
Archie menunggu, setiap menit dia melihat ke arah jam tangannya, entah kenapa 15 menit itu terasa sangat lama, berulang kali dia ingin menerobos ruangan itu, tapi jika dia lakukan, dia takut jika dia menghentikan sesi hipnosis itu sembarangan, malah akan berpengaruh terhadap keadaan Ceyasa nantinya, jadi selalu diurungkannya niatnya itu.
Tak lama pintu putih itu terbuka juga, Archie langsung melihat ke arahnya, melihat Ceyasa yang keluar dengan wajah pucat, ujung-ujung matanya terlihat masih basah dan sembab, sepertinya dia baru saja menangis.
"Bagaimana keadaaanmu?" tanya Archie yang melihat wajah lelah Ceyasa, kenapa dia tampak begitu sedih? pikir Archie
"Aku tidak apa-apa," kata Ceyasa mencoba untuk tersenyum.
"Nona Ceyasa sangat bagus dalam sesi hipnosisnya, semua rekaman sudah siap, Anda sudah boleh mengambilnya," kata Dokter Rianti lagi, Gerald mengangguk dan segera masuk, Ceyasa menatap Archie.
"Aku rasa aku tahu kenapa aku melupakannya," kata Ceyasa pada Archie.
"Jangan dibahas dulu, tenangkan saja dulu pikiranmu, selain itu kita punya sesuatu yang harus secepatnya kita lakukan," kata Archie dengan wajah cemas, dia sekarang menunggu Gerald untuk keluar dari ruangan itu.
"Ada apa?" tanya Ceyasa memandang wajah Archie yang tak sabar menunggu Gerald keluar.
"Suri, dia butuh aku sekarang, kita akan ke sana," kata Archie tampak cemas, Ceyasa memandang Archie, kenapa terlihat begitu cemas, kenapa perasaannya tiba-tiba merasa tak enak? Archie tak cemas karena dirinya? dia cemas karena Suri kah? Kenapa perasaan Ceyasa menjadi sakit? Apakah di hati Archie masih ada Suri? Namun Ceyasa tak mampu mengatakan apapun.
Gerald keluar dari ruangan itu, menunjukkan kamera yang ada di tangannya sekaligus menganggukkan kepala tanda semua sudah beres.
"Baiklah, ayo," kata Archie menarik tangan Ceyasa, Ceyasa yang tadi masih bergelut dengan pemikirannya tampak kaget namun hanya mengikuti Archie, merasa tak suka tingkah Archie yang tampak begitu khawatir, apalagi dia menarik tangan Ceyasa dengan sedikit kasar, tampak sekali ingin cepat-cepat pergi dari sana.
Archie membukakan pintu untuk Ceyasa, Ceyasa sebenarnya tak ingin ikut, merasa tak ingin melihat wajah Archie yang terlihat sangat cemas itu, apa lagi nanti jika bertemu dengan Suri, bisa-bisa Ceyasa tidak bisa mengontrol dirinya, karena sekarang saja perasaannya sudah tak enak sekali.
"Bolehkah aku tak ikut?" tanya Ceyasa menatap Archie.
"Kenapa?" kata Archie yang menatap wajah Ceyasa yang tampak diam.
__ADS_1
"Aku pusing, mungkin karena efek dari hipnosisnya tadi, aku akan di rumah saja, atau di istana," kata Ceyasa dengan suara memelas, tak ingin lebih sakit hati melihat wajah Archie seperti itu.
"Tidak, kau harus ikut, aku tidak mau mengambil resiko untuk membiarkanmu sendiri, lagi pula jika aku memang ingin meninggalkanmu, aku akan meninggalkanmu dari tadi, sekarang masuklah, Suri kritis," kata Archie lagi baru menjelaskan keadaan Suri.
"Ha? " kata Ceyasa yang tak tahu keadaan Suri, kritis?
"Sudahlah, Aku jelaskan di dalam, masuklah," kata Archie yang masih sempat membatu Ceyasa untuk membenarkan gaunnya.
Ceyasa jadi tak enak karena sudah berpikir macam-macam, dia kira Suri membutuhkan Archie untuk sesuatu, tapi ternyata Suri sedang kritis, pantaslah kalau Archie terlihat sangat khawatir, dan Archie tetap menunggunya untuk selesai hal itu sudah cukup untuk menenangkannya.
Begitu Archie masuk dan Gerald masuk, mobil segera berjalan dengan cepat, melaju menuju rumah sakit tempat Suri di rawat.
"Maafkan aku," kata Ceyasa.
