
Archie mengenggam tangan Ceyasa melewati poli-poli yang ada di lantai dasar rumah sakit itu, dia tiba-tiba berhenti membuat Ceyasa yang kaget tidak bisa berhenti secara cepat lalu sedikit menabrak Archie yang matanya tertuju pada sesuatu.
"Ada apa?" tanya Ceyasa yang bingung.
"Kita sudah di rumah sakit," kata Archie melirik ke arah Ceyasa.
"Jadi selama 2 hari ini kau tidak sadar sudah ada di rumah sakit?" tanya Ceyasa yang langsung cerewet.
"Bukan begitu, ah, sabar, sabar," kata Archie mengelus dadanya,"aku hanya berpikir bagaimana jika kita sekalian memasang kontrasepsi padamu?" kata Archie melirik istrinya yang pura-pura berwajah polos.
Ceyasa melirik ke arah ruangan yang ada di sampingnya, sebuah poli kandungan ada di samping mereka, Ceyasa menatap dengan terdiam sesaat.
"Bagaimana?" tanya Archie sedikit lembut, melihat Ceyasa yang hanya terdiam, bagaimana pun Archie belum terlepas dari kutukan penyakit itu, tadi Archie melihat Suri, dia tak yakin apakah nanti anaknya bisa seperti Suri atau tidak.
Ceyasa menggigit bibirnya, dia menarik napasnya panjang, lalu melihat ke arah Archie dengan senyuman, menutupi hatinya yang masih ragu melakukan hal ini.
"Baiklah, ayo," kata Ceyasa memantapkan langkahnya, dia lalu menarik Archie.
"Kalau begitu kita harus mendaftar dulu, " kata Archie pada Ceyasa.
"Haruskah? Bukannya ini rumah sakit milik pamanmu?" kata Ceyasa melirik Archie.
"Kan punya pamanku, bukan punya ku, tunggu saja di sini, biar aku yang mendaftar," kata Archie memerintahkan Ceyasa untuk duduk di salah satu tempat duduk di sana, Ceyasa menurut dan hanya melihat Archie yang pergi meninggalkannya.
Ceyasa terdiam sejenak, melihat sekelilingnya yang penuh dengan wajah-wajah bahagia, ada beberapa ibu-ibu yang perutnya sudah membuncit, mengelusnya penuh kasih sayang, ada pula pasangan yang tampaknya sangat bahagia, sang suami mengenggam erat tangan istrinya, sesekali mengelus perut bawah istrinya yang belum mengunduk sama sekali, mungkin pasangan itu baru mendapat kabar bahagia.
Ceyasa tersenyum namun perasaannya sedikit terusik, momen seperti itu, benarkah dia tidak akan merasakannya? Rasannya akan lucu jika Archie ada di sampingnya dan mengelus perutnya yang sudah membuncit.
"Sedang ingin memeriksakan kandungan?" tanya seorang ibu di sebalah Ceyasa, dia tertarik dengan Ceyasa yang tampak sumringah melihat sekelilingnya.
"Oh, saya? Tidak, saya tidak memeriksa kandungan," kata Ceyasa langsung kaget.
"Saya kira sedang memeriksa kandungan, saya lihat Anda dengan pasangan Anda tadi, kalian sangat cocok, jika punya anak pasti sangat tampan dan cantik seperti ayah dan ibunya, " kata wanita itu tersenyum senang,
"Benarkah?" kata Ceyasa yang tersenyum terpaksa, dia membayangkan bagaimana wajah anaknya nanti, jika dia mirip dengan Archie, dia pasti sangat tampan atau cantik, tapi … sayangnya mereka bahkan tidak akan ada.
__ADS_1
"Hei, aku sudah mendaftar," kata Archie yang melihat Ceyasa sedang menatap wanita di sampingnya.
"Ya," kata Ceyasa seadanya menatap Archie.
Archie hanya mengangguk melihat senyum tipis Ceyasa yang membuatnya merasa sedikit tak enak, Archie lalu duduk di kursi tunggu yang ada di depan Ceyasa, karena di sampingnya sudah tidak ada kursi yang kosong.
"Aduh," kata wanita di samping Ceyasa tiba-tiba, membuat Ceyasa yang langsung kaget.
"Ada apa?" tanya Ceyasa.
"Oh, tidak, dia hanya menendang, terkadang dia terlalu bersemangat, jadinya menenandang dengan sedikit keras, ingin merasakannya?" kata wanita itu dengan senyuman sumringah.
"Benarkah? apa itu tidak apa-apa?" tanya Ceyasa.
"Tidak apa-apa kok, coba saja," kata wanita itu menarik tangan Ceyasa, lalu meletakkannya pada perut wanita itu, Ceyasa tak merasa apapun, namun tak lama dia merasakan getaran kecil di dalamnya, membuat Ceyasa langsung tersenyum senang, matanya membesar lalu melihat ke arah Archie.
