
"Kiran, aku butuh senjata dan alat pelacakku," kata Jofan sebelum mereka sampai di gerbang utama istana itu, Kiran yang mendengarnnya segera mengambilkan apa yang diingikan oleh Jofan dari tas yang dia bawa, dia segera menyerahkan kalung dan juga cincin yang sudah dilengkapi kamera dan juga alat pelacak, dia juga menyerahkan pistol untuk Jofan yang langsung disimpannya dibalik jasnya.
Mobil mereka berhenti di depan istana, Jofan memperbaiki jasnya agar tak terlihat mencurigakan, Kiran turun duluan lalu membukakan pintu untuk Jofan, Jofan menapakkan kakinya dengan mantap, turun sambil kembali merapikan jasnya, dia memandang penjaga yang ada di depan istana utama itu.
"Selamat datang di istana winsdor Tuan Jofan," kata mereka menyambut kedatangan Jofan seperti biasanya, kepala bagian rumah tangga segera menyambutnya dengan senyuman tipis namun juga wajah cemas.
"Selamat datang Tuan Jofan," kata kepala bagian rumah tangga itu, suaranya menyimpan ketakutan yang membuat Jofan semakin mengerutkan dahinya, matanya awas menatap istana yang tak berubah itu.
"Aku ingin bertemu dengan Yang Mulia Raja Angga," kata Jofan lagi menatap Kepala bagian rumah tangga kerajaan itu.
"Yang Mulia ada di ruangan kerjanya, Tuan Jofan, " kata Kepala bagian rumah tangga itu menunduk, tak berani melihat ke arah Jofan.
"Baiklah terima kasih," kata Jofan.
Jofan melihat ke arah Kiran, matanya tajam membuat Kiran tahu dia harus bersiap, entah kenapa Jofan merasa aura yang tak biasa di istana ini, namun dia tak bisa keluar lagi, toh dia sudah masuk, dan dia juga harus menemui Ceyasa.
Jofan berjalan ke arah ruang kerja Angga, 2 penjaga menunggu di depan pintu ruang kerja itu, mereka segera membukakan pintu untuk Jofan, Jofan melihat lurus ke arah meja kerja Angga, kursi kerjanya menghadap ke belakang, merasa aneh karena biasanya Angga tak suka untuk membalikkan tempat duduknya. Kaki Jofan berat melangkah ke dalam ruangan itu.
"Kau ingin bertemu dengan Yang Mulia Raja? kalau begitu masuklah," suara asing terdengar menggelegar, membuat Jofan mengerutkan dahinya, dia lalu menatap pria yang sekarang sudah membalikkan kursi kerja itu, Jofan menatapnya asing, siapa pria yang sedang menduduki meja kerja Angga tersebut?
Jofan bersikap waspada, Kiran pun begitu, tangan Kiran sudah ingin mengambil pistol yang ada di balik jasnya.
"Hei, hati-hati, jangan coba-coba, aku tebak, kau ingin bertemu dengan Ceyasa bukan? kalau begitu jangan coba-coba," kata Rain lagi berdiri dan tersenyum ramah yang sangat-sangat mengganggu. Mendengar nama Ceyasa, Jofan langsung melihat ke arah Kiran, memberikan gestur agar Kiran tidak melanjutkan aksinya
"Siapa kau?" kata Jofan masih berada di luar ruang kerja Angga.
"Tak sopan berbicara berjauhan seperti ini, masuklah, itu juga jika kau mau melihat anakmu," kata Rain santai.
__ADS_1
Jofan menggertakkan giginya, tangannya menggenggam erat, hatinya tak mau, tapi bagaimanapun dia harus masuk untuk anaknya. Jofan melangkahkan kakinya mantap memasuki ruang kerja Angga yang langsung di tutup oleh penjaga yang berjaga di depan, matanya tetap awas dan tajam.
Rain yang melihat Jofan masuk hanya tersenyum senang, dia segera berjalan menuju meja kecil di dekat meja kerjanya, menuangkan minuman beralkohol ke gelas kecil yang ada di sana, senyumnya terus mengembang.
"Mau?" tanya Rain dengan gayanya.
"Tidak," kata Jofan yang terus melihat setiap gerak gerik Rain, mengikutinya dengan bola matanya.
"Baiklah," kata Rain yang meneguk minuman itu dengan sekali tegukkan, membuat panas kerongkongannya, terasa cukup pahit, setelah itu dia dengan gaya santainya duduk di sudut meja kerja Angga.
"Dimana Ceyasa?" tanya Jofan.
"Oh, dia sedang tidur, mungkin dosis obat tidur yang diberikan oleh Ken terlalu banyak, tapi tenang, dia akan bangun secepatnya," kata Rain seolah pembicaraan ini hanya seperti pembicaraan tentang mobil atau pertandingan bola.
Jofan mendengar itu hanya menelan ludahnya, mengeratkan genggaman tangannya, menahan emosi yang muncul, matanya memerah menatap Rain yang terlihat acuh.
"Terlalu kasar untuk dikatakan menculik, aku hanya ingin mengambil milikku, dari awal aku sudah mengatakan bahwa dia adalah milikku dan orang seperti Archie dan Angga, juga kau, adalah orang yang mengambil milikku," kata Rain menjelaskan.
"Apa maumu dengannya?" tanya Jofan lagi.
"Bagus kau menanyakan hal itu, aku ingin kebenaran dari mulutnya tentang pembunuh ibuku," kata Rain tenang.