"Kenapa?" tanya Archie yang belum bisa menutupi wajah khawatirnya.
Archie memandang wajah Ceyasa, Ceyasa tampak menunduk, memasang wajah bersalahnya, namun Archie menyukai kata-kata Ceyasa tadi, itu artinya Ceyasa cemburu padanya.
"Tak apa-apa, sekarang aku hanya menganggap Suri sebagai adikku, percayalah, jika aku sudah memilih, aku akan tetap bersamamu," kata Archie sambil segera mengenggam tangan Ceyasa, menyelimuti tangan itu dengan kehangatan yang sampai ke hati Ceyasa, Ceyasa hanya bisa terdiam dan menatapnya sesaat.
"Ada apa dengan Suri? " tanya Ceyasa.
"Tidak tahu, Jared meneleponku mengatakan Suri pingsan dan sampai sekarang dia tidak sadarkan diri, paman memintaku untuk datang secepatnya ke sana, tapi aku tidak bisa meninggalkanmu, jadi aku mengatakan untuk menunggu," kata Archie langsung menatap mata Ceyasa, melihat ketegasan yang diambil oleh Archie itu, sekali lagi membuat hati Ceyasa yang tadi hampir terkuasai oleh cemburu kembali menghangat, perlakuan Archie sangat-sangat membuatnya senang.
Mobil Archie segera berhenti di depan rumah sakit milik Angga, Gerald segera turun dan membukakan pintu untuk Archie, dan seperti biasa Archie lalu membukakan pintu untuk Ceyasa, Ceyasa segera keluar dan Archie segera menggenggam tangan Ceyasa tanpa canggung, mereka segera masuk ke dalam rumah sakit itu.
Semua orang yang melihat Archie segera memberikan salam dan saat mereka sudah lewat semua kaget melihat Archie yang bergandengan tangan dengan Ceyasa, merasa kaget ternyata pangerannya sudah memiliki seseorang, para wanita yang melihat hal itu langsung merasa patah hati, hilang sudah 1 pria sempurna, tak ada lagi kesempatan untuk mereka.
__ADS_1
"Di mana dia?" tanya Archie yang terus memegangi tangan Ceyasa.
"Di lantai 5, Pangeran," kata Gerald yang segera menekan tombol lift khusus milik keluarga kerajaan itu, tak lama pintu lift terbuka dan segera saja Archie masuk dan mereka segera naik ke lantai 5.
Saat pintu terbuka mereka lansung melihat lantai itu penuh dengan pengawal kerajaan, mereka segera keluar dan semua penjaga di sana memberikan salam pada mereka, Gerald berjalan segera ke arah ruangan itu dan dengan Cepat Archie dan Ceyasa memasukinya.
Saat mereka memasuki ruangan itu, Angga, Jared dan Bella langsung melihat ke arahnya, Archie yang melihat pamannya segera memberikan salam formalnya, begitu juga Ceyasa.
"Bangkitlah," kata Angga langsung yang tampak hanya berdiri di samping tubuh Suri yang masih tak saja tak sadarkan diri.
Archie melihat ke arah pamannya, Angga menatapnya dengan tatapan sedikit tajam, namun dia segara melembutkan tatapannya apa lagi melihat Ceyasa di belakang Archie.
"Bagaimana terapinya?" kata Angga melihat ke arah Ceyasa.
"Berjalan dengan baik," kata Archie lagi yang sebenarnya belum tahu apa hasil dari terapi Ceyasa.
Angga hanya mengangguk-angguk dan dengan perlahan pandangannya menatap ke arah Suri, Archie dan Ceyasa pun melihat ke arahnya, wajah cantiknya itu memucat, hanya tampak tertidur dengan sangat lelap, di sampingnya ibunya duduk sambil terus memegangi tangannya.
"Apa yang bisa aku bantu?" kata Archie segera.
"Kami butuh darahmu," kata Angga langsung, Bella pun melihat ke arah Archie.
"Apa benar dia terkena penyakit itu?" kata Archie melihat ke arah Angga lagi, dia kira hanya dengannya Suri akan mendapatkan penyakit itu, ternyata tanpanya pun Suri bisa terkena hal itu.
"Dokter sedang memeriksa darahnya, jika benar terjadi tanda-tanda perdarahan di tubuhnya, maka ini memang karena penyakit keturunan itu," kata Angga lagi menjelaskan.
"Baiklah, aku akan menyerahkan darahku, kemana aku harus menyerahkannya?" kata Archie langsung, Angga lalu melihat Asisten Lin.
__ADS_1