangeran apa yang bicaranya seperti dirimu," kata Ceyasa tak tahan lagi, dia langsung meledak, membuat yang lain di sana kaget, berani sekali dia mengatakan hal itu pada Archie.
"Kan aku bicara yang sebenarnya," kata Archie.
"Awas saja kau, pokoknya kau jangan macam-macam padaku, aku berharap kita secepatnya bercerai, aku tidak mau berhubungan lagi denganmu, dasar Pangeran tak tahu malu," ucap Ceyasa sangat kesal, kalau dia bisa memukul kepala Archie, dia akan melakukannya sekarang, dia hanya bisa mengepalkan tangannya, benar-benar marah.
"Aku juga, lagi pula siapa yang seterusnya menikah dengan gadis aneh sepertimu," kata Archie, mendengar hal itu Gerald dan para penjaga memandang Archie, tidak menyangka pangeran mereka bisa mengatakan hal seperti ini karena biasanya dia selalu punya wibawa dan bukan orang yang mengatakan hal itu seenaknya, apalagi dengan seorang wanita, dia biasa sangat santun.
"Dasar ya kau ini!" kata Ceyasa kesal, dia mengambil pena yang ada di meja itu lalu ingin melemparkannya pada Archie, namun Gerald yang melihat hal itu segera menahannya, tentu hal itu tidak diperbolehkan.
"Nona, Nona, maaf, jangan lakukan itu, Anda tidak boleh melakukannya pada Pangeran," kata Gerald melarang Ceyasa secara santun, bagaimana pun wanita ini sekarang adalah istri Pangeran, dengan kata lain dia adalah anggota kerjaan dan seorang Putri walaupun pernikahan ini hanya pernikahan palsu jadi mereka harus memperlakukannya dengan baik pula.
Mendengar suara dan permintaan Gerald yang sopan, Ceyasa tak jadi melakukannya, dia hanya menghempaskan pena itu kembali ke meja dengan sangat keras, membuat Gerald sedikit kaget, wanita ini kalau marah juga menyeramkan, Archie yang melihat hal itu hanya tersenyum senang, dia menang.
"Gerald, bangunkan aku saat kita sampai," kata Archie santai sambil berdiri dari tempat duduknya, Gerald langsung berpindah tempat agar tidak menghalangi jalan Archie.
"Hei kau mau kemana?" tanya Ceyasa yang merasa kemarahannya belum tersalurkan malah ditinggal pergi begitu saja oleh Pangeran gadungan ini.
"Aku mau tidur di kamarku, kenapa? kau mau menemani?" tanya Archie jahil menggoda.
"Ogah! sudah sana kau pergi! ih!!! aku ingin sekali membunuhmu!" kata Ceyasa asal keluar saja, sangat geram hingga mengepalkan kedua dan menggertakkan giginya.
"Gerald, beritahu dia apa hukumannya jika dia mengancam keselamatan seorang Pangeran," kata Archie sedikit melirik ke arah Ceyasa, namun tak memutar tubuhnya.
"Ancaman hukuman jika ada orang yang mengancam keselamatan Pangeran, paling ringan adalah pengasingan, yang paling berat adalah hukuman mati," jelas Gelard sesuai perintah Pangerannya.
__ADS_1
"Benarkah? seperti itu?" tanya Ceyasa dengan wajah kaget pada Gerald.
"Benar Nona," jawab Gelard lagi. Ceyasa melihat ke arah Archie yang tersenyum puas,
Mentang-mentang dia ada di daerahnya dan bersama orang-orangnya, dia merasa menang, pikir Ceyasa memandang Archie sambil menyipitkan matanya dengan wajah geram dan kesalnya.
"Dasar! aku tak takut padamu!" teriak Ceyasa kecil kesal, dia bahkan sampai menggerak-gerakkan kakinya melampiaskan kekesalannya pada Archie.
"Gerald, kalau aku tiba-tiba mati, kau tahu siapa yang harus kau hukum," kata Archie juga asal saja sambil berjalan ke arah kamarnya yang ada di pesawat pribadi itu, tak melihat lagi ke arah Ceyasa yang wajahnya sudah memerah menahan amarahnya.
Gerald hanya bisa tersenyum masam melihat kelakukan mereka, tak menyangka, dia kira hubungan Ceyasa dan Archie ini seperti hubungan biasanya, ternyata mereka seperti kucing dan tikus. Gerald hanya bisa geleng-geleng kepala.
