Shameless Prince : Our Incomplete Love Story

Shameless Prince : Our Incomplete Love Story
286 -


__ADS_3

Ceyasa membuka matanya perlahan, nyeri di belakang kepalanya masih sedikit terasa, dia merasakan tubuhnya tidak bisa bergerak, mulutnya juga terasa ketat, saat dia melihat sekitar terlihat sedikit buram dan perlahan menjelas, dia ada di dalam sebuah tempat yang tampak remang, seperti sebuah tempat penahanan.


Dia lalu dengan jelas melihat seorang pria ada di depannya, pria itu cukup terlihat babak belur, mulutnya juga diikat, tangannya juga diikat ke belakang, di dahinya terlihat luka yang bernoda darah, perlahan Ceyasa akhirnya mengenalinya, itu Tuan mantan presiden, ayahnya!


 


Ceyasa ingin berteriak, dia berontak, namun mulutnya tertutup oleh kain yang ketat, tangannya di ikat ke belakang dan kakinya juga terikat erat, suara yang bisa dikeluarkannya hanya suara tertahan.


 


 


Jofan yang mendengar suara seorang wanita yang seperti tertahan itu segera membuka matanya, malam ini dia baru saja mengalami penyiksaan yang membuatnya pinsan, saat dia membuka matanya yang hanya bisa terbuka sebelah kanan karena mata sebelah kirinya bengkak dan berdarah karena pukulan itu dia langsung kaget melihat Ceyasa yang sudah ada di depannya, keadaannya tak jauh beda dengan dirinya, terikat kaki dan tangannya dengan mulut juga tertutup oleh kain.


 


"Wow, sungguh mengharukan melihat keluarga kecil ini berkumpul, ayah dan anak ternyata sama saja, merepotkan," Suara Rain terdengar membuat Ceyasa dan Jofan langsung melihat ke arah suara itu, Rain masuk sambil memegangi kepalanya yang terluka, ada juga lebam di daerah pinggir matanya, Ceyasa benar-benar memukulnya dengan sangat kuat, "Untung saja keponakanku ini bisa membawamu kembali padaku," kata Rain sambil melirik Archie yang masuk ke dalam tempat itu dengan gayanya yang dingin, dia masuk dari sisi lain, membuat Ceyasa melirik ke arah pria itu, tak percaya ternyata Archie menipu dirinya.


 


 


Jofan yang melihat Rain dan Archie seakan ingin mengutuk mereka berdua, namun mulutnya dan dirinya tertahan di kursi itu, Archie hanya menaikkan sudut bibirnya, untuk pertama kali Ceyasa melihat wajah Archie yang mirip dengan Rain, mengerikan.


 

__ADS_1


 


Mata Jofan tampak begitu sinis melihat kedua pria ini, ternyata benar pemikirannya bahwa bagaimana pun mereka membesarkan seorang monster menjadi manusia, dia akan berakhir menjadi monster pula.


 


 


"Aku sudah memberikan kesempatan padamu untuk menjadi wanitaku, tapi kau malah melakukan hal seperti ini, jadi karena itu aku akan membuat mu menyesal seumur hidupmu karena sudah melakukan hal ini padaku, Ceyasa, kau akan melihat bagaimana ayahmu mati," kata Rain dengan seringaian yang sangat seram, dia membuka ikatan tangan Ceyasa yang menempel dengan kursi itu, setelah terbuka, dia membuka ikatan Ceyasa, memegang lengan atas Ceyasa dengan sangat erat hingga membuat otot Ceyasa linu.


 


Ceyasa diberdirikan di depan Jofan, Archie lalu pergi ke belakang Jofan, melepaskan ikatannya pada kursi yang didudukinya, dan membuat Jofan berdiri, tapi tangan dan kakinya tetap saja terikat kuat, Jofan berontak namun segera berhenti ketika melihat Rain menodongkan pistol ke kepala Ceyasa yang tahu bahwa ada pistol di kepalanya, Ceyasa tampak menahan tangisnya, Archie membuka penutup mulut Jofan.


 


 


 


"Ayah," kata Ceyasa lirih, Jofan terdiam, wajahnya tampak begitu sedih, baru kali ini anak kandungnya memanggilnya ayah, namun sayangnya harus dalam keadaan mencekam seperti ini.