"Dia tak membunuh ibumu … " kata Jofan yang ingin membela anaknya, mendengar hal itu Rain mengambil hiasan bola dunia yang terbuat dari kaca yang ada di atas meja Angga, melemparnya tepat di depan Jofan, membuat suara kaca pecah yang keras, menghambukan kacanya tepat di sekitar Jofan, tapi Jofan bergeming, menatap wajah Rain yang berubah marah dan kesal, dia melirik ke arah Jofan.
" Jangan rusak kesenanganku, aku hanya ingin tahu dari mulutnya," kata Rain lagi.
Jofan mempertahankan tatapan matanya, menganalisa pria yang menurutnya mengerikan ini.
__ADS_1
"Lepaskan dia, dia tak ada hubungannya dengan apapun yang kau pikirkan sekarang," kata Jofan lagi dengan nada datarnya.
Rain tersenyum, berdiri dari duduknya, lalu segera berjalan melewati hamburan kaca yang ada di depan Jofan, membuat suara pecahan kaca itu terdengar sedikit mengganggu, dia berdiri menantang Jofan, melihat dengan tajam namun tak lama nyeringai menyeramkan.
"Tidak akan, dan satu lagi, aku tidak menyangka kau akan datang dengan sendirinya, terima kasih sudah mendatangiku, aku tak perlu repot-repot untuk mencarimu lagi, aman kan dia, " kata Rain dengan santai.
Jofan yang mendengarkan hal itu segera menarik pistol di dalam jasnya, dan dengan cepat menodongkannya pada perut Rain, Kiran pun segera mengambil pistolnya dan mengarahkannya pada sekitarnya, melihat 6 orang yang entah datang dari mana dengan senjata api yang sudah mengarah pada dirinya dan Jofan, 4 orang di belakang mereka, 2 orang keluar dari belakang Rain. Mereka benar-benar terjebak.
Mata Jofan memandang dengan penuh emosi pada mata Rain yang juga menatapnya, tatapan Rain terlihat sangat santai tanpa ada ketakutan sama sekali, mengusik Jofan yang hanya bisa mengertakkan giginya lebih kuat.
"Tembaklah, ayo mati bersama, kau, aku dan anakmu, Asistenku akan dengan senang hati membunuhnya," kata Rain dengan suara liciknya, mendengar itu sorot mata Jofan yang tadinya penuh kebencian langsung sedikit mengendur, membuat bahunya yang dari tadi terangkat menjadi turun dan lemas seketika, tak mungkin dia bisa membiarkannya, anaknya bahkan tak tahu apa-apa, dia belum mengatakan padanya kalau dia adalah ayahnya, dirinya boleh mati sekarang, tapi tak mungkin dia membiarkan anaknya juga mati seperti ini, dia berhak untuk bahagia.
Tangan Jofan yang bergetar menodongkan senjata api ke perut Rain langsung mengendur, senjata itu jatuh dari tangannya, Kiran yang melihat itu pun tak bisa apa-apa, dia menjatuhkan senjatanya yang langsung di sambut pukulan ke arah ulu hati Kiran dan juga wajah Kiran dari salah satu penjaga Rain, membuatnya langsung tersungkur jatuh, dia langsung di seret pergi.
Jofan hanya bisa melihat hal itu, dia lalu melihat ke arah Rain, pria itu tersenyum menang.
"Apa maumu dari diriku?" kata Jofan geram.
"Tangan dibalas tangan, Nyawa pun harus dibayar dengan nyawa, kau sudah menghancurkan keluargaku, karena itu, aku juga akan menghancurkan segalanya yang kau punya, tenang saja tak akan ku buat kematianmu mudah, hingga kau tak tahan sakitnya dan kau memohon padaku untuk membunuhmu saja, " kata Rain lagi segera menjauh dari Jofan yang langsung di sergap oleh 4 orang penjaga Rain, 2 memegangi tubuhnya, dua mengacungkan senjata ke arahnya.
Jofan mencoba untuk melawan seadanya, namun penjaga Rain langsung menempelkan senjata itu pada tubuhnya, Jofan hanya melihat ke arah Rain yang berjalan menuju meja kecil tempat minuman keras itu, menuangkan kembali minuman berwarna kuning gelap itu, meneguknya kembali.
"By the way, Namaku Rain, artinya hujan," kata Rain menatap Jofan lagi, dia berjalan santai menuju ke arah meja Angga dan duduk santai, kakinya diangkat ke atas meja Angga. "kau tahu apa nama yang berarti hujan dalam bahasa Afrika?" kata Rain sambil melemparkan bola kecil ke atas, menangkapnya lagi dengan cepat, dia melirik ke arah Jofan dengan senyuman sinis, "MARKA," kata Rain segera memberikan gestur untuk membawa Jofan pergi dari sana.
Jofan yang mendengar hal itu kaget, matanya membesar, pria ini adalah Marka? pria yang sama yang mengirimkan dan juga memperdaya Siena untuk menghancurkan keluarganya, pria ini juga otak dan dalang pembakaran rumahnya, memberikan semua kebutuhan Siena untuk mencelakakan keluarganya, membunuh Sania, pria ini!
"Aku akan membunuhmu!" teriak Jofan yang ditarik dari ruangan itu.
__ADS_1
"Lakukan jika kau bisa," kata Rain lagi santai, menatap Jofan dengan lebih serius, melihat Jofan meronta untuk melepaskan diri menjadi kesenangan sendiri untuknya, dia tak lepas tersenyum, membuat siapa pun yang melihatnya akan bergidik ngeri.