Archie sudah mencoba untuk menutup matanya, namun perasaannya malah kacau sekarang, apa yang akan di lakukankannya sesampainya di Ibu kota, kepulangannya ini pasti akan diketahui oleh pihak kerajaan segera. Sekarang, mau tak mau dia harus menghadapinya semuanya, lagi pula tidak mungkin selamanya lari dari masalah ini.
"Permisi, Pangeran," Suara Gerald terdengar dari luar.
Gerald segera membuka pintu kamar Archie, Archie melirik ke arah Gerald.
"Bagaimana keadaanya?" tanya Archie pada Gerald.
"Dia sedang tidur di sofa, aku sudah menyuruh pramugari untuk menjaganya," kata Gerald.
"Apa ada pihak kerajaan yang tahu kepulanganku?" kata Archie melirik ke arah Gerald dengan serius.
"Belum ada, tapi jika kau menetap di East Park, mungkin 2 atau 3 hari lagi mereka akan segera mengetahui keberadaanmu," kata Gerald lagi pada atasan sekaligus sahabatnnya ini, dia duduk di salah satu sofa kecil yang ada di sana.
__ADS_1
"Ya, waktu yang cukup, setelah ini carikan dia tempat tinggal, berikan uang cukup dan carikan dia pekerjaan yang sesuai dengannya," kata Archie sudah memikirkannya, dia juga harus bertanggung jawab karena sudah membawa Ceyasa ke ibukota.
"Baiklah, aku akan melakukan semuanya nanti, kau tahu, kau membuat kerajaan cukup kacau," kata Gerald terdengar serius.
"Benarkah? siapa saja yang sudah tahu akan masalah ini?" tanya Archie yang yakin Gerald juga sudah mengetahuinya.
"Masih kalangan internal kerajaan, tapi mereka merahasiakan semuanya dari Suri, sampai sekarang dia masih tidak tahu kenapa kau pergi, mungkin karena itu dia terlihat sangat sedih, kau benar-benar sudah mematahkan hatinya dengan pergi begitu saja, dan satu lagi Raja Angga akan memanggilmu," kata Gerald lagi. Mendengar kata-kata Gerald tentang Suri, perasaan Archie menjadi sakit, membayangkan wanita yang dicintainya itu merasakan sakitnya yang sama atau bahkan lebih parah sakitnya dari pada dia karena Suri sama sekali tidak tahu apa-apa, hal itu malah membuat Archie semakin nyeri.
"Jadi Raja juga sudah tahu?" kata Archie yang sibuk membolak-balikkan ponselnya, sebenarnya sedang berpikir apa yang harus dilakukannya nanti.
"Tentu, kau membuat anaknya sampai pingsan ketika tahu kau pergi, bagaimana dia tidak tahu, kali ini dia akan sangat tegas padamu," kata Gerald mencoba untuk duduk tegak, berusaha menunjukkan bahwa dia sedang serius.
"Benarkah Suri sampai seperti itu?" kata Archie kaget mendengarkan bahwa Suri sampai pingan karena dirinya, tak peduli Raja akan tegas padanya.
"Tentu saja, kau pergi tanpa meninggalkan pesan apa-apa, dia benar-benar syok mendengar kau pergi, kalau tahu alasannya seperti ini aku tidak akan membantumu pergi, Apalagi Raja Angga sampai mengeluarkan perintah bahwa tidak ada orang yang boleh mencarimu, dia sangat marah padamu, karena itu aku tidak bisa membiarkanmu pulang kemarin, untungnya Ratu Bella bisa membuat Raja berubah pikiran," kata Gerald lagi menekan dahinya, artinya dia cukup pusing karena hal ini.
"Baiklah, bagaimana dengan keluargaku?" kata Archie lagi.
"Kau mau apa? tentu mereka cemas mencarimu, aku tidak akan menyuruhmu cepat-cepat pulang ke istana karena aku tahu keadaannya bagaimana tapi kau tidak akan bisa lari dari masalah ini selamanya," kata Gerald lagi.
"Ya, aku tidak akan lari lagi, aku hanya butuh beberapa hari untuk menyiapkan diriku, soal pernikahan dan lain, hanya selesai sampai di sini, jangan sampai ada yang tahu," kata Archie pada Gerald.
"Baiklah, istirahat, akan ku bangunkan kau jika kita sudah sampai," kata Gerald.
"Baik, terima kasih," kata Archie.
__ADS_1
Pintu kamar itu tertutup, membuat suasana kembali menghening, hanya suara deru mesin pesawat yang samar-samar terdengar, dia bisa menghadapi kedua orang tuanya, bahkan dia bisa menghadapi Pamannya, tapi yang sampai sekarang dia ragukan, apakah dia bisa menghadapi Suri?