 


"Sangat mengharukan," kata Rain yang melihat Ceyasa dan Jofan saling melemparkan tatapan yang penuh kasih sayang. "pegang," kata Rain sambil memberikan pistolnya pada Ceyasa, sedangkan Archie terus saja menodongkan pistol itu pada kepala Ceyasa, menempelkannya pada kepala belakang Ceyasa.

__ADS_1


 


Ceyasa yang seumur hidupnya belum pernah memegang senjata api langsung bingung, Rain memaksa Ceyasa memegangnya, lalu mengarahkan pistol yang dipegang oleh Ceyasa itu tepat ke arah Jofan, Ceyasa yang mengetahui hal itu langsung kaget dan segara melihat Rain, apa ini?


 


"Kau tahu, bukan hanya ayah Archie yang dibunuh oleh ayahmu, ayahku juga, saat ini aku ingin tahu bagaimana rasanya jika kau tahu bahwa yang akan membunuhmu adalah anakmu sendiri, aku yakin anakmu ini akan hidup dalam penyesalan seumur hidupnya," kata Rain melihat ke arah Ceyasa dan juga melihat ke arah Jofan, senyum senang dan menangnya terlihat jelas, dia sudah menanti lama hal ini, melihat kematian orang yang sudah merenggut kedua orang tuanya dari dirinya, malam ini dendam kusumat itu akan terbalaskan.


 


"Tidak, tidak, jangan," kata Ceyasa lirih sambil menggelengkan kepalanya, tangan bergetar di tahan oleh Rain untuk terus membidik Jofan.


"Jangan macam-macam, jika kau tidak ingin membunuh ayahmu, maka kau sebagai gantinya, pilih saja," kata Rain lagi dengan senyuman sinisnya.


"Jangan, biar aku saja, jangan sakiti dia, jangan lagi," kata Jofan, tak apa dia pergi sekarang, dia sudah cukup lama di dunia dan sudah begitu banyak dosa yang dia buat, tapi anaknya, anaknya belum pernah merasakan kebahagiaan di dunia ini, maka lebih baik dia yang pergi daripada anaknya, lagi pula orang tua akan selalu berkorban untuk anaknya, bahkan nyawa.


"Pengorbanan orang tua, sungguh mengharukan, sudah, cepat tembak ayahmu," kata Rain lagi menyuruh Ceyasa, Ceyasa menggeleng kuat, dia menangis sejadi-jadinya melihat wajah ayahnya yang tampak pasrah, bahkan tersenyum padanya, mereka baru saja bertemu, bahkan dia baru sempat memanggilnya ayah satu kali, tapi kenapa harus begini, dan yang lebih parahnya dialah yang menjadi perenggut nyawa ayahnya sendiri, sungguh Ceyasa tak sanggup untuk melakukan hal ini.


 


Tangan Ceyasa bergetar hebat, dia tak ingin melakukan hal ini, tak ada sanggup, dia terus saja menangis menatap senyuman ayahnya yang tipis namun penuh dengan kasih sayang untuknya. Jofan cukup senang, setidaknya dia sudah pernah bertemu dengan anaknya, dan anaknya adalah orang yang terakhir dia lihat dalam hidupnya, mungkin di alam lain atau di kehidupan lainnya, mereka akan bisa lagi bersama juga dengan Sania.


 


"Lakukan sekarang! " teriak Rain tepat di telinga Ceyasa yang membuat Ceyasa langsung kaget.

__ADS_1


Duar!!!!


Suara letusan senjata api terdengar, Jofan tersungkur jatuh ke belakang.Ceyasa kaget, dia tidak merasa menarik pelatuknya, tapi bagaimana pistol itu bisa meledak dengan sendirinya. Rain pun kaget melihat tubuh Jofan yang sudah tergeletak di lantai, Rain lalu melihat ke arah Archie, Archie masih berdiri dengan tangan yang membidik di tempat Jofan tadi berdiri, Ceyasa pun melihat itu, Ceyasa menahan napasnya melihat Archie yang masih mengarahkan pistol ke tempat ayahnya tadi berdiri, Archie menembak ayahnya.


__ADS_2