"Dia benar-benar menendang," kata Ceyasa semangat pada Archie yang mengulum senyumnya, Archie merasa perasaannya tak enak melihat wajah senang nan ceria Ceyasa saat melakukan hal itu. Rasanya dia tidak tega menghapuskan hal itu, karena itu dia segera berdiri, membuat Ceyasa langsung mengerutkan dahinya.
"Ehm, ada apa?" kata Ceyasa dengan wajah bertanya.
"Tapi …. " kata Ceyasa lagi.
Belum Ceyasa selesai berbicara tiba-tiba seorang perawat datang mendekati mereka.
"Pangeran Archie dan Nona Ceyasa, dokter Evie spesialis kandungan sudah menunggu Anda di ruang khusus," kata perawat itu dengan wajah ramah.
Archie dan Ceyasa langsung saling pandang, wanita di samping Ceyasa sedikit kaget mendengar siapa yang ada di sampingnya ini, ternyata mereka dari keluarga kerajaan, pantas saja mereka memiliki aura berbeda.
"Katakan pada dokter, kami …. " kata Archie pada perawat itu.
"Tidak apa-apa, ayo, kita pasang saja," kata Ceyasa menggapai tangan suaminya yang terlihat ragu.
"Kau yakin?" tanya Archie ragu.
"Ya, kenapa sekarang kau yang ragu, jika tidak dilakukan nantinya akan menjadi beban," kata Ceyasa lagi.
__ADS_1
"Silakan ikuti saya Pangeran dan Nona," kata perawat itu lagi, dia langsung berjalan menuntun Ceyasa dan Archie ke salah satu poli kandungan yang ada di belakang.
Archie dan Ceyasa masuk ke dalam poli itu, dokter Evie sudah menunggu dan menyambut mereka dengan senyuman ramah.
"Selamat pagi, Tuan dan Nona," kata dokter Evie ramah, sepertinya tak tahu status Archie dan Ceyasa, dia hanya diperintahkan memeriksa pasien penting.
"Selamat pagi," kata Ceyasa seadanya, Archie hanya membalas dengan senyuman sambil mengangguk.
"Silakan duduk, dari statusnya, Nona Ceyasa ingin memasang kontrasepsi?" kata dokter Evie mengerutkan sedikit dahinya, sedikit heran melihat Archie dan Ceyasa, usia produktif yang ingin memasang alat kontrasepsi, mungkin ingin menikmati masa-masa berdua, pikirnya mencoba berpikir positif. Archie dan Ceyasa duduk di depan Dokter Ivie.
"Ya, aku ingin memasang kontrasepsi," kata Ceyasa lagi, Archie hanya diam saja.
"Baiklah, kapan mentruasi Anda terakhir?" kata Dokter Evie lagi.
"Ehm, sepertinya bulan lalu ada, aku kurang ingat," kata Ceyasa lagi, begitu banyak hal-hal yang membuatnya melupakan kapan terakhir dia menstruasi.
"Baiklah, Anda ingin melakukan kontrasepsi yang bagaimana, ada suntik, pil, dan juga alat yang bisa di masukkan dalam rahim Anda?" tanya dokter Evie lagi.
"Kontrasepsi yang lama dan aman pastinya," kata Archie langsung, memeras tangan Ceyasa yang sudah ada dalam genggamannya dari tadi.
"Kalau begitu lebih baik menggunakan IUD, paling baik karena tidak mengganggu hormon Anda dan juga bisa bertahan 5 tahun," kata Dokter Evie menjalaskan.
"Oh, ya, itu saja," kata Ceyasa dengan senyuman semangat, Archie melirik ke arah Ceyasa, kenapa dia benar - benar menjadi ragu sekarang.
"Baiklah, karena ada alat yang ingin di masukkan dalam rahim Anda, saya harus melihat dulu bagaimana keadaan rahim Anda, apakah ada penyulit atau tidak," kata dokter Evie lagi.
"Baiklah," kata Ceyasa, melepaskan tangan Archie lalu berjalan ke arah yang di tunjukkan oleh perawat, dia naik ke atas ranjang periksa.
"Jika Anda ingin melihat, silakan Tuan," kata dokter Ivie lagi, Archie awalnya ragu, namun dia sedikit penasaran dan memutuskan untuk mendatangi Ceyasa, dia berdiri di samping Ceyasa tempat yang sudah di tunjukkan oleh perawat.
Perawat membuka baju Ceyasa menunjukkan perutnya yang rata, dokter Ivie duduk di sampingnya.
"Kita lakukan pemeriksaanya ya Nona," kata Dokter Ivie sambil memberikan gel khusus pada perut Ceyasa.
Ceyasa hanya mengangguk, melirik ke arah Archie yang terlihat tegang, melihat hal itu Ceyasa malah merasa dia lucu, dia menahan senyumnya.
__ADS_1
Dokter Ivie lalu menekan perut Ceyasa dengan alat USG itu, melihat keadaan rahim Ceyasa, dia sedikit mengerutkan dahinya, membuat senyuman Ceyasa sedikit pupus karena tiba-tiba saja wajah dokter Ivie yang selalu tersenyum itu malah jadi serius sekali.